You'Re My Brother (BTS)

You'Re My Brother (BTS)
Eps 50


__ADS_3

4 bulan kemudian...


06.30


Saerin sudah sampai di sekolahnya. Dan segera masuk ke dalam kelas.


Skip, istirahat..


Saerin sedang melamun sendirian di kantin. Karna Jiyeon pergi bertemu dengan temannya yang lain. Jadi Saerin pergi ke kantin sendirian. Junho tak sengaja melihat Saerin, saat ia ingin menghampirinya seseorang sudah duduk di hadapan Saerin terlebih dahulu membuat Junho menghentikan langkahnya.


"Bukankah itu Ji-won, kenapa ia ada disana? apa dia ingin mengganggu Saerin lagi ?! " batin Junho.


Tapi ia berusaha untuk diam dan memperhatikan mereka berdua sebentar.


Ji-won duduk di hadapan Saerin, tapi ia hanya diam tak menyapa karna Saerin sedang melamun. Ji-won hanya diam menatap Saerin dengan dalam. Tak lama Saerin pun sadar dari lamunannya dan ia melihat Ji-won yang sedang menatap matanya.


"Ji-won.." panggil Saerin yang tak di jawab oleh si pemilik nama.


"Ji-won!" bentak Saerin dengan kesal sambil menggebrak meja hingga membuat Ji-won tersentak kaget.


"Mwoya?" tanya Ji-won yang kebingungan dengan raut wajah Saerin.


"Kenapa kau menatapku seperti itu Ji-won?"


"Ash, aniya.. gwenchana" ucap Ji-won sambil terkekeh pelan.


"Lalu, mau apa kau kesini?" tanya Saerin lagi. Kali ini Ji-won terdiam dengan pertanyaan Saerin. "Ji-won, apa kau baik-baik saja?" sambung Saerin yang melihat ekspresi Ji-won yang berbeda.


"Ah.. aku tidak mengapa, a..aku hanya duduk disini saja"


"Kenapa dengan dirimu ini Ji-won?"


"Mwo?"


"Kenapa akhir-akhir ini, kau tidak menggangguku lagi? dan kenapa sikapmu jadi berubah padaku? biasanya kan kau selalu kasar padaku.. dan kau selalu menggangguku lalu-"


Ucapan Saerin terpotong karna Ji-won menempelkan jari telunjuknya pada mulut Saerin.


"Sudahlah, itu tidak penting. Itu adalah masa lalu, tidak perlu dikatakan lagi" ucap Ji-won yang melepas jarinya.


"Wae?" tanya Saerin sambil mengernyitkan dahinya.


"Ak-"


trriinngg... trriinngg...


Ucapan Ji-won pun terpotong karna bunyi bel sekolah yang menandakan pelajaran selanjutnya akan segera dimulai.


"Eoh sudah bel masuk, kajja! kita masuk ke kelas" ucap Saerin yang jalan terlebih dahulu.


"Ish, kenapa juga bel nya harus berbunyi?" desis Ji-won dengan kesal. Kemudian ia pun segera menyusul Saerin ke kelas mereka.


Junho yang masih berdiri di tempatnya merasa heran dengan kedekatan Ji-won dan Saerin. Ia masih mematung di tempat.


"Kenapa sikap Ji-won tak seperti biasanya? apa dia hanya berpura-pura saja? pasti Ji-won mempunyai rencana dibalik tingkahnya itu " batin Junho. Setelah itu, iapun pergi ke kelasnya dengan masih memikirkan kejadian yang barusan ia lihat.


Skip


Pulang sekolah..


Saerin menunggu Hueningkai datang di depan gerbang sekolahnya. Tapi tiba-tiba ada sebuah suara yang memanggilnya. Ia segera menoleh pada asal suara tersebut. Terlihatlah seorang anak lelaki yang menghampirinya.


"Junho? kenapa kau terengah-engah seperti itu? apa kau mengejarku?" tanya Saerin.


"Nee" ucap Junho dengan nafas yang tersengal-sengal.


"Jawab pertanyaan ku tadi" ucap Saerin menunggu jawaban dari Junho.


"Sebenarnya aku ingin bertanya sesuatu padamu" ucap Junho sambil menatap Saerin.

__ADS_1


"Mwoya?"


"Disaat jam istirahat tadi, aku melihatmu sedang duduk di kantin bersama Ji-won. Apa dia mengganggumu lagi?" kata Junho dengan tatapan serius.


"Ani.. dia tidak menggangguku. Memangnya kenapa?"


"Tapi kenapa sikapnya berubah? tidak seperti dulu yang selalu kasar padamu" kata Junho.


"Aku juga tidak tau, tapi mungkin ia sudah khilaf dan ingin memperbaiki sikapnya" kata Saerin.


"Aku rasa ia hanya berpura-pura saja Saerin. Berhati-hatilah, Ji-won adalah anak yang nakal. Mana mungkin ia bisa mengakui kesalahannya. Ia hanya berpura-pura, waspadalah Saerin. Ji-won pasti punya rencana di balik sikapnya yang berubah padamu itu" kata Junho.


"Junho, kita tidak boleh berpikiran negatif pada orang lain. Dia mungkin memang sudah mengakui kesalahannya itu, dan dia mencoba bersikap baik mulai sekarang. Bukankah itu baik?"


"Benar juga, tapi aku tak percaya dengan sikapnya itu. Mana mungkin ia bisa secepat itu mengubah perilaku buruknya, ia pasti sedang berpura-pura" kata Junho.


"Sudahlah Junho, kau tidak perlu berprasangka buruk padanya. Setiap orang pasti mengakui semua kesalahan yang ia lakukan semasa hidupnya, orang jahat juga akan mengakui perbuatannya di kedepan hari. Entah itu besok, lusa, bulan depan bahkan tahun depan atau dimasa depan sekalipun. Ia pasti akan mengakuinya. Dan kita sebagai makhluk sosial harus bisa berpikir positif pada semua orang, baik itu yang jahat maupun yang baik. Karna semua orang itu berbeda-beda tergantung alasan mereka masing-masing, Junho. Apa kau mengerti?" jelas Saerin.


Junho hanya menundukkan kepalanya, ia tau prasangkanya pada Ji-won itu salah.


"Nee, arrasseo"


Saerin pun tersenyum melihatnya. Tak lama kemudian, suara klakson mobil terdengar oleh mereka. Mobil Hueningkai berhenti tepat di hadapannya.


"Yasudah, Junho.. aku pulang dulu nee?" ucap Saerin yang berpamitan pada Junho.


"Nee, hati-hati di jalan"


"Arrasseo" ucap Saerin sambil membuka pintu mobil. Setelah itu, mobil Hueningkai pun pergi menjauh dari gerbang sekolah.


Skip


Saerin dan Hueningkai sudah masuk ke dalam rumah dan sekarang mereka sedang berada di ruang tengah.


"Saerin.. besok aku akan menginap dirumah temanku selama seminggu. Aku harus mengerjakan tugas kelompok ku bersama mereka. Tak apa kan aku tinggalkan dirimu sendiri di rumah bersama ahjumma?" tanya Hueningkai yang menatap Saerin.


"Apa itu harus?" tanya Saerin yang mulai khawatir.


"Ouh arrasseo" ucap Saerin dengan cemberut.


"Hey Saerin, kenapa kau sedih seperti itu?" tanya Hueningkai.


"Kau akan meninggalkanku dirumah, bagaimana kalau-"


"Heyy.. aku kan sudah mengatakan itu padamu, kau.. gadis yang kuat, kau bisa melawannya. Aku yakin tidak akan terjadi apa-apa pada dirimu. Aku yakin kau akan baik-baik saja disini. Cobalah untuk mandiri sayang. Kau pasti bisa melakukannya" ucap Hueningkai dengan lembut.


"Arrasseo.. aku akan mencobanya" ucap Saerin pelan.


"Jangan sedih.. setelah aku menyelesaikan tugasku, aku berjanji akan langsung pulang, Nee?"


"Nee"


Hueningkai pun tersenyum dan dibalas sebuah senyuman juga dari Saerin.


Sebenarnya, Saerin masih takut dengan peristiwa yang dialaminya itu. Tapi ia berusaha untuk memberanikan diri agar ia tak dianggap lemah oleh sang lawan.


Keesokan harinya...


Saerin melakukan kegiatannya seperti biasa. Hari ini, ia pulang dengan menaiki bis untuk sampai ke rumah. Karna Hueningkai sedang menginap di rumah temannya, jadi pulang sekolah ini Saerin tidak dijemput oleh Hueningkai.


Skip


20.00


Setelah selesai menghabiskan makan malamnya, Saerin kembali duduk di sofa ruang tengah dan memainkan ponsel genggamnya. Hari ini, Saerin merasa sepi tanpa kehadiran Hueningkai yang selalu bercanda tawa dengannya di ruang tengah. Tapi ia juga harus memakluminya, karna Hueningkai juga sedang melakukan tugasnya sebagai seorang mahasiswa.


Beberapa menit kemudian, Saerin mendengar sebuah suara ketukan dari pintu depan. Ia segera bergegas ke depan dan membuka pintunya. Tanpa disangka-sangka, Saerin melihat beberapa wajah yang sangat ia kenali dan tentunya ia rindukan. Ketujuh oppanya kini berada di depan rumah, setelah sekian lama mereka meninggalkannya dan hari ini mereka pulang kerumah.


Saerin langsung memeluk Jungkook yang berada di depannya, tapi sepersekian detik kemudian Jungkook melepaskan tangan Saerin yang mengikat di pinggangnya itu dengan kasar. Setelah itu, mereka semua pun masuk ke dalam dan merebahkan dirinya di atas sofa ruang tengah. Saerin merasa aneh pada sikap ketujuh oppanya itu, mereka terlihat muram dan begitu kacau.

__ADS_1


"Oppa, apa kalian tak merindukanku? aku kan sangat-sangat merindukan kalian. Kalian semua tak pernah menghubungiku akhir-akhir ini, tapi tidak apa-apa yang penting kalian sekarang sudah pulang. Aku sangat senang melihat kalian semua pulang ke rumah, berarti pekerjaan kalian sudah selesai dan kalian bisa menemaniku disini selamanya" celoteh Saerin dengan senyum lebarnya yang berdiri dihapadan ketujuh namja di sofa.


"Berhentilah berbicara! berisik sekali! aku ingin pergi ke kamarku!" bentak Taehyung yang beranjak pergi sambil menarik kopernya ke atas.


"Aku juga ingin ke kamarku" ucap Jungkook dengan suara parau yang menyusul Taehyung keatas.


"Aku lelah sekali" ucap Hoseok yang juga pergi.


"Kau berisik sekali, kami baru saja pulang tapi kau malah berceloteh tidak jelas pada kami. Sudahlah, aku ingin ke kamarku" ucap Jimin dengan suara yang berat.


"Jangan berisik, kau membuatku pusing" ucap Namjoon yang juga pergi menyusul Jimin.


"Oppa, ada apa dengan kalian? kenapa kalian jadi seperti ini?" tanya Saerin.


"DIAM DASAR GADIS KECIL, APA KAU TAK BISA DIAM HAH?! Berisik sekali!" tekan Yoongi yang pergi menuju tangga.


Saerin tersentak karna mendengar ucapan Yoongi yang keras. Ia mulai meneteskan air matanya melihat sikap Yoongi yang biasanya diam dan tak pernah membentaknya sekarang jadi bersikap keras pada dirinya.


"Dasar cengeng, seperti itu saja kau sudah menangis" ucap Jin yang pergi meninggalkan Saerin.


"Hiks.. hiks.. kenapa mereka jadi seperti ini? aku tidak pernah di bentak oleh mereka sebelumnya, tapi kenapa sekarang mereka malah membentakku? hiks.. hiks.." ucap Saerin disela isak tangisnya.


Hye Ra yang mendengar keributan itu pun segera menghampiri Saerin dan menenangkannya.


"Saerin, sudahlah sayang. Hiraukan saja ucapan mereka itu, mungkin oppamu sedang sangat lelah dan mereka butuh istirahat" ucap Hye Ra menenangkan Saerin dalam pelukannya.


"Tapi sebelumnya mereka tak pernah bersikap seperti itu padaku" kata Saerin yang masih menangis terisak.


Hye Ra hanya bisa menenangkannya saja, ia tak tau lagi ingin berkata apa pada Saerin.


Lalu Hye Ra mengantarkan Saerin ke kamarnya di atas. Dan menenangkan Saerin hingga ia tertidur. Setelah mengetahui Saerin yang sudah tertidur lelap, Hye Ra segera keluar dari kamar Saerin dan menuju ke kamarnya sendiri untuk tidur karna hari sudah larut.


00.01


Saerin membuka matanya karna merasa haus setelah ia menangis tadi. Ia pun keluar dari kamarnya dan pergi ke dapur untuk mengambil air minum. Tapi langkahnya terhenti saat ia baru menuruni beberapa anak tangga dan melihat sebuah keributan di ruang tengah. Tanpa pikir panjang, Saerin bergegas pergi kesana. Dan ia melihat berbagai botol minuman keras yang ada dimeja lalu melihat ruang tengah yang sangat berantakan akibat ulah ketujuh oppanya.


"Apa yang kalian lakukan?! apa kalian mabuk?! ini sangat tidak baik oppa!" teriak Saerin pada mereka semua.


"DIAM KAU!! kami sedang menikmati pesta ini dan kau malah menghancurkannya!!" bentak Jungkook yang menatap Saerin dengan tajam.


"Tapi kalian membuat ruangan ini sangat kacau, lihatlah banyak botol kaca yang pecah di lantai!" teriak Saerin.


"Apa masalahmu hah?!" bentak Taehyung.


"Kenapa kau merusak pesta kami ini eoh?!" ucap Jimin.


"KALIAN YANG KENAPA, KENAPA KALIAN JADI SEPERTI INI?! KENAPA KALIAN MABUK DAN MEMBUAT RUMAH JADI BERANTAKAN!!" teriak Saerin yang sudah tak bisa menahan amarahnya lagi.


Yang lain pun diam, lalu tak lama Taehyung beranjak dari sofa dan mendekati Saerin.


"Beraninya kau membentak kami!" tekan Taehyung.


"Kalian juga melakukan itu padaku!" teriak Saerin.


Plaakk!!


Taehyung menampar pipi Saerin hingga tersungkur di lantai dengan berderai air mata sambil memegangi pipinya yang merah.


"Banyak bicara kau!" ucap Taehyung.


"O..Oppa.." lirih Saerin sambil menatap Taehyung dengan mata yang berkaca-kaca.


"Heh dasar cengeng! seperti itu saja kau sudah menangis! LEMAH" ucap Taehyung dengan menekan kata terakhirnya.


Saerin hanya menangis terisak-isak disana, ia tak tau ingin melakukan apa lagi. Tapi tiba-tiba tangannya ditarik oleh Jungkook dan dipaksa berdiri dengan sangat kasarnya.


"Sudahlah, jangan menangis dasar gadis cengeng. Pergi ke kamarmu sana! Kau mengganggu kegiatan kami saja! PERGILAH!" ucap Jungkook yang mendorong tubuh Saerin untuk pergi dari ruang tengah.


Saerin pun berlari menaiki tangga dan masuk ke kamarnya. Ia menangis sejadi-jadinya dengan meringkuk di atas kasur.

__ADS_1


"Hiks.. hiks.. hiks.. kenapa mereka jadi bersikap kasar seperti itu padaku? apa salahku hingga membuat mereka membenciku sekarang? hiks.. hiks.." tangis Saerin dengan sesenggukan.


__ADS_2