
Setelah selesai menikmati waktu kesendiriannya, Saerin kembali masuk ke dalam. Ia merebahkan tubuhnya di sofa.
Ting.. tong..
Bel rumah berbunyi. Saerin bergegas ke pintu depan dan membukanya. Seorang wanita paruh baya datang dengan menenteng tas besar miliknya.
"Ada perlu apa nyonya?" tanya Saerin dengan sopan.
"Oh, saya adalah pembantu baru di sini. Tuan Kim menyuruh saya untuk menjadi pembantu di rumah ini" kata wanita paruh baya itu.
"Jadi kau yang akan menjadi pembantunya, baiklah mari masuk" kata Saerin sambil mempersilahkan wanita paruh baya itu masuk ke dalam.
Saerin cepat-cepat duduk di sofa menyilangkan kakinya dan berlagak seperti seorang bos. Wanita paruh baya itu hanya menatap Saerin dengan heran, entah apa yang akan Saerin lakukan kepada wanita paruh baya itu. Wanita itu merasa sedang di interogasi oleh Saerin.
"Jadi, ahjumma ingin bekerja disini?" tanya Saerin yang sedang memulai dramanya.
"N.. nee" kata wanita paruh baya itu yang sedikit merasa gugup.
"Oohh jadi begitu"
"Hei Saerin, kau sedang apa?" bisik Kai yang duduk di samping Saerin.
"Sstt.. kau diam saja" bisik Saerin juga. "Ekhem.. perkenalkan dirimu dan katakan apa saja kelebihan dari dirimu ahjumma?" sambungnya yang menatap wanita di depannya itu.
"Nama ahjumma adalah Shin Hye Ra, nona muda bisa panggil Saya ahjumma Shin atau nama ahjumma saja. Saya bisa membereskan rumah, dari menyapu, mengepel, mengelap, membersihkan debu, mencuci piring, dan membersihkan setiap sudut ruangan di dalam maupun di luar rumah. Saya bisa memasak, membuat kimchi, membuat jus, membuat kue, dari kue kering sampai kue bolu bisa juga cup cake. Membuat teh, kopi, susu yang hangat hingga yang dingin, dan beberapa minuman lain. Saya juga bisa berkebun, di kampung halaman saya biasanya menanam berbagai tumbuh-tumbuhan dari sayur, buah dan bunga sekalipun. Semua saya bisa nona muda." kata Hye Ra yang berbicara tanpa tanda berhenti sebelum ia menyelesaikan kalimatnya dengan senyuman yang tak luput dari wajahnya. Membuat Saerin dan Hueningkai ternganga saling menatap satu sama lain saat Hye Ra menjelaskan tentang dirinya.
"Hmm.. bagus juga. Apa ada yang lain tentang dirimu lagi ahjumma?" sidik Saerin lagi.
"Kurasa tidak ada lagi nona muda" katanya dengan sopan.
"Apa kau tidak memiliki tindak kejahatan? membunuh, menusuk, meracuni, atau.. melakukan kejahatan lain,, seperti.. ah ya mencuri, merampok dan,, ?? em.. sebagainya. Bagaimana itu?" kata Saerin dengan tatapan menyidik bak seorang polisi sedang menginterogasi sang tersangka kejahatan.
Hye Ra hanya menatap Saerin penuh kebingungan dan sesekali menelan ludahnya dengan kasar, hingga dahinya sedikit berkeringat dingin mendengar ucapan Saerin yang tengah menyidiknya.
"T-tidak ada nona muda, s-saya wanita baik-baik yang berasal dari desa. Dan saya tidak mempunyai tindak kejahatan apapun"
"Kau yakin ahjumma?" tanya Saerin dengan tatapan yang sinis dan tajam.
"B-benar nona muda" kata Hye Ra dengan gemetaran.
Saerin masih menatap Hye Ra dengan tatapan yang sangat tajam seakan ia tak percaya dengan apa yang diucapkan ahjummanya itu.
"Yap! baiklah ahjumma, aku menerimamu! selamat datang dan selamat karna Anda tinggal disini. Saya harap Anda bisa bekerja dengan baik" kata Saerin dengan antusias sampai ia berdiri dari duduknya dengan merentangkan kedua tangannya bertujuan untuk menyambut sang ahjumma. Dan senyum lebar yang terlukis di wajahnya. Membuat Hye Ra tersenyum karna melihat senyuman Saerin yang manis.
Yang awalnya tubuh Hye Ra bergetaran dengan keringat dingin yang keluar dari dahinya dan rasa khawatir yang melanda batin Hye Ra. Tapi sekarang ia menghela napas lega karna melihat senyum ketulusan dari seorang gadis yang bernama Kim Saerin itu.
"Ahjumma, bolehkah aku memanggilmu ahjumma Shin?" tanya Saerin yang masih berdiri dengan senyumannya yang belum terlepas dari wajah.
"Nee, tentu saja boleh nona muda" kata Hye Ra dengan tersenyum.
"Jangan panggil aku nona muda, panggil saja Saerin. Arrasseo?"
"Nee"
"Baiklah ahjumma Shin, aku akan membawamu ke kamarmu" kata Saerin yang berjalan duluan.
"Nee", Hye Ra hanya mengikuti Saerin dari belakang. Saerin membawanya ke kamar khusus pembantu.
"Ini dia kamarmu ahjumma Shin, semoga kau suka dan betah disini"
"Khamsambnida nona"
"Ahjumma Shin, aku kan sudah bilang padamu panggil aku Saerin. Aku tak suka dipanggil nona. Panggil saja namaku, tak usah sungkan. Ini agar kita menjadi dekat satu sama lain, nee"
"Baiklah Saerin" kata Hye Ra sambil tersenyum.
"Itu bagus ahjumma, yasudah kau istirahatlah sebentar dulu di sini untuk mengatasi rasa lelah mu. Aku ada di ruang tengah jika kau membutuhkan ku" kata Saerin.
"Nee".
__ADS_1
Saerin pun pergi dan kembali lagi ke ruang tengah bersama Hueningkai yang sedang menonton televisi.
"Kau sudah selesai?" tanya Kai saat melihat Saerin duduk di sebelahnya.
"Nee, sudah"
Beberapa menit kemudian, setelah mereka berdua tak saling berbicara lagi. Ada suara aneh yang berasal dari belakang. Saerin dan Kai terkejut dan saling berhambur lari ke asal suara tersebut. Sesampainya didapur,
"Ahjumma Shin, apa yang terjadi?" tanya Saerin dengan khawatir.
"Tada!". Hye Ra membalikkan badannya dan terlihat di kedua tangannya dua buah loyang yang berisi beberapa kue cookies hangat yang baru keluar dari pemanggang.
"Waahh ahjumma Shin, kau membuat ini? aku kan sudah bilang kau harus istirahat sebentar dulu di kamarmu" kata Saerin.
"Nee, tapi ahjumma bosan berada di dalam kamar. Jadi ahjumma membuatkan kalian kue. Dijamin enak sekali gigit, cobalah" kata Hye Ra yang menaruh loyangnya di meja. Saerin dan Kai mulai mendekatkan kepalanya dan menghirup aroma kue tersebut.
"Hemm.. sepertinya ini enak, aku akan mencobanya" ucap Saerin yang mengambil satu kue dan memakannya. Ia menggigit setengah dari bagian kue tersebut. "Emm.. enak sekali, aku tak pernah mencicipi kue yang selezat ini. Kau benar-benar pintar membuat kue ahjumma Shin" kata Saerin dengan antusias. Karna penasaran akhirnya Kai juga mengambil satu potong kue itu dan memakannya.
"Hmm.. nee, benar-benar enak" kata Kai sambil mengunyahnya.
"Hehe, siapa dulu dong yang buat. Ahjumma" katanya dengan membanggakan diri, karna berhasil membuat mereka berdua senang menikmati kue buatannya.
Skip, sore..
Sekarang Hye Ra sedang memasak untuk makan malam di dapur. Sementara Saerin dan Kai, mereka berdua sedang bermain game di kamar Taehyung. Karna hanya dikamar Taehyung lah terdapat banyak alat permainan.
"Yeayy, aku menang lagi" sorak Saerin dengan tersenyum ria.
"Aissh kau bermain curang Saerin" kesal Kai yang kalah bermain game dengan Saerin.
"Kau saja yang tak pandai bermain"
"Mari kita bermain lagi, kali ini aku yang akan menang" kata Kai dengan bersemangat.
"Ashh kau saja yang main, aku lelah. Ini permainan kita yang ke lima kalinya. Dan kau selalu kalah dariku, aku sangat lelah" kata Saerin yang merebahkan dirinya di lantai.
"Baiklah, aku juga sudah lelah. Aku akan menyerah" kata Kai. Lalu ia juga melakukan hal yang sama seperti Saerin.
"Mungkin ia sedang sibuk, dan belum bisa menghubungimu untuk saat ini. Tunggulah nanti, sebentar lagi juga ia akan meneleponmu" kata Kai.
"Nee"
Skip
Malamnya, mereka bertiga sedang makan malam bersama. Bertiga? ya, karna Hye Ra juga diminta oleh Saerin untuk makan malam bersamanya di meja makan.
Di sisi lain..
Jungkook yang masih duduk terikat di kursi, kini sudah mulai menyerah dan tak dapat memberontak lagi. Tubuhnya melemah karna perutnya yang belum diisi dari siang. Yeoja itu benar-benar ingin membuatnya mati kelaparan karna tak diberi makan sesendok pun.
"Akh, tubuhku lemas karna tidak makan dari siang. Apa yang sebenarnya ia rencanakan? apa dia memang ingin membunuhku? aishh, bagaimana ini? aku ingin kabur dari sini dan kembali pulang ke rumah. Tolong aku, siapapun" kata Jungkook dengan lesu. Wajahnya sudah pucat pasi, bibir dan tenggorokannya pun kering. Kondisinya saat ini memang sangat lemah dan lesu.
•
Skip, keesokan harinya..
Saerin sudah bangun lebih awal. Ia tak ingin terlambat sekolah hari ini. Setelah selesai mandi dan memakai seragam, Saerin segera turun sambil menenteng tas sekolahnya ke meja makan.
"Morning ahjumma Shin!" sapa Saerin dengan tersenyum pada Hye Ra yang tengah berada di dapur untuk membuatkan sarapan untuknya.
"Morning juga Saerin" balas Hye Ra dengan tersenyum pula.
"Dimana Kai? dia juga kan harus ke kampusnya" kata Saerin yang menarik salah satu kursi dan duduk.
"Mungkin dia masih tidur, sudahlah ini makan sarapanmu dulu. Sebentar lagi juga Kai pasti akan bangun dan turun" kata Hye Ra.
Saerin pun memakan sarapannya dan tak lupa segelas susu hangat yang dibuatkan oleh Hye Ra.
"Good morning everybody!" seru Kai dari tangga yang menenteng tas sekolahnya juga. "Loh Saerin, kau sudah bangun? sejak kapan kau berada disini?" sambungnya yang melihat Saerin sudah berada dimeja makan lebih dulu.
__ADS_1
"Sejak tadi, padahal aku berniat untuk membangunkanmu sesudah sarapan. Karna kau belum juga turun. Tapi belum juga satu menit kau sudah datang" kata Saerin.
"Ooh jinjja?" tanya Kai yang menarik salah satu kursi.
"Nee" kata Saerin sambil mengunyah rotinya. "Aku tidak ingin terlambat sekolah hari ini, kau tau kan hari ini adalah hari pertama aku masuk sekolah setelah aku pulang dari rumah sakit. Jadi aku tak mau terlambat, dan kau harus mengantarku setelah ini" sambungnya setelah menelan makanan yang sudah terkunyah di mulut.
"Arrasseo!" seru Kai dengan anggukan.
Skip, setelah makan..
"Ahjumma Shin, kami berangkat dulu" kata Saerin yang beranjak dari kursi.
"Nee, hati-hati di jalan. Belajar yang rajin" kata Hye Ra.
"Nee, kajja Kai!" kata Saerin. Ia pergi mendekati Hye Ra dan bercipika-cipiki.
"Pergi dulu ahjumma Shin!" teriak Saerin yang berlari keluar.
"Saerin tunggu aku!" teriak Kai dengan tergesa-gesa mengejar Saerin ke luar.
"Haish ada-ada saja mereka" gumam Hye Ra dengan tersenyum.
Skip sampai di sekolah Saerin..
Hueningkai menghentikan mobilnya tepat di depan pintu gerbang. Saerin segera melepas sabuk pengamannya dan turun dari mobil. Sebelum melangkah masuk, Kai memanggilnya dan membuka kaca mobil.
"Ada apa Kai?" tanya Saerin.
"Jam berapa aku harus menjemputmu?"
"Pukul 3 sore. Jangan terlambat" kata Saerin dengan datar.
"Nee. Belajar yang rajin" ucap Kai tegas.
"Nee". Kai pun melajukan kembali mobilnya. Lalu Saerin memasuki gerbang sekolah. Di sana masih terlihat sepi, belum banyak siswa yang datang. Saerin menghentakkan kakinya ke lantai menuju ke kelasnya. Di dalam kelas hanya ada beberapa siswa yang baru datang dan Jiyeon yang sudah duduk di samping bangku nya.
"Annyeong Jiyeon!" sapa Saerin yang baru saja duduk dan melepas tasnya dengan senyum ceria.
"Hm.. annyeong" balas Jiyeon dengan datar dan dingin tanpa menoleh pada Saerin.
"Kau kenapa Jiyeon? apa kau sakit? atau kau ada masalah?" tanya Saerin.
"Gwenchana. Aku baik-baik saja" jawab Jiyeon dengan tak berekspresi.
"Ada apa dengan Jiyeon? " batin Saerin yang masih menatap Jiyeon dengan heran.
"Mian Saerin, hati ku masih sakit karna kejadian itu. Sebaiknya aku harus menjauhimu. Entah kenapa rasanya hatiku ini telah jatuh cinta pada Junho. Tapi Junho lebih memilih dekat denganmu dibanding aku. Padahal, aku lah yang selama ini menemani dan menjaganya di rumah sakit saat ia sedang terluka. Tapi dia jelas-jelas lebih memilih untuk tetap berada di dekatmu, walau kau juga sama dirawatnya di rumah sakit " batin Jiyeon dengan sesekali melirik ke arah Saerin.
"Oh yasudah kalau begitu, jika kau mempunyai masalah katakan saja padaku. Aku akan dengan senang hati membantumu" kata Saerin dengan tersenyum.
"Nee" balas Jiyeon dengan dingin.
Skip
Bel masuk akhirnya berbunyi, semua siswa maupun siswi yang berada di luar segera berhamburan masuk ke dalam kelasnya masing-masing. Begitu juga dengan Ji-won cs yang memasuki kelasnya. Sejak pelajaran dimulai, tatapan Ji-won tak pernah lepas dari Saerin. Serasa ia ingin sekali berbicara padanya.
Bel istirahat pun berbunyi, semua siswa mulai melangkahkan kakinya keluar dan menuju ke kantin sekolah. Saerin masih memberesi buku-buku nya. Ia mengajak Jiyeon untuk pergi ke kantin bersama. Tapi itu ditolak oleh Jiyeon, tak biasanya dia bersikap dingin seperti ini pada Saerin. Mengabaikannya dan pergi keluar sendiri tanpa mengajaknya pergi bersama.
"Kenapa sikap Jiyeon jadi berubah seperti ini? ada apa dengannya? assh dia pasti sedang mengalami masalah, mungkin aku harus membiarkannya sendirian dulu untuk saat ini. Agar dia bisa menenangkan dirinya dulu " batin Saerin yang menatap kepergian Jiyeon dari dalam kelas.
Saat pandangannya beralih ke samping, Saerin sangat terkejut karna mendapati dirinya yang tengah ditatap oleh beberapa pasang mata. Ji-won beserta kedua temannya itu perlahan mendekati Saerin dengan tatapan yang masih lekat dengannya.
Membuat Saerin tak bisa apa-apa..
...
***Nantikan kelanjutan ceritanya..
Jangan lupa like, komen, dan vote. Gomawo, borahae 💜
__ADS_1
Dengan kalian like aja author udh seneng banget kok, jadi jangan pelit-pelit ya buat like. Kagak mahal kok, cuman like doang 😊***