You'Re My Brother (BTS)

You'Re My Brother (BTS)
Eps 20


__ADS_3

Tiga hari kemudian


ditempat bangtan*


Jin masih dirawat di rumah sakit, karna keadaannya yang semakin memburuk. Dia selalu bergumam dalam tidurnya. Ia selalu berkata tentang Saerin, dan itu semakin membuat adik-adiknya resah akan kondisi Jin yang sekarang.


*


"Hyung, bagaimana ini, apa yang harus kita lakukan? keadaan Jin hyung semakin buruk, dan Saerin masih belum ditemukan. Kita tidak bisa melakukan apa-apa hyung" kata Jungkook yang tengah duduk di sofa ruang tengah. Disampingnya hanya ada Yoongi, Namjoon, Jimin, dan Taehyung, yang berada dirumah. Sementara Hoseok sedang menemani Jin dirumah sakit. Semua yang ada di sana tidak bisa menjawab pertanyaan Jungkook, mereka semua terdiam dengan pikiran mereka masing-masing. Jungkook menghela nafasnya panjang, ia juga bingung dengan apa yang harus ia lakukan untuk membuat semuanya membaik seperti semula.



Di sisi lain, dimalam hari.


Saerin sedang duduk di kursi dengan memakai jaket yang menyelimuti tubuhnya dari angin malam yang dingin. Ia kembali menatap bintang-bintang di langit sendirian. Dengan ditemani segelas coklat hangat yang ia buat sebelum pergi ke taman belakang dirumah Kai.


Saat menikmati kesendiriannya, tiba-tiba...


doorrr...


Seseorang berteriak di samping telinga Saerin.


"Aaaaaaaa.... KAI!!" teriak Saerin.


"Hahaha, mianhae Saerin" kata Kai yang tertawa.


"Apa kau tidak bisa pelan sedikit. Aku kan jadi kaget" kata Saerin yang kesal sambil matanya mengikuti tubuh Kai yang berjalan kearah kursi di sebelahnya.


"Nee, mian. Lagipula kenapa kau sendirian disini? aku mencarimu dari tadi, ternyata kau ada dibelakang" kata Kai.


"Aku sedang ingin menikmati malam dengan bintang-bintang di langit sekarang. Rasanya damai sekali, aku harap aku akan selalu bisa menikmati suasana seperti ini" kata Saerin yang tersenyum mendongak ke langit dengan secangkir coklat hangat yang ia pegang.


"Dan aku berharap kau akan selalu disini, berada di sampingku. Kau adalah kebahagiaanku Saerin. Kau mendatangkan sebuah kebahagiaan untukku. Aku sudah menganggapmu seperti adikku sendiri. Karna itu aku tidak ingin kau jauh dariku, Saerin" batin Kai yang menatap Saerin.


"Bukankah begitu Kai?" kata Saerin yang kemudian menoleh pada Kai.


"Hm.. mwo??" tanya Kai yang terkejut dan bingung dengan ucapan Saerin.


"Aku bilang bukankah indah memiliki keluarga yang sangat menyayangi kita, walau itu bukan karna harta. Sekarang ini, banyak orang-orang yang selalu mementingkan hartanya daripada keluarga mereka sendiri. Apa bagi mereka hartalah yang paling penting? bukan sebuah keluarga yang dimana semua anggotanya saling menyayangi satu sama lain" jelas Saerin menatap Kai.


"Nee, kau benar. Orang-orang selalu serakah dengan harta yang mereka miliki sampai tidak mementingkan keluarganya" kata Kai.


"Kai" panggil Saerin.


"Nee, waeyo?" kata Kai.


"Aku ingin pulang. Bisakah besok kau mengantar ku pulang?" kata Saerin dengan penuh harapan.


"Mm.. i-itu.." kata Kai dengan gugup.


"Aku sudah lama berada disini. Dan oppa ku pasti sangat mengkhawatirkan diriku. Aku tidak tau keadaan mereka sekarang, jadi tolong antarkan aku pulang kembali ke rumah ku, Kai. Kau tidak bisa menahan ku disini lebih lama lagi" kata Saerin.


"Bagaimana ini? aku baru saja berharap jika Saerin akan selalu bisa bersamaku selamanya disini. Tapi ucapannya juga benar, aku tidak seharusnya menahan dia disini. Dia juga punya kehidupan sendiri dengan keluarganya" batin Kai dengan sedikit kecewa.


"Kai! kenapa kau melamun lagi?" kata Saerin. Sontak Kai tersadar dari lamunannya.


"Tapi Saerin.." Kai menggantungkan ucapannya.


"Tapi kenapa??" kata Saerin mengangkat satu alisnya.


"Tapi aku tidak ingin kau pergi dariku, aku masih ingin bersamamu. Aku tidak mau jauh darimu" kata Kai yang menatap Saerin dengan nada memelas.


"Kai? ada apa denganmu?" kata Saerin yang masih bingung.


"Saerin, aku sudah menganggap mu seperti adikku sendiri. Jika kau kembali, aku akan sendirian lagi. Aku sudah senang kau datang dirumah ini, dan selalu ada bersamaku. Aku tidak bisa membiarkanmu pergi" kata Kai yang mulai sedih.


"Kai.."


"Ani Saerina, aniya! aku tidak mau kau pergi. Tolong tetaplah tinggal disini bersamaku" kata Kai.


"Kai.."


"Aniya Saerin, aniya!!" teriak Kai.


"KAI!! dengarkan aku dulu" kata Saerin. Kai langsung terdiam.


"Aku tau, kau tidak ingin aku pergi. Begitu juga sebaliknya. Tapi aku kasihan pada oppaku, mereka pasti sangat-sangat mengkhawatirkan ku sekarang. Mereka pasti sedang memikirkan ku. Aku tidak mau hal-hal yang aku tidak inginkan akan terjadi. Bagaimana jika ada salah satu dari mereka sakit gara-gara aku. Aku mohon Kai" kata Saerin.


"Saerin.. mianhae.. karna sudah berkata seperti itu padamu. Bukan maksudku untuk menahanmu disini, tapi hanya saja aku tidak ingin ditinggal sendirian lagi" kata Kai sambil menundukkan kepalanya.


"Hey, bukankah kau sudah lulus?" kata Saerin.


"Nee" seru Kai yang masih tertunduk.


"Bagaimana jika kau pindah ke Seoul, bersamaku. Dan melanjutkan pendidikan mu disana. Dan tentunya kan, kau bisa membeli rumah yang dekat dengan rumahku. Bagaimana?" kata Saerin.


Mendengar kata-kata Saerin, Kai jadi mendongakkan kepalanya menatap Saerin.


"Benarkah?" kata Kai tidak yakin.


"Mm.. mungkin. Apa aku salah berbicara?" kata Saerin.


"Ani. Hanya saja, aku tidak terlalu yakin dengan ucapanmu itu" kata Kai.


"Tapi mungkin, itu bagus juga" sambungnya kemudian.


"Mwo?! jadi kau setuju?" tanya Saerin tak percaya.


"Nee!" seru Kai.


"Aku kira, kau tidak akan percaya. Aku hanya asal bicara saja, aku juga tidak begitu yakin jika kau akan pindah rumah. Sedangkan, bagaimana dengan rumah ini? dan bibi Lee?" kata Saerin.


"Nee. Tapi biarkan aku pergi bersamamu" kata Kai.


"Tapi bagaimana dengan rumahnya?" kata Saerin.


"Tenanglah, jangan memikirkan itu. Yang penting, aku akan pergi ke Seoul bersamamu besok" kata Kai yang tersenyum


"Nee!" seru Saerin dengan balas tersenyum. "Bagaimana dengan bibi Lee?" sambungnya.


"Aku akan menyuruhnya untuk pulang kampung saja" kata Kai dengan santai.


"Mwo? lalu kau akan tinggal sendirian?" kata Saerin.

__ADS_1


"Nee, asalkan kau tetap ada bersamaku" kata Kai yang tersenyum.


"Owh, arrasseo" kata Saerin mengangguk pelan.


"Yasudah, kajja kita masuk. Ini sudah larut" kata Kai.


"Nee" seru Saerin yang beranjak dari kursi, begitu juga dengan Kai. Mereka berdua masuk yang didahului dengan Saerin yang menuju ke dapur, untuk mencuci gelas minumnya tadi. Sementara Kai terus melanjutkan langkahnya menuju tangga. Tiba-tiba, ada suara bel dari depan. Kai berhenti dan menoleh ke depan saat mendengar suaranya.


"Siapa yang datang malam-malam seperti ini?" gumam Kai. Ia segera berjalan menuju pintu depan, dan Kai membukanya. Terlihat dua orang polisi yang sedang menunggu.


"Apa benar ini rumahmu?" kata polisi itu.


"Nee, memangnya kenapa Pak?" kata Kai.


"Apa disini ada gadis berumur 14 tahun dan bernama Kim Saerin?" tanya polisi itu.


"Nee, kenapa kalian mencarinya?" kata Kai.


"Apa kau yang telah menculiknya?" kata polisi itu.


"Menculik? aku tidak menculiknya pak, mana mungkin aku melakukan hal yang seperti itu" kata Kai.


"Mian, kami sedang melaksanakan tugas, keluarganya melaporkan kejadian ini pada kepolisian, bahwa gadis bernama Saerin sedang diculik. Ada beberapa polisi dari kota Seoul yang sedang mencari gadis ini di Busan" jelas polisi itu.


"Lebih baik kita bicarakan ini didalam saja pak. Silahkan masuk" kata Kai. Kedua polisi itupun masuk, dan duduk di sofa ruang tamu.


"Jadi bagaimana pak?" tanya Kai, saat mereka sudah duduk.


"Dia adalah polisi yang berasal dari Seoul" kata polisi itu sambil menunjuk polisi yang berada disampingnya. "Mereka sedang mencari saudari Kim Saerin, di berbagai kota disekitar Seoul. Saerin dikabarkan tengah diculik oleh seseorang, dan oppanya mengabari mereka tentang kasus penculikan ini beberapa hari yang lalu. Apa benar saudari Saerin ada disini?" sambung polisi itu.


"Nee, dia ada disini. Saya bertemu dengannya dijalan, dia juga pernah mengatakan jika dia sedang diculik oleh seseorang" kata Kai.


"Kalau begitu kami ingin menjemput Saerin pulang" kata polisi yang kedua.


"Apa harus sekarang pak?" kata Kai.


"Nee, kita harus segera memulangkan gadis ini pada keluarganya. Karna saya sudah berjanji akan membawa kembali gadis ini pulang, jika saya sudah menemukannya" kata polisi yang kedua itu.


"Nee, bisakah kau menjemputnya besok saja? dia belum memberesi barang-barangnya" kata Kai.


"Nee, arrasseo. Aku akan kembali menjemputnya besok pagi" kata polisi itu.


"Nee, khamsambnida" kata Kai.


"Kami pergi dulu" kata polisi itu sambil beranjak dari duduknya.


Kai mengangguk dan mengantar kedua polisi tersebut sampai di depan pintu. Dan kemudian Kai kembali masuk. Saat ia ingin pergi ke tangga, ia berpapasan dengan Saerin yang akan menaiki tangga juga.


"Saerin!" panggil Kai, saat Saerin ingin mendahuluinya.


"Nee Kai. Wae?" kata Saerin.


"Kau sudah menyiapkan barang-barang mu?" tanya Kai.


"Belum, tapi sekarang aku juga akan mengemasinya" kata Saerin.


"Yasudah, lanjutkan saja. Besok, bangunlah pagi-pagi. Bersiap-siaplah untuk berangkat" kata Kai.


"Nee, sepertinya kau sangat semangat sekali Kai. Ada apa?" tanya Saerin.


"Nee!" seru Saerin dengan tersenyum. Saerin melangkah menaiki tangga menuju kamarnya.


Saerin sudah masuk ke dalam kamarnya, iya memberesi barang-barangnya dan bersiap-siap untuk pergi besok.


Sementara itu, di sebelah kamarnya yaitu kamar Kai.


Kai juga sedang menyiapkan barang-barangnya dan sesekali mengecek laptop nya. Ia juga akan pergi besok. Setelah semuanya selesai, Kai langsung merebahkan diri dikasur dan tidur.


skip


Pukul 7 pagi, Kai dan Saerin sedang bersiap-siap untuk keberangkatannya. Dan Kai sudah memberitahukan semua hal ini kepada bibi Lee. Dan juga Kai mengizinkan bibi Lee pulang ke kampung halamannya.


Untuk yang terakhir kalinya, bibi Lee menyiapkan sarapan untuk Kai dan Saerin, sebelum akan berpisah.


Selesai menyiapkan sarapan, bibi Lee segera memanggil mereka berdua turun. Dan beberapa menit kemudian, mereka berdua turun dengan pakaian yang sudah rapi yang menandakan mereka sudah siap untuk pergi.


Kai dan Saerin memakan sarapannya.


skip


Ting.. tong..


Suara bel rumah berbunyi. Bibi Lee segera membuka pintunya dan mempersilahkan dua orang polisi itu masuk dan duduk disofa ruang tamu, menunggu Kai dan Saerin.


Saerin sudah siap berangkat, ia turun dengan membawa kopernya, begitu juga dengan Kai. Sebelum itu, Saerin membantu bibi Lee membereskan barang-barangnya. Dan Saerin mencarikan taksi untuk bibi Lee terlebih dahulu. Mereka berdua berpamitan dan setelah itu Saerin masuk ke dalam mobil Kai.


Sedikit demi sedikit mereka mulai melaju dan meninggalkan rumah mewah tersebut. Yang dipimpin oleh mobil polisi di depan dan mobil Kai dibelakang.


skip


Mereka sudah memasuki wilayah kota Seoul. Dan masih berkendara menuju rumah Saerin.


Polisi itu memberhentikan mobilnya di depan sebuah rumah. Dan Kai memberhentikan mobilnya juga. Saerin sangat senang bisa kembali pulang ke rumahnya. Dia sangat-sangat merindukan oppa-oppanya. Kedua polisi itu berjalan lebih dahulu di depan. Kemudian salah satu polisi mengetuk pintu rumah. Yang tak lama pintu itupun terbuka. Yoongi menatap heran pada dua polisi di depannya.


"Ada apa pak?" tanya Yoongi.


Kedua polisi itu hanya tersenyum kearah Yoongi, dan itu membuat Yoongi semakin bingung. Tak lama ada suara teriakan dari belakang polisi itu yang begitu familiar di telinga Yoongi.


"Oppaa!!" teriak Saerin sambil berlari menghampiri Yoongi.


"Saerin!!?" kata Yoongi antara heran dan gembira. Saerin segera memeluk Yoongi dengan erat, dan Yoongi juga membalas pelukan Saerin. Dia sangat merindukan gadis kecilnya yang diculik selama 14 hari berlalu.


"Saerin, kau baik-baik saja kan? tidak ada yang terluka kan? kau sehat kan? tidak ada yang sakit?" kata Yoongi yang melepas pelukannya dan memegang wajah Saerin sembari membolak-balikkan tubuh adiknya.


"Nee, gwenchana!" kata Saerin dengan tersenyum. Kini air mata Yoongi menetes karna terharu dan bahagia, Saerin sudah pulang kembali. Dia kembali memeluk Saerin. Lalu kemudian, Namjoon dan Hoseok berjalan ke pintu depan, karna mereka mendengar suara teriakan. Saat sampai di depan, Namjoon dan Hoseok terkejut dengan apa yang mereka lihat.


"Saerin!?" seru mereka berdua dengan kencang, membuat Saerin menoleh kepada mereka berdua. Namjoon dan Hoseok segera menghampiri Saerin yang masih didekap oleh Yoongi. Melihat hal itu, Saerin segera melepas pelukan Yoongi dan memeluk Namjoon dan Hoseok bersamaan. Membuat yang melihat kejadian mengharukan itu menjadi ikut terharu dan bahagia. Kai yang melihatnya di luar pintu juga sedikit terharu, ia tersenyum melihat kemesraan antarsaudara itu di depan matanya.


Namjoon dan Hoseok melepaskan pelukan mereka dan menatap Saerin bahagia.


"Saerin, kau baik-baik saja kan? kau tidak terluka bukan?" tanya Hoseok.


"Kau sehat bukan? tidak ada yang sakit?" tanya Namjoon juga.

__ADS_1


"Nee, oppa. Gwenchana. Aku sangat senang bisa kembali" kata Saerin sambil tersenyum lebar.


"Baiklah tuan, kami akan pergi. Selamat atas datangnya kembali adik kalian. Saya juga senang melihatnya" kata salah satu polisi itu sambil tersenyum.


"Nee, khamsambnida" kata Namjoon.


"Kami pamit pergi. Selamat siang" kata polisi itu, dan berlalu meninggalkan mereka.


Sementara Kai masih diam terpaku ditempatnya berdiri. Saerin menoleh kearah Kai yang masih berada di luar pintu. Saerin menghampiri Kai dan menarik tangannya masuk ke dalam.


"Siapa dia Saerin?" tanya Yoongi yang menatap Kai tajam, seakan curiga dengan Kai.


"Dia Hueningkai, dia bertemu dengan ku saat aku lari dari rumah yang menyekap ku. Dia sudah merawatku saat aku sakit. Satu lagi, mianhae karna sudah mengkhawatirkan kalian, sebenarnya saat itu aku sudah kabur dari orang yang menculikku, lebih dari seminggu yang lalu. Mian karna aku tidak langsung pulang. Mianhae" kata Saerin yang lalu menunduk.


"Ahh.. begitu. Gwenchana Saerin-ah, halo Kai, saya Hoseok oppanya Saerin" Kata Hoseok ramah.


"Saya Namjoon, dan ini Yoongi" kata Namjoon yang memperkenalkan Yoongi.


"Anyeonghaseyo Hueningkai ibnida" kata Kai yang membungkuk pelan.


"Senang mengenalmu, gomawo karna sudah menjaga Saerin untuk kami. Kami sangat senang Saerin bisa kembali" kata Namjoon.


"Nee, gwenchana hyung. Saerin sudah aku anggap seperti adik sendiri" kata Kai.


"Kalau begitu, kajja masuk. Dan kalian istirahatlah dulu. Pasti kalian sangat lelah diperjalanan tadi" kata Hoseok. Saerin menarik kopernya dan diikuti oleh Kai dibelakang. Saerin membaringkan tubuhnya di sofa ruang tengah, begitu juga dengan Kai.


"Kai sementara ini, kau tinggal disini saja dulu" kata Saerin. Sepertinya Kai sedikit gugup.


"Nee, tapi aku tidak bisa berlama-lama. Aku juga harus melihat rumah yang sudah aku beli" kata Kai.


"Kau sudah membelinya? cepat sekali!" kata Saerin yang membulatkan matanya.


"Nee, menggunakan situs online, membuatnya lebih cepat daripada harus mencari dengan langsung. Mungkin rumahnya tidak jauh dari lokasi ini. Karna itu aku ingin segera melihatnya, dan segera membereskan barang-barang ku" kata Kai.


"Oowh.. okay!" seru Saerin. Dia kembali menyenderkan kepalanya di sofa. Merasa ada yang janggal dari keadaan rumahnya tersebut, seketika Saerin mengingat sesuatu, dan dia sontak bangun dari senderannya, lalu melihat sekeliling ruangan.


"Kai tunggu sebentar disini nee. Aku akan pergi sebentar" kata Saerin.


"Nee" kata Kai yang sedang mengutak-atik ponselnya.


Saerin langsung bangkit dan berjalan kearah dapur, yang disana ada Hoseok yang sedang memasak. Saerin pun menghampirinya.


"Hoseok oppa!" panggilnya dari belakang. Mendengar namanya dipanggil, Hoseok langsung menoleh kebelakang.


"Nee, waeyo Saerin?" kata Hoseok.


"Yang lain kemana? kenapa sepertinya rumah ini sepi. Dan aku hanya melihat kalian bertiga saja. Kemana Jungkook oppa, Tae oppa, Jimin oppa. Dan.. Jin oppa?" tanya Saerin.


Mendengar hal itu, Hoseok jadi teringat dengan keadaan Jin yang masih dirawat dirumah sakit. Dan dia juga belum mengatakannya kepada Saerin. Hoseok mematikan kompor dan menaruh spatula yang tadi ia pegang. Lalu berjalan menghampiri Saerin.


"Saerin. Aku belum mengatakan hal ini kepadamu" kata Hoseok yang menatap Saerin.


"Mengatakan apa oppa?" tanya Saerin.


"Jin hyung sedang dirawat dirumah sakit. Jimin, Taehyung dan Jungkook sedang berada disana, menemani Jin hyung" jelas Hoseok.


"Mwo!! sakit? ini pasti karna aku pergi. Aku harus menemui Jin oppa" kata Saerin yang beranjak pergi.


"Saerin!!" teriak Hoseok saat melihat Saerin berlalu pergi.


Saerin segera mencari Yoongi diatas. Dia ingin oppanya itu mengantar dirinya ke rumah sakit bertemu dengan Jin.


"Yoongi oppa!!" teriak Saerin yang berlari ke kamar Yoongi. Dia mengetuk pintu kamar Yoongi, dan pintunya pun segera dibuka.


"Waeyo Saerin-ah" kata Yoongi yang heran melihat Saerin yang panik.


"Oppa, kau harus mengantar ku kerumah sakit. Aku ingin bertemu Jin oppa. Hoseok oppa tadi mengatakan kalau Jin oppa sedang sakit. Kajja.. kita kesana.." rengek Saerin yang menarik-narik lengan Yoongi.


"Nee, nee. Tenanglah dulu Saerin, tenanglah. Aku harus mengambil kunci mobilnya dulu. Sebentar" kata Yoongi, ia kembali masuk dan mengambil kunci mobil. Karna Saerin tak sabar, setelah Yoongi keluar, ia segera menariknya sampai-sampai Yoongi lupa menutup pintu kamarnya. Saerin menarik lengan Yoongi, hingga Yoongi hanya pasrah terseret oleh Saerin.


"Saerin, pelan-pelan. Kau ini tidak sopan sekali" kata Yoongi kesal, sambil masih diseret Saerin.


"Baiklah, aku akan lepaskan. Cepatlah ke mobil oppa. Aku akan menunggumu" kata Saerin yang berhenti sejenak dan melepas genggamannya. Setelah itu, Saerin langsung berlari keluar. Hoseok tiba-tiba datang pada Yoongi.


"Hyung!" serunya.


"Kau ini, apa yang kau katakan padanya? lihatlah dia jadi panik sekarang" kata Yoongi yang masih kesal.


"Mian hyung. Aku hanya mengatakan Jin hyung dirawat dirumah sakit, dan yang lain ada disana menemani Jin hyung" kata Hoseok.


"Yasudah lah, aku harus segera ke sana. Saerin pasti sudah menunggu" kata Yoongi yang kemudian berlalu pergi.


Yoongi berjalan memasuki garasi, yang disana sudah ada Saerin yang menunggu didepan pintu mobil. Yoongi membuka pintu mobilnya dan mereka berdua pun masuk. Dan ia langsung menancap gas, karna Saerin sudah sangat berisik.


Sampai diparkiran rumah sakit, Saerin langsung melepas sabuk pengamannya dan turun dari mobil. Saerin berlari masuk kedalam rumah sakit. Dan menanyakan ruangan Jin kepada susternya.


"Oh, Kim Seokjin ada diruang VIP no. 7" kata suster itu sambil menunjukkan arah jalannya.


"Khamsambnida!" kata Saerin, ia bergegas pergi keruangan itu. Sementara Yoongi sampai kewalahan mengejar Saerin dari belakang. Saerin sampai didepan ruangan itu, dia mengetuk terlebih dahulu. Lalu membuka pintunya perlahan. Saat Saerin masuk, semua yang ada disana sedikit tercengang melihat bahwa yang masuk adalah Saerin.


"Oppa" kata Saerin pelan. Jimin dan Taehyung terkejut karna melihat Saerin, sampai mereka sontak berdiri bersamaan dari sofa ruangan. Dan Jungkook yang duduk disamping Jin, juga ikut menoleh dengan kaget.


"Saerin!?" kata mereka bertiga dengan kompak. Jimin dan Taehyung berjalan mendekati Saerin.


"Saerin, ini benar kau?" tanya Taehyung yang memegang pundak Saerin.


"Nee" kata Saerin yang tersenyum manis. Taehyung langsung memeluk Saerin, disusul dengan Jimin.


"Saerin.. hah.. hah.. kau ini, kenapa tiba-tiba lari. Aku lelah mengejarmu" kata Yoongi yang datang dengan nafas terengah-engah. Saerin yang mendengar itu pun, seketika melepas pelukannya dan menatap Yoongi.


"Aku tidak menyuruhmu untuk mengejarku bukan?" kata Saerin.


"Kau ini!" kata Yoongi kesal. Saerin menoleh ke arah ranjang rumah sakit, dan menghampirinya. Disebelahnya ada Jungkook yang terduduk, melihat Saerin mendekat. Mata mereka saling bertatapan, dan kini senyum lebar di wajah Jungkook mulai mengembang.


"Saerin!" kata Jungkook yang kemudian memeluk erat Saerin. Dan Saerin membalas pelukan itu.


"Untunglah kau tidak kenapa-napa" kata Jungkook dalam dekapan Saerin.


Saat ia dipeluk, Saerin menoleh ke ranjang dimana oppanya yang tertua itu sedang berbaring dengan menutup matanya. Saerin melepaskan pelukan Jungkook, dan menatap Jin. Tangan Saerin perlahan mendekati tangan Jin, dan Saerin menggenggam erat tangannya yang terasa dingin itu.


"Oppa.." ucap Saerin lirih.


__ADS_1



Nantikan kisah selanjutnya.. 💜


__ADS_2