
Skip
Keesokan harinya.
Ternyata setelah Junho bermimpi buruk, ia jadi tidak tidur sampai pagi.
Jiyeon terbangun dan memulihkan tenaganya kembali, ia melihat Junho tidak ada di ranjangnya. Jiyeon sangat kaget, tapi saat ia menoleh ke jendela, ternyata Junho berada disana dengan kursi rodanya. Jiyeon pun mendekati Junho.
"Junho, kenapa kau berada disini? seharusnya kan kau berada di ranjang, kembalilah dan berbaring. Dan kau melepas selang infus nya?! aish, kajja aku akan membawamu" Jiyeon mendorong kursi roda Junho ke ranjang. Junho hanya terdiam saja karna masih memikirkan mimpinya itu.
Jiyeon mengangkat Junho ke ranjang dan membaringkannya.
"Tunggu disini, aku akan memanggilkan dokter" Jiyeon bergegas keluar.
5 menit kemudian, Jiyeon datang bersama dokter dan suster. Dokter itu mengecek keadaan Junho dan memasangkan selang infus lagi ke tangan Junho.
"Sudah, aku harap kau tidak melakukan ini lagi. Kau masih belum pulih total, jadi berbaringlah dengan nyaman dan jangan bergerak dulu" kata dokter itu.
"Nee"
Dokter itu pun keluar.
"Junho, apa kau lapar? aku bisa membelikanmu makanan. Sebentar ya"
"Tunggu"
"Nee, wae?"
"Apa kau tau dimana Saerin?" tanya Junho.
"Nee"
"Antarkan aku kesana" Junho beranjak dari ranjangnya, tapi di cegah oleh Jiyeon.
"Yak, kau ini. Dokter kan sudah bilang, kau masih harus berbaring. Nanti saja jika kau ingin menemui Saerin. Kau harus istirahat dulu, aku melakukan ini karna aku kasihan padamu. Tidak ada yang menjengukmu bukan? keluargamu juga tidak ada di sini kan? Jadi menurut lah denganku, atau kau tidak akan aku perbolehkan untuk menemui Saerin. Arrasseo?"
"Nee" kata Junho sambil menunduk.
"Aku akan segera kembali, jangan pergi kemana-mana" Jiyeon pun keluar untuk membeli makanan.
Dikamar Saerin..
Kai baru saja bangun dari tidurnya, ia menoleh ke arah Saerin yang masih tertidur di ranjangnya dan belum sadar.
"Enghh.. Saerin, kenapa kau belum bangun juga?" kata Kai sambil menggosok matanya.
Tiba-tiba ponselnya berdering, Kai langsung mengangkatnya.
"Yeoboseyo" dengan suara yang sedikit serak.
"Kai, apa Saerin sudah sadar?" tanya Jungkook didalam telepon.
"Belum hyung"
"Apa aku membangunkanmu Kai?"
"Oh ani hyung. Aku baru saja bangun sebelum kau menelepon"
"Yasudah, aku hanya ingin tau apa Saerin sudah sadar atau belum saja. Apa kau baik-baik saja disana?"
"Nee hyung, gomawo karna telah bertanya"
"Ah gwenchana, yasudah aku matikan dulu ya telpon nya. Jika ada sesuatu, kabari saja aku"
"Nee hyung, tenang saja"
"Arrasseo" Jungkook pun memutuskan sambungannya.
Jungkook POV
"Ternyata Saerin masih belum sadar, Saerin-ah cepatlah sembuh sayang. Mian karna oppa tidak menemanimu sekarang. Aku ini memang oppa yang buruk untuk Saerin. Aku meninggalkannya disaat ia sedang sakit. Oppa macam apa aku ini, yang tidak bisa menjaga adiknya dan tidak berada disampingnya saat ia dalam keadaan seperti ini" kata Jungkook sambil memegangi foto Saerin.
__ADS_1
Tok.. tok.. tok..
"Jungkook apa kau sudah bangun?" teriak Hoseok dari luar.
Jungkook langsung menghampirinya dan membuka pintu.
"Hyung"
"Eoh, kau sudah bangun rupanya. Nanti kau turun kebawah nee, sarapan sudah siap" kata Hoseok dengan tersenyum. Saat Hoseok ingin pergi, ia tak sengaja menoleh ke sebuah foto yang berada ditangan Jungkook.
"Foto apa itu Jungkook-ah?"
"Oh ini.." Jungkook kembali mengelus seseorang dalam foto tersebut. Hoseok pun mengerti apa yang sedang Jungkook rasakan, ia bisa melihat foto Saerin yang Jungkook pegang.
"Tenang saja, ia akan baik-baik saja bersama Hueningkai. Jangan khawatir, aku yakin Saerin pasti akan sembuh" kata Hoseok sambil tersenyum untuk menghibur Jungkook yang sedang sedih.
"Tapi aku masih tak tega untuk meninggalkannya hyung, aku merasa bahwa aku adalah oppa yang buruk baginya. Buktinya aku tidak bisa menemani Saerin saat dia sedang sakit. Aku adalah oppanya yang terburuk hyung" Jungkook mulai menangis. Hoseok pun memeluk Jungkook dan menenangkannya.
"Kau tidak boleh berkata seperti itu Jungkook-ah. Tenang saja, aku yakin Saerin pasti akan mengerti dengan keadaan ini. Kita bekerja juga untuknya bukan? jika kita tidak mengurus perusahaan appa, kita pasti tidak akan bisa seperti ini Jungkook. Kau mengerti kan maksudku?"
"Nee hyung" Jungkook menyeka air matanya.
"Yasudah, aku kebawah dulu" kemudian Hoseok pun pergi.
"Meskipun kau mengatakan seperti itu, aku tidak akan pernah bisa tenang jika aku belum mengetahui keadaan adikku sekarang. Aku masih resah dengannya, ia sedang sakit dan aku tidak berada disampingnya" Jungkook kembali masuk ke kamarnya.
Jungkook end POV
Skip
Dikamar Junho..
Jiyeon dan Junho sudah menghabiskan sarapannya. Dari tadi Junho tak pernah berhenti merengek pada Jiyeon yang memintanya untuk membawa dia menemui Saerin.
"Yak Jiyeon, ayolah aku ingin bertemu dengan Saerin. Kau bilang kau tau Saerin dimana, cepat antarkan aku kesana. Cepatlah Jiyeon, aku mohon"
"Kau masih harus berbaring Junho, diamlah disitu dan jangan membuat masalah. Aku sedang tidak ingin berdebat" kata Jiyeon yang memainkan ponselnya di sofa yang tak jauh dengan ranjang Junho.
"Cepatlah Jiyeon" rengeknya kembali.
"Aku tak mau, cepat antarkan aku pada Saerin. Aku ingin menemuinya!" potong Junho dengan sedikit berteriak.
"Yakk apa kau masih belum mengerti dengan ucapanku hah?! aku bilang tidak!!" kata Jiyeon yang tak kalah tegasnya pada Junho. "Kau ini seperti bayi yang meminta makanan saja, aku kan sudah memberimu makan. Jika kau mau mainan, aku tidak bisa membelikannya" sambung Jiyeon.
"Yak aku tidak mau itu, memangnya kau menganggap ku bayi hah!! aku hanya memintamu untuk mempertemukanku dengan Saerin. Apa itu sulit hah?!!" kata Junho.
"Masalahnya kau belum pulih dan masih harus beristirahat, tolong menurut lah padaku sekali ini saja. Aku berjanji akan membawamu ke ruangan Saerin, tapi jika kau sudah sehat" kata Jiyeon.
"Kau berjanji bukan?"
"Nee, maka dari itu aku mohon padamu agar jangan merengek lagi, telingaku sakit mendengar rengekanmu yang mirip bayi cempreng, kau tau? Jadi diamlah, karna aku sedang tidak ingin berdebat. Jika kau bersikap seperti tadi lagi, aku tidak akan segan-segan untuk memukulmu, kau paham?!" tegas Jiyeon.
"Nee, arrasseo" Junho menundukkan kepalanya dan mengunci mulutnya, menuruti semua ucapan Jiyeon. Sebenarnya ia sedikit takut ketika mendengar suara Jiyeon yang tegas. Cara yang tepat untuk menghentikan perdebatannya yaitu dia yang harus mengalah untuk diam, karna bagi dirinya bagaimanapun juga ia tak akan bisa menang melawan perempuan. Neneknya selalu bilang jika seorang perempuan selalu benar, dan beberapa lelaki tidak akan bisa menang melawan wanita. Dan cara yang paling bagus untuk itu adalah lelaki harus menuruti kemauan seorang wanita. Begitulah yang ada dipikirannya.
Dikamar Saerin...
Kai baru menyelesaikan sarapan paginya. Setelah itu ia kembali duduk disamping Saerin untuk menemaninya. Ia menggenggam pelan tangan Saerin yang masih terpaku di ranjang.
"Saerin-ah, aku merindukanmu. Kapan kau akan bangun dari tidurmu itu, aku ingin melihat senyumanmu lagi Saerin. Aku mohon bangunlah" kata Kai dengan sendu.
Skip
Siang
Dikamar Junho...
"Jiyeon, kumohon aku ingin sekali menemui Saerin, jebal.." kata Junho dengan nada lembut. Melihat Junho yang wajahnya terlihat sedih itu, membuat Jiyeon merasa kasihan dengan Junho.
"Sepertinya ia ingin sekali menemui Saerin. Ash yasudah lah, aku kasihan melihatnya sedih seperti itu " batin Jiyeon.
"Baiklah, baiklah. Aku akan membawamu ke ruangan Saerin. Jujur, aku tidak tega melihatmu seperti itu"
__ADS_1
"Apa kau kasihan padaku?" Junho mengerutkan keningnya.
"Untuk apa aku mengasihanimu"
"Yasudah cepatlah!" kata Junho.
"Ck, kau bisa sabar sebentar tidak, kau ingin menemui Saerin bukan? jadi diamlah dan ikuti ucapanku" kata Jiyeon yang kembali menegaskan ucapannya pada Junho.
Jiyeon mengambil kursi roda dan memapah Junho duduk. Dan merekapun keluar menuju kamar Saerin.
Sampai didepan kamarnya, Jiyeon terlebih dahulu mengetuk pintu.
Kai yang berada didalam merasa ada seseorang yang mengetuk pintu, iapun berseru mengizinkan seseorang masuk.
Merasa diizinkan masuk dari dalam, Jiyeon membuka pintunya dan kembali mendorong kursi roda Junho memasuki kamar.
"Annyeong" kata Jiyeon dan Junho berbarengan.
"Siapa kalian?" tanya Kai.
"Kita berdua adalah temannya Saerin" kata Jiyeon.
"Owh begitu, apa kalian ingin menjenguk Saerin?"
"Nee"
"Oh tentu saja. Aku ingin ke toilet dulu, tolong jaga Saerin nee?" kata Kai.
"Nee"
Kemudian Kai pun pergi keluar.
"Nah, aku sudah membawamu menemui Saerin. Sekarang apalagi yang kau mau hah? apa kau mau aku mengantarmu kepada orang tuamu?"
"Tolong jangan katakan itu padaku" kata Junho datar, saat mendengar ucapan Jiyeon.
"Wae, apa kau tidak merindukan orang tuamu? kau saja sampai merengek saat kau ingin sekali menemui Saerin. Apa kau juga akan merengek padaku untuk mempertemukanmu dengan orang tuamu?"
"Aku sudah bilang jangan katakan itu padaku, aku tidak akan pernah ingin bertemu dengan mereka berdua"
"Wae?"
"Tolong jangan bahas itu"
"Ok, baiklah" kata Jiyeon mengalah.
...
Junho menoleh pada Jiyeon saat mereka terdiam beberapa detik.
"Jiyeon, kau keluarlah, aku ingin berdua bersama Saerin" kata Junho.
"Enak saja kau mengusirku. Jika aku tidak kasihan melihatmu, aku tidak akan pernah membawamu kemari"
"Ah yasudah, sana pergi" kata Junho. Jiyeon pun keluar dari ruangan itu dengan wajah sedikit kesal.
Sekarang hanya ada Junho dan Saerin di ruangan itu. Perlahan, tangan Junho memegang tangan Saerin.
"Saerin, apa kau belum bangun? mian, karna aku, kau jadi seperti ini. Ji-won menggunakan diriku untuk memancing mu, dia benar-benar sangat kelewatan. Lihat saja nanti, suatu hari aku akan membalas perbuatannya yang melakukan ini padamu, sampai-sampai kau harus menderita seperti ini. Mian Saerin-ah, mianhae. Aku tidak bisa menjagamu dari anak lelaki yang kasar seperti Ji-won. Aku berjanji akan menjagamu dari perbuatan mereka yang membuatmu terganggu. Mulai sekarang kau tidak perlu khawatir lagi, aku akan selalu ada di sampingmu. Aku berjanji" kata Junho yang menatap tubuh kaku Saerin yang terbaring di ranjang rumah sakit.
Perlahan ia mengecup tangan Saerin dalam genggamannya dan mengusap lembut kepala Saerin.
Dibalik itu, ada Jiyeon yang sedang mengamati mereka berdua di depan pintu.
"Kenapa ini? kenapa sepertinya hatiku rasanya sakit melihat mereka berdua seperti itu. Apa karna aku masih belum mempunyai seorang pacar ya? tapi kenapa saat aku melihat Junho yang begitu mesra dengan Saerin, rasanya hatiku sakit. Kenapa ini? asshh Jiyeon sadarlah, Kenapa kau cemburu dengan mereka berdua, aku harus mengontrolnya" Tak sanggup melihatnya lagi, Jiyeon memilih duduk di kursi besi didepan ruangan Saerin.
•
•
Nantikan kelanjutan kisahnya..
__ADS_1
Dukung author ya dengan like, komen, dan vote..
Saranghae 💜💜