
Sari POV
"Bagaimana ini apa yang harus aku lakukan" gumam ku bingung memberikan keputusan. Aku yang kebingungan merasa khawatir dan cemas. Semuanya tercampur menjadi satu perasaan yang aneh. Aku mulai berdiri berjalan mondar-mandir di dalam kamar. Yang lain sudah tidur hanya aku saja yang masih terjaga karna kata-kata penelepon tadi.
"Bagaimana ini apa yang semestinya aku lakukan, apa yang harus aku lakukan, dan apa yang akan aku lakukan." kataku masih mondar-mandir.
"Aarrgghh... apa yang harus aku lakukan. hiks.. hiks.. oppa apakah kalian baik-baik saja? Apa yang terjadi dengan kalian. Aku bingung.. hiks.. hiks.. hiks.. " kataku mulai menangis sambil mengacak-acak rambut ku. Tiba-tiba kepalaku terasa sakit dan pusing. Aku memegang kepala ku dengan kasar. Lalu kemudian aku tidak bisa menyeimbangkan diri ku. Aku terjatuh dan semuanya gelap gulita.
Sari end POV
Author POV
Pagi hari mentari sudah menampakkan wujudnya sinarnya mulai menerangi bumi.
Pagi itu pukul 06.00. Semuanya sudah berada di meja makan, tapi tidak dengan Sari ia belum juga keluar dari kamarnya.
"Sari mana ya kok jam segini belum turun juga" kata Tante Luna yang dari tadi menunggu Sari sambil melirik jam tangannya.
"Iya tumben jam segini belum bangun" kata Om Roy sedikit khawatir.
"Yasudah Bibi Jiah tolong bangunkan Sari ya ini udah pagi nanti dia bisa terlambat" kata Tante Luna menyuruh Bibi Jiah untuk naik ke kamar Sari dan membangunkannya.
"Baik nyonya" sahut Bibi Jiah yang kemudian pergi menaiki tangga menuju kamar Sari.
Setelah sampai di depan pintu kamar Sari, Bibi Jiah mengetuk pelan pintu itu.
"Non.. Non Sari ayo bangun ini udah pagi non. Sudah ditungguin nyonya sama tuan di bawah" teriaknya dari depan pintu.
Sekian lama tidak ada jawaban akhirnya Bibi Jiah membuka pintunya dan terkejut melihat Sari yang sedang tergeletak di lantai. Dia langsung menghampiri Sari untuk mengecek keadaannya.
"Non.. Non Sari kenapa, bangun non" kata Bibi Jiah dengan cemas sambil berusaha menyadarkan Sari.
"Sepertinya non Sari pingsan"gumamnya lalu kemudian Bibi Jiah bergegas turun dari kamar Sari menuju meja makan dan meninggalkan Sari sebentar.
Setelah sampai di meja makan.
"Maaf tuan, nyonya. Nona Sari pingsan" kata Bibi Jiah dengan hati-hati.
"Apa!"
Sontak semuanya terkejut lalu bergegas pergi ke kamar Sari.
Tante Luna dan Om Roy juga Rey seketika melihat Sari tersungkur di lantai membuat mereka kaget dan langsung menghampiri Sari.
"Ya ampun Sari kamu kenapa sayang" kata Tante Luna dengan cemas sambil sembari mengguncang pelan tubuh Sari.
"Ayo kita bawa ke rumah sakit" sahut Om Roy. Kemudian ia menggendong Sari untuk dibawa ke rumah sakit. Diikuti oleh Tante Luna dan Rey dibelakang Om Roy.
Om Roy memasukkan Sari ke dalam mobil dibelakang bersama Tante Luna dan Rey berada di depan.
"Sari bertahanlah" kata Tante Luna sambil mengelus lembut pipi Sari yang ada dipelukannya dengan cemas.
Skip
Sesampainya di rumah sakit. Sari langsung dibawa ke dalam ruang pemeriksaan. Sementara Tante Luna, Om Roy, dan Rey menunggu di depan ruangan.
Tak lama kemudian dokter keluar.
"Dok bagaimana keadaan Sari" kata Om Roy dengan cemas.
"Suhu tubuhnya normal dan pasien tidak apa-apa kemungkinan pasien banyak pikiran membuatnya jatuh pingsan." kata dokter itu menjelaskan.
"Baik terima kasih dok"
"Iya kalau begitu saya permisi dulu" kata dokter itu lalu pergi.
Kemudian Tante Luna, Om Roy dan Rey segera memasuki ruangan Sari.
"Ya ampun Sari kamu kenapa kok bisa jadi begini" kata Tante Luna khawatir dengan mengelus kepala Sari yang sedang berbaring masih tak sadarkan diri.
Sementara Om Roy dan Rey hanya bisa diam menunggu Sari siuman.
•
Sementara itu di sekolah Sari, sudah memasuki jam pelajaran. Tiara teman sebangku sekaligus sahabat Sari, bingung kenapa bangku Sari masih kosong sementara waktu sudah menunjukkan pukul 07.00.
Author end POV
__ADS_1
Tiara POV
Saat ini jam sudah menunjuk pukul 07.05 pagi. Bel sudah berbunyi lima menit yang lalu. Tapi kenapa Sari belum juga datang.
"Kenapa Sari belum juga datang, bel sudah dari tadi berbunyi. Apakah dia terlambat" batinku sedikit mencemaskan Sari.
Tiara end POV
Adit POV
Saat ini bel sudah berbunyi tiga kali. Dan kemudian Pak Harto guru mata pelajaran Matematika kami datang.
"Selamat pagi anak-anak" sahutnya saat memasuki ruangan.
"Selamat pagi Pak" aku dan murid lain di kelas menjawabnya dengan serempak.
Sekilas aku melirik ke bangku Sari ternyata kosong dan aku melihat Tiara yang duduk disebelah bangku Sari ikut bingung menatap kursi yang kosong tak berpenghuni.
"Kenapa bangku Sari kosong apakah dia terlambat atau dia tidak berangkat sekolah. Kenapa?" itulah pertanyaan yang merasuki batin ku.
Saat Pak Harto mulai mengabsen. Ada satu nama yang di sebut tapi tak menyahut. Siapa lagi jika bukan Sari.
"Sari Rahayu Putri" Pak Harto menyebutnya lagi. Dan aku mulai angkat bicara.
"Pak, mungkin Sari nggak masuk hari ini" sahut ku sambil mengacungkan tangan.
"Kenapa dia" tanya Pak Harto kepada kita semua menunggu jawaban.
"Kami tidak tau Pak" kata Bagus ketua kelas kami.
"Yasudah kalau begitu kita lanjut mengabsen ... " ucapnya kemudian.
"Ada apa dengan Sari" lagi-lagi batinku bertanya. Lalu aku melanjutkan fokus belajar ku.
Adit end POV
•
Author POV
Author end POV
Sari POV
Aku membuka mataku perlahan dan melihat-lihat sekeliling tapi tidak mengenali ruangan ini. Dan kepala ku masih terasa sakit.
"Ini dimana" sahut ku. Lalu aku melihat di sebelah ku ada Tante Luna yang sedang tersenyum melihat ku.
"Syukurlah kamu sudah sadar Sari" katanya sambil mengelus kepalaku.
"Sari ada dimana sekarang" tanyaku lagi.
"Kamu ada di rumah sakit Sari" sahut Om Roy seketika muncul dibelakang Tante Luna bersama Rey datang menghampiri ku.
"Iya kak Sari. Tadi kak Sari pingsan" kata Rey memegang kaki kanan ku.
"Pingsan!" tanyaku heran. Aku sedikit lupa akan kejadian tadi malam yang tiba-tiba pandangan ku menjadi gelap dan aku tidak tahu lagi. Aku memegang kepalaku aku mengingat-ingat kembali apa yang terjadi sebelumnya. Oh iya aku ingat tadi malam. Aku menerima telepon dari orang yang tidak dikenal mengatakan tentang keadaan oppa-oppa ku sekarang. Aahh.. apa yang harus aku lakukan lagi. Aku memegang kepalaku lebih keras sambil meringis kesakitan.
"Kamu kenapa Sari?" tanya Tante Luna yang tadi awalnya ia tersenyum sekarang sepertinya ia terlihat cemas melihatku.
"Kenapa kak Sari?" tanya Rey juga mencemaskan ku.
"Aahh... tadi malam Sari dapet telepon dari orang yang nggak dikenal. Dia bilang jika ingin oppa selamat Sari harus datang ke Korea. Kalau tidak dia akan menghabisinya. Sari nggak tau itu dari siapa. Sari bingung Tante gimana caranya, apa yang harus Sari lakukan?" kataku menjelaskan kejadian semalam.
"Apa!"
Semuanya menyahutnya dengan kaget.
Lalu aku mulai menangis tidak tau apa yang harus aku lakukan.
"Hiks.. hiks.. hiks.. gimana ini Tante Sari harus ngapain sekarang. Sari bingung Tante.. hiks.. hiks.. " kata ku sambil menahan isak tangis.
Yang lainnya hanya heran menatap ku dan ikut bingung. Apa semestinya aku harus pergi ke sana.
"Yaudah Sari nggak perlu khawatir ya biar Om yang tanganin ini semua. Yang lebih penting adalah kesehatan Sari dulu. Sari nggak usah terlalu banyak pikiran ya. Biar masalah ini Om yang urus Sari tenang aja ya" kata Om Roy menenangkan ku.
"Iya Sari jangan banyak pikiran dulu ya. Tadi dokter bilang kamu pingsan gara-gara kebanyakan pikiran. Udah ya nggak usah dibebani lagi. Sekarang yang penting Sari sembuh dulu, ya" kata Tante Luna berusaha menghibur.
__ADS_1
"Tapi Tante .. " tiba-tiba ucapan ku dipotong.
"Sstt.. nggak usah tapi-tapian lagi. Sekarang Sari istirahat dulu ya" katanya memotong ucapan ku.
"OH IYA SARI HARUS SEKOLAH SARI UDAH TERLAMBAT" kata ku berteriak dengan kaget dan hampir beranjak pergi. Tapi Tante Luna menghalangiku.
"EEHH.. MAU KEMANA KAMU KAN MASIH HARUS DIRAWAT DI SINI SAMPE KAMU BENER-BENER SEMBUH. JANGAN PERGI KEMANA-MANA. ISTIRAHAT DAN DUDUK MANIS DI RANJANG." kata Tante Luna dengan berteriak kesal kepada ku yang memberontak ingin pergi.
"Aduh Tante kuping Sari pengang dengernya" kata ku sambil meringis menutup telingaku.
"Kamu nya juga sih bandel banget jadi anak. Bisa tenang nggak sih. Tante pusing ngeliat kamu kayak gini" kata Tante Luna dengan kesal.
"Tapi Tant. " belum juga selesai bicara Tante Luna memotongnya dan menatap tajam ke arahku.
"Sarii... " katanya menekan kata dan menatap ku tajam.
"..."
Aku jadi diam tak berkutik di tempatku melihat Tante Luna menatap ku tajam membuat ku menjadi sedikit ngeri terhadapnya. Yaah tidak ada yang bisa aku lakukan lagi jadi aku memilih tidur dan menutupi tubuhku dengan selimut menghindari tatapan maut Tante Luna.
Yang lain hanya melihat penuh keheranan atas pertengkaran sengitku dan Tante Luna. Om Roy dan Rey hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kami berdua.
Sari end POV
•
**Skip
Author** POV
Disisi lain yaitu disekolah Sari. Jam pulang sekolah akhirnya tiba. Semua murid beranjak dari kursi membereskan barang-barangnya dan pulang ke rumah masing-masing. Ada yang mengikuti ekskul sekolah, ada yang bertanding, dan ada yang langsung pulang.
Kini giliran Tiara yang membereskan meja dan memasukkan buku-buku ke dalam tasnya.
Author end POV
Tiara POV
Saat ini aku sedang berjalan keluar dari sekolah menuju ke depan gerbang karna Mama sudah menjemputku. Saat aku sedang berjalan tiba-tiba ada suara dari belakang yang memanggilku.
"Tiara tunggu" aku langsung berbalik dan mendapati Adit yang sedang menghampiriku.
"Ada apa Dit?" tanyaku heran saat Adit sampai dihadapan ku.
"Kamu tau nggak Sari kemana" katanya menatapku.
"Aku nggak tau. Dari jam istirahat tadi aku coba nelpon dia tapi ponselnya nggak aktif" kataku menjelaskan.
"Kira-kira Sari kemana ya kok nggak masuk" katanya dengan heran
"Aku juga nggak tau. Aku rasa kemarin dia baik-baik saja" kataku lagi
"Tapi aku rasa dia sedang ada pikiran deh. Soalnya kemarin aku ngeliat dia diem terus sehabis istirahat dan aku juga ngeliat dia ngelamun pas di kelas kemarin. Katanya sih pas aku nanya dia kenapa waktu pulang dia jawab cuma perasaannya aja yang nggak enak" katanya menjelaskan dengan panjang.
"Masa sih kok aku nggak nyadar Sari ngelamun di kelas kemarin" kataku dengan heran.
"Makanya jadi sahabat itu harus ngertiin temennya yang lagi kesusahan. Gitu aja nggak ngerti sih"
Aku hanya mengerutkan kening ku. Memangnya sebegitu perhatiannya kah Adit kepada Sari. Aku yang sahabatnya saja tidak mengerti sikap Sari. Kenapa dia yang hanya teman laki-laki nya seperhatian itu kepada Sari.
"Kok kamu perhatian banget sama Sari. Apa kamu punya rasa sama Sari" kataku berusaha mencari tau.
"Apa! Nggak kok nggak ada apa-apa. Aku cuma khawatir aja sama Sari. Bukan berarti aku punya rasa sama dia. Nggak kok" katanya berusaha mengelak.
"Udah deh jangan ngeles Dit. Mana mungkin ada cowok yang perhatian sama cewek tapi nggak mempunyai rasa" kataku meyakinkan.
"Ah udah deh aku mau pulang aja" katanya lalu pergi.
"Ih gimana sih si Adit nggak jelas. Kalo nggak ada rasa kenapa dia merhatiin Sari. Aneh" kataku lalu pergi juga.
Tiara end POV
Dukung terus ceritanya author ya dengan cara like, komen dan vote.
Mau tahu lanjutan kisahnya tunggu terus next episode nya.. 💜💜
__ADS_1