
Skip pagi
Saerin POV
drrtt.. drrtt..
Aku terbangun karna ponselku tiba-tiba berbunyi. Aku segera mengambil ponsel yang ada di atas meja rumah sakit.
"Yeoboseyo!" dengan suara yang lemas masih menutup mata.
"Halo Sari. Kok kamu ngomongnya jadi bahasa Korea gitu sih" kata suara di dalam telepon. Aku segera membuka mata, kaget apa yang dia katakan.
"Tiara, ada apa?!"
"Kamu ada dimana Sar. Dari empat hari yang lalu waktu kamu bilang sakit, sampai sekarang kamu enggak masuk sekolah". Aku mulai bingung dan mengerutkan kening. Selama bersekolah, aku belum pernah menceritakan tentang masa lalu ku kepada orang lain yaitu teman sekolahku, bahkan aku juga belum pernah mengatakan apapun kepada Tiara tentang masalah ku dengan oppa di Korea.
"Loh emang Tante aku nggak ngasih tau kamu ya?". Saat aku menjadi sahabatnya, dia memang sudah akrab dengan Tante Luna dan Om Roy, karna Tiara sering bermain ke rumah Tante Luna untuk menemui ku.
"Nggak" sahutnya.
"Mm.. apa Tante Luna belum memberi izin kepada kepala sekolah?"
"Aku tidak tau hal itu. Tapi kau tidak masuk sekolah. Kenapa Sari, terus kamu juga tadi jawab telfonnya pake bahasa Korea segala lagi. Sejak kapan kamu jadi k-popers Sar. Kok jadi gitu sih ngomongnya"
"Ee.. mm.. ee.. itu.. anu.." kataku sambil menggaruk kepalaku yang tidak gatal.
"Ae.. ae.. kenapa?!!"
"I-iya sebentar ini aku bingung jawabnya kayak gimana. Kamu tenang dulu dong"
"Heeh.. iyaiya aku tenang nih. Ada apa?"
"Kamu dengerin dulu ya penjelasan aku. Nggak pake dipotong kalau aku lagi ngomong. Kalo kamu mau nanya tungguin sampe aku selesai dulu, baru gantian kamu nanya, oke"
"Iya aku dengerin dan aku nggak bakal motong pembicaraan kamu sampe kamu selesai ngomong"
"Yaudah oke. Emm.. itu, e.. jadi gini, pertamanya aku mau minta maaf sama kamu, karna aku belum bicara banyak soal keadaan aku. Aku itu sebenernya pindah. Aku.."
"Pindah? pindah kemana emang, kok nggak ngasih kabar sama aku sih"
"Tiara, kan aku udah bilang jangan dipotong dulu. Dengerin aku sampe selesai dulu"
"Eh iya, maaf. Silahkan lanjutin"
"Aku itu pindah ke Korea, karna ada urusan mendadak, jadi aku harus pergi. Dan sekali lagi aku minta maaf karna belum pernah nyeritain masalah aku sebelumnya ke kamu. Aku itu sebenernya asli dari Korea. Lima tahun yang lalu Tante Luna bawa aku ke Indonesia karna di Korea oppaku sedang sibuk dan mereka nitipin aku sama Tante Luna. Saat itu Tante Luna ngajakin aku untuk tinggal di Indonesia. Dan sekarang aku dapet panggilan mendadak dari seseorang, jadi aku harus segera pergi ke Korea. Maaf ya aku belum bisa jujur tentang masalah aku dan maaf juga aku pergi nggak bilang-bilang dulu sama kamu. Aku nggak tau lagi, aku harus buru-buru ke sini. Apa kamu ngerti ucapan aku yang barusan?"
"Iya Sar, aku ngerti kok. Kalau itu yang terbaik untuk kamu, aku pasrah aja deh"
"Maaf ya Tiara, kita udah nggak bisa bertemu lagi. Aku minta maaf banget sama kamu. Mungkin itu adalah hari terakhir kita bersama. Maafin aku ya karna nggak bisa bareng sama kamu lagi. Maafin aku karna.."
"Ssstt.. cukup Sari cukup. Kamu itu udah berkali-kali bilang maaf. Tolong jangan ngomong itu lagi ya. Aku udah maafin kamu kok. Mungkin ini memang takdir Sar. Maafin aku juga ya belum bisa jadi sahabat yang terbaik untuk kamu dan nggak bisa merhatiin kamu saat kamu lagi susah. Aku minta maaf banget ya"
"Iya nggak papa kok Ti. Aku ngerti, mungkin memang sepantasnya seperti ini. Makasih ya udah mau jadi sahabat aku. Aku beruntung banget punya sahabat kayak kamu"
"Iya sama-sama. Oh iya ada yang nyariin kamu loh Sar"
"Siapa?"
"Mau tahu atau mau tempe"
"Ih jangan bercanda dong Ti. Siapa yang nyariin aku?"
"Mau tau aja atau mau tau banget nih"
"Mau tau banget"
"Katanya sih kangen banget sama kamu. Dia udah coba nelfon kamu tapi ponsel kamunya enggak aktif"
"Iya cepetan siapa?!"
"Aduhh.. udah emosi aja nih. Karna penasaran banget"
"Ah yaudah deh kalo gitu aku tutup aja. Buat apa ngomong hal yang nggak penting"
"Eeeeh, iyaiya. Tapi jangan ditutup dulu dong telfonnya. Yang kangen sama kamu itu Adit. Ya siapa lagi kalo bukan anak itu yang nanyain kamu ke aku"
"Itu doang"
"Iya terus apalagi. Kayaknya dia suka deh sama kamu"
"Heheh, nggak mungkin dia suka sama aku"
"Nggak mungkin gimana. Dia itu selalu nanyain kamu ke aku waktu kamu nggak masuk sekolah. Apa lagi itu, jika bukan dikatakan suka, kalau cowok mikirin terus kabar ceweknya"
"Ih kamu apaan sih. Aku tau tipe ceweknya Adit yang kayak gimana, ya pasti bukan aku lah tipenya"
"Masa sih.. udah deh jangan nyembunyiin perasaan. Lebih baik keluarkan saja. Pasti kamu juga ada rasa kan sama dia, kamu kan udah deket sama dia. Buktinya kamu tau seleranya Adit itu gimana"
"Heh aku itu nggak ada rasa sama Adit. Bahkan aku itu nganggep Adit kayak saudara aku sendiri, dan dia juga sebaliknya. Jadi nggak mungkin dia punya rasa sama aku. Kamu pasti salah paham deh Ti"
"Tapi aku bener kok. Adit itu.."
"Yaudah deh Ti aku tutup dulu ya bay.."
"Tapi."
Dan aku pun langsung mematikan ponselku.
"Haah. Rese banget sih si Tiara. Oh iya ini kan udah pagi" aku melirik jam tanganku dan menoleh ke kiri dan ke kanan. Di sofa sudah tidak ada Jungkook oppa.
"Dimana Jungkook oppa pergi?" gumamku. Aku menoleh lagi kearah ranjang. Ternyata Yoongi oppa belum sadar.
"Kenapa dia belum juga bangun? Apa dia benar-benar tidak ingin bangun? Kapan ia akan sadar? Tapi aku harus mencari Jungkook oppa dan melihat keadaan yang lain. Oppa, Saerin tinggal dulu nee. Jangan kemana-mana dan cepatlah bangun, aku merindukanmu".
Aku mulai beranjak dari kursi, pergi menuju kamar Jin oppa dan Hoseok oppa. Sesampainya di depan pintu, aku mengetuknya terlebih dahulu lalu membuka pintu perlahan. Aku melihat mereka sedang memberesi pakaian. Aku mulai melangkah masuk.
"Apakah kalian sudah sembuh?"
Jimin oppa menoleh kaget kearahku. "Saerin, kau sudah bangun. Nee mereka berdua sudah sembuh dan diperbolehkan untuk pulang"
"Benar kalian sudah sembuh?" kataku lagi menoleh kepada Jin oppa.
__ADS_1
"Nee Saerina, oppa sudah sembuh"
"Benarkah. Bagaimana dengan Namjoon oppa, apa dia juga sudah sembuh?"
"Nee, dia juga sudah boleh pulang" kata Jimin oppa.
"Kalau begitu aku akan melihatnya!" seru ku, lalu bergegas keluar dan pergi menuju kamar sebelah. Aku mengetuk pintu dan membukanya perlahan. Dan aku melihat Tae oppa sedang menaruh pakaian ke dalam koper. Dan Namjoon oppa sedang duduk di pinggir ranjang. Dia menoleh saat aku masuk.
"Saerin. Kenapa kau kesini?"
Aku segera melangkah masuk dan duduk di sampingnya.
"Apa kau benar sudah sembuh. Tidak ada yang sakit lagi?" serius menatapnya.
"Nee". Senyumku mulai mengembang.
"Aku senang mendengarnya oppa"
"Aku juga" dia juga ikut tersenyum. Aku melihat ke sekeliling ruangan mencari seseorang.
"Kenapa Saerin?" Namjoon oppa menatapku heran dengan tingkah laku ku. "Apa yang kau cari?" sambungnya.
"Aku mencari Jungkook oppa, dimana dia. Tadi dikamar Yoongi oppa, saat aku bangun dia sudah tidak ada. Kemana dia pergi?"
"Jungkook sedang pergi keluar sebentar" aku hanya mengangguk perlahan.
"Mm.. oppa. Apa kalian memiliki rumah di sini?"
"Nee. Kami memilikinya nanti jika Yoongi hyung sudah sembuh kita akan pulang ke rumah"
"Aku akan kembali ke kamar Yoongi oppa"
"Nee".
Aku beranjak pergi ke kamar Yoongi oppa.
Sampai di depan pintu kamar, ada suara yang memanggil ku. Aku langsung menoleh ternyata itu adalah Jungkook oppa.
"Saerin!" dia datang menghampiriku dengan membawa beberapa kantong plastik.
"Oppa kemana saja kau, aku mencarimu tadi. Namjoon oppa bilang kau sedang keluar"
"Nee aku sedang membeli makanan diluar. Apa kau dari kamar yang lain?"
"Nee"
"Kalau begitu ayo kita masuk dan makan ini". Aku mengangguk dan langsung membuka pintu. Dan aku melihat ke tempat tidur, sekali lagi Yoongi oppa belum juga bangun dan masih terbaring nyaman di ranjangnya. Aku hanya menghela nafas sedih, lalu berjalan masuk dan duduk di sampingnya.
"Saerin, ayo kita makan" ajak Jungkook oppa. Aku segera menghampirinya yang duduk di sofa dan ikut bergabung dengannya.
"Jangan sedih seperti itu. Dia pasti akan segera bangun" dia menatapku berusaha menghibur diriku.
"Kau selalu mengatakan dia pasti akan segera bangun. Tapi kenyataannya tidak sesuai dengan kata-katamu. Dia tidak pernah membuka matanya sedikit pun" aku menoleh menatap Yoongi oppa dengan tajam. "Dia memang pria yang malas. Awas saja nanti, jika dia bangun aku akan memukulnya. Lihat saja" gumamku.
Skip
Sekarang aku sedang duduk disamping ranjang Yoongi oppa. Dia sedang diperiksa oleh dokter.
"Suhu tubuhnya masih normal, detak jantungnya juga bergerak dengan normal. Tidak ada kesalahan sedikitpun"
"Tapi kenapa dia belum juga sadar dokter. Jika keadaannya normal dan baik-baik saja, seharusnya dia bisa membuka matanya. Tapi kenapa tidak!"
"Maaf soal itu saya tidak tau. Yang sabar ya nona, saya hanya bisa membantu sedikit. Sisanya hanya Tuhan yang tau. Saya ini hanyalah manusia biasa. Tenanglah, dia pasti akan segera bangun" katanya dengan tersenyum menatapku.
"Hemm.. kata-katamu itu sama seperti Jungkook oppa. Kalian berdua mengatakan hal yang sama kepadaku dua kali. Aku jadi bosan mendengarnya" kataku dengan cemberut menatap dokter itu lalu berganti ke arah Yoongi oppa.
"Kalau begitu saya permisi dulu"
"Nee khamsambnida".
Dokter itu segera pergi, dan tak lama Jin oppa dan yang lainnya masuk kedalam ruangan. Aku tidak menghiraukan mereka dan terus menatap Yoongi oppa dengan menggenggam tangannya, berharap ia segera bangun.
"Saerin apa kau mau ikut pulang bersama kami? Biar Jungkook saja yang menjaganya" kata Jin oppa dengan menepuk pelan punggungku.
"Ani oppa! aku akan disini saja menunggunya bangun" kataku masih menatap Yoongi oppa. "Aku sudah berjanji akan memukulnya saat ia bangun nanti" gumamku.
"Yasudah kalau begitu oppa akan pulang dulu. Nanti siang oppa akan ke sini lagi dengan membawakanmu makanan masakanku"
"Nee!" seru ku masih sama.
"Jimin, temani adikmu. Aku akan pulang dengan yang lain" katanya menyuruh Jimin oppa untuk menemani ku.
"Nee Hyung"
"Jaga adikmu dengan baik. Jika aku melihat Saerin terluka sedikit saja, aku akan menghukummu". Aku menoleh ke arah Jimin oppa untuk melihat reaksinya setelah diancam oleh Jin oppa.
Benar saja, reaksinya sangat menggemaskan. Ia menelan ludahnya kasar menatap Jin oppa yang mengancamnya.
"N-nee hyung" katanya dengan gugup. Aku hanya bisa menahan tawa karna melihat wajah Jimin oppa yang ketakutan tapi menggemaskan. Jin oppa sekilas menoleh ke arahku dengan tersenyum dan mengusap kepalaku dengan lembut.
"Oppa pergi dulu!" serunya, lalu ia berjalan keluar kamar diikuti dengan yang lain kecuali Jimin oppa yang disuruh untuk menemaniku. Saat mereka sudah keluar dan hanya meninggalkan aku dan Jimin oppa. Aku menahan tawaku kembali mengingat wajah lucunya Jimin oppa. Dia berjalan menghampiri ku dengan tatapannya yang tajam dan berdiri dihadapanku yang masih menahan tawa dengan menutup mulut dengan tanganku.
"Kau senang melihat ku diancam Jin hyung tadi"
"Maaf oppa, tapi wajahmu yang ketakutan ditambah menggemaskan itu membuatku tak bisa berhenti tertawa. Hehehe kau sangat lucu hhhh"
"Haah.. kau ini" katanya dengan memasang wajah cemberut.
"Sudahlah oppa, aku hanya bercanda" kataku lalu mengalihkan pandangan kearah Yoongi oppa lagi dan menghela nafas kembali melihatnya tak kunjung bangun. Aku merasakan tangan yang mengelus punggungku dengan lembut.
"Sabarlah Saerin. Dia pasti ak.."
"Dia pasti akan segera bangun"
"Kenapa kau bisa tahu apa yang akan aku katakan?"
Aku menghela nafas lagi. "Karna aku sudah mendengar kata itu berulang kali. Jadi pasti kau juga mengatakan hal yang sama"
"Yasudah tenang saja" katanya masih mengelus punggungku. "Sambil menunggunya bangun. Kau mau bermain bersamaku. Ayo kita bermain, sudah lama aku tidak bermain denganmu Saerin. Aku sangat merindukanmu bermain bersamaku dengan Tae dan Jungkook dulu. Apa kau masih mengingatnya?". Aku mendengar kata-katanya dan mengingat kembali masa lalu ku bermain bersama mereka. Aku tersenyum saat berhasil mengingat salah satu momen dimana aku dan mereka bertiga bermain.
"Nee aku mengingatnya. Aku ingin sekali bisa bermain seperti dulu lagi oppa. Kita terpisah selama lima tahun. Dan itu waktu yang sangat lama bagiku untuk masih bisa bertahan tanpa kalian. Aku juga sangat merindukan kalian. Dan apa kau masih ingat dengan drama yang kita buat dulu?" kataku menatapnya dengan mengingat kembali waktu demi waktu dimana aku bersama mereka.
__ADS_1
"Nee. Kau yang menjadi putrinya dan kita bertiga berebutan untuk menjadi pangerannya"
"Dan yang menang adalah Tae oppa. Kalian berdua menjadi penyihir yang aku dan Tae oppa rias dengan begitu indah hehehehe" kataku sambil mengingat wajah Jimin oppa dan Jungkook oppa dengan riasan wajah hasil karya ku dan Tae oppa.
"Karya mu itu sangat buruk Saerin"
"Tapi kan Tae oppa yang merias wajahmu. Itu bukan salahku"
"Terserah kau sajalah".
Aku berbalik memandang Yoongi oppa.
"Kau tau oppa, aku sudah berjanji kepada diriku sendiri bahwa jika Yoongi oppa bangun aku akan memukulnya"
"Hei apa yang kau katakan"
"Aku berjanji jika Yoongi oppa bangun, aku akan memukulnya" ulangku lagi.
"Kau ini jangan mengada-ada. Jika kau memukulnya disaat ia bangun, pasti dia akan pingsan lagi"
"Karna aku tak tahan lagi. Aku tak habis pikir dengannya kenapa ia bisa tidur selama ini. Sudah dua hari ia tidak bangun juga. Ada apa dengannya"
"Jangan seperti itu, sebentar lagi juga ia akan bangun"
"Tapi kapan?!! aku sudah menunggu lama. Aku tidak ingin lebih lama lagi oppa. Aku tidak tau lagi ingin melakukan apa dengannya agar ia cepat bangun"
"Sudahlah kita tunggu saja dia"
Aku hanya menghela nafas berat mendengarnya. Percuma saja berdebat dengan mayat hidup yang sekarang sedang tidur dan tak ingin bangun.
Skip siang
Jin oppa datang membawakan bekal makanan yang dimasaknya. Dan berganti giliran untuk menjaga Yoongi oppa yang saat ini masih belum bangun. Aku dan Jimin oppa memakan makanannya.
skip
Setelah selesai makan aku menghampiri Jin oppa, lalu menepuk punggungnya.
"Oppa biarkan aku yang akan menjaganya. Kau duduk saja di sofa"
"Nee". Dan kini giliran ku lagi untuk berada di samping Yoongi oppa.
"Oppa kenapa kau tidak bangun juga, aku sudah sangat merindukanmu. Aku sangat-sangat merindukanmu" kataku menatapnya dan menggenggam erat tangannya.
Tak lama kemudian, aku merasakan sesuatu yang aneh. Aku melihat lagi untuk meyakinkan diriku atas apa yang aku lihat. Jarinya bergerak perlahan dan ia mulai membuka matanya. Aku mulai tersenyum melihatnya.
"Oppa!"
"Saerin" katanya dengan lemas.
"Saerin ada apa" tanya Jimin oppa, mungkin ia mendengarku berbicara dengan Yoongi oppa. Aku menoleh dengan tersenyum lebar.
"Oppa, Yoongi oppa sudah bangun. Ia membuka matanya" dan aku mengalihkan pandanganku lagi kepada Yoongi oppa. Aku mulai mendengar langkahan kaki, Jimin oppa dan Jin oppa datang dengan menatapku dan Yoongi oppa serius.
"Yoongi apa kamu sudah sadar?" kata Jin oppa yang kini tersenyum juga melihat Yoongi oppa sadar. Seketika aku ingat akan janjiku. Lalu aku segera mengarahkan pukulan kepada Yoongi oppa. Tapi belum sempat tanganku menyentuh wajahnya, ia sudah menangkap kepalanku.
"Yak.. Saerin apa yang ingin kau lakukan hmm" katanya dengan tersenyum miring.
"Karna aku sudah berjanji jika kau bangun aku akan memukulmu"
"Kenapa kau mau memukulku?"
"Karna kau tidak ingin bangun. Aku tau kau pasti sudah sadar dari tadi. Tapi karna kau ingin tidur jadi tidak mau bangun. Iyakan!!"
"Kenapa kau bisa tau?"
"Sudah kuduga. Kenapa kau seperti itu. Kau tidak tau betapa aku sangat mencemaskan mu. Dan kenapa baru sekarang kau bangun hah!!" kataku sedikit berteriak.
"Karna kau mengatakan sangat-sangat merindukanku. Jadi aku mengabulkan keinginanmu"
"Berarti kau sudah tau apa yang Saerin katakan waktu itu?" kata Jimin oppa
"Memangnya apa yang terjadi dengan kalian?" kata Jin oppa ikut heran.
"Jadi saat aku mengobrol berdua dengan Saerin. Dia mengatakannya sendiri kepadaku, jika Yoongi hyung bangun dia akan memukulnya"
"Saerin.." Jin oppa menatapku dengan tajam.
"Karna aku sudah tidak bisa menahannya lagi oppa. Aku tidak tau harus melakukan apa kepadanya"
"Yasudah. Apa kau memang benar sudah sadar Yoongi?"
"Nee"
"Kalau begitu, Jimin panggilkan dokter nee"
Jimin oppa segera pergi memanggil dokter. Aku menatap punggungnya yang mulai keluar dari ruangan. Lalu menatap Yoongi oppa yang tangannya masih lekat memegang kepalanku.
"Oppa lepaskanlah tanganmu" pintaku.
Lalu ia melepaskannya.
skip
Sekarang aku sedang berada di mobil duduk dibelakang bersama Yoongi oppa.
skip
"Sudah sampai!" seru Jin oppa. Lalu aku melepaskan sabuk pengamannya dan membuka pintu. Seketika aku terkejut dengan rumahnya. Aku hanya bisa melongo kagum melihat rumah mereka.
Saerin end POV
**Nantikan kelanjutan kisahnya.
Maaf ya buat para readers. Kemarin author enggak up karna belum ada ide+lagi badmood. Tapi author berusaha kok untuk up setiap hari.
Sekian dari author terima kasih.
Jangan lupa like, komen and vote. 💜**
__ADS_1