You'Re My Brother (BTS)

You'Re My Brother (BTS)
Eps 71


__ADS_3

"Saerin?!"


Hueningkai berlari keluar kamar, dan ia mencari Saerin disekitar rumah. Dengan perasaan gundah gelisah Hueningkai pergi dengan mobilnya untuk mencari Saerin setelah ia tak menemukan gadis itu disekeliling rumah. Ia terus menggumamkan nama Saerin dalam benaknya, berharap nama yang ia sebut dapat ditemukan.


08.00 kst.


Kantin Rumah Sakit


"Makanan datang!" seru Jennie dan Lisa berbarengan.


Mereka berdua meletakkan makanan yang sudah mereka pesan itu di atas meja. Lalu duduk bergabung dan mulai memakan makanannya. Sementara Jisoo terus melamun dan hanya memainkan sumpit ditangannya.


"Jisoo, kenapa kau diam saja? Ayo dimakan, nanti makanannya dingin" ucap Rose yang dari tadi memperhatikan sahabatnya.


"Memang kau sedang memikirkan apa?" tanya Jennie ikut melirik ke arah Jisoo.


"Ah tidak, aku hanya memikirkan gadis itu. Apakah kalian tidak berpikir bagaimana dia nanti jika sudah sadar? Apa yang harus kita lakukan pada gadis itu? Apakah kita tinggalkan saja dia, atau kita bawa pulang dan menginap bersama kita?" ucap Jisoo menatap satu persatu sahabatnya.


"Benar juga, kita kan tidak tau dia darimana dan keluarganya siapa. Lalu bagaimana kita akan mengantarnya ke keluarga aslinya?" ucap Lisa yang menghentikan makannya sejenak lalu menatap ketiga sahabatnya.


"Kalian ingat ucapanku kemarin? Kita hampir saja menabraknya jadi kita juga harus bertanggung jawab. Sebisa mungkin kita harus menunggunya sampai siuman, lalu jika dia sudah sadar nanti kita tanyakan saja padanya. Siapa dan dimana asalnya. Lalu dia menjawab dan kita antarkan dia ke tempat tinggalnya. Gampang kan" ucap Jennie.


"Jangan bicara seenaknya saja. Ini menjadi tanggung jawab yang besar. Kita bahkan belum melunasi administrasinya. Apa kau pikir hal seperti ini adalah hal sepele? Tentu tidak, kalian tau kan kita baru saja pindah ke Seoul. Bagaimana kita mendapat pekerjaan dan akan melunasi administrasi rumah sakit nanti?" ucap Jisoo.


"Nee benar sekali, apalagi kita kan baru saja dipecat dari pekerjaan kita yang ada di Busan. Pasti sulit sekali untuk dapat mencari pekerjaan baru" ucap Rose.


"Oh ayolah! Lihat disekitar kita sekarang, kita berada di Seoul. Pasti banyak lowongan pekerjaan disini" ucap Jennie enteng.


"Dan dimana kita mencari lowongan pekerjaan itu?" tanya Jisoo pada Jennie yang terlihat santai-santai saja.


"Kita bisa mencarinya lewat situs internet. Tenang saja, nanti aku akan mencarikan pekerjaan untuk kita berempat. Secepatnya kita akan mendapat pekerjaan lalu mendapat uang dan melunasi semua administrasi rumah sakit untuk gadis itu. So, niat kita kan baik, untuk menolong gadis malang itu bukan? Tenang saja, kebaikan pasti akan dibalas dengan kebaikan pula jika kita memang tulus dan ikhlas membantu"


"Jen, ini hal yang sangat sulit. Kenapa kau malah santai saja? Jika kita gagal mendapat pekerjaan bagaimana? Di Seoul itu padat, mana mungkin kita mendapatkan pekerjaan dengan mudah secepat itu?" balas Jisoo.


"Jisoo, percayakan saja padaku. Aku tau aku dapat diandalkan. Tenang saja, sebaiknya kau makan makananmu itu. Lalu kita pikirkan lagi nanti. Jika seperti ini terus , kita tidak akan bisa selesai, kau tau?" Jennie pun melanjutkan makannya lagi.


"Ya baiklah, terserah kau saja"


***


Sementara itu Hueningkai masih mencari-cari Saerin dengan mobilnya. Keliling kota Seoul hingga menanyakannya pada orang-orang sekitar. Namun tetap saja hasilnya nihil.


"Apakah... Dia ke rumah Junho? Tapi kalau aku ke rumahnya sekarang Junho pasti sudah pergi ke sekolahnya. Mana mungkin dia tau.. aasshhh!!! Saerin... Kau pergi kemana lagi...?" ucap Hueningkai didalam mobilnya.


Sampai di rumah, Hueningkai membanting tubuhnya ke sofa sambil mengusak-usak surainya kasar. Dia bingung sekali, baru saja malam tadi ia mengecek Saerin masih baik-baik saja. Namun sekarang dia malah menghilang lagi.


"Aasshhh!!! Kenapa jadi begini?!" Hueningkai pun melihat jam yang ada di dinding. "Jam setengah sepuluh... Aish.. aku sudah mencarinya kemana-mana tapi masih saja belum ketemu. Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan sebelum lewat 24 jam?"


Hueningkai kembali menghela napas kasar, ia menyandarkan kepalanya di sofa lalu memijit keningnya yang sedikit pusing akibat kejadian itu.


***


Skip~


14.00 kst.


Hueningkai masih gelisah memikirkan Saerin, terus menerus menggumamkan namanya sembari berjalan kesana-kemari dengan cemas.


"Bagaimana kalau aku telpon saja dia sekarang? Jam segini pasti dia sudah pulang sekolah" ucap Hueningkai.


Ia kemudian mengambil ponselnya di saku celana lalu menelepon nomor Junho.


Tut... Tut... Tut...


"Ayolah, angkat Junho..."

__ADS_1


Dan terdengarlah nada sambung dari ponselnya.


"Yeoboseyo hyung, wae? Apa yang membuatmu meneleponku sekarang? "


"Junho, apa kau melihat Saerin?"


"Eoh? Saerin? Ani... Aku tidak melihatnya. Bahkan Jiyeon bilang Saerin tidak masuk sekolah hari ini. Emm.. memangnya kenapa hyung? "


"Junho... S-saerin.... Saerin...."


"Saerin kenapa hyung? Kenapa suaramu terdengar gemetar seperti itu? Apa yang terjadi? "


***


Disisi Junho...


"Mwo??"


Junho terkejut mendengar ucapan Hueningkai di telepon. Perasaannya juga mulai khawatir. Namun sedetik kemudian ia terkejut lagi karna merasa ada seseorang yang menepuk bahunya. Tapi setelah ia melihat siapa pelakunya...


"Jiyeon?"


"Kau belum pulang? Kenapa berdiri terus didepan gerbang? Apa kau menungguku?"


"Ahh ani... A-aku..."


"Kau sedang menelpon siapa?" tanya Jiyeon melihat Junho yang masih menaruh ponselnya disamping telinga.


"Eoh ini.. aku ditelpon oleh Hueningkai hyung. Ia menanyakan aku tentang Saerin"


"Memangnya kenapa dengan Saerin?" tanya Jiyeon bingung.


"D-dia..."


"Hueningkai hyung bilang kalau Saerin menghilang. Malam tadi ia sudah mengecek kalau Saerin masih baik-baik saja, namun esok paginya Saerin tiba-tiba menghilang begitu saja. Aku juga bingung harus bagaimana"


"S-saerin hilang? Bagaimana bisa ia menghilang?" kaget Jiyeon.


"Ya... Aku juga tidak tau"


"Kalau begitu kita cek langsung ke rumah Hueningkai oppa saja. Siapa tau kita bisa membantunya"


"Yap, ide bagus. Kalau begitu ayo!"


Jiyeon pun mengangguk. Mereka berdua segera bergegas ke halte bus lalu menuju ke rumah Hueningkai.


10 menit kemudian...


Tok tok tok


Ceklek


"Eoh? Kalian?" Hueningkai terkejut ketika melihat Jiyeon dan Junho yang datang ke rumahnya.


"Ayo kita masuk dulu" Hueningkai pun mengajak mereka berdua untuk masuk ke dalam.


Sampai di ruang tengah, Jiyeon dan Junho duduk di sofa kemudian disusul dengan Hueningkai.


"B-bagaimana Hyung? Apa Saerin belum ketemu juga?" tanya Junho.


"Nee, aku sudah mencarinya kemana-mana tapi belum juga menemukan dia. Aku mohon pada kalian, tolong bantu cari Saerin. Aku takut ia kenapa-napa.." lirih Hueningkai menatap dengan sendu pada Jiyeon dan juga Junho.


"Oppa, kau tenang saja.. kami pasti akan membantumu untuk mencari Saerin. Oppa jangan sedih, nanti secepatnya kita akan menemukan Saerin" ucap Jiyeon tersenyum agar Hueningkai tidak bersedih karna menghilangnya Saerin.


"Nee, gomawo sudah mau membantuku. Besok siang temani aku ke kantor polisi untuk mengajukan laporan hilangnya Saerin. Nanti aku akan menjemput kalian selepas pulang sekolah" ucap Hueningkai.

__ADS_1


"Nee hyung, kami pasti akan menemanimu" ucap Junho.


"Gomawo.. kalian berdua..."


"Nee" seru Jiyeon dan Junho berbarengan.


***


Skip malam~


20.00 kst


Rumah Sakit


Sementara itu keadaan Saerin masih kritis. Tak ada sedikitpun perubahan dalam kondisinya. Semua masih kurang baik. Jisoo dkk, hanya bisa terus menunggunya siuman, karna ia akan menjadi tanggung jawab mereka. Bahkan hari ini mereka belum bisa pulang ke rumah mereka hanya untuk menemani gadis itu. Gadis yang tak sengaja hampir tertabrak oleh mereka, dan mereka adalah saksi mata kecelakaan tabrak truk yang menimpa pada gadis malang tersebut.


"Sepertinya aku dan Jennie yang akan pulang duluan besok. Aku akan membawakan baju ganti untuk kalian berdua" ucap Rose yang sedang memberesi tas kecil yang dibawanya.


"Nee, tidak apa-apa kan kami tinggal sebentar?" tanya Jennie sedikit menggoda kedua sahabatnya.


"Ani.. memangnya kami anak kecil yang perlu kau khawatirkan heoh?" ucap Lisa yang sedikit kesal dengan candaan Jennie.


"Haha nee.. nee.. aku hanya bercanda"


"Jisoo?" tanya Rose melirik pada Jisoo yang sedang duduk di kursi samping ranjang Saerin.


"Apa.. kau baik-baik saja Jisoo?" tanya Rose yang merasa aneh dengan sikap salah satu sahabatnya.


"Nee, dari tadi kau terus memperhatikan gadis itu. Kenapa denganmu?" tanya Jennie.


Tetapi Jisoo tak merespon semua ucapan sahabatnya yang sedari tadi terus bertanya. Rose, Jennie dan Lisa saling bertukar tatapan dengan bingung. Tidak biasanya Jisoo diam seperti ini, pasti ia sedang tidak baik-baik saja.


Rose pun mendekati Jisoo kemudian menepuk pelan bahunya. Tanpa sadar sebuah tepukan itu telah memecahkan lamunan Jisoo yang sedari tadi diam tak berkutik.


"Jisoo? Are you okay?" tanya Rose.


Jisoo pun menoleh kaget lalu menghela napas setelah melihat Rose.


"Kau kenapa Jisoo?" sekali lagi Rose bertanya dengan kecemasannya.


"A... Aku? Aku tidak apa-apa. Memangnya ada apa?"


"Yak, seharusnya kami yang bertanya padamu!" kesal Jennie.


"Apa kau melamun?" tanya Rose menatap Jisoo penuh kegelisahan.


"Ah? Haha.. apa yang kalian bicarakan ini? Aku tidak apa-apa kok, aku melamun? Yah.. sepertinya hanya memikirkan sesuatu saja. Mian, aku sedang tidak fokus untuk sekarang"


"Hmm?" bingung Rose, Jennie dan Lisa yang saling pandang.


"Asshh, sepertinya aku banyak fikiran saat ini. Yasudah, aku akan pergi ke toilet dulu. Kalian jagalah gadis ini sebentar" ucap Jisoo sebelum akhirnya keluar ruangan.


Ketiga sahabatnya hanya bisa menatap kepergian Jisoo dengan heran.


"Kenapa dengannya?" tanya Rose pelan.


"Apa dia sakit?" tanya Jennie sambil mengerutkan keningnya, dan melempar tatapan pada Lisa.


Lisa hanya bisa menggendikkan bahu tanda tak paham dengan sikap Jisoo.


***


Jangan lupa like, komen, dan vote nya ya guys 😘💜


Gomawo💜 Borahae💜

__ADS_1


__ADS_2