You'Re My Brother (BTS)

You'Re My Brother (BTS)
Eps 12


__ADS_3

Saerin POV



"Waah! rumahnya bagus oppa" kataku dengan melihat-lihat ke sekeliling rumah.


"Nee. Kajja kita masuk" ajak Jin oppa yang berjalan dahulu di depan.


Aku juga ikut masuk dan melihat ke dalam. Memang sangat luas. Gaya yang minimalis dan mewah terukir di dalamnya. Dan di dalam aku bisa melihat Hoseok oppa, Namjoon oppa, Tae oppa dan Jungkook oppa sedang duduk di sofa ruang keluarga.


"Jimin antar Saerin ke kamarnya!" kata Jin oppa.


"Nee hyung. Kajja Saerin" katanya menatapku.


"Nee oppa".


Aku pun pergi menuju lantai atas yang terdapat ruangan khusus kamar. Di situ kira-kira ada sepuluh buah pintu yang saling berhadapan. Jimin oppa menuju satu kamar dan membuka pintunya. Dan mendahului ku masuk, aku hanya mengekor dari belakang bersama dengan Yoongi oppa yang kini dia sudah masuk kedalam kamarnya.


"Saerina, sekarang ini adalah kamarmu. Apa kau menyukainya?" katanya saat aku mulai melangkah masuk.


"Nee aku menyukainya. Tapi bagaimana dengan baju-baju ku oppa?"


"Tenang saja. Di lemari sudah tersimpan bajunya"


"Benarkah" aku membulatkan mata menatapnya, ia hanya menganggukkan kepala. Lalu aku berjalan menghampiri lemari pakaian. Benar! sudah ada baju yang tertata rapi di lemari.


"Kalau begitu oppa turun dulu nee. Jika kau sudah selesai, turunlah aku akan menyiapkan makanan yang enak untukmu. Kau pasti akan suka" katanya dengan tersenyum.


"Nee".


Jimin oppa berbalik badan dan keluar dari kamarku. Sementara aku masih melihat-lihat dari satu sudut ruangan ke sudut yang lain.


"Inilah dunia ku bersama dengan mereka. Aku harap bisa betah di sini" kata ku dengan tersenyum melihat seisi ruangan. Seketika aku teringat sesuatu.


"Oh iya bagaimana kabarnya Tante Luna". Belum sempat aku mengambilnya, ponsel itu tiba-tiba berdering. Aku langsung mengambil di saku celana dan melihat nama siapa peneleponnya. Panjang umur, baru juga ingin aku telepon tapi dia sudah menelepon aku terlebih dahulu. Aku langsung mengangkatnya.


"Hallo"


"Hai Sari bagaimana kabarmu. Kamu sudah tidak menghubungi Tante lagi, apa kamu melupakan Tante sekarang? hmm"


"Maafkan Sari ya Tante. Soalnya Sari lagi sibuk banget, jadi nggak sempat untuk calling-callingan sama Tante. Kabar Sari baik kok Tante"


"Beneran baik-baik aja. Nggak ada yang terluka kan?"


"Iya nggak ada kok Tante. Sari kan udah janji sama Tante"


"Hmm iya. Gimana kabarnya oppa kamu?"


"Mereka sehat Tante"


"Oh iya. Dari tadi ada yang bilang kangen loh sama kamu. Katanya mau nelpon kamu tapi ponsel kamu nggak aktif"


"Siapa Tante?".


"Hallo kak Sari"


"Rey"


"Iya ini Rey kak. Kak Sari gimana kabarnya. Trus sekarang kak Sari ada dimana. Nggak ada yang luka kan. Kak Sari nggak kenapa-napa kan. Gimana di sana enak enggak. Kapan-kapan ajakin Rey kesana ya."


"Aduh Rey, kalo ngomong tuh satu-satu, kak Sari jadi bingung nih dengerin kamu ngerocos mulu"


"Hehe maaf kak Sari. Habisnya dari kemarin-kemarin Rey telepon, ponsel kak Sari nggak aktif"


"Emm.. Rey kangen ya sama kak Sari"


"Apa! ng-nggak kok nggak. Siapa juga yang kangen sama kak Sari, ge'er"


"Udah deh jangan boong. Kamu pasti kangen kan sama kak Sari, buktinya tadi nyerocos-nyerocos nggak jelas tuh apa. Nggak mungkin kan Rey nggak kangen sama kak Sari hehe"


"Ih, iya-iya. Mm.. Rey kangen sama kak Sari. Tapi kenapa ponsel kak Sari selalu nggak aktif, jadikan Rey ee.. Rey itu.."


"Iya kak Sari ngerti kok. Maaf ya kak Sari nggak pernah ngabarin Rey lagi. Soalnya kak Sari lagi sibuk, jadi nggak pernah pegang-pegang ponsel. Tapi sekarang kak Sari bakalan sering-sering deh nelpon ke Rey. Kak Sari juga rindu banget sama Rey. Apa Rey kesepian karna nggak ada kak Sari disana?"


"Nggak juga"


"Hehe. Yaudah kalo gitu, kak Sari tutup dulu ya. Lain kali lagi ya kak Sari nelponnya. Kak Sari capek mau istirahat dulu"


"Iya kak. Hati-hati ya disana"


"Iya"


"Mm... Kak Sari"


"Iya ada apa Rey?"


"Rey sayang kak Sari. Tutup dulu ya baayy..."


Tuutt.. tuutt..


"Hmm.. ada-ada aja tuh anak heheh".


Aku menaruh ponselku dan pergi ke kamar mandi. 15 menit kemudian aku keluar dan memakai bajuku. Setelah selesai aku keluar dari kamar, dan turun. Sampai di bawah tangga, aku melihat yang lain sudah duduk di meja makan. Mereka menatapku dengan senyuman mereka satu-satu. Lalu aku berjalan ke arah meja makan dan duduk di sebelah Jungkook oppa. Makanan sudah tersaji di meja makan dengan aromanya yang menggoda lidah untuk segera mencicipinya.


"Waah! sepertinya enak sekali. Siapa yang membuatnya?" kata ku menatap mereka semua.


"Jin hyung yang memasaknya" kata Hoseok oppa dengan senyum cerianya yang mengembang.

__ADS_1


"Ekhem.. ekhem.." Jimin oppa yang berdeham menatap Jin oppa.


"Nee. Jimin juga" balas Jin oppa.


"Yasudah ayo kita makan" kata Namjoon oppa mendahuluinya.


skip


Selesai makan malam. Kami semua berkumpul di ruang keluarga.


Sekarang aku sedang duduk di tengah Tae oppa dan Jungkook oppa.


Tak lama kemudian aku mendengar suara gonggongan kecil yang mendekat ke arah Tae oppa.


"Anjing milik siapa ini oppa?" kataku menatap Tae oppa.


"Milik oppa. Namanya Yeontan" katanya dengan menggendong Yeontan.


"Yeontan. Boleh aku menggendongnya?"


"Boleh".


Dan ia memberi Yeontan kepadaku. Aku mengelus lembut bulunya yang lebat.


"Dia sangat lucu hehehe" kataku dengan mengelus kepalanya.


"Lebih lucu juga aku" sahut Jimin oppa. Aku langsung menoleh padanya dan yang lain juga sama denganku, kecuali Yoongi oppa yang berkutat dengan remote televisi yang ia pegang.


"Kau lebih lucu? hahaha" kata Tae oppa. Aku tertawa kecil ke arahnya.


"Memang benar kan aku lebih lucu, dan aku juga lebih imut dari Yeontan" kata Jimin oppa dengan memperlihatkan aegyo nya. Aku dan Tae oppa berpandangan sekilas dan menatap Jimin oppa lagi.


"Ih berhenti melakukan itu hyung. Kau membuatku jijik saja"


"Benar, kau terlihat seperti seekor kucing gemuk. Hhhh" kata ku, lalu aku dan Tae oppa melakukan tos, kemudian aku menahan tawa dengan mulutku.


"Apa yang kalian bilang!!?" katanya menatap tajam kearah ku dan Tae oppa.


Aku langsung merangkul tangan Jungkook oppa yang sedang asyik menonton televisi.


"Oh tidak penyihir kucing gemuk sedang marah. Tolong aku" kataku dengan wajah yang ketakutan tapi palsu. Dan Tae oppa juga melakukan hal yang sama kepadaku. Jungkook oppa hanya menatapku dan Tae oppa dengan heran.


"Ada apa dengan kalian ini?" kata Jungkook oppa dengan mengangkat sebelah alisnya, tak mengerti dengan sikapku. Sementara yang lain hanya terkekeh melihat tingkah laku kami. Kecuali Yoongi oppa yang masih diam menatap layar televisi. Dan Yeontan, ia masih menggonggong dengan suara kecilnya yang lucu di bawah kakiku.


"Kalian ini" seru Jin oppa sambil menggelengkan kepalanya.


"Sudahlah!" seru Yoongi oppa.


Mendengar itu aku langsung melepaskan tanganku dari Jungkook oppa dengan tersenyum tipis, lalu menoleh ke arah Tae oppa yang masih lekat dengan tangan ku.


"Oppa lepaskanlah tanganmu dariku" kataku dengan wajah yang datar, dan ia langsung melepaskannya.


Saerin end POV


Sementara itu, di tempat lain.


tok.. tok.. tok..


"Masuk!" seru seorang dari dalam ruangan.


Terlihat seorang pria muda yang sedang duduk di meja kerjanya.


"Ada apa" katanya dengan wajah yang datar.


"Maaf tuan, ada informasi baru" kata penjaga yang bertubuh besar dengan memakai baju hitam yang rapi.


"Apa itu" pemuda itu menatap salah satu bodyguardnya.


"Tuan Park Soe-joon di penjara" kata penjaga itu dengan menundukkan kepalanya.


"APA!!"


Penjaga itu mendekat kearah pemuda itu dan memberikan sebuah berkas kepadanya.


"Ini tidak bisa dibiarkan. Cepat cari tahu lebih lanjut!"


"Baik tuan". Lalu penjaga itu berbalik dan keluar dari ruangan.


"Hyung, kenapa kau melakukan itu. Siapa orang yang berani memenjarakanmu. Aku tak bisa menerimanya. Kau adalah satu-satunya keluarga yang aku punya. Aku akan membalaskan dendam mu yang mendekam di penjara hyung"


Author end POV


Saerin POV


Waktu sudah menunjukkan pukul 22.00.


"Sudah malam, ayo kita tidur" kata Namjoon oppa yang beranjak dari sofa.


Aku dan yang lainnya mengikuti dari belakang. Menuju ke kamar masing-masing dan tidur.


*


S****kip pagi


*


Aku terbangun karna sinar matahari yang menembus jendela kamar. Dan langsung pergi ke kamar mandi.

__ADS_1


skip


Aku sudah turun dan bergabung dengan yang lain di meja makan.


skip


Selesai sarapan, aku duduk di sofa ruang keluarga bersama yang lain sambil mengelus Yeontan yang berada di paha ku.


Jimin oppa datang dan duduk di sebelahku.


"Hei Saerin apa kau tidak mau bersekolah?"


"Nanti saja oppa. Aku lelah dari kemarin. Dan aku ingin menghabiskan waktu ku bersama kalian dulu. Karna aku sangat merindukan kalian"


"Tidak apa-apa. Oppa juga ingin menghabiskan waktu bersama mu Saerin" kata Jin oppa yang berada di sampingku dan merangkul pundak ku.


"Kau tau, aku sering sekali menangis karna merindukan kalian. Aku tau menangis tidak akan menyelesaikan masalah. Tapi hatiku selalu sakit jika merindukan kalian. Sudah lima tahun kalian meninggalkan ku. Aku sangat-sangat merindukan kalian" kataku menatap Jin oppa. Yang kini sedang menatapku dengan tatapan yang sendu.


Saerin POV pause


Jin POV


"Mianhae Saerin. Aku belum bisa menjadi oppa mu yang baik. Aku tidak tau lagi harus berbuat apa kepadamu. Aku belum bisa menceritakan kenapa aku meninggalkanmu Saerin" batinku.


Jin end POV


Saerin POV play


Aku heran melihat wajahnya yang menatapku sedih.


"Ada apa oppa?"


"Tidak apa-apa Saerin" katanya mencoba mengusap air mata yang menampung di pelupuk matanya.


"Kenapa kau menangis oppa? kau.."


"Saerin kajja ikut aku" kata Jimin oppa memotongnya dengan menarik tanganku.


"Kita mau kemana oppa?"


"Ikut saja"


"Sebentar" aku melepaskan genggamannya lalu menaruh Yeontan di sofa. Dan Jimin oppa menarik tanganku lagi.


"Yak.. kenapa denganmu oppa. Kita mau kemana?". Tapi Jimin oppa tidak menggubris ucapan ku, ia terus saja menarikku.


Jimin oppa berhenti dan melepaskan tangannya, lalu ia duduk di kursi dekat kolam renang.


"Kenapa kau membawaku kesini?" kataku masih berdiri di tempat.


"Dari tadi kau selalu saja bertanya. Sekarang diamlah dan kemari, duduk di sini bersamaku. Kau bilang dirimu merindukan ku. Ayo kemari kita habiskan waktu berdua"


"Ge'er. Siapa juga yang hanya merindukanmu seorang. Aku merindukan yang lain bukan dirimu saja oppa. Kau itu.." belum selesai aku berbicara ia menarik tanganku sampai aku terduduk di kursi sebelahnya.


"Sstt.. kau itu berisik sekali. Diamlah dan nikmati udara segarnya" katanya sambil menutup matanya, merasakan angin yang berhembus membelai lembut rambutnya. Aku hanya menatapnya heran, memandangnya kemudian mencoba untuk menirukannya. Dan ya, udara pagi yang sejuk, matahari pagi bersinar dan hembusan angin yang menggoyangkan tanaman di sekitar kolam. Aku merasakan angin itu berhembus melewati wajahku. Rasanya sangat sejuk dan tenang.


"Sejuk sekali oppa. Rasanya benar-benar menyegarkan"


"Benar, memang sejuk".


Aku menyenderkan kepalaku di atas pundak Jimin oppa.


"Sepertinya rasa rindu ku sudah terbayarkan" aku merasakan ada tangan yang mengelus punggungku dengan lembut.


"Kau adalah tuan putri ku Saerin, dan aku sebagai pangeran mu akan berjanji untuk terus membahagiakanmu. Berjanjilah kepadaku bahwa kau harus menjadi gadis yang kuat dan takkan pernah menangis ataupun bersedih. Kau janji?" sambil menunjukkan jari kelingkingnya, aku membalasnya dengan mengaitkan jari kelingking ku padanya.


"Aku berjanji" dan aku langsung memeluknya, ia juga membalas pelukanku.


"Aku menyayangimu oppa"


"Aku juga".


"Uuuhhh... so sweet" seruan beberapa orang di belakang kami. Aku dan Jimin oppa langsung menoleh kaget ke arah mereka.


"Apa hanya Jimin saja yang kau sayangi, apa kau tidak menyayangi oppa mu yang lain ini hmm.." kata Hoseok oppa dengan melipat tangan di dadanya. Aku berpaling menatap Jimin oppa dengan tersenyum dan di sambut oleh senyumannya juga. Aku menoleh lagi.


"Tentu saja aku juga menyayangi kalian. Kalian semua adalah oppa ku, karna itu aku sangat menyayangi kalian bertujuh".


Mereka semua mendekat dan ikut bergabung bersama ku dan Jimin oppa.


Jungkook oppa menatap wajah dan lenganku yang masih menempel di badan Jimin oppa secara bergantian.


"Kenapa? apa kau juga ingin aku peluk seperti Jimin oppa?". Ia pun melebarkan tangannya, dan aku langsung bergantian memeluknya.


"Oh my princess" katanya dengan mengusap lembut kepalaku.


"Ouh mesra sekali" kata Jin oppa yang berada di samping Jungkook oppa. Aku melihatnya menoleh ke arah ku lalu berganti menatap Yoongi oppa yang berada disampingnya lagi. "Yoongi!" sambungnya dengan merentangkan tangan meminta pelukan dari Yoongi oppa. Tapi itu di respon sebaliknya oleh Yoongi oppa dengan wajah datarnya.


"Peluklah yang lain saja, jangan diriku" katanya dengan dingin ditambah ekspresi wajahnya yang heran.


"Kau ini Yoongi" katanya dengan wajah yang murung. Aku hanya terkekeh melihat interaksi keduanya.


Saerin end POV



Terima kasih banyak untuk para readers yang baca cerita ini.

__ADS_1


Nantikan episode selanjutnya. Jangan lupa like, vote dan komen dibawah ini juga. Thank you so much redears 💜


__ADS_2