You'Re My Brother (BTS)

You'Re My Brother (BTS)
Eps 45


__ADS_3

Skip


Keesokan harinya, dirumah Bangtan...


05.00


Jungkook membuka matanya. Berusaha bangun lalu terduduk di kasur, ia meregangkan otot-otot tubuhnya kemudian turun dari tempat tidur dan segera ke kamar mandi.


20 menit kemudian. Ia sudah terlihat segar, memakai kaos sederhana dengan celana trainingnya, lalu memulai gerakan pemanasan untuk merilekskan otot tubuhnya yang terasa kaku. Setelah itu, Jungkook pergi keluar untuk lari pagi sebentar di taman.


05.45


Jungkook beristirahat di kursi panjang yang ada di taman. Sesekali ia mengelap dahinya yang penuh keringat itu dengan handuk kecil yang ia bawa di lehernya.


Dari kejauhan, nampak seorang yeoja yang sedang berlari-lari kecil di taman. Saat pandangannya teralihkan oleh seorang namja yang tengah duduk di kursi, iapun melangkahkan kakinya mendekati namja itu dengan dua botol air mineral yang ada di tangannya.


Ia duduk di samping namja itu, memberikan sebotol air mineral padanya. Jungkook kaget ketika ada tangan seseorang yang memberikannya sebotol air mineral. Merasa penasaran, ia menoleh pada seorang yeoja disampingnya itu yang masih menyodorkan sebotol air minum ditangannya.


Tak lama kemudian, Jungkook pun mengambilnya dan meneguk air tersebut.


"Kau juga sedang jogging rupanya" kata Lisa.


"Nee, semua tubuhku terasa kaku, jadi aku berolahraga agar tubuhku sedikit lemas" ucap Jungkook. "Kau sendiri, kenapa ada disini?" tanyanya.


"Eoh, aku juga sebenarnya sama sepertimu. Aku sedikit stres jadi aku berolahraga untuk menenangkan pikiranku" kata Lisa.


"Hm" Jungkook hanya mengangguk-angguk merespon ucapannya.


"Tuan, sepertinya.. belakangan ini aku tak melihatmu berada di kantor, kau darimana saja?" tanya Lisa.


Jungkook sedikit kaget dengan pertanyaan Lisa itu. Dia tidak tau harus bilang apa padanya karna disaat itu sebenarnya Jungkook sedang disekap oleh seseorang.


"Ee.. e.. aku.."


"Nee?" ucap Lisa menunggu jawaban dari Jungkook.


"...."


"A.. aku sedang liburan waktu itu" ucap Jungkook.


"Liburan? ini kan masih waktu-waktu kerja, kenapa kau malah liburan?" sidik Lisa.


"Ash itu tak penting, tidak usah dibicarakan lagi" ucap Jungkook yang mengalihkan topiknya.


"Hm, baiklah"


"Ohya, sudah jam enam. Aku harus pulang, selamat bertemu dikantor" ucap Jungkook sebelum ia berjalan pergi.


Lisa hanya menatap punggung Jungkook yang menjauh. Ia masih heran kenapa dia menghindari pertanyaannya itu.


"Nee semoga kita bertemu di kantor.." gumam Lisa.


"Ashh.. kenapa pertemuan ini sedikit aneh, biasanya jika kita bertemu pasti aku dan dia selalu ribut. Tapi kenapa sekarang berbeda sekali? huh.. mungkin aku juga yang salah karna selalu duluan merasa kesal padanya. Jika aku tak marah diapun juga takkan marah. Berarti aku lah penyebab pertengkaran kecil itu, tapi sekarang dia jadi sedikit lembut. Ouh, kenapa jantungku ini selalu berdetak kencang ketika aku dekat dengannya? ohya, aku harus ke kantor" kata Lisa. Ia juga segera pulang ke rumahnya dan bersiap untuk pergi ke kantor.


Skip, malam


20.00


Di kantor polisi, tepatnya di sel penjara..


"Jadi, bagaimana rencananya?" tanya Seo-joon.


Irene langsung membisikkan sesuatu di telinga Seo-joon.


"Arrasseo?" tanya Irene untuk meyakinkan Seo-joon dengan rencana yang ia bicarakan.


"Nee" kata Seo-joon dengan mengangguk pelan.


Skip, Keesokan harinya..


disisi lain...


Saerin tengah bersiap-siap pergi ke sekolahnya. Setelah sarapan ia dan Hueningkai langsung berangkat.


skip, sampai sekolah..


Saerin langsung turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam. Di koridor sekolah ia tak sengaja berpapasan dengan Junho.


"Saerin, kau baru datang?" tanya Junho.


"Nee, baru saja aku ingin ke kelas" kata Saerin.


"Mau aku antar? aku juga ingin ke kelasku" kata Junho.


"Nee" kata Saerin sambil mengangguk pelan mengiyakan tawaran Junho.


Mereka pun saling melangkah berdampingan dan sambil mengobrol seru. Junho mengantar Saerin sampai ke kelasnya dan setelah itu Junho melanjutkan langkah ke ruang kelasnya sendiri.


Sementara itu, Saerin sudah duduk di bangkunya disebelah Jiyeon. Sudah biasa jika Jiyeon sekarang menyambut Saerin dengan wajah dingin dan datarnya serta tatapan sinis pada Saerin.


Saerin hanya menghela napasnya dengan rasa kecewa. Entah apa kesalahannya pada Jiyeon yang membuat temannya itu sedikit demi sedikit membencinya.


Skip, istirahat..


Kali ini, entah apa yang dipikirkan oleh Jiyeon hingga ia menyeret Saerin ke taman belakang sekolah.


"Jiyeon, ada apa denganmu? kenapa kau menarik ku?" tanya Saerin saat Jiyeon melepaskan genggamannya.


"Aku hanya ingin bicara sesuatu padamu!" kata Jiyeon dengan nada menekan menahan amarahnya.


"Bicara apa Jiyeon? apa yang ingin kau bicarakan padaku, cepat katakan" kata Saerin dengan sedikit panik.


"Mulai saat ini dan seterusnya. Kau.. jangan lagi mendekati Junho. Dia adalah milikku, dan kau tak pantas bersamanya" tekan Jiyeon lagi, kali ini wajahnya berdekatan dengan Saerin dan jari telunjuknya yang menunjuk-nunjuk pada Saerin.


Saerin tak mengerti apa yang Jiyeon bicarakan. Ia benar-benar tak paham, kenapa dia berbicara hal yang seperti itu padanya.


"Jiyeon, apa yang kau bicarakan ini?" tanya Saerin dengan gugup karna melihat Jiyeon sedang menahan amarahnya.


"Aku sudah mengatakannya padamu, mulai sekarang dan seterusnya kau harus menjauhi Junho. Dia hanyalah milikku, dan akan selalu jadi milikku. Kau tidak bisa merebut Junho dariku Saerin. TIDAK BISA!" ucap Jiyeon.


"Jiyeon, apa kau menyukai Junho?" tanya Saerin.

__ADS_1


"Aku bukan hanya menyukainya, bahkan aku mencintainya. Tapi kau... kau malah merebutnya. KAU SUDAH MENGAMBIL JUNHO. Dan kau tau, Junho malah mencintaimu. DIA MENCINTAIMU, KAU TAU!" ucap Jiyeon.


"Jiyeon, tenangkanlah dirimu dulu. Aku--"


"TENANG! TENANG APA MAKSUDMU HAH!?! KAU MENYURUHKU TENANG" bentak Jiyeon yang memotong ucapan Saerin.


"J-Jiyeon.. kenapa kau jadi seperti ini?" kata Saerin yang gemetaran.


"AKU JADI SEPERTI INI KARNA DIRIMU. KAU MENGHANCURKANNYA SAERIN... MENGHANCURKANNYAA!!" teriak Jiyeon dengan nada membentaknya pada Saerin.


"J...Jiyeon.."


"MULAI SEKARANG.. KITA BUKANLAH TEMAN LAGI. JANGAN PERNAH KAU PANGGIL AKU TEMANMU, KARNA AKU BUKAN TEMANMU LAGI MULAI SAAT INI. DAN JAUHI JUNHO. CAMKAN ITU" bentak Jiyeon dengan nada tinggi.


Lalu setelah mengatakan itu pada Saerin, Jiyeon langsung pergi meninggalkan Saerin sendirian disana.


"Hiks.. hiks.. Jiyeon.. kenapa kau melakukan ini padaku? Jadi kau membenciku karna aku dekat dengan Junho. Dan ia marah karna Junho mencintaiku.. hiks.. hiks.. kenapa jadi seperti ini? hiks.. hiks.. Jiyeon.." lirih Saerin yang berlutut di tanah dan menangis terisak-isak.


Secara tak sengaja, Ji-won sedang berjalan sendirian di taman belakang sekolah. Dia melihat seseorang tengah duduk membungkuk di tanah. Karna penasaran Ji-won segera mendekati orang itu.


"Hey, kenapa kau menangis?" tanya Ji-won yang berdiri disamping Saerin.


Karna mendengar seseorang berbicara padanya, Saerin langsung mendongak ke atas dengan berderai air mata menatap sosok anak lelaki yang berdiri di sampingnya.


"Saerin?! kenapa kau ada disini? dan.. kenapa kau menangis?" tanya Ji-won yang panik lalu berjongkok disamping Saerin.


Saerin tak menjawabnya, ia hanya menangis terisak-isak dihadapan Ji-won.


"Sstt.. gwenchana.. aku ada disini, kemarilah" kata Ji-won yang membawa Saerin ke pelukannya.


Akhirnya, Saerin menangis dalam pelukan Ji-won. Dan Ji-won berusaha untuk menenangkan Saerin.


"Sudahlah, jangan menangis. Kita duduk dulu nee" ucap Ji-won yang membawa Saerin ke kursi panjang di belakang mereka.


"Tenanglah, kau sudah tenangkan?" tanya Ji-won. Saerin hanya mengangguk pelan padanya.


"Sebenarnya apa yang terjadi padamu? kenapa kau sampai menangis seperti itu?" tanya Ji-won yang menatap Saerin dengan serius.


Saerin menarik napasnya, lalu menceritakan kejadian itu pada Ji-won.


...


"Ouh.. jadi seperti itu.." ucap Ji-won.


"Mian, bajumu jadi basah karna air mataku" kata Saerin sambil menyeka air matanya.


"Aish, gwenchana. Lagipula ini sebentar lagi juga akan kering dengan sendirinya" kata Ji-won sambil menunjukkan bajunya yang sedikit basah.


"Gomawo.." ucap Saerin pelan.


"Untuk apa?" tanya Ji-won dengan membulatkan matanya.


"Karna kau telah mendengarkanku berbicara" kata Saerin.


"Hehehe, itu saja?" Kata Ji-won dengan terkekeh.


"Hemm.. memangnya kenapa?" kata Saerin.


"Tidak ada apa-apa"


"Hm, baiklah"


...


"Eoh, kenapa kau ada disini? Kau ingin mengganggu ku lagi?!" tanya Saerin dengan kaget.


"Mwo? Kau mengira aku akan mengganggumu?" tanya Ji-won yang kaget juga. Saerin hanya menganggukkan kepalanya.


"Aku ada disini itu karna tak sengaja. Aku hanya sedang berjalan-jalan disini, tapi tiba-tiba aku melihat seseorang sedang menangis. Jadi aku mendekatinya saja, aku bahkan kaget jika itu kau" ujar Ji-won.


"Kau tidak mau menggangguku?" tanya Saerin.


"Tentu tidak. Aku hanya tak sengaja lewat kan, lagipula aku sedang tidak mood untuk mengganggumu ketika aku melihat kau menangis seperti tadi" kata Ji-won.


"Memangnya jika kau menggangguku itu berarti mood mu sedang baik?"


"Em.. mungkin begitu" ucap Ji-won.


"Mwo?! Kau senang menggangguku?!" kesal Saerin.


"Nee" jawab Ji-won dengan spontan.


"Kau ini.." kesal Saerin dengan memukul-mukul lengan Ji-won.


"Ya, yak.. hentikan!" pinta Ji-won yang langsung dituruti oleh Saerin.


"Kau ini, sungguh menyebalkan" dengus Saerin dengan kesal.


Ji-won hanya terkekeh sambil mengusap kepala belakangnya.


"Kenapa aku merasa nyaman dengannya? Apa yang telah terjadi denganku ini? Ternyata ia sangat-sangat... ashh Ji-won, apa yang kau lakukan? ashh, perasaan apa ini? kenapa sangat nyaman dan tenang jika seperti ini? asshh " batin Ji-won sambil mengacak-acak rambutnya.


"Ji-won.. kau baik-baik saja?" tanya Saerin.


"Eoh, nee. Aku baik" jawab Ji-won. "Emm... Saerin" panggilnya.


"Hem.. nee" ucap Saerin dengan senyum kecilnya saat menoleh pada Ji-won.


"Oh astaga, kenapa hanya senyuman kecil seperti itu saja bisa membuatnya begitu cantik? oh, SADAR JI-WON, SADAR. Kenapa kau bisa luluh hanya karna senyumannya saja?! Sadar !! " batin Ji-won.


"Ji-won, Ji-won..." panggil Saerin sambil melambaikan tangannya didepan wajah Ji-won. "Yak, kenapa kau malah melamun?!" kesal Saerin.


"Eoh, oh.. ani. A-aku h-hanya.."


triingg... triingg...


Ucapan Ji-won itu terpotong oleh bunyi bel sekolah, yang menandakan bahwa mereka harus memasuki kelas untuk melanjutkan pelajaran hari ini.


"Eoh, sudah bel. Kita masuk, kajja!" ucap Saerin yang berjalan masuk mendahului Ji-won.


Ji-won hanya kembali melamun, beberapa detik kemudian ia menyusul Saerin ke kelasnya.

__ADS_1


Sementara itu, Saerin sudah duduk di bangkunya. Tapi ia tak melihat Jiyeon ada disebelahnya saat baru masuk kelas.


Setelah itu, terlihatlah Jiyeon yang memasuki ruangan kelas dibarengi dengan siswa-siswi lain yang baru masuk. Kali ini, Saerin berusaha untuk tak menyapa Jiyeon bahkan ia tak ingin menoleh sedikitpun padanya. Saerin masih mengingat ucapan Jiyeon tadi. Ia juga masih tertekan oleh ucapan Jiyeon yang membentaknya.


Skip, pulang..


Saerin melangkahkan kakinya ke depan pintu gerbang dengan wajah yang murung. Dengan langkah berat ia berjalan dan terus mengingat ucapan yang dilontarkan Jiyeon saat itu. Namun, dari kejauhan ada suara yang memanggil namanya. Saerin menghentikan langkah sebentar tapi raut wajahnya masih tetap sama, ia hanya menunduk sembari menunggu sesiapa orang yang memanggilnya.


Ternyata Junho yang telah memanggilnya, ia berhenti disamping Saerin dengan nafas yang terengah-engah.


"Ada apa?" tanya Saerin dengan datar dan masih menundukkan kepalanya.


"Mau pulang bersamaku tidak?" ajak Junho pada Saerin.


"Mm.. ani, aku dijemput" kata Saerin datar.


"Oh arrasseo, yasudah kita jalan bersama saja ke depan" kata Junho.


"Aniya Junho. Kau duluan saja"


"Waeyo? aku kan hanya ingin jalan bersamamu sampai ke depan gerbang saja. Kajja!" ucap Junho sambil menarik tangan Saerin. Tapi Saerin tetap diam dan bertahan ditempatnya.


"Kau kenapa Saerin?" tanya Junho yang mulai menyidik Saerin.


"Junho" panggil Saerin yang mendongakkan kepalanya.


"Nee, waeyo?"


"Lepaskan dulu tanganku" pinta Saerin. Junho pun melepaskan genggamannya, lalu menatap Saerin.


"Baiklah, sekarang apa yang ingin kau katakan" ucap Junho. Saerin melangkah maju dan berdiri di samping Junho yang ada di depannya.


"Junho, mulai saat ini dan seterusnya.. aku mohon jauhi dulu aku. Jangan pernah temui aku lagi, dan jangan pernah dekati aku. Ak--"


"WAE?!?" tanya Junho yang memotong ucapan Saerin.


"Sudahlah, tidak usah ditanyakan lagi. Aku mohon jauhilah aku Junho" ucap Saerin dengan mata yang berkaca-kaca.


"Ani, w-wae? kenapa kau mengatakan bahwa aku tak boleh mendekatimu, kenapa kau ingin aku menjauhimu? aku adalah sahabatmu, aku berjanji akan selalu ada di sisimu setiap waktu Saerin. Aku berjanji, dan aku tidak mau melanggar janjiku sendiri. Kenapa? kenapa kau mengatakan itu?" ucap Junho yang mengelak pada pernyataan Saerin.


"Sudahlah Junho, aku mohon. Jauhi aku"


"ANIYA, kau tau kan aku adalah sahabatmu sekarang. Kau tau aku berjanji untuk selalu disampingmu. Kau tau aku akan melindungimu. Kenapa kau ingin aku menjauhimu? WAE?!!" sela Junho.


"Sudahlah Junho, aku mohon. Aku mohon.. padamu. Tolong jauhi aku. Sekarang aku pergi dulu" kata Saerin yang ingin pergi. Tapi tangannya dicekal oleh Junho dibelakang.


"Tolong Saerin, jangan jauhi aku. Jebal" ucap Junho dengan mata yang berkaca-kaca.


"Mianhae Junho. Sekarang lupakanlah aku, jangan dekati aku lagi" kata Saerin.


"Ani, aku hanya ingin bersamamu saja. Jangan katakan itu padaku Saerin, hajima.."


"Aku mohon, lepaskan aku!" ucap Saerin yang berusaha melepaskan cekalan Junho.


Tapi tak menghiraukannya. Ia malah mengeratkan cekalannya itu pada Saerin hingga membuat si pemilik menjerit kesakitan. Junho malah tak mempedulikan Saerin, ia semakin mengeratkannya. Tak peduli jika Saerin sudah menangis karna kesakitan.


"Jangan tinggalkan aku Saerin. Jangan katakan itu padaku.. aku tak mau kita jadi orang asing. Aku masih ingin bersamamu. Aku tak mau kau jauh dariku Saerin. Jebal" ucap Junho dengan lirih.


"J-Junho.. lepaskan tanganku.. sakit.." ringis Saerin.


"Ani, aku takkan melepaskanmu. Aku mohon, jangan jauhi aku Saerin"


"J-Junho.."


Saerin masih meringis kesakitan dengan air mata yang terus mengalir. Tapi kemudian, ada sebuah tangan yang menepis kasar tangan Junho.


"Yak, apa-apaan kau ini Junho! Kau tidak tau jika Saerin sedang kesakitan hah?! apa kau tak melihatnya menangis seperti itu?!" bentak Ji-won pada Junho.


"Memangnya apa urusanmu hah?! ini adalah masalahku dengan Saerin. Jangan ikut campur kau!" ucap Junho yang menaikkan nada bicaranya pada Ji-won.


"Yak, kau tak lihat. Kau itu menggenggam tangan Saerin terlalu erat, lihatlah dia menangis kesakitan. Dan karna ulahmu ini tangan Saerin jadi merah. Apa kau tak bisa lembut sedikit padanya eoh?!" ucap Ji-won dengan kesal.


Junho mulai meredam emosinya, ia melihat pergelangan tangan Saerin yang merah karna cekalannya. Junho mulai menyadari kelakuannya, ia menyesal dengan kesalahannya sendiri.


"Saerin.. m-mian.." ucap Junho dengan pelan tapi masih terdengar.


"LUPAKAN SAJA. AKU INGIN PULANG!" teriak Saerin yang berlari ke depan gerbang.


Junho hanya bisa menatap punggung Saerin yang menjauh dengan penyesalan yang ia rasakan.


"Lainkali, jangan kasar dengan perempuan" ketus Ji-won yang pergi meninggalkan Junho.


"Saerin.. mian.. mianhae.. aku tak sengaja... " batin Junho.


di depan gerbang...


Saerin menyeka air matanya sambil menunggu Hueningkai datang. Tapi terlihat Ji-won yang mendekatinya setelah ia keluar dari gerbang.


"Saerin, kau baik-baik saja?" tanya Ji-won yang menatap Saerin.


"Nee, aku tak apa-apa. Aku baik-baik saja, tak perlu khawatir" ucap Saerin yang masih menyeka tangisannya.


"Benar kau tidak apa-apa? tanganmu sangat merah" kata Ji-won yang mencemaskan Saerin.


"Nee, tenang saja" ucap Saerin meyakinkan Ji-won.


"Oh baiklah"


Tak lama kemudian, mobil Hueningkai sudah berhenti di depan Saerin.


"Ji-won, aku pulang dulu" pamit Saerin.


"Nee, e.. hati-hati di jalan" ucap Ji-won dengan ragu mengatakannya.


"Nee" kata Saerin dengan tersenyum lalu ia mulai memasuki mobil Hueningkai, dan kemudian mobilnya pun melaju meninggalkan Ji-won.


"Apa yang kulihat tadi? apa dia tersenyum padaku? ash, ini sangat aneh. Kenapa perasaan ini lagi yang menghantui ku? oh Tuhan tolong aku, bagaimana caranya menghilangkan rasa yang begitu aneh ini dalam hatiku ini? tolong aku " batin Ji-won.


"Tapi, kalau dipikir-pikir.. dia manis juga jika tersenyum seperti itu" gumam Ji-won.


...

__ADS_1


**Jangan lupa untuk dukung author terus dengan cara LIKE, COMMENT AND VOTE YA READERS.


*SAMPAI JUMPA DI EPISODE SELANJUTNYA 💜***


__ADS_2