You'Re My Brother (BTS)

You'Re My Brother (BTS)
Eps 33


__ADS_3

Di rumah sakit..


"Kai, aku ingin pulang" rengek Saerin yang tak henti meminta pulang.


"Tapi kau masih harus dirawat, lagipula kau kan belum sembuh total Saerin-ah" tolak Kai dengan lembut.


"Aku sudah sembuh, kau harus membawaku pulang, kajja.."


"Saerin-ah.."


"Aniya, aku mau pulang. Aku ingin istirahat di rumah saja, jebal" kata Saerin dengan raut wajah memelas.


"Kau istirahat di sini saja dulu, nanti jika dokter sudah memperbolehkan dirimu pulang, aku pasti akan membawamu pulang"


"Tapi aku mau nya sekarang, aku ingin pulang sekarang.." rengek Saerin kembali.


"Saerin, tolong jangan seperti ini. Kau kan masih harus dirawat di sini. Aku mohon jangan seperti itu, menurutlah Saerin" kata Kai dengan lembut.


"Aniyaa..."


Karna Saerin tak bisa diam, Kai pun menggenggam tangan Saerin dan mengusap puncak kepalanya.


"Saerin-ah, aku mohon kau tenang lah dulu. Sebentar lagi juga kau akan pulang" kata Kai dengan tersenyum.


"Benarkah?" seketika Saerin terdiam dan menatap Kai.


"Nee, jika kau mengikuti apa yang aku ucapkan, kau pasti akan cepat diperbolehkan pulang" lagi-lagi Kai tersenyum pada Saerin.


"Benarkah? lalu apa yang akan kau ucapkan, aku akan menurutimu jika itu akan membuatku pulang lebih cepat dari sini" kata Saerin antusias.


"Mm.. kau hanya harus istirahat dengan cukup, maka kau pasti bisa segera pulang"


"Baiklah, kalau begitu aku akan tidur agar aku bisa pulang" Saerin langsung membaringkan tubuhnya dan menarik selimut, lalu memejamkan matanya.


Kai hanya menggeleng pelan dengan senyum yang masih mengembang, perlahan Kai menggenggam tangan Saerin dan mengusap kepalanya kembali.


"Semoga kau cepat sembuh Saerin. Aku berjanji akan selalu berada di sisimu, menemanimu setiap saat selamanya. Aku akan menjagamu dengan sepenuh jiwa ragaku, kau sudah aku anggap seperti seorang adik. Senyuman mu yang manis dan ekspresi wajahmu yang polos ketika tertidur seperti ini, membuatku tidak akan tega meninggalkanmu. Aku akan selalu ada untukmu Saerin, aku akan menggantikan peran oppamu yang sedang pergi. Aku akan menjadi oppamu yang baik, aku akan memastikan kau baik-baik saja. Jangan merasa jika kau hanya sendirian Saerin, karna aku akan ada di sampingmu setiap waktu atau setiap saat, kapanpun dan dimanapun. Kau akan aku jaga selamanya, karna aku tidak mau kau terluka apalagi bersedih. Aku akan selalu ada untukmu jika kau membutuhkan teman untuk menemanimu. Get well soon my princess" Kai tersenyum ceria melihat Saerin yang tertidur polos di hadapannya itu.


Bangtan POV


Siang ini semua karyawan maupun atasan sedang menikmati waktu makan siangnya. Jennie, Rose, Jisoo dan Lisa juga tengah menikmati makan siangnya di kantin.


Secara tak disengaja, pandangan Jennie mengarah pada Taehyung yang duduk tak jauh dari meja mereka. Badan Taehyung yang mengarah ke depan berhadapan dengan dirinya membuat Jennie bisa melihat jelas wajah Taehyung.


"Siapa pria tampan yang berada di situ? Parasnya yang rupawan, kemeja berdasi, rambut hitam dan gayanya yang cool saat makan. Ouh ia sangat sempurna, tampan sekali" batin Jennie sambil tersenyum melihat Taehyung yang sedang melahap makanannya.


Jisoo yang dari tadi memperhatikan Jennie yang senyum-senyum sendiri merasakan keanehan pada diri sahabatnya itu.


"Jen, kamu kenapa? kok senyum-senyum sendiri?" tanya Jisoo. Sontak Jennie langsung tersadar dari lamunannya.


"Ahh ani, aku tidak apa-apa" ia mengalihkan pandangannya.


"Apa yang kau lihat dari tadi?" Jisoo menoleh kebelakangnya karna dari tadi Jennie terus melihat ke sana. Jisoo melihat Taehyung yang berada di belakangnya, ia mengerti kenapa Jennie tersenyum sendiri.


"Ouwh ternyata kau sedang terpesona dengan seorang pria tampan ya?" Jisoo memperlihatkan senyum miringnya untuk menggoda Jennie.


"Apa yang kau katakan? aku tidak.."


"Sudahlah, aku mengerti dari tatapanmu yang mengarah padanya. Wah, sepertinya sahabatku ini sedang jatuh cinta dengan seorang pria di belakangku ini" goda Jisoo lagi. Pipi Jennie jadi memerah akibat perlakuan Jisoo yang membuatnya tersipu malu.


Rose dan Lisa yang sedari tadi hanya menyimak ucapan mereka berdua pun kini jadi menoleh ke belakang bersamaan.


"Wah, pria itu memang benar-benar tampan" kata Rose yang meletakkan dagunya di telapak tangan.


"Pantas saja Jennie tertarik" sekarang Lisa juga menggoda Jennie.


"Diamlah kalian" kata Jennie yang berusaha mengelak.


"Sudahlah, jangan malu-malu. Kau itu kan sahabat kami Jen, tidak mengapa kau utarakan isi hatimu pada kami" Jisoo menaik turunkan kedua alisnya.


"Mungkin kita bisa melakukan sesuatu agar kau bisa dekat dengannya" sambung Rose.


"Sudahlah, apa yang kalian katakan ini? aku tidak tertarik padanya, dia bukan tipe lelaki ku"


"Ayolah Jen"


"Ani"


"Kalau kau tidak mau mengatakannya juga, maka aku akan memanggilnya untuk kemari" kata Lisa. Ia akan mengucapkan sesuatu pada Taehyung tapi mulutnya dengan cepat dibekap oleh Jennie.


"Mmpp.."


"Jangan katakan itu. Aku malu" kata Jennie yang masih membekap mulut Lisa.


"Mmppmm.."


Jennie pun melepaskan tangannya dari mulut Lisa.


"Berarti kau benar menyukainya kan?" goda Lisa lagi.


"Sudah aku bilang, dia itu bukan tipe ku" cemberut Jennie.

__ADS_1


"Ouh ternyata sahabatku ini sedang jatuh cinta dan dia malu untuk mengatakannya pada sahabatnya sendiri" kata Lisa sambil menyentil dagu Jennie.


"Sudahlah, aku ingin kembali ke meja ku" ujar Jennie yang beranjak pergi.


Rose, Jisoo dan Lisa hanya melihat punggung Jennie yang perlahan menjauh.


Jennie menutupi pipinya yang memerah sambil berjalan.


Ia kembali duduk di kursi kerjanya.


"Apa yang berada dipikiranku ini? kenapa aku terus memikirkannya? aku kan belum berkenalan dengannya, kenapa jantungku sudah berdetak kencang saat memandangnya?" gumam Jennie.


"Huuhh.. Jennie, kau harus tenang. Dia hanya pria biasa, lagipula aku kan tidak tau apa dia sudah mempunyai kekasih atau belum? kau harus tenang Jennie" gumamnya yang menarik napas dan mengeluarkannya dengan berkali-kali untuk menetralkan detak jantungnya.


"Sudah, sekarang aku harus kembali bekerja" kata Jennie yang kembali mengetik k-board komputer di mejanya.


Lalu Jisoo, Rose dan Lisa kembali bergabung di meja kerja mereka masing-masing yang sejajar dengan Jennie.


Dirumah sakit..


Tepatnya di ruangan Junho..


"Jiyeon, apa aku sudah diperbolehkan pulang?" tanya Junho yang terduduk di ranjangnya.


"Aku rasa belum" jawab Jiyeon yang sedang memainkan ponselnya di sofa tanpa melihat Junho.


"Aku ingin menemui Saerin dulu, apa kau mau ikut Jiyeon?"


"Ani, kau sendiri saja"


"Baiklah"


"Eh, tunggu" ucap Jiyeon yang menghentikan langkah Junho.


"Wae?"


"Memangnya kau bisa berjalan sendirian?"


"Tentu aku bisa, tidak perlu khawatir. Aku akan baik-baik saja" kata Junho sambil tersenyum pada Jiyeon. Ia segera beranjak dari ranjangnya. Membawa serta alat infus yang masih tertancap di tangannya. Melangkah keluar dan pergi ke kamar Saerin.


Sementara itu, dikamar Saerin..


Kai sedang memainkan ponselnya yang masih duduk di kursi samping ranjang Saerin. Sesekali ia melihat keadaan Saerin dan memainkan ponselnya lagi.


Tak lama ada suara ketukan di pintu.


"Masuk!" seru Kai yang menoleh ke arah pintu.


"Ouh kau ternyata, apa kau ingin menjenguk Saerin lagi?"


"Nee"


"Oh ya, aku akan pulang sebentar untuk mengambil bajuku di rumah. Tolong kau temani Saerin dulu nee? aku tidak akan lama"


"Baiklah" Junho berjalan mendekati ranjang Saerin dan duduk di kursi menggantikan Kai.


"Aku pergi dulu" kata Kai yang berlalu pergi.


Junho menatap punggung Kai sampai ia keluar. Lalu Junho mengalihkan pandangannya pada Saerin.


"Ternyata kau sedang tidur Saerin" gumam Junho.


"Tak apa, aku akan menemanimu sampai kau terbangun" ujar Junho yang meraih tangan Saerin dan menggenggamnya.


Merasa tangannya digenggam erat oleh seseorang, Saerin pun terbangun dan melihat Junho yang berada di sampingnya yang tengah menatapnya juga.


"Junho?"


"Saerin?"


"Kenapa kau ada disini?" tanya Saerin.


"Aku kan sudah bilang, aku akan kembali ke sini untuk menemanimu dan kau tidak akan bisa menolakku lagi" kata Junho dengan tersenyum.


"Lalu dimana Kai?" tanya Saerin yang menoleh ke sekelilingnya.


"Oh pria itu, dia bilang akan pulang sebentar dan aku disuruh untuk menemani mu selagi ia pergi"


"Ouwh baiklah"


...


"Mm.. apa aku mengganggumu Saerin?" tanya Junho ketika mereka tak saling bicara lagi.


"Emm.. aku katakan, mungkin benar. Kau mengganggu tidurku"


"Benarkah? apa aku harus pergi dari sini?" tanya Junho yang sedikit gelisah.


"Nee, karna kau telah membangunkan aku dari tidur lelapku. Aku harus istirahat dengan cukup agar aku bisa sembuh dan cepat pulang dari sini, karna aku bosan berada di rumah sakit apalagi harus berbaring di sini terus. Jika tadi kau tidak membangunkan ku aku pasti sudah sehat dan pulang sekarang. Owhh.. kau mengacaukannya" kata Saerin dengan senyum miringnya yang mencoba bercanda dengan Junho.


"Baiklah kalau begitu, aku akan pergi dari sini. Aku kan sudah mengganggumu, dan aku tidak akan ke sini lagi jika aku tetap akan membuatmu terganggu. Aku akan membiarkanmu beristirahat" kata Junho dengan senyum kecutnya.

__ADS_1


Ia melepaskan genggamannya dan mulai beranjak pergi. Tapi tiba-tiba tangan Junho di genggam oleh Saerin, membuat Junho menghentikan langkah perginya. Junho menoleh pada Saerin, dan mata mereka berdua saling bertatapan. Saerin melempar senyumannya pada Junho.


"Aku hanya bercanda Junho, apa kau menganggap ucapanku dengan serius hm..?"


"Apa kau bilang? kau bercanda?" tanya Junho tak percaya.


"Nee, mm.. apa kau marah Junho?" kata Saerin dengan hati-hati.


Junho diam saja sambil menatap Saerin.


"Sepertinya.. wajah Junho nampak kesal, apa aku mengatakan hal yang salah tadi? aku jadi sedikit takut padanya" batin Saerin.


Seketika Junho mendekati Saerin tapi mulutnya diam tanpa suara ataupun kata yang keluar sedikitpun.


"J-Junho.. ap-apa yang akan kau lakukan?" tanya Saerin yang terbata-bata karna wajah Junho yang mendekat padanya.


"A-aku hanya b-bercanda padamu Junho. Tentu kau tidak harus pergi dari sini kan?" kata Saerin dengan gugup. Wajah Junho semakin mendekat pada wajah Saerin. Hingga Saerin dapat merasakan hembusan nafas Junho.


"J-Junho" ucap Saerin dengan suara pelan karna wajah Junho dekat dengannya.


"J-Junh-"


"Sssttt..." Junho memotong ucapan Saerin dengan menempelkan jari telunjuknya di mulut Saerin. Wajah mereka masih saling dekat dan saling bertatapan.


Sedari tadi, ada sepasang mata yang memperhatikan mereka berdua.


Jiyeon tak sengaja mengikuti Junho dari belakang tanpa di ketahuinya, ia membuntuti Junho sampai di depan kamar Saerin.


deg..


Jiyeon menyaksikan Junho yang mendekati Saerin dan wajah mereka saling bersentuhan. Perih.. itulah yang Jiyeon rasakan saat ini. Matanya terbelalak tak percaya melihat kenyataan yang ada di depan matanya.


Air mata mulai terbendung di pelupuk matanya yang tengah berkaca-kaca.


Jiyeon mulai berlalu pergi meninggalkan kamar Saerin.


Di dalam..


Junho menarik kembali kepalanya, menjauh dari wajah Saerin dan duduk di kursi.


Saerin masih terdiam dengan apa yang dilakukan Junho tadi.


"Junho!" Saerin hampir beranjak bangun dari pembaringannya, tapi di cegah oleh Junho.


"Hey, kau bilang kau harus istirahat. Maka istirahatlah, jangan bangun dulu"


"Junho!"


"Saerin!"


"Berhentilah, bercanda Junho" kata Saerin dengan kesal.


"Kau yang memulainya dulu"


"Aku hanya ingin bercanda sedikit saja padamu" kata Saerin yang mengalihkan pandangannya.


"Aku akan pergi"


"Eh eh, tunggu" Saerin mulai menggenggam tangan Junho lagi ketika ia ingin pergi.


"Mwoya?"


"Kau bilang kau akan menemaniku, kenapa kau mau pergi?"


"Aku kan sudah mengganggumu, jadi aku akan pergi dan membiarkanmu beristirahat" kata Junho.


"Ayolah Junho, aku hanya bercanda tadi. Kenapa kau menganggap semua ucapanku itu serius? kau tega meninggalkanku sendirian? Kai kan sedang tidak ada di sini yang biasa menemaniku, apa kau juga akan pergi meninggalkanku sendirian disini tanpa seorang teman yang menemani?" tanya Saerin dengan wajah memelas.


"Mana mungkin aku akan pergi dari mu, aku tidak akan pernah tega untuk meninggalkanmu ataupun membiarkanmu sendirian" batin Junho.


"Baiklah baiklah. Aku akan menemanimu disini" kata Junho yang kembali duduk lagi.


Saerin hanya tersenyum pada Junho. Dan senyumannya dibalas oleh Junho.


"Melihatmu tersenyum seperti ini padaku, membuat ku tak akan pernah tega untuk meninggalkanmu sendirian. Apalagi melihat mu menangis, aku tidak akan bisa membiarkanmu bersedih di depanku. Aku akan selalu membuatmu bahagia seperti sekarang ini Saerin" batin Junho.


Di kantor Bangtan...


Jennie sedang berjalan di koridor kantor dengan membawa beberapa berkas di tangannya. Saat ia ingin berbelok ke kiri, hampir saja ia akan tertabrak seseorang di depannya. Saat ia mendongak, ia tak percaya jika akan bertemu dengan Taehyung dan mata mereka berdua saling bertemu, membuat Jennie sedikit merasa malu.


"Hey apa kau tidak apa-apa?" tanya Taehyung yang melihat Jennie tertunduk malu.


"Ah ani, aku baik-baik saja" kata Jennie dengan tersenyum.


"Baiklah" Taehyung berlalu pergi dengan wajah datarnya.


"Ahh apa ini mimpi? aku bertemu dengannya dan dia menatapku" kata Jennie yang tersenyum malu-malu. Ia kembali berjalan pergi dengan memegangi pipinya yang memerah.



Nantikan kelanjutan kisahnya...

__ADS_1


Jangan lupa Like, Komen dan Vote 💜


__ADS_2