You'Re My Brother (BTS)

You'Re My Brother (BTS)
Eps 31


__ADS_3

Jiyeon masih duduk di kursi luar ruangan Saerin.


Kai sedang menuju ke kamar Saerin, tapi ia tak sengaja melihat Jiyeon tengah duduk di luar.


"Hey, kenapa kau berada di luar? kenapa kau tidak masuk saja?" tanya Kai yang menghampiri Jiyeon.


"Oh gwenchana, aku hanya menunggu temanku yang berada di dalam bersama Saerin" Jiyeon mencoba tersenyum walau dalam hatinya ia merasa sedikit kecewa.


"Yasudah, aku ingin masuk, apa kau juga mau ikut?"


"Owh ani, kau saja yang masuk"


"Baiklah" Kai pun masuk ke dalam ruangan.


"Gomawo karna sudah menemani Saerin sebentar" kata Kai pada Junho ketika ia sudah masuk.


"Nee, gwenchana" Junho tersenyum.


Kai pun berjalan ke arah kursi di samping ranjang Saerin.


"Kau juga sedang dirawat ya?" tanya Kai yang melihat Junho membawa infusannya.


"Nee"


"Kenapa kau tidak istirahat saja di kamarmu? tidak usah mencemaskan Saerin, kau juga sedang terluka bukan? aku bisa melihat luka lebam di wajahmu. Oppanya mengatakan jika Saerin seperti ini karna ulah anak-anak nakal di sekolahnya. Mungkin kau mencoba menyelamatkan Saerin bukan? karna itulah kau jadi babak belur seperti itu, sudahlah kau istirahat di ruanganmu saja untuk memulihkan kondisimu, biarkan Saerin bersamaku nee?" Kai tersenyum pada Junho.


"Arrasseo" Sebenarnya Junho masih ingin berlama-lama dengan Saerin berdua saja. Tapi apa boleh buat, disini juga sudah ada yang menemaninya. Dan dia juga masih harus beristirahat.


Tak lama Jiyeon pun masuk ke dalam.


"Jiyeon, pas sekali kau datang. Kajja, kita kembali ke kamarku" kata Junho.


"Baiklah" Jiyeon hanya menuruti keinginan Junho, karna ia juga sudah tidak ingin berada disini lagi.


Jiyeon membawa Junho pergi ke kamarnya. Sampai disana, Junho berbaring di ranjangnya lagi dan Jiyeon hanya menemaninya di sofa sambil memainkan ponselnya.


Skip


Hari sudah mulai larut malam, tapi Junho tak bisa tidur. Ia masih memikirkan tentang keadaan Saerin. Hatinya sangat resah jika membayangkan mimpi itu kembali. Ia sangat cemas jika akan kehilangan Saerin.


"Kenapa di dalam mimpi itu, aku seperti menyatakan rasa cintaku padanya. Itu sangatlah aneh, kenapa aku bisa mengatakan itu? apa aku benar-benar jatuh cinta kepadanya? apa aku memang mencintainya? kenapa bisa jadi seperti ini hah?!" Junho sangat kesal bahwa dia mulai mencintai Saerin.


"Apa perasaanku memang benar? seperti yang aku katakan dalam mimpi itu?"


"Aakkhh, aku harus menemuinya" Junho beranjak dari ranjangnya secara diam-diam karna ia tidak ingin membangunkan Jiyeon yang tertidur pulas di sofa. Junho membawa serta infusannya. Ia berjalan keluar dari ruangannya dan menuju kamar Saerin. Setelah sampai di depan kamar. Junho sedikit ragu untuk masuk, tapi ia memberanikan dirinya karna ia ingin bertemu dengan Saerin.


Junho mengetuk pintu itu secara pelan, tapi tidak ada yang menyahut dari dalam. Jadi Junho memilih untuk membuka pintunya dan segera masuk. Ia melihat Kai yang tengah tertidur di sofa. Ia juga melihat Saerin yang masih terbujur kaku di ranjangnya.


Junho menghampiri Saerin dan duduk di kursi samping ranjang Saerin. Perlahan Junho menggenggam tangannya.


"Saerin, apa kau masih tidur? kenapa kau belum bangun?" Junho menatap Saerin dengan sendu, ia tak bisa melihat Saerin terus seperti ini.


"Saerin, tolong bangunlah, aku lelah melihatmu terbaring disitu terus. Apa kau tidak ingin bangun Saerin? kenapa kau masih terus berbaring disitu? aku merindukanmu" kata Junho dengan nada pelan. Matanya mulai berkaca-kaca melihat keadaan Saerin yang masih belum sadar.


"Aku ingin bercerita padamu, tapi kau malah masih tidur. Aku ingin menceritakan satu hal padamu yang mungkin ini sangat aneh seperti yang aku pikirkan"


"Saerin, aku menantimu"


"Aishh sudahlah, aku ingin kembali lagi ke kamarku. Aku ingin istirahat, sampai jumpa lagi Saerin" Junho berdiri dari kursi dan mengecup sekilas kening Saerin. Ia pun segera keluar dari ruangan dan menuju kamarnya kembali.


Skip pagi


Matahari mulai terbit menyinari belahan bumi. Perlahan matanya mulai terbuka, menghirup udara dari pendingin ruangan. Ia melihat langit-langit ruangan di tempatnya. Terlihat buram saat pertama kali melihat, lalu lama-kelamaan mulai jelas. Ia mulai merasakan nyeri di kepalanya, perlahan memegangi kepalanya yang terasa sakit. Dan kembali menyadarkan diri.


"Emmhh..." Saerin melihat-lihat kesekelilingnya.


"D-dimana aku?"


Hueningkai bangun dengan tak menyadari bahwa Saerin sudah sadar, dia menggosok-gosok matanya dan beranjak dari sofa. Dengan keadaan masih mengantuk, Kai berjalan ke arah kursi di samping ranjang Saerin. Kai terkejut bahwa ia telah melihat Saerin sudah membuka matanya dan menoleh ke arahnya saat ia berjalan menghampiri ranjang tersebut. Dengan tergesa-gesa Kai langsung membuka matanya lebar-lebar dan segera berlari.


"Saerin, apa kau sudah sadar?" tanya Kai yang sedikit cemas.


"Kai.." jawabnya lirih.


"A-aku akan memanggilkan dokter dulu, tenanglah Saerin" Kai sangat terburu-buru pergi keluar memanggil dokter.


5 menit kemudian


Kai datang bersama dokter tersebut. Dokter itu pun segera mengecek keadaan Saerin.


"Pasien tidak apa-apa, ia hanya merasakan nyeri di bagian kepalanya akibat operasi. Tidak masalah, aku akan memberikan resep obat pereda nyeri nya untuk dia. Sebentar.." dokter mengambil obat itu dan memberikannya pada Kai.


"Berikan padanya secara teratur, setelah makan dan sebelum tidur. Jika ada sesuatu panggil saja saya"


"Khamsambnida dok" kata Kai yang membungkukkan badannya.


"Nee, kalau begitu saya pergi dulu"


"Khamsambnida"


Dokter itupun keluar dari ruangan Saerin.


Kai mulai sedikit tenang dan ia menatap Saerin sekarang.


"Saerin, apa kau masih merasa sakit?" Tanya Kai. Saerin hanya menganggukkan kepalanya dengan pelan.


"Gwenchana kau istirahat saja dulu, jangan banyak bergerak nee?" kata Kai dengan tersenyum.


Ia mengusap lembut kepala Saerin. Sampai Saerin tertidur.


"Dia sudah tidur, syukurlah dia tidak apa-apa. Eoh, aku baru ingat, aku kan harus mengabari mereka jika Saerin sudah sadar. Tapi, apa mereka sedang sibuk? aku tak mau mengganggu mereka yang sedang bekerja. Tapi ini masih pagi, mungkin mereka belum berangkat ke kantornya. Lebih baik aku telpon saja untuk mengabari mereka tentang keadaan Saerin. Mungkin sekarang mereka sedang cemas memikirkan keadaannya" Kai langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Jungkook.

__ADS_1


Bangtan POV


Jungkook baru saja keluar dari kamar mandi, dan ia masih mengenakan lilitan handuk di tubuhnya. Tiba-tiba ponselnya berdering, ia segera mengambil ponselnya yang berada di meja.


"Yeoboseyo"


"Oh annyeong hyung"


"Kai? ada apa kau menghubungiku?"


"Apa kau sedang sibuk hyung?"


"Ani, aku baru saja selesai mandi. Kami belum berangkat ke kantor. Waeyo?"


"Ada kabar gembira untukmu hyung" suara Kai nampaknya terlihat sangat bahagia di dalam telpon.


"Kabar gembira apa itu?"


"Saerin baru saja sadar tadi hyung. Dan dia baik-baik saja, dokter sudah memeriksanya. Sekarang dia sedang tidur"


"Benarkah?"


"Nee hyung"


Senyum pun mulai mengembang dari wajah Jungkook yang mendengar kabar baik ini. Ia sangat lega telah mendengar kabar dari Saerin setelah lama ia tak mendapat kabar darinya. Rasa cemas itu sudah terobati oleh datangnya sang kabar gembira, yang membuatnya sangat senang.


"Hyung, apa kau baik-baik saja?" kata Kai dari dalam telpon yang mencemaskan Jungkook karna ia terdiam sejenak setelah mendengar ucapan Kai.


"Ah, nee aku baik-baik saja Huening. Gomawo karna telah mengabariku tentang ini. Aku sangat senang sekali mendengar Saerin baik-baik saja. Sekali lagi, gomawo Kai"


"Nee, baiklah hyung. Aku akan menutup telponnya"


"Nee" Jungkook segera menutup sambungannya. Ia berlari ke arah pintu, membukanya dan berteriak.


"Hyung! Saerin sudah sadar!!!"


Suara Jungkook bergema di seluruh ruangan sampai di dapur. Membuat Jin tersentak kaget, ia hampir saja terkena air panas. Jin segera bergegas menuju tangga ke atas, karna ia khawatir oleh teriakan Jungkook yang sedikit samar di dengarnya. Setelah sampai di lantai dua, Jin melihat Jungkook yang memakai lilitan handuk dan berdiri di pintu kamarnya.


"Ada apa Jungkook-ah?" tanya Jin. Tak lama, semuanya pun berdatangan ke kamar Jungkook.


"Wae?"


"Mwoya?"


"Yak, Jungkook. Kenapa kau tidak memakai baju?" tanya Taehyung.


"Ada kabar baik, Saerin sudah sadar hyung" wajahnya mulai berseri-seri saat mengatakannya.


"Mwo?"


"Benarkah?"


"Nee hyung, tadi baru saja Hueningkai mengabariku. Ia bilang jika Saerin sudah sadar dan dia juga baik-baik saja" kata Jungkook.


"Itu adalah kabar gembira untuk kita" kata Hoseok.


"Akhirnya kita bisa lega karna sudah mendengar kabar baik ini" kata Namjoon.


"Lalu, sedang apa dia sekarang? kenapa dia tidak menghubungi kita lewat video call?" tanya Jimin.


"Saerin sekarang sedang istirahat hyung" kata Jungkook.


"Gwenchana, yang penting kita sudah mendengar kabar baiknya dari dia" kata Hoseok.


"Nee"


"Saerin sayang, kau sudah sadar? kau baik-baik saja? oh gomawo karna sudah memberi kabar gembira ini kepada kami. Aku sangat senang sekali mendengar bidadari kecil nan manis ku itu sudah sadar dan baik-baik saja. Gomawo" batin Jin.


"Yasudah, sekarang kita harus pergi berangkat ke kantor. Nanti kita akan terlambat, dan kau Jungkook cepat pakai bajumu. Kau itu, membuat malu saja dengan memperlihatkan tubuhmu" kata Namjoon.


"Hehe, kau iri ya dengan bentuk tubuhku?"


"Heh, punyaku lebih bagus dari dirimu" kesal Namjoon.


"Hehehehe" Jungkook tertawa mendengar ucapan hyungnya itu.


"Sudahlah, sudahlah. Kita harus segera berangkat. Aku sudah menyiapkan sarapan untuk kalian. Kajja" kata Jin yang mendahului turun.


Yang lain pun bubar dan berjalan menuju tempat masing-masing.


Bangtan end POV


Di ruangan Junho..


Jiyeon sudah bangun dan sedang membersihkan diri di kamar mandi ruangan Junho. Sementara itu, Junho masih tertidur pulas. Setelah Jiyeon selesai, ia keluar dari kamar mandi. Ia melihat Junho yang belum bangun.


"Ternyata dia belum bangun, aku akan membelikannya sarapan dulu" Jiyeon pun pergi keluar.


Di ruangan Saerin..


Hueningkai menghela napasnya dengan lega, ia juga senang telah memberi kabar baik ini kepada mereka. Ia segera kembali ke kursi disamping ranjang Saerin.


"Aku sudah menghubungi Jungkook hyung tentang kabarmu, mereka pasti sangat senang. Cepatlah sembuh Saerin" kata Kai yang mengusap-usap kepala Saerin.


kruyuk.. kruyuk..


"Eh, suara apa itu?" tanya Kai. Ia memegangi perutnya.


"Oh, ternyata suara perutku, ia harus diisi. Aku akan meninggalkanmu sebentar Saerin, nanti aku akan kembali lagi. Dan tentunya aku akan membawakan makanan juga untukmu, kau pasti lapar karna belum bangun selama tiga hari. Aku pergi dulu nee?" kata Kai yang beranjak dan pergi keluar. Saat berada di luar, ia tak sengaja berpapasan dengan Jiyeon.


"Hey, kau. Apa kau juga ingin membeli makanan?" tanya Kai

__ADS_1


"Oh nee" Jiyeon mengangguk pelan.


"Yasudah, bagaimana kalau kita membelinya bersama, kebetulan aku juga akan keluar membeli makanan. Gwenchana, nanti aku yang bayar nee?"


Jiyeon hanya mengangguk dan pergi bersama Hueningkai untuk membeli makanan.


Di ruangan Junho..


"Emmhh.. sudah pagi ternyata" Junho terbangun dan mulai mengumpulkan tenaganya yang terasa kaku.


5 menit kemudian..


Junho sudah membersihkan badannya. Ia melihat ke sekeliling ruangan, tapi tak melihat Jiyeon.


"Kemana Jiyeon? ah, mungkin ia sedang keluar. Bagaimana dengan keadaan Saerin? aku harus ke ruangannya". Seperti biasa, ia membawa serta alat infus nya.


Sampai di depan pintu kamarnya, Junho mengetuk pelan dan membuka pintunya. Ia melihat Saerin yang tertidur di ranjang, ia mengira jika Saerin masih belum sadar. Kemudian ia menghampiri Saerin dan duduk di kursi sampingnya.


"Hmm, ternyata kau belum juga sadar. Gwenchana, aku ada disini untuk menemanimu sampai kau bangun" Junho tersenyum sambil mengusap pelan kepala Saerin dan menggenggam tangannya.


Saerin merasakan seseorang tengah menggenggam tangannya dengan sangat erat. Perlahan Saerin membuka matanya dan melihat Junho.


"Junho?"


Merasa dipanggil, ia pun menoleh. Betapa terkejutnya ia melihat Saerin yang terbangun di hadapannya yang sedang menatap dirinya.


"Saerin, kau sudah sadar?" tanya Junho dengan wajah yang berseri-seri.


"Aku memang sudah sadar dari tadi" kata Saerin dengan suara yang agak lemas.


"Mwo? jadi kau bukan terbangun karna aku?" tanya Junho dengan sedikit kecewa.


"Nee. Junho, wajahmu?" Saerin menyentuh pipi Junho yang terdapat luka lebam. Junho terpaku sejenak karna perilaku Saerin yang membuatnya gugup dan salah tingkah.


"E, i-ini hanya luka kecil saja, ti-tidak masalah" katanya dengan gagap.


"Eoh, mian" Saerin menurunkan tangannya dari wajah Junho.


"Gwenchana" Junho tersenyum.


"Apa benar kau baik-baik saja? luka mu itu sangatlah banyak, hampir di seluruh wajahmu. Apa kau tidak bisa melihatnya? apa kau merasakan sakit? atau yang lainnya? atau-"


"Hey-hey-hey, gwenchana. Aku kan sudah mengatakannya, ini hanyalah luka kecil saja. Tidak masalah, jangan khawatir. Rasa sakit yang aku alami ini tidak lah melebihi rasa sakit yang kau rasakan Saerin. Kau lebih terluka ketimbang diriku. Luka ku ini tak sebanding dengan lukamu, sampai-sampai kau tidak sadar selama beberapa hari" Junho memotong ucapan Saerin yang terlihat cemas padanya.


"Benarkah? apa aku pingsan selama itu?"


"Nee"


"Junho, apa kau juga sedang dirawat?" tanya Saerin yang melihat infusan di tangan Junho.


"Nee"


"Seharusnya kau beristirahat di ruang rawat mu Junho, kau pasti juga merasa sakit karna pukulan dari Ji-won dan temannya itu kan? jadi pergilah ke kamarmu, kau juga harus beristirahat untuk memulihkan kesehatan mu. Pergilah"


"Aniya, aku ingin menemanimu disini" tolak Junho dengan kembali menggenggam tangan Saerin.


"Tidak perlu khawatirkan aku, kau istirahat saja sana, biarkan aku disini. Kau juga butuh istirahat, karna itu pergilah. Aku akan baik-baik saja disini. Jangan cemaskan keadaanku, cemaskan dirimu sendiri Junho"


"Ani" kata Junho sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Junho!"


"Saerin!"


"Yak, kau ini kenapa?" kesal Saerin.


"Saerin, kumohon aku ingin menemanimu untuk kali ini saja" kata Junho dengan memasang wajah memelas.


"Ani, kau harus berada di ruanganmu, dan aku juga harus kembali beristirahat Junho. Apa kau kesini hanya untuk mengganggu waktu istirahat ku?" kata Saerin dengan mengerutkan keningnya dan mengangkat sebelah alisnya. Membuat Junho merasa gemas dengan mimik wajah Saerin.


"Pergilah, aku ingin istirahat dan kau juga" Saerin membalas genggaman Junho. Membuat anak lelaki itu pasrah dan menghela napasnya.


"Baiklah, aku akan pergi. Tapi nanti aku akan kesini lagi dan menemanimu, kau tidak akan bisa menolaknya dariku"


"Terserah kau sajalah Junho" kata Saerin dengan tersenyum. Lalu dibalas senyuman juga oleh Junho.


"Kenapa jika kau tersenyum, kau sangat manis Saerin. Aku menyukai senyumanmu yang indah padaku. Kau membuat hatiku serasa ingin meledak karna senyuman manismu itu Saerin-ah" batin Junho.


"Tunggu apalagi? Cepatlah"


"Nee, aku akan pergi. Apa kau tidak akan merindukanku jika aku pergi?"


"Ani"


"Baiklah, aku akan pergi. Jangan menyesal karna kau telah mengusirku"


"Aku tidak mengusirmu, aku hanya ingin kau beristirahat. Yasudah sana"


"Arrasseo" Junho mulai beranjak dari kursi dan berjalan ke pintu.


"Benar nee, kau tidak akan merindukanku?" Junho menoleh sebelum ia keluar.


"Nee" Saerin tersenyum.


"Ok" Junho pun keluar dari ruangan Saerin.


Di luar, Junho merasa sangat kecewa karna ia tidak bisa berdua dengan Saerin lebih lama lagi. Junho kembali berjalan ke ruangannya.


Ia hanya bisa menunggu Jiyeon di ruangannya.


__ADS_1


Nantikan next episode nya..


Jangan lupa like, komen dan vote 💜


__ADS_2