
Skip
Besoknya...
Saerin bangun lebih pagi. Ia segera membersihkan diri lalu memakai seragam sekolah dan menyisir rambutnya di cermin. Hari ini Saerin menata rambutnya dengan diikat kuda, membuat gadis itu sedikit lebih terlihat tomboy dari yang biasa. Tetapi senyum manis yang selalu ia pancarkan itu sudah menggambarkan dirinya yang begitu manis. Semua orang jatuh cinta pada senyuman manisnya jika ia perlihatkan pada seseorang yang ia ajak mengobrol.
Saerin kembali memasukkan buku-bukunya ke dalam tas, dan setelah itu ia pun turun ke ruang makan. Di sana sudah ada Hye Ra sang ahjummanya yang sedang memasak sarapan untuk dia dan Hueningkai.
"Morning ahjumma Shin!" seru Saerin ketika sampai di meja makan. Hye Ra menoleh pada asal suara tersebut.
"Morning!" balas Hye Ra dengan tersenyum.
Memang belakangan ini sering ada teror dari seseorang yang datang pada Saerin, tetapi itu bukanlah hal yang akan menjadikan pendiriannya tergoyahkan. Hueningkai sudah mengatakan itu padanya. Dia adalah gadis yang kuat, dia bisa melawan rasa takutnya bahkan ia juga bisa saja melawan orang yang ingin menakut-nakutinya. Dengan kata-kata yang Hueningkai ucapkan itu, Saerin jadi lebih menguatkan dirinya sendiri agar tak takut pada orang-orang jahat yang sering mengancamnya. Ia memberanikan diri dan menyiapkan mental jika orang itu datang padanya.
Hye Ra juga sudah mendengar cerita ini dari Hueningkai. Ia sangat sedih mendengar perkara yang terjadi pada nona mudanya itu. Tapi kesedihannya hilang saat Hueningkai menceritakan betapa bersemangatnya Saerin ketika ia mengatakan untuk melawan rasa takut dan melawan orang jahat yang ingin menakutinya itu. Dan senyum Hye Ra juga bertambah karna melihat Saerin yang tersenyum setelah beberapa hari terlihat murung dan sedih. Semua berkat dukungan dari orang-orang yang menyayanginya, Saerin jadi berusaha untuk lebih kuat lagi dalam menghadapi cobaan hidupnya.
Setelah menyelesaikan sarapan pagi, mereka berdua pun segera berangkat bersama. Saerin yang pergi ke sekolahnya dan Hueningkai ke kampusnya.
Di dalam mobil, Hueningkai juga terlihat bahagia dengan kembalinya senyuman manis dari Saerin yang duduk di sebelahnya. Ia sangat merindukan senyuman itu, setelah beberapa hari terlihat sedih kini gadisnya kembali memancarkan senyum indah yang selalu membuat ia bahagia.
di sisi lain...
Ketujuh namja yang sudah terlihat rapi dengan memakai pakaian kantornya masing-masing. Mereka tengah berjalan menuju garasi dan masuk ke dalam mobil secara bersamaan lalu melajukannya di jalanan kota yang begitu ramai dengan mobil lain. Beberapa dari mereka ikut masuk ke mobil yang lain dan salah satunya mengendarai.
Sampai di kantornya, secara bersamaan pula mereka bertujuh keluar dari kedua mobil yang mereka tempati. Semua karyawan mulai memperhatikan mereka. Ketika ketujuh namja itu masuk, mereka sudah disambut dengan sopan oleh beberapa karyawan di kantor. Dan mereka pun menuju ke ruangannya masing-masing untuk mengerjakan pekerjaan mereka sendiri.
di sisi lain lagi...
Irene yang sudah siap dan rapi untuk pergi ke kantor dimana kekasihnya itu berada. Ia mulai melajukan mobilnya di jalanan.
Dan sampailah dia di salah satu gedung perusahaan terbesar di kota Busan. Segera ia memarkirkan mobilnya lalu turun dan memasuki kantor. Dengan penyamaran yang sempurna, ia jadi terlihat berbeda dari yang biasa. Wig rambut panjang sebahu berwarna hitam, dengan celana panjang hitam berjas, high heals biasa dan kacamata minus yang ia pakai, membuatnya terlihat elegan untuk seorang yeoja sepertinya.
Tentu ia hanya menyamar sebagai karyawan biasa yang baru melamar pekerjaan. Dan berkas yang ia bawa itu, tentulah berkas palsu yang sengaja ia buat. KTP palsu dengan nama samarannya juga. Semua sudah ia rencanakan dengan sangat matang untuk penyamarannya ini. Ia jadi orang yang begitu asing bagi siapapun, padahal ia adalah seorang tahanan yang kabur dan polisi pun akan tau jika ia memperlihatkan wajah aslinya. Dia hanya berlakon dibelakang topeng yang menutupi dirinya itu.
Dengan langkah santai ia berjalan di koridor kantor, membuat semua mata tertuju padanya. Bahkan sebagian namja sempat melamun saat ia lewat di depannya.
__ADS_1
Setelah berjalan beberapa langkah, ia pun berhenti di depan pintu bertuliskan ruangan direktur dimana itulah ruangan yang di tempati seorang namja bernama lengkap Kim Seokjin.
Yeoja ini segera mengetuk pintu ruangan dan di balas sebuah suara dari dalam yang memperbolehkannya masuk. Yeoja itu segera membuka pintu dan masuk ke dalam.
Sementara Jin masih sibuk dengan berkasnya sampai tak melihat siapa seseorang yang masuk ke dalam ruangan itu.
"Permisi, saya ingin melamar pekerjaan disini" kata yeoja ini dengan suara yang berbeda agar ia tak dicurigai.
Jin segera mengalihkan pandangannya ke depan. Melihat sesosok yeoja yang tengah berdiri dengan sebuah berkas di genggamannya, sesekali yeoja itu menaikkan kacamata yang ia pakai. Jin menatapnya dari bawah hingga ke atas.
"Bisa kau tunjukkan identitas dirimu?" tanya Jin yang sedikit mencurigai yeoja dihadapannya ini.
Yeoja itupun langsung memberikan berkasnya pada Jin, dan langsung dilihat oleh sang direktur.
Jin membaca tulisan di berkas itu dalam hati dan sesekali membolak-balikkan halamannya.
"Kim Jong-eun" gumam Jin saat membaca nama yeoja itu dalam berkas.
"Baiklah, kau diterima disini. Kau bisa bekerja sekarang juga" ucap Jin yang menutup berkasnya itu dan diberikan lagi pada yeoja bernama Kim Jong-eun atau Irene.
Irene memperlihatkan senyum miringnya tapi tak dilihat oleh Jin. Penyamarannya itu berhasil membuat sang lawan tidak mengenalinya apalagi mencurigainya. Jin benar-benar terperdaya oleh penampilan yeoja itu, sampai ia tak dapat mengenali siapa orang yang bersembunyi dibalik topeng tersebut.
"Eh, tunggu sebentar" seru Jin yang menghentikan langkah Irene.
"Aku akan memanggil sekertaris ku untuk mengantarmu ke ruangan kerjamu" ucap Jin.
"Nee Tuan" ucap Irene dengan pelan dan mengangguk.
Jin segera mengambil gagang telponnya dan menelepon seorang sekertaris untuk menunjukkan ruangan kerja si yeoja sang karyawan baru.
Setelah selesai menelepon sekretarisnya, beberapa menit kemudian seorang yeoja datang dan masuk ke ruangan Jin, lalu ia memberitahukan ruangan kerja untuk Irene. Lagi-lagi yeoja ini tersenyum miring saat ia melangkah pergi dari ruangan Jin dan berjalan di belakang seorang yeoja lagi dalam koridor kantor.
"Hhhh... Akhirnya, aku berhasil menipunya. Dia benar-benar tidak mengenaliku, heh kita lihat nanti.. Jungkook.. aku akan menghancurkan kehidupanmu. Tunggulah saatnya, aku akan membalas dendam atas perlakuanmu padaku. Lihat saja seberapa jauhkah kau akan bertahan.. hhhhh.. " batin Irene dengan tawa jahatnya.
Sang sekertaris itu sudah mengantar Irene ke ruang kerjanya. Setelah itu ia pun pergi meninggalkan Irene di sana. Tanpa di sangka, tempat duduknya itu bersebelahan dengan bangku Jisoo. Tapi mereka berdua berkomunikasi layaknya karyawan biasa pada umumnya.
__ADS_1
Tentunya Irene tak akan mengerjakan apa yang disuruh oleh Jin pada saat ia masih di dalam ruangan direktur tersebut. Ia mengambil sebuah ponselnya dan mengetik pesan pada Seo-joon. Setelah itu ia pun beranjak pergi dari kursinya. Jisoo mulai curiga dengan keberadaan Irene di sebelahnya, tapi ia tetap berpositif thinking dan menghiraukan perasaan buruk yang melanda pikirannya.
Sementara itu di ruangan Jungkook. Namja satu ini terlihat sangat fokus ketika mengerjakan tugasnya begitu juga seorang namja lagi yang berada tak jauh dari mejanya. Beberapa menit kemudian, Jungkook beranjak dari kursinya bersama dengan berkas-berkas yang ia bawa. Ia pun keluar dan menuju ruangan Jin untuk memberikan berkas itu. Sampai disana, ia langsung menaruhnya di meja kerja Jin.
"Hyung, ini berkas yang kau minta dan aku sudah menyelesaikan semuanya" ujar Jungkook dihadapan Jin.
"Nee, Gomawo Jungkook-ah. Kau sudah bekerja dengan keras, aku bangga pada padamu" kata Jin.
"Nee. Aku akan keluar" kata Jungkook.
"Nee" ucap Jin tanpa menoleh ketika Jungkook pergi.
Saat berjalan di koridor kantor, ia tak sengaja bertabrakan dengan seseorang hingga ponsel yang berada di genggaman orang tersebut terlempar ke atas, tapi dengan cepat Jungkook menangkap ponsel itu dengan tepat di tangannya.
"Huuffhh, untung saja.. ini nona ponselmu" ucap Jungkook yang memberikan ponsel itu pada seorang yeoja dihadapannya.
"Nee, gomawo" ucap yeoja itu dengan pelan tapi masih bisa didengar dan sambil menunduk. Ia pun mengambil ponsel itu dari Jungkook.
"Mian telah menabrakmu, apa kau baik-baik saja?" tanya Jungkook yang menatap yeoja itu.
"Nee, gwenchana"
"Arrasseo, aku pergi dulu" ucap Jungkook yang kemudian pergi melewati seorang yeoja tersebut.
"Apa dia benar-benar tidak mengenaliku? hhh.. baguslah, sebentar lagi kau akan hancur di tanganku.. Jeon Jungkook.. " batin Irene dengan senyum miringnya yang menatap punggung Jungkook.
Ia pun kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti itu.
Skip
di tempat Saerin..
15.00
Seperti biasa, Saerin sudah pulang dari sekolahnya begitu juga dengan Hueningkai. Mereka berdua sedang duduk santai di sofa ruang tengah. Sambil sesekali bercanda tawa.
__ADS_1
22.00
Mereka berdua memasuki kamarnya masing-masing dan segera tidur.