
Skip
Sampai di rumah Hueningkai. Mereka berdua langsung masuk dan beristirahat.
"Saerin, kau masuk saja ke kamar. Ada satu kamar disebelah kamarku, kau akan mengetahuinya sendiri" kata Hueningkai.
"Tapi bagaimana dengan bajuku?" tanya Saerin.
"Aku akan mencarikan baju yang pas untukmu, kau masuk ke kamar dulu nanti aku menyusul"
"Hm, baiklah" kata Saerin yang beranjak pergi, lalu disusul dengan Hueningkai. 5 menit kemudian, Hueningkai masuk ke kamar Saerin sambil membawakannya pakaian.
"Saerin, ini bajunya. Kau bisa memakai punya ku dulu untuk sementara. Setelah mandi langsung ke dapur nee. Aku akan memasak untuk kita makan" ucap Hueningkai.
"Nee, gomawo Kai" kata Saerin yang mengambil baju dari tangan Hueningkai.
Saerin pun bergegas ke kamar mandi dan Hueningkai pergi ke dapur. 20 menit kemudian, Saerin keluar dari kamar mandi dengan sudah memakai pakaiannya. Baju itu terlihat sedikit kebesaran saat dipakai Saerin. Setelah menyisir rambutnya, Saerin keluar dari kamar menuju ke dapur. Di sana ia melihat Hueningkai yang sudah selesai menata piring di meja makan. Kemudian namja itu menatapnya dengan senyuman. Lalu Saerin duduk di hadapan Hueningkai dan mulai makan.
Selesai menghabiskan makan mereka, Saerin dan Hueningkai terduduk di sofa bersamaan. Inilah hal yang paling dirindukan oleh Saerin kepada Hueningkai. Mereka berdua sudah sangat akrab dan selalu bersama. Saerin tersenyum manis pada Hueningkai yang duduk di sebelahnya, begitupun sebaliknya. Tapi tiba-tiba, raut wajah Saerin kembali murung. Ia pun mengalihkan pandangannya ke depan sambil menghela nafas sedih, mengingat kembali kejadian yang baru saja ia alami.
"Saerin... Kau tenang saja, masih ada aku disini.. untukmu. Aku berjanji akan selalu menyayangimu, sampai akhir hayatku. Aku juga berjanji tidak akan membiarkan mereka bertujuh mengusik kehidupan kita berdua lagi" ucap Hueningkai.
"Nee gomawo Kai. Hanya saja aku masih sedikit syok tadi, aku tak menyangka mereka akan jadi seperti itu. Apalagi mereka telah membunuh ahjumma. Selama ini aku tak pernah percaya jika mereka dapat membunuh seseorang. Tapi mungkin sekarang tidak, karna mereka sudah melakukannya. Aku sungguh sangat kecewa dengan mereka" kata Saerin.
"Gwenchana, itukan sudah masa lalu, kita lupakan yang sudah terjadi nee. Sekarang kau akan selalu bahagia di kedepan hari bersama denganku. Kita buat hari-hari yang kelam dan gelap ini jadi hari yang indah dan terang. Lalu kau tidak akan pernah bersedih lagi" kata Hueningkai dengan tersenyum sambil menepuk punggung Saerin.
"Gomawo Kai" kata Saerin yang kemudian memeluk Hueningkai. Ia tersenyum dalam dekapan namja itu, rasanya sangat nyaman sekarang. Hueningkai juga ikut tersenyum sambil mengelus surai rambut Saerin.
"Ohya, karna sekarang masih jam 5 sore. Bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan dan juga sekalian ke mall. Kita harus membeli barang sesuai kebutuhanmu. Bagaimana mau kan?"
Saerin pun melepaskan pelukannya. "Tentu saja aku mau" ucap Saerin dengan tersenyum.
"Baiklah, Kajja!" kata Hueningkai sambil menarik lembut tangan Saerin.
Skip, di mall...
Mereka berdua bersama-sama mengelilingi setiap sudut mall, dari toko pakaian hingga aksesoris. Saerin sungguh sangat senang dalam waktu ini, setiap menit bahkan detiknya ia selalu tersenyum bersama Hueningkai. Sampai setelah menyelesaikan perbelanjaan nya di mall, mereka berdua berjalan-jalan di dekat sungai Han sambil sesekali menikmati pemandangan alamnya.
Skip
Malam sudah tiba dan mereka berdua kembali ke rumah. Setelah sampai Saerin membuka semua paper bag nya dan mulai mencoba semua pakaian yang sudah ia beli. Selesai mencoba satu persatu pakaiannya, Saerin dan Hueningkai pergi tidur ke kamar masing-masing. Di dalam kamar Saerin, gadis itu sedang menaruh semua pakaian ke dalam lemari. Selesai beres-beres, pandangannya teralihkan oleh jendela kamar yang masih terbuka. Ia menghampiri jendela tersebut dan hendak ingin menguncinya. Tapi tiba-tiba ia melihat beberapa bintang yang sedang bersinar terang di langit malam. Ada sebuah bulan sabit juga yang menemani para bintang. Saerin tersenyum kepada bintang-bintang dan bulan karna mereka ingin bersinar saat waktunya Saerin tidur. Jadi, maksudnya adalah para bintang dan bulan sabit itu akan menjadi pengantar tidur untuk Saerin datang ke alam mimpinya.
Setelah puas memandang bintang dan bulan, Saerin kembali menutup jendela dan tidur di atas kasur yang sangat empuk dan nyaman. Ia mulai menutup mata dan terlelap sampai ke dalam alam mimpi.
__ADS_1
Disisi lain, Bangtan POV
Suasana di dalam rumah ketujuh namja itu sangat sunyi, sama seperti di dalam gua yang gelap dan sepi. Tidak ada penerang, tidak ada suara bahkan tidak ada keceriaan. Sungguh, rumah mereka sangat gelap sekali. Lampu di setiap ruangan dimatikan.
Tak ada satu suara pun yang keluar dari mulut ketujuh namja yang sedang duduk di sofa sambil menonton televisi itu. Mereka sedang dalam pikirannya masing-masing. Apa yang terjadi dengan mereka sebenarnya??
Bangtan end POV
Skip
Pagi di kamar Saerin...
Gadis itu tengah bercermin di kaca sambil menyisir rambutnya yang panjang. Tatapan Saerin terlihat sangat kosong, sepertinya ia masih memikirkan tentang kejadian semalam. Bahkan kemarin malam ia mendapatkan sebuah mimpi, dimana masa depannya akan berada di dalam tempat yang gelap gulita dan tak ada satupun cahaya. Apakah itu sebuah ramalan ataukah pertanda buruk bagi Saerin??
Saerin masih terus melamun menatap kaca di depannya. Ia membayangkan lagi mimpi yang semalam ia dapatkan.
"Oh ya Tuhan, aku mendapatkan mimpi yang begitu buruk semalam. Aku tak tau itu dimana, yang pasti aku sedang berjalan di dalam tempat yang sangat gelap. Aish betapa aku benci kegelapan. Hal itu hanya membuat ku takut saja. Pertanda apa ini ?? " batin Saerin.
Tak lama ada sebuah teriakan dari dapur yang memecah lamunan Saerin.
"SAERIN, KEMARILAH KITA SARAPAN" teriak Hueningkai dari dapur.
"Aish.. kenapa Kai berteriak? aku kan jadi kaget" gumam Saerin.
"Aishh NEE AKU AKAN KESANA" balas Saerin.
Kemudian, Saerin pun bergegas pergi ke dapur. Sampai di meja makan, Saerin langsung duduk dihadapan Hueningkai dengan wajah yang cemberut. Membuat namja yang satu ini kebingungan melihat gadis itu.
"Hey Saerin, kenapa kau cemberut seperti itu? apa tadi aku berteriak terlalu keras hingga kau terganggu?" tanya Hueningkai dengan resah.
"Ani, gwenchana"
"Lalu kenapa kau cemberut hmm?" tanya Hueningkai menatap Saerin.
"Kai"
"Nee? wae?"
"Aku mendapat mimpi buruk tadi malam" ujar Saerin sambil menunduk.
"Mimpi buruk seperti apa?" tanya Hueningkai lagi.
"Ntahlah, aku tidak tau pasti. Tapi gambarannya seperti aku sedang berjalan di dalam tempat yang sangat gelap sampai aku tak bisa melihat apa-apa. Apakah itu sebuah pertanda Kai?" tanya Saerin menatap Hueningkai.
__ADS_1
"Pertanda apa maksudmu?" tanya balik Hueningkai.
"Mm.. aku tak begitu mengerti. Tapi aku merasa tidak enak tentang hal itu. Mungkin kupikir, itu adalah ramalan di masa depanku yang akan menjadi gelap segelap tempat di mimpiku itu" kata Saerin ragu.
"Jangan memikirkan yang tidak-tidak Saerin. Itukan hanya mimpi saja. Jangan percaya dengan hal yang tidak baik seperti itu. Aku yakin tidak akan terjadi hal yang buruk di masa depanmu nanti Saerin" ucap Hueningkai tak percaya.
"Tapi, perasaanku benar-benar tak enak mengenai mimpi itu. Aku merasa itu memang gambaran di masa depanku. Berarti masa depanku itu akan gelap seperti tempat itu, dan berarti banyak kesulitan yang akan aku hadapi nanti" ucap Saerin dengan khawatir.
"Ssttt... jangan bicara seperti itu lagi. Yakinkan saja ini adalah pertanda baik untukmu nanti. Sudahlah, ayo kita makan sarapannya" ucap Hueningkai yang mendahului makan.
"Kenapa kau tak percaya dengan ucapanku Kai ? " batin Saerin. Ia pun memakan sarapannya dengan rasa gelisah yang belum hilang dari benaknya.
Skip, siang..
Saerin duduk di kursi panjang yang terletak di taman belakang rumah Hueningkai, ia mengamati sekelilingnya sambil melamun. Tak lama Hueningkai pun datang dan duduk di sebelah Saerin. Hueningkai menepuk pelan pundak Saerin hingga gadis itu tersadar dari lamunannya.
"Saerin kau sedang apa disini?" tanya Hueningkai menatap Saerin.
"Aku hanya duduk saja" jawab Saerin tanpa menatap Hueningkai.
"Apa kau masih memikirkan tentang tadi pagi?" tanya Hueningkai lagi.
"Mungkin"
"Saerin... aku katakan padamu. Itu hanyalah mimpi buruk yang pernah terjadi kepada semua orang jika suasana hati mereka memang sedang tak begitu baik. Tapi, itu hanya mimpi dan tidak akan bisa menjadi nyata. Ia hanya ingin menghantuimu untuk membuat keteguhan dalam dirimu ini tergoyahkan. Itu berarti kau sedang diuji Saerin. Semua orang mempunyai masalahnya masing-masing, termasuk dirimu-"
"Tapi masalah yang aku hadapi ini memang sangat sulit bagiku Kai. Ini sangat-sangat sulit, kau tak bisa mengerti" ucap Saerin.
"Aku tau kau mempunyai masalah yang sangat berat saat ini. Tapi cobalah ambil beberapa kebaikan yang terjadi dari banyaknya keburukan itu sekarang. Semua orang pasti akan mendapatkan sebuah hal buruk dalam setiap langkah hidupnya. Jika mimpi itu memang benar, kau tak perlu khawatir. Yang kau harus lakukan adalah percaya diri dan yakin bahwa kau dapat menembus kegelapan itu dan menemukan sebuah titik cahaya walau dari jarak yang jauh sekalipun" ucap Hueningkai.
"Kai, aku mengerti semua yang kau lakukan ini untuk menghiburku agar aku tidak memikirkan hal yang buruk itu dan melupakan masa lalu kelam yang aku alami. Kau juga yang selalu jadi pendorong dimana jika aku sedang putus asa dan memilih terdiam dari kejamnya dunia. Tapi semua itu masih belum cukup Kai, ini sungguh sangat berat bagiku aku masih belum bisa menghadapinya. Aku takut akan terjadi hal yang buruk menimpa diriku lagi nanti" kata Saerin yang matanya mulai berkaca-kaca.
"Jangan takut, kau bisa melakukannya. Aku akan selalu ada disampingmu jika kau butuh. Selalu..." ucap Hueningkai yang kemudian membawa Saerin kepelukannya. Hueningkai kembali mengelus lembut rambut Saerin, menenangkannya dari tekanan batin dalam benak Saerin.
"Jangan pernah takut, aku akan selalu ada bersamamu. Kita bisa melakukannya, kita bisa menghadapi ini bersama" ucap Hueningkai.
Walaupun Hueningkai selalu menenangkan Saerin dengan ucapannya yang mendukung semua pribadi Saerin, tapi gadis itu belum bisa tenang jika ia belum tau apakah itu akan nyata atau hanya khayalan. Saerin masih resah dengan mimpi buruk yang datang menerornya.
Apakah ia bisa? apakah mimpi buruk tentang ia berjalan dalam kegelapan itu adalah sebuah ramalan atau pertanda jika akan terjadi hal yang buruk padanya di masa depan?? Apa Saerin bisa terus melangkah ke depan walau dalam benaknya ia tak begitu yakin atau ragu-ragu?? Saerin berpikir sangat keras untuk mendapatkan faktanya.
Nantikan kelanjutan kisahnya...
Jangan lupa like, komen dan vote. Borahae 💜
__ADS_1
Makasih buat yang udah suport author dan selalu menunggu kelanjutan cerita ini. Borahae semuanya 💜💜💜