
•
•
*
Sementara itu di rumah Bangtan.
Ada suara ketukan di pintu. Jin yang mendengar ada seseorang di depan, langsung berjalan dan membuka pintu. Ternyata ada seorang polisi yang menunggu di depan.
"Dengan Kim Seokjin?" tanya polisi itu.
"Nee, saya sendiri. Ada perlu apa pak?"
"Kami ingin memberi informasi tentang saudari Kim Saerin"
"Saerin! kalau begitu kita mengobrol di dalam saja. Mari masuk!" seru Jin yang mempersilahkan polisi itu masuk.
Mereka berdua berbincang-bincang di ruang tamu.
"Bagaimana pak, apakah Saerin sudah ditemukan?" tanya Jin yang tak sabar menunggu jawabannya.
"Mianhae, kami belum menemukan dia. Seluruh polisi sudah di kerahkan untuk mencari saudari Saerin di seluruh wilayah Seoul. Kami berpendapat bahwa sebagian pasukan polisi akan mencarinya di luar kota. Tapi kami belum yakin akan melakukannya"
"Lalu bagaimana pak? tolong temukan Saerin secepatnya, dia adalah satu-satunya adik perempuan saya pak. Tolong temukan dia" sela Jin.
"Kami akan berusaha untuk menemukannya. Dan kami akan meminta persetujuan dari semua kantor polisi yang berada di Korea untuk membantu mencari keberadaan saudari Saerin"
"Khamsambnida atas informasinya"
"Nee. Kalau begitu saya permisi"
"Nee, mari saya antar". Jin mengantarnya sampai di depan pintu.
~
"Saerin, kau dimana? oppa sangat mencemaskan mu" gumam Jin.
"Siapa yang datang hyung? aku rasa kau berbicara dengan seseorang tadi" tanya Jungkook yang tiba-tiba datang.
"Itu adalah polisi. Dia kesini untuk memberitahu ku informasi tentang Saerin" Kata Jin.
"Saerin?! apa dia sudah ditemukan hyung?"
"Ani. Tapi mereka akan berusaha mencarinya"
"Ini salah ku hyung. Aku tidak bisa menjaga Saerin dengan baik. Seandainya saja aku tidak mengajaknya pergi sampai malam. Pasti ini tidak akan terjadi. Mianhae hyung" kata Jungkook yang menundukkan kepalanya karna merasa bersalah.
"Gwenchana Jungkook-ah. Ini bukan sepenuhnya salah mu" kata Jin mendekat dan mengelus punggung Jungkook.
*
Di salah satu sisi. Ada Saerin yang sedang duduk di atas kasur sambil memijit kakinya yang terkilir akibat tadi malam. Dan tak lama ada suara ketukan dari luar kamar.
"Masuk!" seru Saerin. Pintu pun terbuka dan ternyata itu adalah Hueningkai.
"Kai?! ada apa kau kesini?" tanya Saerin.
"Aku hanya ingin melihat keadaanmu saja. Apa kau baik-baik saja?" kata Kai yang duduk di pinggir kasur menghadap Saerin.
"Aah.. gwenchana, hanya saja kakiku terkilir. Bukan masalah"
"Haruskah aku membawamu ke rumah sakit untuk memeriksa kakimu itu?" kata Kai dengan datar.
"Tidak perlu, aku baik-baik saja"
"Ani, kajja ikut aku. Aku akan membawamu ke rumah sakit"
"Ani! kau tidak perlu membawaku ke sana"
"Hmm.. baiklah, aku akan menelepon dokternya saja untuk datang ke sini"
"Ah.. ani, tidak usah memanggilnya".
Tapi Kai tidak menghiraukan ucapan Saerin. Ia mengambil ponsel disakunya dan menelepon dokter.
"Yeoboseyo! bisa kau kemari?" kata Kai di telepon.
"..."
"Nee, khamsambnida" Kai mengakhiri percakapannya.
"Kai! aku sudah bilang itu tidak perlu" kata Saerin.
"Tidak perlu apa maksudmu!! ini juga untuk kebaikanmu. Kau diam saja dan turuti apa kata ku"
"Arrasseo" kata Saerin dengan wajah yang cemberut, sementara Kai hanya tersenyum kepada Saerin.
Beberapa menit kemudian dokter pun datang dan memeriksa Saerin.
*
Di sisi lain, Yeonjun sedang marah besar karna anak buahnya memberitahukan dia bahwa Saerin berhasil kabur, dan para bodyguardnya tidak bisa menemukan dia.
"KALIAN INI BAGAIMANA HAH!! MENJAGA SEORANG GADIS KECIL SAJA TIDAK BECUS!!" teriaknya memenuhi ruangan.
"M-mianhae tuan, kami sudah berusaha mencarinya" kata salah satu bodyguard itu.
"SEKARANG CARI GADIS ITU LAGI SAMPAI KETEMU!" teriaknya lagi dengan penuh amarah.
Mereka semua segera pergi keluar dari ruangannya dan melaksanakan perintah Yeonjun.
"AAAAAAAAARRRRRGGGGGHHHHH....." teriak Yeonjun yang mendorong semua barang yang ada di atas mejanya.
*
#
Setelah Saerin di periksa oleh dokter, dan dokter itu juga sudah pergi.
"Apa kakimu masih sakit?" tanya Kai dengan datar menatap Saerin yang berada di hadapannya.
"Ani, aku sudah merasa lebih baik" kata Saerin.
"Baguslah!" seru Kai, tiba-tiba ponselnya berdering, dia langsung mengangkat teleponnya.
"Yeoboseyo! waeyo?!"
__ADS_1
"..."
"Oke aku akan ke sana". Kai menutup ponselnya.
"Waeyo Kai?" kata Saerin.
"Aku harus pergi. Kau disini saja, jika ada hal yang kau butuhkan panggil saja bibi Lee"
"Baiklah!", dan Kai langsung pergi meninggalkan Saerin.
skip~
Hari sudah malam, tapi Kai tak kunjung pulang. Sudah lama Saerin menunggunya di sofa ruang tengah.
"Kemana dia? kenapa jam segini belum pulang? ini sudah malam. Apa yang terjadi?" gumam Saerin dengan wajah cemas.
"Waeyo nona muda?" tanya bibi Lee yang datang dan ikut khawatir melihat Saerin kebingungan.
"Kenapa Kai belum juga pulang? seharusnya dia sudah pulang bukan? ini sudah malam"
"Ooh, itu memang sudah biasa"
"Mwo?!"
"Nee, tuan muda selalu pulang tengah malam seperti ini"
"Kenapa begitu bibi?"
"Mian saya juga tidak tau, saya selalu bertanya tapi tuan muda tidak pernah menjawabnya"
"Mm.. ada apa dengan Kai?" batin Saerin.
"Baiklah nona muda saya akan pergi dulu"
"Eh tunggu!!" seru Saerin saat bibi Lee ingin pergi.
"Nee" sahut bibi Lee.
"Tolong jangan panggil aku dengan sebutan nona muda. Namaku Kim Saerin, panggil saja aku Saerin"
"Nee, saya akan berusaha"
"Tidak perlu berusaha bibi. Lagipula aku hanya menumpang di sini, Kai berjanji akan mengantarku pulang nanti"
"Nee nona muda! ups, maksud saya Nona Saerin"
"Aniya bibi, panggil aku Saerin saja. Aku bukan lah siapa-siapa di rumah ini"
"Nee" sahutnya. Saerin yang awalnya cemas, sekarang mulai tersenyum manis kepada bibi Lee.
"Senyumannya manis sekali " batin bibi Lee. Melihat Saerin tersenyum membuat bibi Lee juga ikut tersenyum. Lalu ia beranjak pergi.
Saerin melihat punggung bibi Lee semakin menjauh dari hadapannya. Saat itu juga Saerin kembali resah karna memikirkan keadaan Kai sekarang.
"Hah.. kenapa dia belum juga pulang? tapi bibi Lee bilang ini sudah biasa ia lakukan. Apa yang terjadi dengannya? aku pikir dia laki-laki yang baik" gumam Saerin dengan menghela nafasnya.
Waktu sudah menunjukkan jam 11 malam. Tapi Saerin belum juga melihat Kai yang datang. Lama-kelamaan Saerin jadi merasakan kantuknya mulai melanda, karna ia selalu menguap berulang-ulang kali. Sampai akhirnya ia tertidur di sofa ruang tengah.
skip*
Kai baru saja pulang, ia terlihat sangat lelah. Saat ia berjalan menuju tangga kamarnya, ia melewati sofa ruang tengah dan melihat Saerin tertidur dengan posisi duduk di sofa.
"Apa kau menunggu ku? seharusnya kau tidak melakukan itu. Apa yang kau pikirkan sampai-sampai kau harus tertidur di sofa karna menunggu ku!?" kata Kai dengan nada pelan agar tidak membangunkan Saerin. Kai memandang wajah Saerin sekali lagi. "Kau terlihat sangat polos" katanya masih dalam nada suara yang pelan.
Lalu Kai meninggalkan Saerin dan pergi ke kamarnya.
Skip
Paginya, Saerin terbangun karna sinar matahari yang menyilaukan matanya. Ia menggeliat-geliat, dan menyadari bahwa dirinya ada di dalam kamar.
"Ummh.. eh! kenapa aku ada di sini? bukannya aku ada di sofa tadi malam?!. Hahhh!.. apa Kai sudah pulang?! ah.. pasti dia sudah pulang, kalau tidak siapa lagi yang membawaku ke sini. Atau bibi Lee? aahh.. mana mungkin, dia tidak akan kuat untuk menggendong ku. Aku harus mencari taunya kebawah, pasti Kai sudah ada di bawah". Saerin langsung melompat dari kasur dan pergi ke kamar mandi.
Selesai memakai bajunya, ia langsung turun kebawah dengan terburu-buru. Saat ia hampir mencapai ujung tangga, kaki Saerin tak sengaja menyilang, ia tersandung oleh kakinya sendiri, membuat dia kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Tapi hampir saja ia ingin mencium lantai, tiba-tiba ia di tangkap oleh seseorang sampai ia jatuh kepelukannya.
"Kau baik-baik saja?", suara yang belum pernah Saerin dengar itu membuat Saerin terkejut, ia langsung berdiri dan melihatnya. Seorang anak laki-laki yang memakai seragam sekolahnya, tapi itu bukanlah Hueningkai, bahkan itu adalah orang lain.
"S-siapa kau?!!" seru Saerin yang terlihat sedikit ketakutan.
"Justru sebaliknya, aku yang seharusnya bertanya padamu. Siapa kau? dan kenapa kau ada di rumah Hueningkai?" katanya.
"A-aku..."
"Ada apa ini?" kata seseorang dari tangga di belakang Saerin. Mereka berdua berbalik dan menoleh ke arah tangga.
"Hueningkai! kenapa kau lama sekali. Aku sudah menunggumu dari tadi!" kata anak lelaki itu.
"Mianhae" kata Kai sambil menuruni anak tangga.
"Oh iya! siapa gadis ini?"
"Dia..." kata Kai yang menggaruk belakang kepalanya menatap Saerin dan temannya bergantian.
"Siapa?"
"Emmhh.. dia.. SEPUPUKU! ya sepupuku.."
"Oh, nee. Perkenalkan namaku Kang Taehyun" katanya sambil mengulurkan tangan kepada Saerin dengan ramah.
"Nee, Kim Saerinibnida" kata Saerin dengan menjabat tangan Taehyun.
"Baiklah, kajja kita sudah terlambat" kata Kai yang berjalan pergi lebih dulu.
"Nee! Saerin senang berkenalan denganmu. Kita akan mengobrol lagi nanti" kata Taehyun sambil melepaskan jabatannya. "Aku pergi dulu, ANYEONG!" teriaknya yang berlari menjauh.
"Apa dia itu temannya Kai?" gumam Saerin. "Ah nee..!! aku lupa menanyakan sesuatu pada Kai. hahh.. mungkin lain kali saja" kata Saerin.
skip sore
tok.. tok.. tok..
Suara ketukan pintu dari luar kamar tamu. Tapi tidak ada yang menjawabnya dari dalam.
Tak sabar lagi, Kai langsung membuka pintu dan masuk kedalam. Ternyata ia melihat Saerin sedang berdiri di pinggir balkon sambil menatap langit. Tanpa pikir panjang Kai berjalan menghampiri Saerin dan bergabung bersamanya.
"Hey! apa yang kau lakukan disini?" tanya Kai tiba-tiba, membuat Saerin tersentak.
"Ahh!!.. Kai sejak kapan kau berada disini?"
__ADS_1
"Baru saja. Apa yang sedang kau pikirkan?"
"Aku.. memikirkan oppa ku, mereka pasti mencemaskan ku. Kapan kau akan mengantarku pulang?"
"Mm.. itu.."
"Mwoya?!"
"Mm.. kakimu sudah sembuh bukan? kajja, aku akan mengajakmu jalan-jalan" kata Kai yang mengalihkan topik.
"Aniya?! jawab aku Kai, kapan kau akan mengantarku pulang!?"
"Itu... hah! bagaimana kalau kita pergi ke taman"
"Ani!"
"Bagaimana kalau kita pergi ke toko eskrim, atau menonton? kau mau?"
"Annii!"
"Bagaimana kalau kita..."
"ANI! AKU SUDAH BILANG, KAPAN KAU AKAN MENGANTARKU PULANG. APA KAU SEDANG MENCARI ALASAN??!!" teriak Saerin.
"NEE.. MEMANGNYA KENAPA!!?. AKU TIDAK MAU KAU PERGI DARIKU!!" kata Kai yang sama berteriaknya dan menekan semua kata yang ia ucapkan.
"WAEYO!!?" teriak Saerin menatap Kai dengan tajam, dan Kai berbalik menatapnya. "Waeyo?" kata Saerin dengan nada sedikit lembut, dia meneteskan air matanya. "Wae? kenapa kau tidak ingin aku pergi darimu?".
Kai yang awalnya membulatkan mata menatap tajam kearah Saerin. Ia seakan menyadari bahwa ia sudah menekannya, dan wajahnya kini nampak pucat karna melihat Saerin menangis.
"Mmmhh.. m-maksudku bukan begitu, a-aku.." belum sempat Kai melanjutkan ucapannya, Saerin sudah berlari keluar. "H-Heyy!!" serunya saat Saerin keluar. Kai langsung mengejar Saerin. Kai sudah berada di halaman depan rumahnya yang luas, tapi tidak menemukan sosok Saerin. Kai menoleh ke kanan dan ke kiri, tapi ia tidak melihat Saerin juga.
"Kemana dia? cepat sekali larinya?!" gumam Kai dengan raut wajah kebingungan ditambah dengan kepanikannya.
Kai berlari lagi sampai di depan gerbang, di depan jalan, Kai menoleh kembali tapi sama sekali tidak melihat keberadaan Saerin. Kai bergegas kembali ke dalam untuk mengambil mobilnya.
Kai terus mencari dan mencari, tapi tidak menemukan Saerin dimana-mana.
•
•
Sampai akhirnya, malam pun tiba. Tapi Kai masih belum juga menemukan Saerin. Apalagi kekhawatiran Kai sekarang mulai membesar karna hujan turun dengan tiba-tiba tanpa diundang, membuat Kai kesusahan menerobos jalanan dengan lebatnya air hujan yang turun.
Kai berada di jalanan kecil yang gelap dan sepi, hanya ada suara rintikan hujan yang turun deras. Kai fokus pada jalanan sampai tiba-tiba...
cckkiitt...
Kai mengerem mobilnya dengan cepat sampai ia tersentak ke depan. Ia melihat tubuh seseorang di depannya yang tergeletak tak berdaya di tanah. Kai langsung melepas sabuk pengamannya lalu turun dari mobil. Ia menghampiri tubuh orang tersebut. Saat ia menggulingkan tubuh orang itu, ia tersadar dan mengenali siapa pemilik wajah tersebut.
"SAERIN!!" teriaknya.
Kai dengan segera menggendong Saerin dan memasukkannya ke dalam mobil di samping tempat pengemudi. Ia pun masuk ke dalam dan melajukan mobilnya.
Sampai di depan rumahnya, Kai segera turun dan menggendong Saerin masuk. Ia membawanya ke kamar tamu, Kai menaruh Saerin di atas kasur, lalu menelepon dokter.
Beberapa menit kemudian. Dokter datang dan memeriksa Saerin.
"Sepertinya dia demam" kata dokter itu dengan singkat.
"Lalu bagaimana dengan keadaannya dok?" tanya Kai yang cemas.
"Tidak masalah, dia baik-baik saja, sebentar lagi ia juga akan sadar. Ini obatnya, berikan padanya dengan teratur setelah makan" kata dokter itu dengan memberi obat untuk Saerin.
"Khamsambnida dok" kata Kai yang mengambil obat itu dari dokter.
"Baiklah, saya permisi"
"Nee". Dokter itu memberesi peralatannya dan pergi keluar.
Kai melangkah perlahan menghampiri Saerin dan duduk di sebelahnya. Ia mengusap lembut kepala Saerin.
"Badanmu memang panas. Saerin, mianhae karna aku sudah membuatmu seperti ini. Kai janji akan merawat Saerin sampai sembuh. Kai janji" kata Kai.
...
Saerin membuka matanya dengan berat sambil meringis kesakitan. Dia melihat Kai yang raut mukanya terlihat cemas.
"K-kai.." lirih Saerin.
"Nee, Kai ada di sini"
"K-kenapa aku.."
"Kau demam Saerin. Sudahlah lebih baik kau istirahat saja"
"Nee..".
"Saerin. Mianhae, karna aku, kau jadi seperti ini" kata Kai sambil menunduk.
"Gwenchana Kai"
"Mianhae" kata Kai dengan suara kecil. "Tapi, aku janji akan merawatmu sampai sembuh. Apapun yang kau butuhkan, aku akan mengambilnya. Katakan kau ingin apa?" sambungnya dengan bersemangat untuk menghibur Saerin.
"Ani.. aku tidak menginginkan apa-apa"
"Arrasseo. Sekarang kau istirahatlah" kata Kai.
"Nee"
"Tidurlah. Selamat malam"
"Nee". Dan Saerin langsung menutup matanya. Kai yang masih duduk di tempat, hanya bisa memandangi Saerin sambil masih mengelus kepalanya. Dia pun beranjak dari kasur dan keluar dari kamar Saerin.
Di depan kamar tamu. Kai menutup pintu kamar.
"Saerin, aku akan berjanji untuk merawatmu. Mian karna aku belum bisa mengantarmu pulang. Aku ingin bersamamu untuk sekarang ini" gumam Kai. Lalu ia berjalan pergi.
•
•
•
**Hai para readers tercinta. Makasih ya udah nungguin kelanjutan ceritanya. Author terhura banget deh.
__ADS_1
Buat kalian para readers yang udah baca cerita ini, jangan lupa di like dan komen ya. Biar author bisa semangat terus buat ceritanya**.
Yaudah sekian dulu ya dari author, jangan lupa tungguin kelanjutan kisahnya.. 💜