You'Re My Brother (BTS)

You'Re My Brother (BTS)
Eps 4


__ADS_3

Sari end POV


Author POV


Skip Pagi


Seperti biasa Sari yang bangun tidur langsung bersiap-siap berangkat sekolah.


Selesai bersiap Sari melirik jam tangannya pukul 06.00 pagi. Dia membuka pintu kamar menuruni anak tangga. Seperti biasa Sari menyapa orang-orang yang sudah terlebih dahulu ada di meja makan. Dan bergabung memakan sarapannya.


Skip Di sekolah


Kini sudah memasuki jam istirahat. Sari merasa jenuh di kelas nya, hanya ada dia dan Adit yang masih ada di kelas sedangkan Tiara sahabat Sari dia keluar untuk menemui temannya. Adit sedang serius dengan pekerjaannya karna melakukan pelanggaran tidak mengerjakan PR dari Bu Indah guru mata pelajaran bahasa Inggris. Sari sendiri hanya bisa diam di dalam kelas karna tidak ada yang bisa di ajak bermain.


Seketika terlintas dipikiran Sari dan batinnya ingin pergi ke perpustakaan. Bila ia sedang jenuh atau tidak melakukan kegiatan lain Sari akan pergi ke perpustakaan karna waktu istirahat juga masih panjang jadi Sari memutuskan untuk beranjak dari kursinya dan keluar menuju ruang perpustakaan.


Adit yang menyadari Sari akan pergi menoleh menatap Sari.


"Sari kamu mau kemana?" tanyanya dengan heran.


Sari yang mendengarnya menoleh ke arah Adit.


"Oh aku ingin ke perpustakaan aku bosan di sini, hanya melihat mu mengerjakan tugas itu" kata Sari lalu pergi.


"Eh Sar tunggu dulu" sahut Adit sambil beranjak dari kursinya dan berjalan ke arah Sari. Sari yang hendak menuju pintu langsung menoleh.


"Kenapa Dit" kata Sari menatap Adit.


"Ikut" jawabnya singkat.


"Kan tugas kamu belum selesai. Sana gih selesain dulu"


"Udah ah ayo" kata Adit sambil menggandeng tangan Sari keluar.


"Eh Dit lepasin nggak usah pegang-pegang juga kali" kata Sari sambil mencoba melepaskan tangan Adit.


Adit yang mendengar hal itu langsung berhenti dan melepaskan tangannya.


"Iya" sahut Adit.


Kemudian Sari berjalan di depan sedangkan Adit mengikutinya dari belakang menuju perpustakaan.


Sampai di perpustakaan Sari langsung masuk ke dalam dengan Adit yang masih mengikutinya.


Sari langsung mencari buku di rak yang berjejer seperti sebuah labirin. Adit masih mengikuti Sari entah apa yang ingin dia lakukan. Saat Sari melirik buku di rak yang paling atas membuat nya tertarik dan penasaran ingin membacanya. Sari berusaha meraih buku itu tapi dia tidak bisa menggapainya karna lebih tinggi dari raih an tangannya. Adit yang melihat itu langsung mengambil buku yang Sari inginkan dan memberinya kepada Sari.


"Ini bukunya makanya badan tuh di tinggiin bukan di gedein" kata Adit meledek Sari yang tubuhnya sedikit pendek.


"Kamu ngeledek aku. Kamu juga punya badan tuh jangan tinggi-tinggi kayak tiang listrik. Pemain futsal kok kayak pemain basket tinggi amat" kata Sari balas meledek.


"Makanya main basket dong biar tinggi jangan centet mulu".


Sari pergi menuju meja baca meninggalkan Adit dengan kesal. Adit langsung menyusul Sari.


Sari yang kesal hanya bisa duduk dan membaca bukunya. Adit yang melihat Sari duduk di salah satu meja kosong langsung menghampiri Sari dan duduk dihadapannya.


Sari POV


Kali ini aku sangat kesal sekali mendengar kata-kata Adit barusan. Lalu aku melihat ada meja kosong. Aku berjalan menghampirinya dan duduk di kursi meja itu, membuka buku yang tadi aku ambil dan mulai membacanya tanpa memperdulikan keadaan Adit


"Sar.... Sari marah ya Adit minta maaf deh jangan marah lagi" kata Adit dengan nada memelas yang datang dan duduk dihadapanku sambil menyenggol-nyenggol lengan ku.

__ADS_1


Aku tidak peduli dan masih membaca buku ku. Mataku tak henti-hentinya bergerak melihat tulisan yang ada di buku itu sambil aku baca dalam hati. Tak lama buku itu di tarik oleh seseorang siapa lagi kalau bukan Adit yang berada dihadapanku. Dia mengambilnya dari tangan ku mungkin ia kesal karna dari tadi aku tidak menghiraukannya.


"Apa sih yang kamu mau" kataku sedikit berteriak menatap Adit dengan kesal.


Adit hanya diam saja tidak menjawab ku.


"Kalau tidak mau apa-apa jangan mengikuti ku" akupun berdiri dan berbalik dengan cepat dan berjalan menuju pintu keluar dan pergi meninggalkan Adit yang masih berada di dalam perpustakaan.


Sari end POV


Adit POV


"Sar, jangan marah dong aku minta maaf karna udah ngomong kayak tadi. Aku janji deh nggak akan ngulangin itu lagi ya Sar jangan marah dong aku minta maaf" kataku dengan wajah memelas dan menggoyang-goyangkan lengannya. Tapi Sari tetap saja tidak menghiraukan diriku. Aku sangat kesal dan tak sengaja menarik buku yang sedang Sari baca. Dan tak lama aku menyadari perbuatanku. Aku terdiam saat Sari mulai kesal dan pergi.


"Apa sih yang kamu mau" ucapan Sari itu membuat ku berpikir dua kali. Entahlah apa yang aku inginkan dan aku mau. Aku heran dengan diri ku sendiri.


Apakah aku sudah mengganggunya. Aku hanya bisa menghela napas kasar saat Sari sudah keluar dari ruangan ini.


Adit end POV


Author POV


Saat ini Sari sangat kesal sampai dia tidak tau kemana arah nya pergi. Dia terus saja berjalan keluar dari lorong-lorong kelas menuju taman belakang sekolah. Sari berhenti saat di depannya terdapat kursi besi panjang yang kosong lalu duduk dan menghela napasnya.


Sari POV


Entah kenapa tadi rasanya aku sangat kesal. Seperti ada yang mengganjal didalam hatiku tapi bukan masalah yang tadi di perpustakaan. Aku sudah tidak mempermasalahkan itu lagi aku tidak peduli. Jika nanti Adit masih menganggap ku marah kepadanya saat di perpustakaan aku akan bilang kepadanya bahwa aku tidak mempedulikan hal itu lagi. Tapi entah kenapa aku rasa ada sesuatu yang menurutku tidak enak sekali apakah ada sesuatu yang terjadi ataukah hal yang lain. Entahlah aku tidak tau. Aku hanya bisa menghela nafas kasar karna ketidak mengertian perasaan ku ini.


Tiba-tiba terlintas di pikiranku tentang keadaan oppa-oppa ku. Aku tidak bisa mengira-ngira apa yang terjadi dengan mereka. Apa mungkin terjadi sesuatu dengan mereka. Aku sangat khawatir sekali. Sekali lagi aku menghela nafas kali ini karna mencemaskan keadaan mereka.


Triing... triing... triing...


Skip pulang sekolah


Seperti biasa aku pulang di jemput oleh paman Gani. Saat ini aku sedang berjalan keluar dari sekolah menuju depan pintu gerbang. Aku berjalan sendirian karna tadi Tiara sudah terlebih dahulu pulang.


"Sari tunggu" teriak seseorang dari belakang ku. Aku mendengarnya dan langsung menoleh ternyata itu Adit.


Dia semakin dekat menghampiri ku.


"Ada apa Dit?" tanya ku melihat Adit berada dihadapan ku dengan nafas yang tersengal-sengal.


"Sar maafin aku kalau aku... " belum selesai bicara aku sudah memotongnya.


"Aku sudah maafin kamu kok Dit" kataku memutus kata-kata Adit.


"Kamu udah nggak marah lagi sama aku"


"Nggak kok Dit. Lagian juga buat apa aku marahan sama kamu nggak berfaedah" kataku dengan ketus.


"Tapi kenapa kamu diem mulu tadi di kelas aku jadi nggak enak ngomongnya sama kamu karna gara-gara yang ada di perpustakaan. Aku " lagi-lagi aku memotong kalimat Adit dengan menempelkan jari telunjukku ke mulutnya.


"Ssstt... udah nggak usah di pikirin lagi. Masalah itu udah aku lupain kok jadi jangan di ungkit-ungkit lagi ya" kataku lalu melepaskan jari ku.


"Tapi kenapa kamu tadi diem aja di kelas"


"Oh itu nggak papa kok aku cuma lagi kepikiran sesuatu aja perasaan aku lagi nggak enak"


"Beneran" katanya terkejut. "Mana, mana yang sakit Sar apa perlu aku bawa ke rumah sakit untuk di periksa dokter" lanjutnya lagi sambil membolak-balik kan tubuh ku.


"Nggak kok Dit aku nggak sakit dan nggak usah di bawa ke rumah sakit juga kali cuma nggak enak perasaan aja, kayak ada yang ngganjal gitu. Gausah lebay juga kali Dit".

__ADS_1


"Heheh maaf Sar" kata Adit cengengesan.


"Yaudah Dit aku pulang dulu. Pasti udah ditungguin di gerbang"


"Iya hati-hati di jalan"


"Iya" sahut ku lalu pergi meninggalkan Adit.


Skip


Sekarang aku sudah berada di rumah berganti pakaian dan makan. Kini aku sedang duduk di sofa, bersama Rey, dan si kecil Boy, sementara Tante Luna sedang pergi keluar. Aku dan Boy sedang bermain, sedangkan Rey? Entahlah sedari tadi ia hanya bermain dengan ponselnya, menatap layar ponsel tanpa menghiraukan yang lainnya. Aku sedikit kesal kepadanya dari tadi hanya ponsel saja yang ia mainkan apakah matanya tidak lelah.


Aku berusaha mengajaknya bermain bersama tapi tidak ada hasilnya.


"Rey apakah mata mu tidak lelah menatap ponsel saja. Ayo main sama kak Sari dan Boy, itu lebih menyenangkan daripada bermain ponsel membuat matamu menjadi lelah" kataku tidak tahan lagi dengan kelakuan Rey. Tapi Rey tetap saja diam dan tak peduli.


"Rey" sahut ku lagi sambil mencoba mengguncang tubuh Rey.


"Iya kak Sari" katanya kemudian sambil menaruh ponselnya.


"Nah gitu dong Rey nggak baik main ponsel melulu. Nanti kalo Tante tau abis kamu, dimarahin. Dan nanti Tante bakalan bilang kalo kak Sari nggak becus jagain kamu. Rey mau kak Sari dimarahin" kataku dengan menatap Rey. Meski anak itu bisa dibilang cuek tapi dia sangat menyayangi ku. Seperti kakaknya sendiri.


"Iya deh kak, Rey minta maaf" katanya dengan menatapku juga.


"Yaudah kalo gitu ayo sini main sama kak Sari. Dari tadi nggak enak loh cuma main berdua sama Boy, Rey nya diem aja" kataku mengajak Rey bermain ular tangga.


"Iya kak Ley cini main cama Boy cama mba Cari" kata Boy yang masih cadel.


"Iya kalo begitu kak Rey ikutan deh" kata Rey dengan sedikit malas.


"Kok lemes gitu sih Rey semangat dong. Masa anak laki-laki loyo sih" kataku memberinya semangat dan bertingkah imut.


"Iya ayo kak Ley semangay" kata Boy sambil menirukan gerakanku.


"Iya" sahut Rey sambil tersenyum melihat kelakuanku dan Boy.


Skip


Sekarang jarum jam sudah menunjukkan pukul 09.00 malam. Selesai makan malam aku langsung pergi ke kamarku. Aku berbaring di kasurku yang nyaman dan sesekali menatap langit-langit kamar.


Tiba-tiba ponsel ku berdering lalu kuambil ponsel ku dan duduk untuk menerima telepon. Saat kulihat nama penelepon ternyata itu nomor tidak diketahui. Tak lama aku menjawabnya.


"Halo maaf dari siapa ya" kataku dengan sopan.


"Jika ingin oppa mu kembali datanglah ke Korea. Bila tidak aku akan menghabisinya" katanya di dalam telepon kemudian ia memutuskan sambungannya.


Apa! Maksudnya apa yang ia bilang tadi, oppa ku? Kenapa mereka dan apa yang orang itu inginkan kenapa aku harus pergi ke sana? Apa yang terjadi?


Aku terus saja berpikir. Ternyata benar dugaan atas perasaanku tadi siang saat di sekolah. Sampai aku sendiri saja tidak berkonsentrasi dalam pelajaran sampai pulang sekolah.


Aku sangat bingung di tambah kaget karna mendengar tentang keadaan oppa-oppa ku sekarang. Apakah mereka disekap atau diculik? Tetapi siapa yang melakukan hal itu? Dan dari mana dia mendapatkan nomor ponsel ku. Apa yang mereka inginkan? Aarrgghh.. sungguh membingungkan. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Bagaimana aku bisa pergi ke Korea? Tante Luna dan Om Roy saja masih sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.


Sari end POV


Bagaimana kisah Sari selanjutnya.


Tungguin next episode nya ya..



Jangan lupa untuk di like, komen dan vote ya..💜

__ADS_1


__ADS_2