You'Re My Brother (BTS)

You'Re My Brother (BTS)
Eps 68


__ADS_3

Di rumah Hueningkai...


Hueningkai baru pulang dari kampusnya, sudah pukul 18.30 kst. Terlihat sekali jika Hueningkai sudah kelelahan karna tugas kampusnya yang sangat banyak hingga ia pulang malam. Hueningkai membuka pintu rumahnya kemudian masuk ke dalam.


"Saerin, aku pulang!" seru Hueningkai sesaat sesudah ia menutup pintu.


Namun tak ada jawaban sama sekali darimanapun, ia heran kenapa rumahnya tampak sepi, seperti tidak ada orang sebelumnya.


"Kemana Saerin? apa mungkin dia sedang berada di kamarnya? baiklah aku akan keatas"


Ia pun berjalan menaiki tangga, lalu pergi ke kamar Saerin. Hueningkai pun mengetuk pelan pintu kamarnya, tapi tak ada satupun suara dari dalam. Hueningkai bertambah bingung. Ia tidak tau Saerin ada dimana.


"Kenapa ia tidak juga menjawabnya?" gumam Hueningkai.


"Saerin!? Saerin!?" teriak Hueningkai sambil mengetuk-ngetuk pintu.


"Haissh, apa mungkin dia ada didapur??" Hueningkai pun segera turun lalu ke dapur.


Disana ia juga tidak melihat Saerin, kali ini Hueningkai merasa khawatir. Ia pun mencari disekeliling rumah tapi hasilnya pun nihil. Hueningkai bertambah khawatir apalagi ini sudah malam. lalu dimana Saerin berada? pikirnya.


"Aish, aku akan mencarinya keluar" ucap Hueningkai, dengan segera ia mengambil kunci mobilnya lalu keluar rumah.


Hueningkai pun melaju bersama mobilnya untuk mencari Saerin.


Di sungai Han...


Angin mulai bertiup kencang, awan gelap pun menutupi langit malam yang penuh bintang. Pertanda jika hujan akan segera turun malam ini.


Junho mulai merasa kedinginan namun matanya masih memantau Saerin yang tak bergerak sama sekali.


"Huuffhh... disini dingin sekali" kata Junho sambil menggosok-gosok telapak tangannya agar hangat.


Drrrtt drrrtt


Ponsel Junho berdering, ada sebuah pesan yang masuk. Junho mulai memeriksa pesannya.


Lima menit kemudian, Junho memasukkan kembali ponselnya kedalam saku celana. Saat ia menoleh kedepan, ia sangat kaget ketika tidak melihat Saerin dipinggir sungai Han itu. Junho bingung, ia juga sedikit cemas.


Junho pun keluar dari tempat persembunyiannya, ia berlari ke pinggir sungai han sambil menoleh ke kanan dan kiri melihat disekeliling sungai Han. Tapi tetap saja Junho tak bisa melihat Saerin ada disana.


"Haish dimana Saerin? aku rasa dia masih berada disini tadi. Lalu kemana dia sekarang?" gumam Junho sambil mengacak-acak rambutnya.


***


Hujan turun dengan deras, sederas air matanya yang mengalir.


Saerin menundukkan kepalanya sambil berjalan di tengah jalanan malam yang sepi. Air matanya masih terus mengalir bercampur dengan air hujan yang juga turun ke tanah.


Tak jauh dibelakang Saerin, ada Junho yang berlarian menerjang hujan sambil terus melihat jalanan disekitarnya untuk mencari sosok Saerin.


...


Hueningkai melajukan mobilnya ditengah jalanan yang sepi dan terguyur air hujan itu. Kabut tipis sedikit menghalangi jarak pandangnya. Karna itu Hueningkai tidak bisa memfokuskan pandangannya ke depan.


Lampu mobil sudah menyala untuk menerangi jalannya. Namun tetap saja Hueningkai masih belum bisa melihat jalan dengan jelas karna ada kabut dihadapannya itu.


"Haish dimana Saerin?" gumam Hueningkai sambil menoleh ke kanan dan kiri jalan.

__ADS_1


Hingga ia tak sadar jika ada seseorang yang berada di tengah jalan didepannya itu. Apalagi ia melajukan mobilnya dengan kencang.


...


Akhirnya Junho dapat melihat sosok Saerin yang dari tadi ia cari, namun ia sangat kaget jika dibelakang Saerin ada sebuah mobil yang melaju kencang kearahnya. Junho langsung berlari kearah Saerin dengan cepat.


...


Saerin masih melamun, ia melangkahkan kakinya dengan pelan sambil terus menunduk menatap jalan dibawahnya itu.


Terdengar sayup-sayup suara seseorang dari kejauhan yang tersamarkan oleh suara hujan. Saerin mulai berhenti melangkah. Ia pun mendongakkan kepalanya lalu menoleh kesamping.


Pandangannya pun teralihkan oleh sebuah cahaya mobil yang berada dibelakangnya itu, ia menyipitkan mata sambil melihat mobil yang ada dibelakang.


Saerin diam saja, tatapannya kosong seperti tak memikirkan sesuatu.


Mobil itu masih terus berjalan walau ada seseorang dihadapannya. Mobil itupun mendekat dan hampir menabrak Saerin. Tapi tiba-tiba...


"Saerin!!! Awas!!!"


Hueningkai baru menyadari kejadian itu, ia pun langsung menginjak rem sambil membunyikan klakson mobilnya.


*Tiin... tiiiinnn...


Srreettt.. brrukkk...


ckiiittttt*..


Saerin terjatuh ke pinggir jalan bersama Junho. Mobil Hueningkai berhenti ditepi jalan karna Ia memutar setirnya ke samping, sehingga ia tidak menabrak siapa orang yang tengah berdiri ditengah jalan tadi. Saerin menyadari satu hal, perlahan lamunannya terpecahkan karna ada seseorang dihadapannya.


"Akh.. Saerin, apa kau baik-baik saja?" tanya Junho sambil meringis karna sikunya tergores aspal.


"Hiks... hiks... Junho..." Saerin menangis, ia mengaitkan kedua lengannya di leher Junho, memeluknya dengan erat dibawah hujan deras itu. Junho kaget karna Saerin tiba-tiba memeluknya sambil menangis. Sesaat kemudian Junho pun membalas pelukan Saerin, namun ia masih bingung tentang apa yang menyebabkan Saerin jadi seperti ini.


Hueningkai menghembuskan nafasnya dengan terengah-engah, hampir saja ia akan menabrak seseorang tadi. Hueningkai melihat siapa orang yang hampir ditabraknya menggunakan kaca spion. Dibelakangnya itu terdapat dua orang anak remaja yang terduduk sambil saling berpelukan dibawah hujan.


Hueningkai segera mengambil payung lalu turun dari mobil. Ia mendekati kedua anak itu.


"Hey, kalian tidak apa-apa?" tanya Hueningkai sambil memayungi mereka berdua juga.


Saerin menoleh kebelakang karna ia mendengar suara Hueningkai. Namja itu pun kaget karna melihat gadis kecilnya yang ternyata hampir ia tabrak sendiri tadi.


"Saerin?"


"Kai"


Saerin langsung berdiri dan memeluk Hueningkai dengan erat sambil menangis.


"Hiks... hiks... Kai..."


"Saerin, kau darimana saja? Aku sangat khawatir, dari tadi aku mencarimu. Kenapa kau bisa ada disini hah?" tanya Hueningkai sambil mengelus punggung Saerin.


Saerin tak menjawab, ia hanya menangis sesenggukan didada Hueningkai.


"Yasudah, kita masuk ke dalam mobil dulu ne, kajja" ajak Hueningkai yang akan menuntun Saerin ke mobil. Namun langkahnya terhenti mengingat ada salah satu teman Saerin yang berdiri dihadapannya itu.


"Dan kau juga, ayo masuk ke mobilku" ucap Hueningkai pada Junho. Dia hanya menganggukkan kepalanya lalu mengikuti Hueningkai ke mobil.

__ADS_1


Skip


Setelah mengantar Junho kerumahnya, kini mobil Hueningkai melaju lagi untuk pulang ke rumah.


Sesampainya dirumah, Hueningkai menuntun Saerin masuk ke dalam. Ia membawa Saerin langsung ke kamarnya untuk membersihkan diri. Setelah itu ia juga masuk ke kamarnya untuk mengganti baju.


Dikamar Saerin, gadis itu sedang berendam air hangat di dalam bathtub nya. Saerin kembali menangis, ia tak tau kenapa air matanya ingin terus mengalir. Ia juga tak tau kenapa ia tak bisa berhenti menangis. Rasanya malam ini ia ingin sekali menumpahkan sebanyak-banyaknya air mata yang sedari tadi ia tampung. Saerin tak bisa menahan rasa sakitnya lebih lama lagi. Seakan ia ingin melupakan kejadian itu tapi bayang-bayangnya selalu menghantui pikiran Saerin hingga ia tak bisa move on dari peristiwa itu. Sangat sakit hatinya karna ketujuh oppanya membenci dirinya. Namun Saerin masih belum tau apa alasan sebenarnya yang menjadi penyebab kebencian ketujuh oppanya itu.


Tak lama kemudian, Saerin pun tertidur didalam bathtub karna kelelahan.


Skip


Keesokan paginya...


Saerin membuka mata, cahaya matahari langsung menerobos dari kaca jendela di sebelah tempat tidurnya. Saerin terbangun dan mendapati dirinya yang sudah berada di atas kasur dan sudah memakai baju. Hanya baju piyama saja. Tapi Saerin masih bingung kenapa ia sudah berada di tempat tidur. Ia masih ingat jika semalam dirinya tertidur di bathtub.


"Aku... k-k... kenapa?" ucap Saerin dengan bingung. "Kenapa aku bisa berada disini? aku ingat jika semalam aku berada di kamar mandi, tapi kenapa pagi ini aku berada di atas tempat tidur?"


"Apakah...???"


Saerin melompat turun dari tempat tidur, dan langsung pergi ke bawah. Disana sudah ada Hueningkai yang sedang memasak. Saerin pun menghampirinya dan menatap Hueningkai dengan heran.


"Kai"


Panggil Saerin yang membuat Hueningkai terkejut. Namja itu menoleh kebelakang, dan melihat seorang gadis yang masih memakai piyamanya.


"Saerin, kau sudah bangun. Kalau begitu kemarilah, ayo kita sarapan bersama" ucap Hueningkai sambil membawa sepiring nasi goreng ke meja makan.


Hueningkai pun duduk di kursi, namun Saerin masih tetap berada ditempatnya hanya menatap Hueningkai.


"Saerin?" Hueningkai mengangkat satu alisnya karna tatapan Saerin yang nampak misterius.


"Saerin? kau kenapa? ayo kemari, aku sudah membuat sarapan untukmu" kata Hueningkai lagi, ia berusaha membuat Saerin tersadar dari lamunannya.


Ia pikir Saerin hanya sedang melamun saja, tapi dugaannya itu salah. Saerin tak sedang melamun, ia hanya menatap Hueningkai dengan sedikit tajam. Membuat namja itu bergidik ngeri melihat gadis remajanya yang terlihat berbeda.


Tanpa menjawab pertanyaan dari Hueningkai, Saerin segera berjalan ke meja makan lalu duduk dihadapan Hueningkai. Tapi tatapannya masih terkunci pada namja itu.


"Saerin, bisakah kau tidak menatapku seperti itu? Apa kau..."


"Apa kau yang mengangkatku keatas tempat tidur dan memakaikanku piyama ini?" sambung Saerin yang menatap Hueningkai dengan tajam.


Hueningkai mulai salah tingkah, ia bingung ingin mengatakannya pada Saerin.


"I... itu..." kata Hueningkai sambil menggaruk tengkuk lehernya.


"Itu... eehh... Ah, itu tidak penting Saerin. Sudahlah ayo sekarang kita sarapan saja nee. Aku membuatkanmu nasi goreng kesukaanmu, ayo dimakan"


"Hemm... kau tampak mencurigakan"


"Ayolah Saerin..."


Saerin hanya menatap Hueningkai dengan tajam saja, namun Hueningkai malah menelan ludahnya dengan kasar. Entah harus bagaimana lagi untuk menghadapi seorang gadis yang sedang mengalami masa pubertas ini.


***


Jangan lupa like, komen dan vote💜

__ADS_1


Borahae💜


__ADS_2