
Author POV
Masih di malam yang sama, pukul 23.00.
.
.
.
"Aarrgghh.. hiks.. hiks.. bagaimana ini, aku tidak bisa melakukannya.. aku menyerah.. hiks.. hiks.." gumam Saerin yang sudah putus asa karna tidak bisa melepaskan diri.
Saerin terus saja menangis, ia tak bisa menahan air mata yang keluar dari pelupuk matanya.
•
skip
Jungkook sudah diizinkan pulang sejak tiga hari yang lalu pasca kejadian.
Malam ini di rumah Bangtan. Malam pukul 22.30. Yang lain sudah tidur kecuali Jin, Namjoon dan Hoseok. Mereka bertiga tidak bisa tidur karna terus memikirkan keadaan Saerin.
"Hyung, bagaimana ini apa yang harus kita lakukan?" kata Hoseok pada Jin yang sedang cemas.
"Aku tidak tau Hoseok-ah, aku sendiri bingung. Oh Tuhan, bagaimana dengan keadaan Saerin sekarang? aku sangat khawatir, aku tidak bisa apa-apa" kata Jin, ia membenamkan wajah dalam kedua telapak tangannya, dan menangis terisak-isak.
"Tenang saja hyung, polisi masih sedang mencari Saerin, aku harap dia cepat-cepat ditemukan. Kau tenanglah hyung" kata Namjoon berusaha menenangkan Jin.
Jin yang mendengar hal itu sontak melepaskan tangannya, lalu menggebrak pelan meja di depan sofa ruang keluarga dan menatap Namjoon dengan kesal.
"APA YANG KAU KATAKAN TENANG!! aku tidak akan bisa tenang jika Saerin diculik! apalagi ini sudah lama Saerin belum ditemukan. Bagaimana jika Saerin dalam bahaya dan dia sedang kesusahan! tidak kah kau pikir dia sangat ketakutan sendirian di dalam kegelapan! aku adalah oppanya dan aku sudah merawat Saerin sejak kecil. Aku tau apa yang ia sukai dan tidak ia sukai. Aku tau apa yang membuatnya takut, aku tau apa yang membuatnya bahagia. Bukankah kau juga tau itu Namjoon-ah?"
"Nee hyung, tapi bisakah kau juga tenang sedikit, aku merasakan hal yang sama sepertimu, tapi aku memilih untuk tetap tenang dan menunggu laporan dari polisi" kata Namjoon yang sama menatap Jin.
"Apa kau hanya bisa diam dan menunggu saja hah!!" kata Jin.
"Biarkan polisi saja yang mengurusnya hyung" kata Namjoon.
"Apa kau hanya bisa bergantung pada polisi saja hah!!" kata Jin.
"Memangnya aku bisa apalagi hyung"
"APA KAU TIDAK BISA MENCARINYA LAGI HAH?!!" kata Jin yang tiba-tiba berdiri.
"AKU SUDAH BERUSAHA HYUNG" kata Namjoon yang sontak berdiri mendengar ucapan Jin.
"DAN KAU MENYERAH, BEGITU?"
"TIDAK KAH KAU PIKIR. SELAMA INI AKU BERUSAHA UNTUK MENCARI TAU KEBERADAAN SAERIN. AKU LELAH HYUNG, SUDAH TIGA HARI BELAKANGAN INI AKU IKUT DENGAN POLISI MENCARINYA. HANYA AKU YANG BERUSAHA. DAN APA YANG KAU LAKUKAN HAH! KAU HANYA BISA MENGATAKAN ITU PADAKU, TAPI KAU SENDIRI HANYA BISA DIAM DISINI, SEMENTARA AKU KELUAR. BAGAIMANA ITU HAH?!!" kata Namjoon dengan nafas yang tersengal-sengal menahan amarah.
Jin tidak bisa berkata apa-apa lagi setelah mendengar ucapan Namjoon. Hoseok yang tadinya diam, sekarang ia berdiri mencoba melerai perdebatan diantara kedua saudaranya itu.
"Sudahlah Jin hyung, Namjoon-ah. Kita sama-sama mengkhawatirkan Saerin. Cobalah untuk bersikap lebih dewasa dan berpikir dingin. Tenanglah, aku yakin Saerin baik-baik saja. Kumohon jangan berdebat seperti ini. Kalian akan membangunkan yang lain" kata Hoseok sambil mengelus lembut punggung Jin.
Namjoon beranjak pergi meninggalkan Hoseok dan Jin.
"Sudahlah hyung. Lebih baik kita tidur saja dulu, besok kita akan membicarakan ini lagi" kata Hoseok. Mereka berdua berjalan menaiki tangga dan masuk ke kamar masing-masing.
•
Di malam yang sama. Kini Saerin masih duduk terikat di bangku dalam kegelapan.
"Arggh.. sudah lama aku berada disini. Apa yang seharusnya aku lakukan sekarang?" gumam Saerin. Tak lama kemudian, ruangan yang tadinya gelap gulita, sekarang tampak sedikit terang karna sinar bulan yang datang menembus dari jendela besi di dinding. Saerin merasakan sinar bulan yang menimpa dirinya, tetapi tiba-tiba saja muncul cahaya kecil dari bawah yang membuat mata sebelah kiri Saerin menjadi silau.
"Ehh.. apa itu yang berkilau?" kata Saerin sambil menoleh ke asal cahaya. Saerin melihat lebih jelas lagi. "Apakah itu serpihan-serpihan kaca?" gumamnya.
•••
"Aha! ya benar itu adalah serpihan kaca, tapi bagaimana cara aku mengambilnya? hmm.. aku akan berusaha" kata Saerin. Ia mencoba menghampiri benda tersebut, walaupun sangat sulit. "Haah.. bagaimana ini?.. ani seharusnya aku tidak menyerah. Aku harus semangat, ya!". Saerin terus berusaha menggeser kursi yang ia duduki ke samping. Setelah beberapa lama, akhirnya Saerin hampir berhasil mendekatinya. Ia melihat beberapa serpihan kaca yang tajam.
"Bagaimana aku mengambilnya?.. argh.. aku tidak peduli, apapun caranya asalkan aku bisa mendapatkannya". Saerin mendekat sedikit lagi, tapi ia kehilangan keseimbangan karna mencoba menggoyangkan kursinya, dan ia pun terjatuh dengan posisi membelakangi kaca tersebut. Memang itulah ide yang ia pikirkan. Saerin berusaha menggapai salah satu serpihan kaca itu dengan meraba-raba. Walaupun agak sulit, dia takkan pernah menyerah sebelum berhasil. Akhirnya Saerin mendapatkan salah satunya. "Yak! aku mendapatkannya!" seru Saerin, lalu ia menyayatkan kaca itu pada tali yang mengikat tangannya.
...
Setelah cukup lama, akhirnya tali itupun berhasil terputus, kemudian Saerin melakukan hal yang sama pada kakinya. Dan tali itu berhasil putus juga, dengan segera Saerin melepaskan talinya dan kembali berdiri.
"Akhirnya aku berhasil bebas" katanya dengan tersenyum. "Aku harus segera keluar dari sini". Saerin menoleh ke kanan dan ke kiri. "Tapi bagaimana caranya?". Ia menoleh ke arah jendela di sampingnya. "Apa jendela itu bisa di buka? jika bisa aku akan keluar lewat itu saja!" batinnya berkata.
Saerin berdiri dan mendekat ke jendela. "Sepertinya ini agak tinggi" katanya mulai ragu. "Argh.. tidak masalah yang penting aku bisa keluar".
Saerin berusaha menggapai jendela itu, tapi terhalang oleh beberapa kardus yang tertumpuk dibawahnya. Saerin mulai memutar otak, ia mengambil kursi tadi dan meletakkannya di depan tumpukan kardus. Dan sampailah dia dengan jendela itu. Saerin melihat-lihat jendelanya.
"Owh ini terkunci oleh beberapa mur. Apakah di sini tidak ada obeng kecil?". Saerin turun dari kursi dan mulai mencari bendanya. Saerin melihat ada sebuah ember berisi peralatan tukang bangunan. Ia berjalan mendekat dan mencari obeng.
"Nah ketemu!" serunya tapi sedikit berbisik. Karna ember itu berada di bawah, jadi ia sedikit menundukkan kepala. Saat Saerin bangun ia tidak mengingat jika diatasnya terdapat rak besi, alhasil kepalanya terbentur dan Saerin tak sengaja berteriak kencang sekilas, lalu menutup mulut dengan tangannya.
__ADS_1
Dan terdengar suara langkah kaki yang mendekat. Saerin mulai panik dan bergegas mencari tempat sembunyi. Ia bersembunyi di balik tumpukan kardus yang menggunung.
Sementara itu, penjaga yang berada di luar tiba-tiba mendengar teriakan dari dalam gudang. Mereka segera membuka pintu dan terkejut bahwa mereka tidak melihat Saerin.
"Kemana gadis itu?!" kata salah satu penjaga.
"Cari dia!" seru penjaga lainnya.
Kedua penjaga itu pergi untuk memberitahukan kepada penjaga lain. Satunya lagi masuk ke dalam mencari Saerin.
Saerin merasa tidak nyaman berada di belakang tumpukan kardus. Saat ia melirik ke bawah, ternyata ada seekor kecoa yang mendekat ke arahnya. Saerin yang jijik dengan serangga itu, tidak bisa lagi bertahan. Ia menjerit ketakutan dan menggeliat-geliat sampai tumpukan kardus di depannya jatuh satu persatu.
Penjaga itu menoleh ke asal suara yang membuat kupingnya terngiang-ngiang. Dan ia mendapati Saerin sedang berada di belakang kardus.
"Hah ketemu juga kamu!" seru penjaga itu saat melihat Saerin. Saerin yang mendengar ucapan orang itu, sontak kaget dan menoleh.
Penjaga itu mulai menghampiri Saerin, tapi dengan cepat Saerin keluar dari tempat persembunyiannya dan segera melayangkan pukulan ke arah penjaga tersebut, dan berhasil mengenai wajah si penjaga. Saerin memutar tubuhnya dan mendaratkan telapak kakinya di wajah penjaga itu. Dan si penjaga ambruk ke lantai dengan lemas.
"Hh! mudah juga!" seru Saerin menyeringai menatap tubuh pria tersebut. Saerin sadar jika ia masih membawa salah satu obeng di tangannya. "Heh! kenapa aku masih memegang ini" dia pun melempar benda itu dan berlari keluar menuju pintu yang terbuka lebar di depannya.
~
Saerin berhasil keluar dari rumah besar yang menahan dirinya, tanpa gangguan sedikit pun. Namun, saat itu juga beberapa pria dari belakang sedang berlari ke arahnya. Saerin kaget melihat itu, ia pun langsung berlari menuju halaman depan rumah yang luas. Sekilas Saerin menoleh kebelakang, penjaga itu sepertinya tertinggal jauh dengan Saerin.
Saerin hampir sampai di dekat pintu gerbang, dan disana Saerin tidak melihat satupun penjaga yang menjaga di depan pintu. Saerin terus mempercepat larinya. Dan dia sampai di gerbangnya, tapi sayang pintu itu terkunci. Saerin mulai panik dengan menggebrakkan pintunya, sementara penjaga yang di belakangnya hampir dekat. Dia mencari akal, dan terdapatlah tembok di sebelah gerbang, dan Saerin berusaha menaikinya. Ia berhasil memanjat dan sekarang berada di atas, tapi ketika ia ingin turun, kakinya tertahan oleh sebuah tangan yang menariknya. Saerin berusaha menarik kembali, tetapi kemudian ia terjatuh di sisi yang berlawanan. Karna kakinya mendarat dengan tidak sempurna, alhasil kakinya terkilir. Saat itu juga beberapa penjaga sedang membuka pintu gerbangnya. Saerin segera beranjak berdiri dan berlari lagi agar jauh dari kejaran penjaga itu.
Beberapa penjaga yang di belakang Saerin, masih mengejarnya. Dengan langkah pincang, Saerin masih terus berlari, sampai nafasnya tersengal-sengal.
Saerin berlari melintasi jalanan yang gelap dan sepi, tidak ada satupun mobil yang melintas. Dan para penjaga yang mengejarnya, semakin dekat dengan Saerin.
"Hah aku harus pergi kemana lagi?" kata Saerin dengan panik, saat ia berhenti sejenak. Dia menoleh kesamping melihat ada semak-semak. Saerin bersembunyi di baliknya.
Beberapa penjaga yang mengejar Saerin, kini berhenti disamping semak dimana Saerin bersembunyi, tapi mereka mengira jika mereka kehilangan jejak Saerin.
"Dimana gadis itu?!" kata salah satu penjaga.
"Kita harus segera mencari gadis itu lagi. Jika tidak bos akan marah" kata penjaga yang lain. Merekapun berbalik arah dan meninggalkan Saerin, yang mereka tidak tau keberadaannya.
"Hyuuhh! untung saja mereka sudah pergi. Aku harus segera pergi dari sini". Saerin keluar dari semak-semak dan melangkah berlawanan arah dengan jalan yang tadi ia lalui.
Sudah agak lama Saerin berjalan dengan kaki yang pincang, tapi ia tidak menemukan kendaraan untuk menolongnya.
Tak lama kemudian Saerin melihat cahaya lampu dari arah depan yang semakin lama semakin jelas. Saerin melambaikan tangannya dan terlihatlah sebuah mobil yang berhenti di seberang jalan. Seseorang turun dari mobilnya dan menghampiri Saerin.
"Hei apa yang kau lakukan malam-malam begini dipinggir jalan?" kata pemuda lelaki itu.
"Kalau begitu, mari ikut saya. Akan saya antarkan kamu kerumah mu". Lalu pemuda itu menuntun Saerin untuk masuk ke dalam mobilnya. Mereka berdua masuk ke mobil dan pemuda itu mulai melajukannya.
"Tolong putar balik mobilnya" kata Saerin yang meminta lelaki itu untuk memutar balik arah mobilnya.
"Kenapa memangnya?" tanyanya yang bingung sambil memperhatikan jalanan.
"Putar balik saja, kumohon"
"Baiklah". Iapun memutar balikkan arah mobil dan membelakangi arah dimana rumah yang menyekap Saerin berada.
"Jika boleh aku tau, siapa namamu?" kata pemuda itu bergantian menatap Saerin dan jalanan.
"Namaku Kim Saerin. Kau bisa memanggilku Saerin" kata Saerin tanpa menatap lelaki itu.
"Oh Saerin. Namaku adalah Hueningkai dan kau bisa memanggilku Kai".
"Senang berkenalan denganmu" kata Saerin dengan datar. Lalu Saerin menatap Kai dengan serius, "Apa aku boleh bertanya?" kata Saerin.
"Nee"
"Dimana ini?"
"Memangnya kenapa? apa kau tidak tau ini dimana?"
"Nee"
"Kita ada di Busan"
"MWO!" kata Saerin membulatkan matanya.
"Wae? ada apa. Kenapa kau kaget seperti itu?" kata Kai yang bingung.
"Kenapa aku berada di Busan?"
"Apa kau bukan berasal dari kota ini?"
"Nee. Aku tinggal di Seoul bersama oppaku. Apa ini jauh dari Seoul?"
"Sedikit"
__ADS_1
"Tolong antarkan aku pulang ke Seoul"
"Tapi ini sudah malam"
"Aah aku tidak akan bisa pulang"
"Oh ya ngomong-ngomong. Kenapa kau berjalan sendirian di tengah malam seperti ini?"
"Aku akan menceritakannya padamu. Jadi begini, aku sebenarnya diculik oleh seseorang. Saat itu aku bersama oppaku di luar, saat aku dan oppaku ingin pulang, ada beberapa orang yang menghadang kami. Mereka memukuli oppaku dan membawaku pergi. Tapi aku tidak tau mereka membawaku kemana" jelas Saerin.
"Jika seperti itu, ikut aku pulang kerumahku"
"Apa itu tidak merepotkan dirimu?"
"Ani. Lagipula aku hanya sendirian dirumah dengan pembantuku. Gwenchanha, itu tidak akan merepotkanku. Bagaimana kau mau?"
"Tapi.. "
"Menginaplah dirumahku beberapa hari ini, setelah itu aku akan mengantarmu pulang"
"Mm.. baiklah aku ikut denganmu"
"Nee".
Kai membawa Saerin ke rumahnya.
"Sudah sampai" kata Kai yang memberhentikan mobil di depan sebuah rumah.
Saerin membuka pintu mobil, tanpa sengaja Saerin menginjak sebuah batu dan ia jatuh tergelincir batu itu. Kai yang melihat Saerin terjatuh, yang segera berlari kearah Saerin.
"Saerin kenapa kau bisa jatuh?" tanyanya. Tapi Saerin tak menjawabnya ia meringis kesakitan sambil memegangi kakinya.
"Baiklah aku akan membawamu". Kai mengangkat tubuh Saerin dan menggendongnya di depan, ia membawa Saerin masuk kedalam yang disambut dengan seorang wanita paruh baya.
"Tuan muda untunglah anda sudah pulang" kata wanita itu.
"Nee saya akan membawa dia ke kamar tamu dulu" kata Kai yang lalu berjalan ke arah kamar tamu, dan membaringkan Saerin di tempat tidur.
"Saerin jika kau ingin membersihkan diri silahkan. Dan sudah ada baju yang tersedia di lemari pakaian, kau tinggal memakainya saja" kata Kai.
"Gomawo Kai"
"Gwenchanha, jika kau butuh sesuatu katakan saja padaku"
"Nee"
"Aku akan meninggalkanmu di sini. Anggap saja seperti rumahmu sendiri" kata Kai, ia melangkah pergi meninggalkan Saerin.
Dan Saerin mulai membersihkan dirinya, mengambil pakaian di lemari dan memakainya. Kemudian ia berbaring di tempat tidur dan menatap langit-langit kamar.
"Owh.. aku harus segera pulang. Oppa pasti sangat mencemaskanku" kata Saerin.
skip
Keesokan harinya.
Kai turun dari kamar menuju ruang makan. Disana ia tidak melihat Saerin berada di meja makan.
"Dia pasti belum bangun" kata Kai. Ia beranjak menuju kamar tamu. Sampai di depan pintu, Kai mengetuknya terlebih dahulu, tapi tidak ada jawaban dari dalam. Kai memutuskan untuk masuk, dia melihat Saerin yang masih tertidur lelap di kasur. Kai menghampirinya, dan ia duduk di pinggir tempat tidur. Dia menatap wajah cantik Saerin yang polos sambil tersenyum. Tak lama kemudian Saerin mulai membuka matanya. Ia tebangun dan melihat Kai yang sedang tersenyum cerah kepadanya. Saerin langsung bangun dan terduduk.
"Kai apa yang kau lakukan di sini?" tanya Saerin sambil mengangkat sebelah alisnya. Mendengar ucapannya, Kai langsung kaget dan tersadar bahwa ia sedang melamun menatap Saerin.
"Ah ani. Aku hanya ingin membangunkanmu, sarapan sudah siap di bawah. Mari kita sarapan bersama. Aku akan turun duluan"
"Nee aku akan menyusulmu". Setelah Saerin mengucapkan itu, Kai langsung pergi.
Saerin menatap kepergian Kai sampai dia keluar. Saerin langsung turun dari kasur dan pergi menuju kamar mandi. Setelah selesai Saerin turun kebawah. Dia melihat Kai sedang menyantap sarapannya, Saerin menghampiri meja makan, bergabung bersama Kai dengan rasa gugup.
"Saerin, makanlah sarapannya" kata Kai.
"Tak usah sungkan" sambungnya. Saerin mulai memakan sarapannya sampai habis.
pause
.
.
Hai para readers tercinta. Maaf ya author jadi jarang up, soalnya nggak sempet mulu ngetiknya.
*Yaudah sekian dulu ya dari author.
*Nantikan next episodenya**...
__ADS_1
Author pamit. 💜