
"Omo?" Yoongi sangat kaget setelah membaca surat itu. Matanya terbelalak heran sambil masih memegang kertas tersebut.
"Ada apa Yoongi?" Seokjin mulai khawatir setelah melihat ekspresi terkejut Yoongi.
"Yoongi?" Jin berulangkali memanggil adiknya itu. Tapi Yoongi masih tetap diam tak bergeming.
Jimin pun mendekati Yoongi dan menepuk pelan bahunya, segera Yoongi tersadar lalu menatap Jimin.
"Ada apa hyung? Kenapa denganmu?" tanya Jimin yang masih memegang bahu Yoongi.
"Tidak ada apa-apa"
"Tidak ada apanya? Kertas apa itu hyung?" tanya Jimin mengalihkan pandangannya pada kertas yang dipegang Yoongi.
Saat Jimin ingin merebut kertas itu, Yoongi sudah lebih dulu pergi sambil membawa kotak itu kebelakang rumah. Jin bangun dan menyusul Yoongi kebelakang, lalu disusul dengan Jimin, Taehyung dan Jungkook. Sementara Namjoon masih menenangkan Hoseok yang sedang ketakutan.
*
Yoongi melempar kotak itu ke tanah dan menyalakan api untuk membakar kotak itu beserta isinya. Yoongi terus menatap kotak yang tengah terbakar api di bawahnya. Tak lama kemudian Jin, Jimin, Taehyung dan Jungkook sampai ditempat Yoongi. Mereka berempat menatap kotak yang sedang terbakar itu didekat Yoongi.
"Yoongi, sebenarnya ada apa? Kenapa kau tak memberitahu kami dan malah membakar kotak itu?" tanya Jin.
"Hal itu tidak penting untuk diketahui hyung, ini pasti ulah seseorang yang sedang iseng dengan kita saja. Sebaiknya kita kembali kedalam" kata Yoongi lalu pergi masuk kembali.
Keempatnya hanya menatap heran pada Yoongi. Perlahan kotak yang terbakar itu telah berubah menjadi abu hitam di tanah. Jungkook mendekatinya dan melihat kembali kotak yang sudah hangus terbakar itu. Kotaknya habis terbakar tapi masih menyisakan sebuah benda yang terdapat didalamnya. Jungkook kemudian pergi berlari dan mengambil seember air dan menyiramnya ke benda yang masih terlahap api itu.
"Apa itu Jungkook?" tanya Taehyung yang dari tadi memperhatikan Jungkook.
"Ini seperti sebuah boneka, tapi ini sungguh menyeramkan. Pantas saja Hoseok hyung jadi ketakutan seperti tadi" kata Jungkook yang berjongkok sambil melihat benda itu.
"Yasudah, apinya sudah padam. Tolong kalian buang benda aneh itu ke tempat sampah. Jika sudah selesai kembalilah kedalam" ucap Jin menyuruh ketiga adiknya untuk memberesi sisa-sisa abu itu. Setelah itu, ia berjalan duluan kedalam meninggalkan tiga orang adiknya yang masih terdiam disana.
"Tapi aku masih heran tentang hal ini" ucap Jimin dengan heran.
"Sudahlah hyung tidak usah dipikirkan. Yoongi hyung benar, hal ini tidak penting apalagi untuk dibicarakan. Lagipula siapa orang payah yang mengirimi kita benda aneh ini, kita tidak akan terpengaruh oleh tipuannya bukan. Sudahlah, sebaiknya kalian berdua membantuku memberesinya. Jika tidak Jin hyung akan mengomeli kita" kata Jungkook.
Mereka bertiga segera memberesi bekas benda yang terbakar itu, setelah menyelesaikannya mereka bertiga bersama-sama masuk kedalam.
Skip
3 hari kemudian...
Seokjin sedang serius berkutat dengan laptop diatas mejanya. Ia sangat fokus melihat dan mengutak-atik laptop itu. Lalu tak lama kemudian, suara pintu terbuka dan mengejutkannya yang sedang terfokus itu. Seorang yeoja masuk dengan langkah panjang yang mendekati meja kerja Jin.
Grrep... grep...
Brakk
Yeoja itu melempar sebuah map ke atas meja kerja Jin.
"Tandatangani dokumen ini" ucap yeoja itu dengan datar.
"Apa maksudmu? Kau sudah tidak sopan ketika memasuki ruanganku, lalu sekarang kau malah melempar sebuah kertas ini kepadaku. Apa kau tak bisa sopan sedikit? Kau lupa sedang berhadapan dengan siapa?" ucap Jin dengan sedikit kesal.
"Aku tak peduli itu, sekarang cepat tandatangani dokumen ini"
"Untuk apa aku menandatanganinya? Aku bukanlah orang yang mudah diperintah oleh orang lain. Apalagi dengan hal yang belum jelas seperti ini" ucap Jin.
"Banyak omong, sudah tandatangani saja lalu masalah ini sudah selesai"
"Aku tak mengerti maksudmu, memangnya aku punya masalah apa denganmu?"
"Sudah kubilang jangan banyak omong! Cepat tandatangani dokumen ini!" ucap yeoja itu yang mulai merasa kesal. "Atau, jika tidak..." sambung yeoja itu yang sengaja tak meneruskan ucapannya.
"Jika tidak, apa?!"
Yeoja itu mengambil ponselnya dan menunjukkan sebuah file video lalu memutarnya sekejap dihadapan Seokjin. Ternyata, video itu adalah video yang sempat diputar saat meeting besar Seokjin bersama Tuan Choi beberapa hari yang lalu itu.
"Saerin...?" gumam Jin sambil melihat video itu dari ponsel yeoja tersebut. "Aku katakan padamu! Bahwa adik perempuan ku tidak pernah melakukan hal semacam itu! Dia adalah gadis remaja yang polos dan tidak tau apa-apa tentang hal seperti itu! Jadi jangan buat rumor yang tidak-tidak mengenai adikku!" sambung Jin menatap tajam kearah yeoja itu, dan menekan semua yang diucapkannya.
"Percuma saja kau mengatakan itu, tapi orang-orang disana akan dengan mudah percaya jika video ini asli dan bukan editan. Mereka akan mengira jika semua keluargamu itu ***** dan kau juga akan dikenal buruk oleh semua orang" kata yeoja itu dengan tersenyum miring.
"Kau ini!"
"Ohya, ada satu lagi"
__ADS_1
Jin mulai mengerutkan keningnya, entah apa yang akan yeoja itu perbuat lagi. Kemudian dia menunjukkan satu file rekaman suara kepada Jin, ia pun memutar rekaman itu dengan volume suara yang dikencangkan.
"Sudah seminggu kita bekerja keras, tapi tidak ada satupun yang berhasil. Jin hyung sangat bodoh, ia tak mengecek kembali berkasnya itu sebelum mempresentasikan isinya didepan direktur Choi saat meeting besar itu. Betapa bodohnya dia hingga tak melihat ulang berkasnya. Hehe, hyung Jin pabo! "
Itulah hasil rekaman lain sebelum Jungkook tak sadarkan diri.
"Jungkook? Apa maksudmu hah?! Kau mau menjebakku?! Apa yang kau lakukan pada adikku?!" ucap Jin sambil berdiri dari kursinya dengan sangat kesal.
"Aku hanya ingin kau menandatangani dokumen ini, jika tidak video dan rekaman suara ini akan aku sebarkan kepada media" ucap yeoja itu.
"Jangan membuat masalah denganku nona, aku bisa saja melaporkanmu--"
"Laporkan saja dan aku tidak takut. Tapi sebelum itu, file ini akan aku sebar dulu sebelum aku masuk ke penjara. Dan namamu akan dikenal dengan sebutan pria kotor dan me*um. Lalu kau akan keluar dari pekerjaanmu sebagai direktur perusahaan ini"
"Dasar kau!! Aku tidak punya masalah denganmu tapi kenapa kau malah mencari masalah denganku?!"
"Kau tak perlu tau alasannya, yang penting cepat tandatangani ini, lalu urusan kita selesai"
"Tapi dokumen apa ini?" tanya Jin yang mengambil map tersebut.
"Sebuah dokumen perusahaan, keuangan, dan semua tentang kantor ini"
"Apa?! Darimana kau mendapatkannya hah?!" ucap Jin dengan penuh amarah.
"Aku mengambilnya dari ruangan kerja di rumahmu" ucap santai yeoja itu.
"Kau...? Memangnya sejak kapan kau masuk kedalam rumahku? Dan masuk ke dalam ruangan kerjaku juga? Apa kau seorang penyusup?!"
"Kau tidak ingat? Akulah yeoja yang pernah dibawa pulang ke rumahmu oleh adikmu sendiri"
"Adikku?" ... "Jungkook??"
"Haish dasar pikun, sudah cepat tandatangani itu. Aku tak punya banyak waktu"
"Tapi--"
Seokjin ragu untuk menandatangani kertas itu, tapi yeoja yang tengah berdiri dihadapannya kini benar-benar mengancam dia. Jika ia tak menandatangani itu segera, maka file video dan rekaman suara itu akan disebarkan dan Seokjin akan dikenal buruk oleh publik. Ia tak menginginkan itu terjadi, ia kira kejadian ini masih tertutup dan tidak ada orang yang mengetahuinya selain dia dan beberapa orang yang ikut meeting besarnya di hari itu.
"Sebenarnya apa yang kau inginkan?!" tanya Jin.
"Memangnya siapa kau? Kenapa kau ingin menghancurkanku?"
"Apa kau tak mengenalku? Atau kau lupa? heheh"
"Siapa kau sebenarnya?!"
Yeoja itu kembali tersenyum. Kemudian ia melepaskan rambut palsunya dihadapan Seokjin. Setelah melihat siapa yeoja itu, Jin sangat terkejut sampai membelalakkan matanya.
"I... Irene?"
"Sekarang kau sudah tau aku ini siapa. Akulah yang selama ini bersandiwara dibalik nama Kim Jong-eun, salah satu karyawan baru yang dikenal dekat dengan Tuan Jungkook"
"Tapi bagaimana bisa? Kau kan masih berada didalam penjara!"
"Kau salah, aku sudah keluar sejak beberapa bulan yang lalu"
"Bagaimana kau bisa keluar?"
"Dengan bantuan anak buahku. Apa kau masih ingat berita mengenai peledakan satu kantor polisi didekat sini?"
"..."
"Itu adalah ulah anak buahku yang mencoba melepaskan diriku dari sel penjara, bersama dengan seorang pria yang pernah ditahan oleh salah satu adikmu karna telah menyekap oppanya. Dan sekarang aku dan dia bersepakat untuk membalaskan dendam pada orang yang sama, yaitu kau dan adik-adikmu"
"Tapi... itu mustahil"
"Heh memang itulah kejadiannya, jadi kau mau menandatangani ini lalu semuanya beres atau kau tidak mau menandatanganinya tapi file video dan rekaman suara ini akan aku sebarkan. Bagaimana?" kata Irene memberi Seokjin pilihan.
Jin mulai berpikir keras, ia tak mau dirinya dan adik-adiknya dikenal buruk oleh semua orang. Walaupun ia juga yakin jika video Saerin itu asli dan bukan editan, tapi ia tidak mau salah satu adiknya itu mengalami masalah. Seokjin mencoba untuk melindunginya meski dia juga percaya rumor itu.
"Tandatangani, atau... video ini aku sebarkan" ancam Irene.
Dengan berat hati, Jin kembali duduk dan mengambil penanya lalu menandatangani dokumen itu sesuai ucapan Irene. Yeoja yang masih berdiri dihadapannya ini hanya tersenyum penuh kemenangan, setelah ini sudah resmi bahwa semua harta dalam perusahaan itu akan jatuh ke tangannya dan Seo-joon.
...
__ADS_1
Setelah selesai menandatangani semuanya, Seokjin memberikan kembali map itu pada Irene. Dengan senyum miringnya Irene mengambil kembali map tersebut.
"Baiklah, gomawo untuk semuanya. Aku senang kau bisa bekerjasama denganku"
"Aku sudah melakukan apa yang kau minta, jadi sekarang kau yang selanjutnya. Aku ingin kau menghapus file video dan rekaman suara itu, lalu masalah kita selesai dan kita berdua seri. Kau mendapatkan apa yang kau inginkan dan aku bisa tenang karna file-file itu tidak jadi disebarkan"
"Heheh, bodohnya kau..." kata Irene menunjukkan smirknya. "Apa?!" Seokjin terkejut dengan apa yang diucapkan Irene tadi. "Mudah sekali untuk ditipu" sambung Irene menatap sinis pada Seokjin.
"Apa yang kau maksud ini?! Jangan coba-coba mempermainkanku!!" teriak Seokjin dengan kesal.
Irene kembali menunjukkan smirknya, ia mengangkat ponselnya itu lalu mengutak-atik sekejap.
"Ap-apa yang kau lakukan!?"
"Ups.. aku sudah terlanjur mempostingnya" kata Irene dengan menunjukkan apa yang ada dilayar ponselnya.
"Mwo?! Aku sudah menuruti keinginanmu tapi kenapa kau tak mengikuti perjanjiannya? Kau sudah berjanji akan menghapus video dan rekaman suara itu setelah aku menandatangani dokumen ini, tapi kenapa kau malah mempostingnya hah?!"
"Kau kira aku orang yang mudah menepati janji? Heheh, mana mungkin. Aku hanya ingin menang sendiri, dan aku tidak mau membiarkanmu tenang sampai akhir hayatmu!" kata Irene.
"Dasar licik!! Beraninya kau membohongiku!! Aku akan membunuhmu Irene!!" kesal Jin yang sudah tak dapat menahan amarahnya lagi.
"Coba saja, bunuh aku. Tapi... jangan bunuh bayi dari darah daging adikmu yang sedang aku kandung ini" ucap Irene yang memegang perutnya.
"Apa maksudmu? Mana mungkin salah satu adikku ingin berhubungan dengan wanita murahan seperti dirimu!"
"Tapi nyatanya memang benar. Salah satu adik lelaki bungsu mu telah melakukan hal itu padaku. JEON JUNGKOOK, dia harus bertanggungjawab untuk perbuatannya. Dia akan menjadi ayah dari anak yang sedang ku kandung ini" ucap Irene sinis dengan menekan nama Jungkook dihadapan Seokjin.
Seokjin sangat terkejut, terlebih lagi dengan pernyataan Irene mengenai bayi yang ada didalam perutnya itu adalah hasil dari Jungkook.
"Ingatlah, aku tidak akan pernah membiarkanmu tenang sampai akhir hayatmu"
Setelah mengucapkan kata terakhirnya itu, Irene segera pergi dari ruangan Seokjin dengan tersenyum penuh kemenangan karna baru saja berhasil menyelesaikan rencana dari Seo-joon.
Tunggu...
Apa?
Baru berhasil menyelesaikan rencana dari Seo-joon saja?
Benar, itu hanyalah rencana dari Seo-joon saja. Ia belum selesai, rencana selanjutnya belum ia tuntaskan. Meskipun ia akan mendapatkan sebagian harta dari perusahaan musuhnya itu karna Seo-joon sudah berjanji akan membagi rata bersamanya. Tapi ia benar-benar belum puas. Dia bukan hanya menginginkan harta dari perusahaan Seokjin sang kakak kandung mantan kekasihnya itu saja, ia juga ingin pria yang telah menyentuhnya itu dapat bertanggungjawab dan menikahinya karena bayi yang ada dalam perutnya.
Kejahatan takkan bisa berhenti jika dia belum puas dan belum sadar dengan kejahatannya tersebut.
~*~
Seokjin sadar dari lamunannya lalu segera pergi menyusul Irene. Tapi saat ia baru sampai di lobby, ia sudah dikejutkan oleh beberapa wartawan yang mengepungnya. Ternyata berita itu cepat sekali tersebar. Seokjin bingung mencari-cari sosok yeoja yang telah beradu mulut dengannya. Kerumunan orang-orang yang bertanya tentang berita itu kini mempersulit Seokjin. Tak lama matanya menangkap sosok yeoja yang ingin dia kejar, ia melihatnya baru keluar dari pintu depan lalu masuk ke dalam sebuah mobil hitam yang sudah berada disana. Seokjin bingung, tak tau apa yang harus ia lakukan untuk mereda kerumunan ini.
"Tolong semuanya, harap tenang" kata Seokjin yang sudah sangat terpojokkan.
"Tuan apakah rumor ini benar?" // "Apakah itu video asli tentang adik perempuan Anda yang terlibat kasus hubungan *******?" // "Apa benar adik perempuan mu melakukan hal itu?" // "Jawab kami Tuan". Itulah sebagian pertanyaan dari para wartawan tersebut.
"Saya tegaskan pada kalian, bahwa adik perempuan saya tidak pernah melakukan hal itu. Dan video itu adalah video editan seseorang"
"Tapi Tuan, di video itu sudah terlihat jelas deskripsinya. Bahwa adik perempuan Tuan melakukan hal itu" sela salah satu wartawan.
"Saya sudah mengatakannya bahwa adik perempuan saya tidak pernah melakukan hal semacam itu! Itu adalah rumor belaka saja!"
Seokjin benar-benar tak diberi kesempatan untuk mengatakannya lagi, para wartawan itu sudah sangat membuatnya depresi.
____________________________________________
Semenjak kejadian itu, keadaan perekonomian Seokjin dan keenam adiknya mulai menurun. Perusahaan mereka telah bangkrut dan nama baik Seokjin sekaligus keenam adiknya itu telah tercorengkan. Itulah sebabnya, sekarang mereka selalu bermabuk-mabukkan sampai akhirnya uang mereka habis dan mereka menjual rumah mereka yang ada di Busan. Lalu pulang kembali ke kota Seoul dan membenci Saerin yang tidak tau apa-apa tentang masalah ketujuh oppanya itu. (Gadis yang malang😔 Author juga jadi sedih😭 dia yang gak tau apa-apa malah dilibatin di masalah oppanya).
Tapi, fakta jika Irene menyamar menjadi Kim Jong-eun itu masih belum Seokjin jelaskan pada adik-adiknya terlebih kepada jungkook, karna Seokjin sudah terlanjur depresi dan melupakan fakta itu.
Dan itu berarti, Jungkook masih belum tau jika Kim Jong-eun adalah Irene.
Author end POV
FLASHBACK OFF
**Jangan lupa like, komen, dan vote💜
Borahae💜💜💜**
__ADS_1