You'Re My Brother (BTS)

You'Re My Brother (BTS)
Eps 28


__ADS_3

play..


Saerin dan Kai sampai dirumah. Mereka segera turun dan masuk bersama.


"Saerin pulang!"


"Annyeong!" sapa Kai juga, saat mereka masuk ke dalam.


"Kai, kau kesini?" tanya Hoseok yang tengah duduk di sofa saat melihat mereka.


"Nee hyung" jawab Kai dengan tersenyum.


"Apa kau menjemput Saerin?" tanya Hoseok.


"Nee, Jungkook hyung yang menyuruhku. Sekalian juga aku mampir ke sini hyung" kata Kai.


"Lama kau tak mampir"


"Oh nee hyung, tugas kuliah ku banyak jadi aku tidak pernah sempat ingin berkunjung"


"Ah gwenchana, aku mengerti" kata Hoseok.


"Kai, sejak kapan kau ada disini?" tanya Jin yang baru datang dan bergabung.


"Baru saja hyung"


"Oh begitu"


"Kai, aku ingin berbicara padamu" kata Jin yang beralih menatap Kai dengan serius.


"Nee, mwoya hyung?"


"Sebentar lagi, kami akan pergi ke Busan. Bisakah kau jaga Saerin selama kami disana? aku sangat khawatir jika Saerin sendirian di sini tanpa seseorang yang menemaninya. Jadi, aku mohon padamu. Jagalah Saerin, karna aku tidak ingin suatu hal buruk terjadi padanya. Aku sangat menyayangi malaikat kecilku itu. Dan aku tidak mau melihatnya menderita karna tidak ada kami. Ia pasti akan sangat kesepian, maka dari itu aku memintamu untuk menemaninya. Kau juga sudah menganggap Saerin seperti adikmu bukan? jadi tolong jaga dia. Tidak ada orang lain lagi yang akan aku percayai untuk menjaganya. Karna kau lah yang sudah dekat dengan Saerin. Aku percayakan dia padamu, Kai."


"Nee hyung, aku berjanji padamu dan pada kalian semua. Aku akan menjaga Saerin dengan sepenuh hati. Aku rela melakukan apapun demi dirinya. Aku sudah sangat menganggapnya seperti adikku. Walaupun kami hanya bertemu dengan tak sengaja saat kejadian itu. Tapi ketika aku merawatnya sejak dia berada di rumahku, aku sudah merasakan ikatan persaudaraan darinya. Aku juga sangat menyayanginya, sama seperti kalian menyayangi Saerin juga. Aku berjanji hyung, aku berjanji akan menjadi oppa yang baik baginya" kata Kai dengan tersenyum meyakinkan Jin dan yang lain.


"Gomawo Kai, aku sangat mempercayaimu" kata Jin.


"Tak apa hyung, aku juga sangat menghargainya"


Tak lama setelah itu, Saerin turun dari atas, dia pun bergabung bersama yang lain dan duduk di sebelah Jungkook dengan menggendong Yeontan.


Skip


sore..


"Hyung, sepertinya aku harus pulang. Aku pamit dulu" kata Kai pada Jin di dapur.


"Ini hampir malam, menetaplah sebentar. Kita makan malam bersama" kata Jin.


"Aniya hyung. Tidak usah, tugas ku masih banyak jadi aku harus pulang. Mungkin besok lagi saja, aku akan mampir lagi"


"Nee, baiklah"


Kai membungkukkan badan dan melangkah pergi.


"Kai, kau mau kemana?" kata Saerin yang berpapasan dengannya.


"Aku akan pulang dulu, besok aku akan ke sini lagi. Kita main bersama lagi, nee?" kata Kai yang mengusap surai rambut Saerin.


"Janji ya"


"nee" kata Kai dengan tersenyum lalu pergi.


"Saerin, mau main tidak!!" teriak Jungkook.


"Mau!!" Saerin langsung pergi menemui Jungkook.


Skip


Keesokan harinya.


Saerin diantar oleh Jimin ke sekolahnya. Sampai di depan kelasnya, Saerin terhenti karna seseorang menarik tangannya dan membawa dia pergi.


"H-hey apa yang kau lakukan? lepaskan aku!" Saerin menepis tangan anak itu, tapi cekalannya cukup kuat, Saerin terpaksa terseret oleh anak itu.


Saerin dibawa ke taman belakang sekolah. Anak itu berhenti sejenak tapi cekalannya masih lekat dengan lengan Saerin. Ia pun berbalik badan menatap Saerin dengan sangar.


"Won-joon" Saerin membelalakkan matanya setelah ia melihat anak lelaki itu.


"Kenapa kau membawaku kemari hah?!! apa yang kau mau?!!" Saerin berteriak melepaskan diri dari cekalan Won-joon. Tapi pandangannya teralihkan oleh seseorang yang ada di depannya. Seorang anak lelaki yang sedang terduduk di tanah dengan membungkuk lemas. Saerin tidak tau pasti siapa anak itu, tapi keadaannya sangatlah tak berdaya. Bahkan dibelakangnya terlihat seorang anak lagi yang memegangi tubuh anak itu. Dia adalah Taejin, entah kenapa ia bisa melakukan hal seperti itu pada anak lelaki yang berada di tanah ini.


"Yak.. apa yang kalian lakukan padanya?!!"


Taejin mendongakkan kepala si anak itu dengan memegang dagunya. Sungguh terkejutnya Saerin ketika melihat anak yang telah lemah di tanah dengan berbagai luka di wajah dan darah di pinggir bibirnya.


"Junho!!"


"Lakukanlah apa yang aku katakan, jika tidak.. dia akan aku habisi!" kata Ji-won yang datang dengan membawa sebuah kayu di tangannya.


"Ji-won, apa yang akan kau lakukan?!!"


"Aku hanya menginginkan satu hal darimu" kata Ji-won dengan tersenyum miring.


"Apa itu? katakanlah, dan tolong jangan sakiti Junho. Aku mohon, jangan sakiti dia" mata Saerin mulai berkaca-kaca.


Ji-won mendekati Saerin dengan langkah santainya yang menyeret sebuah kayu. Woon-Joon pun melepaskan genggamannya saat Ji-won sudah hampir dekat. Saerin mulai ketakutan melihat wajah Ji-won yang begitu sangar didepannya. Ji-won terus melangkah sementara Saerin berjalan mundur sampai ia terbentur dinding dan langkahnya pun terhenti. Ji-won menghentakkan tangannya ke dinding, membuat Saerin tersentak ketakutan. Ia berusaha tidak menatap Ji-won, dengan mengalihkan wajahnya serta menutup matanya lekat-lekat. Ji-won mencengkeram dagu Saerin dan menarik wajah Saerin untuk menghadap menatap dirinya. Tapi Saerin tetap menutup matanya dan mengunci mulutnya yang mengeram menahan sakit.

__ADS_1


"Jadilah pacarku!" Ji-won menekan ucapannya.


"Jika tidak.." Ji-won tidak meneruskan ucapannya. Ia memberi kayu yang ia genggam itu pada Won-joon di belakangnya. Dan Won-joon pun menerimanya, ia berjalan menghampiri Junho dengan kayu yang di angkat ke atas punggung Junho.


Saerin belum sanggup membuka matanya.


"Hh, lihatlah" Ji-won menyeringai. Perlahan Saerin membuka matanya, ia membelalakkan matanya, terkejut tentang apa yang ia lihat.


"J-Junho. T-tolong jangan la-kukan itu p-padanya. K-mohon" lirihnya dengan terbata-bata, karna masih dicengkeram oleh Ji-won.


Ji-won mulai melemahkan cengkramannya,


"Sekarang jawab aku. Yes or no?"


"Ani!!"


"Hmm.. tidak ya.. kalau begitu.." Ji-won menoleh kebelakang. Ia memberikan kode, dan segera dimengerti oleh Won-joon.


"Apa yang akan kalian lakukan?!"


Won-joon mengangkat kayu itu setinggi-tingginya, Taejin memundurkan dirinya beberapa langkah dari Junho. Dan Won-joon bersiap untuk memukul Junho dengan kayu itu.


"Ani!! tolong jangan sakiti dia. JUNHO!!!"


Won-joon memukul Junho dengan bertubi-tubi menggunakan kayu yang ia pegang. Saerin berniat ingin menghampiri Junho, tapi Ji-won mencekalnya erat sampai Saerin tak bisa bergerak. Dia hanya menyaksikan Junho yang sedang sekarat dipukuli oleh Won-joon.


Bukk..


Bukk..


Bukk..


"ANIYAA!!!" teriak Saerin dengan berlinang air mata.


Saerin memberontak dengan keras, berusaha melepaskan cengkraman Ji-won dari tubuhnya.


"LEPASKAN AKU!!"


Saerin berusaha sangat keras, untuk melepaskan diri. Didorongnya tubuh Ji-won dengan kencang, sampai Ji-won terjatuh ke tanah. Saerin langsung berlari menghampiri Junho yang masih dipukuli tanpa henti. Won-joon menyadari hal itu, ia mengarahkan kayu itu ke depan wajah Saerin saat ia sudah dekat. Tapi dengan cepat, Saerin melepaskan tendangannya, dan kayu itu patah menjadi dua karna tendangan Saerin. Ia juga menghantam tubuh Won-joon hingga anak itu terpental jatuh ke tanah.


Melihat Won-joon terkapar di tanah, Taejin pun memajukan dirinya untuk melawan Saerin. Taejin melayangkan satu pukulannya yang mengarah pada wajah Saerin, tapi itu berhasil di tangkap oleh tangan Saerin lalu diputarnya tangan itu sampai berbunyi. Taejin berteriak kesakitan, dan Saerin melayangkan satu tendangan pada Taejin yang berhasil mengenai perutnya. Saerin benar-benar marah kali ini.


Melihat kedua rekannya jatuh. Ji-won mengambil batu besar di tanah. Ia berjalan diam-diam menghampiri Saerin. Ketika jaraknya sudah dekat, Ji-won mengarahkan batu itu tepat ke kepala Saerin. Dan itu berhasil mengenai kepalanya. Saerin terjatuh pingsan dengan beraliran darah dari kepalanya yang terkena batu.


"Oh aigo" Ji-won menyadari kelakuannya, ia menutup mulutnya kaget dengan apa yang barusan ia lakukan.


Junho yang kala itu tengah tengkurap lemah tak berdaya. Melihat Saerin terjatuh pingsan dihadapannya dengan beraliran darah dari kepalanya, seakan ikut terkejut juga.


"S-s-a-e-rin" lirihnya dengan mencoba meraih tubuh Saerin dengan mengulurkan tangannya.


Tak lama kemudian, Jiyeon kembali dengan beberapa guru dan anggota OSIS. Juga sekerumunan murid lain yang mengikuti mereka. Semuanya berlarian menuju ke tempat kejadian. Salah satu guru terkejut dan menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan, tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Jiyeon melihat Ji-won yang melamun ketakutan, dan sampai akhirnya ia mengetahui bahwa korban kejadian itu adalah temannya sendiri.


"Saerin" ia membelalakkan mata melihatnya.


"Pak, cepat bawa dia ke rumah sakit!" kata salah satu guru dengan cemas. Mereka membawa Saerin dan Junho ke rumah sakit terdekat.


dirumah sakit...


Saerin segera dibawa diruang operasi. Darahnya berceceran dimana-mana, membuat siapapun akan panik melihatnya.


"Pak, panggil keluarganya" kata salah satu guru.


"Tapi kita tidak punya nomor keluarganya"


"Bagaimana ini?"


"Pak, saya punya nomor oppanya Saerin. Saya akan segera menghubungi mereka" Jiyeon pun mengambil ponselnya, menekan tombol yang ada di layar dan menempelkan ponselnya di samping telinga.


tuut.. tuutt..


*


Jin yang kala itu sedang membereskan dapur. Tiba-tiba ponselnya berdering dan ia segera mengangkatnya.


"Yeoboseyo"


"...."


"... M-mwo?.." Jin tak sengaja menjatuhkan sapu yang ia pegang itu. Hatinya terasa perih seakan teriris oleh tajamnya pisau. Ucapan si penelepon itu berhasil membuatnya terkejut dan terus terngiang-ngiang di telinganya. Jin segera berlari keluar tanpa mempedulikan adik-adiknya yang sedang duduk bersantai di sofa ruang tengah.


Namjoon menoleh saat ada suara langkahan kaki yang cepat lewat ke telinganya.


"Ada apa dengan Jin hyung? kenapa dia berlari seperti itu?" tanyanya pada yang lain.


"Mungkin ia sedang menunggu paket dan paketnya sudah datang? jadi dia bergegas keluar" jawab Hoseok dengan asal.


"Tapi sepertinya wajah Jin hyung sangat khawatir sekali. Aku akan menemuinya" Namjoon beranjak dari sofa dan pergi keluar menyusul Jin.


Tapi belum sempat Namjoon ingin memanggil hyungnya itu, Jin malah sudah melaju bersama mobilnya.


"Jin hyung mau pergi kemana? kenapa membawa mobil?" gumamnya.


Jin mempercepat laju mobilnya, tak peduli dengan pengendara lain didepannya. Ia menyalip satu persatu mobil di jalanan itu. Ia tak peduli telah melakukan pelanggaran, yang menjadi prioritas pertamanya adalah adiknya.


Sampai dirumah sakit. Jin segera bergegas masuk kedalam. Ia menanyakan ruang operasi pada suster. Setelah itu, Jin langsung berlari menuju ruang operasi. Disana terdapat beberapa guru yang menunggu di depan ruangan. Dengan salah satunya yang berlumuran darah di baju dinas yang ia pakai. Jin mendekati mereka secara perlahan.


"Tuan, apa anda keluarga dari Saerin?" tanya seorang guru.

__ADS_1


"Nee, dimana adik saya?"


"Dia sedang ditangani oleh dokter di dalam. Saya harap, Anda bisa bersabar, tuan"


"Saerin.." gumamnya lirih. Tapi ia berusaha tegar dan menahan air mata yang ingin jatuh.


Tiga jam berlalu...


*


"Kenapa Jin hyung tidak kembali juga?" gumam Namjoon dengan gelisah.


"Coba kau telpon saja Namjoon-ah" kata Hoseok.


Namjoon segera mengambil ponselnya dan menghubungi Jin.


tuutt.. tuut..


"Yeoboseyo" kata Jin yang suaranya sedikit serak dan mengecil.


"Jin hyung, kenapa suaramu seperti itu. Ada apa dengan dirimu?"


"Namjoon-ah, cepatlah kemari ...."


"Mwo? b-baiklah hyung, aku dan yang lain akan kesana" Namjoon pun menutup sambungannya.


"Waeyo Namjoona?" tanya Hoseok.


"Kita harus kerumah sakit" kata Namjoon sedikit gugup.


"Wae?"


"Nanti saja, jika kita sudah sampai"


"Nee, kajja semuanya!" Hoseok dan Namjoon berdiri dan melangkah pergi diikuti dengan yang lain.


Merekapun sampai di rumah sakit yang diberitahukan oleh Jin. Namjoon segera menuju ruangan operasi, yang lain hanya mengikutinya dibelakang. Setelah sampai di depan ruangannya. Namjoon melihat Jin yang sedang meringkuk di kursi, dengan membenamkan wajahnya pada kedua lengan yang menopang kepalanya.


"Jin hyung?" Namjoon mendekati Jin dan duduk disebelahnya.


"Ada apa ini? Namjoon jelaskanlah" Yoongi nampaknya sangat khawatir sekarang.


"Saerin.." Namjoon tidak meneruskan ucapannya, malah ia menoleh menatap pintu ruang operasi.


"Mwoya?" tanya Jungkook yang tak sabar.


"Saerin dipukul oleh temannya, sampai kepalanya berdarah.." Namjoon menundukkan kepalanya.


"MWO?!!" semuanya terkejut mendengar ucapan Namjoon.


"Tenanglah oppa. Aku yakin Saerin akan baik-baik saja" kata Jiyeon.


"Apa kau teman sekolahnya Saerin?" tanya Hoseok.


"Nee"


"Apa kau tau siapa yang melakukan ini pada Saerin?" tanya Jungkook.


"Itu.." Jiyeon bingung ingin mengatakan apa pada mereka. Ia hanya menggelengkan kepalanya seraya menunduk, tak tau akan kejadiannya.


Tak lama kemudian, dokter keluar dari ruang operasi. Jin mendongak dan segera menghampiri sang dokter.


"Bagaimana keadaannya dok?" tanya Jin.


"Dia mengalami pecah kepala belakang yang menyebabkannya kehabisan banyak darah. Kabar baiknya operasi yang kami jalani sudah berhasil. Tapi kabar buruknya, kami kehabisan stok darah golongan A. Apa diantara kalian ada yang bergolongan darah A?"


"Dok, biar saya saj-"


"Saya yang akan mendonorkannya dok. Golongan darah saya A. Cepat ambil darah saya sebanyak-banyaknya, untuk keselamatan adik saya. Kumohon" kata Jungkook yang memotong ucapan Jimin.


"Baiklah mari ikut saya"


Jungkook mengikuti dokter itu ke ruang donor darah. Jimin menatap Jungkook dengan kesal. Sebenarnya dialah yang akan mendonorkan darahnya untuk Saerin, tapi dihalangi oleh Jungkook.


Dokter pun selesai mengambil darah Jungkook. Ia mendonorkan dua kantong darah untuk Saerin. Dokter kembali ke ruang operasi. Dan tak lama, keluar lagi.


"Bagaimana dok?" tanya Yoongi.


"Berhasil, dia akan baik-baik saja. Tinggal menunggu ia siuman. Sebentar lagi suster akan membawanya ke ruang inap. Saya permisi dulu" kata dokter itu yang tersenyum lalu pergi.


Beberapa detik kemudian, suster pun keluar dengan membawa ranjang pasien, yang terbaring Saerin di atasnya. Yang lain mengikuti susternya ke ruang inap.


Jin termenung mendapati adiknya yang terbaring lemah di atas ranjang pasien. Ia menggenggam tangan Saerin, berharap adiknya akan segera membuka mata dihadapannya.


Sementara itu, Junho sedang dirawat di ruangannya. Hanya ada Jiyeon yang menunggunya sadar. Karna Jiyeon merasa kasihan dengan Junho yang tidak ditemani oleh anggota keluarganya. Karna ia juga belum tau nomor ponsel Junho, apalagi nomor salah satu keluarganya.


Junho masih belum sadar dari pingsannya. Yang kini sama lemahnya dengan Saerin. Tapi lebih parahnya lagi, wajahnya terdapat banyak sekali luka lebam yang menghitam.





Nantikan kelanjutan kisahnya...


Jangan lupa like, komen dan vote. Terima kasih 💜

__ADS_1


__ADS_2