You'Re My Brother (BTS)

You'Re My Brother (BTS)
Eps 56


__ADS_3

"Mwo??" tanya Saerin dengan tak percaya pada apa yang telah Jungkook katakan.


"Berhentilah berbicara dan cepat beresi semua barang-barang mu!! pergi kau dari rumah ini!! cepat!!!" bentak Jungkook.


"Tapi oppa..."


"Tidak ada tapi-tapian!! cepat pergi!!" ucap Jungkook yang menarik Saerin dengan paksa.


Saerin tertarik oleh Jungkook dan diajaknya berdiri.


"Asal kau tau ya, kau itu hanya jadi sumber masalah bagi kehidupan kami. Semua orang selalu mengejarmu dan ingin mencelakaimu, dan aku juga yang harus bersusah payah untuk melindungimu padahal kau sedang bersenang-senang disini dan tak memikirkan kita semua yang tengah berusaha untuk mempertahankan dirimu" ucap Jungkook.


"Kau salah oppa, aku selalu memikirkan kalian. Setiap malam aku selalu memimpikan kalian, karna apa? itu semua karna aku menyayangi kalian. Aku mengkhawatirkan kalian oppa" ucap Saerin.


"Akh, berhenti bicara dasar anak sialan!! cepat pergi dari sini!!" tekan Jungkook.


"Aniya oppa-"


Plakk!!


Saerin kembali tersungkur di lantai, air mata turut membasahi pipinya. Tak cukup sampai disitu, keenam namja yang lain pun ikut menganiaya gadis kecil ini. Mereka bertujuh sudah kehilangan akalnya sampai-sampai mereka tega berbuat kekerasan pada seorang gadis apalagi ia adalah adik kandung mereka sendiri.


Saerin tak dapat berbuat apa-apa, tubuhnya terus ditarik oleh mereka dengan kasar dan tak berperasaan. Air dalam pelupuk matanya sudah mengalir dengan deras, ditambah rasa nyeri di sekujur tubuhnya yang sudah terdapat luka memar kemerahan karna mereka terus memukulinya.


Tubuh Saerin kini terpanting dan membentur dinding serasa badannya yang mungil itu sudah remuk dan mati rasa. Saerin tak dapat berdiri lagi, tubuhnya lemas seketika. Tapi ketujuh namja itu masih terus tetap menatapnya dengan tajam.


Kemudian, Yoongi berjalan mendekati Saerin dan ditariknya rambut Saerin hingga si gadis menjerit kesakitan.


"Dengar ini, kau yang telah membuat kami jadi seperti ini. Kaulah masalah sekaligus parasit bagi kehidupan kami. Kau tau? kami ini sungguh sangat bodoh. Bodoh karna telah melindungimu! seharusnya kami tak seceroboh ini dalam hal urusan pribadi kami. Tapi karna kau! kami semua jadi tidak fokus dan terus memikirkan dirimu" ucap Yoongi.


"Apa kalian tak menyayangiku lagi oppa?" lirih Saerin.


"Sudah tentu kami tak menyayangimu lagi. Jadi, cepatlah beresi pakaianmu dan pergi dari rumah ini!" ucap Yoongi yang melepas jambakannya hingga Saerin hanya tersungkur lemah di lantai.


Tak lama kemudian, Saerin mendongakkan kepalanya terasa ada yang ganjal dalam rumah ini. Ya itu adalah Hye Ra sang ahjumma, mata Saerin berputar-putar mencari sosok Hye Ra yang biasanya akan menolongnya dari tindak kekerasan ketujuh namja ini. Tapi sekarang sangatlah berbeda, Hye Ra tak datang dan melindunginya. Saerin bertanya-tanya dalam hati, kemana Hye Ra pergi? Itulah sekarang yang ada didalam pikirannya.


"O...Oppa, d-dimana ahjumma?" tanyanya pada ketujuh namja itu.


"Heh kau masih sempat menanyai keberadaannya eoh?! Kau tak tau dia dimana?" tanya Taehyung. Saerin hanya menggelengkan kepalanya bahwa ia tak tau dimana Hye Ra berada.


"Heheheh, dia sudah mati!" jawab Yoongi dengan penuh penekanan dalam nada bicaranya.


Deg...


Betapa hancurnya hati Saerin mendengar pernyataan itu, ia tak percaya jika Hye Ra sudah mati. Kenapa dia harus meninggalkannya?


"M-mwo? ahjumma... meninggal...." lirihnya kembali setelah mendengar ucapan Yoongi yang sangat mengiris hatinya.


Saerin tak menyangka, apakah mereka yang telah membunuh Hye Ra? apakah mereka sengaja membunuh ahjummanya? itu sungguh sangat kejam.


"Andwae... andwae.... hiks.. hiks.. ANDWAE!! AHJUMMA!!" teriak Saerin dengan tangisan yang sungguh ia kencangkan.


"Yak! berisik kau!! cepat pergi dari rumah ini!!" bentak Jimin.


"Andwae!!....... hiks... hiks... hiks... andwae..."


"Aarrgghh.. cepat pergi! jangan menangis disini!!" teriak Hoseok.


"Ish berisik!!" bentak Namjoon.


"Hiks... hiks... hiks... andwae...."


Tok... tok... tok...


Seketika ada suara ketukan dari pintu depan kemudian disusul dengan suara pintu yang terbuka menandakan ada seseorang yang tengah masuk ke dalam rumah mereka.

__ADS_1


"Saerin, aku pulang!" seru Hueningkai yang menenteng tas di pundaknya sambil tersenyum bahagia karna ia mengira pasti Saerin sangat merindukannya.


Saat sampai di ruang tengah, ia sangat kaget ketika melihat ketujuh namja yang lebih tua darinya itu tengah berdiri mematung dan menatapnya dengan tajam.


"Eo-eoh hyung? Kalian sudah kembali? sejak kapan?" tanya Hueningkai yang tak mendapat respon dari mereka bertujuh. Hueningkai tak bisa melihat keberadaan Saerin karna keenam namja itu menutupinya.


"Kenapa kalian semua hanya diam? ohya, dimana Saerin? aku sangat merindukannya" ucap Hueningkai antusias.


Tak lama setelah ia mengatakan itu, Yoongi pun muncul dari keenam namja dihadapannya dengan menyeret Saerin ke arah Hueningkai. Sungguh ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya ini. Senyum yang berkembang mulus di wajahnya itu sekarang berubah drastis saat melihat Saerin yang telah lemah terkapar di lantai. Hueningkai cepat-cepat menghampiri Saerin dan memeluknya dengan erat hingga butir-butir cairan bening turun dengan mulus dari pelupuk mata yang kini membasahi wajah senangnya.


"S-Saerin, kau kenapa sayang? kenapa kau jadi seperti ini?" ucap Hueningkai yang memegang pipi Saerin.


"Hueningkai..."


"A-apa yang kalian semua lakukan pada Saerin?! kenapa dia jadi seperti ini?! kalian semua pasti telah menyiksanya iya kan?!?!" kesal Hueningkai pada ketujuh namja itu. Mereka semua hanya terdiam dengan tatapan tajamnya yang tak bisa lepas dari Saerin.


"Jawab aku hyung!! kenapa kalian diam saja?!!" teriak Hueningkai.


"Kai..."


"Tidak Saerin, kau kenapa? jelaskan padaku" ucap Hueningkai yang mulai khawatir.


"Kau ingin penjelasan?! Kau butuh dijelaskan kan? Sekarang dengar aku. Pergilah dari rumah ini bersama dengan dia. Karna kami semua tak ingin lagi melihat anak sialan ini!" ucap Yoongi.


"Mwo? kalian mengusir kami berdua? a...aku tak masalah jika aku sendiri yang harus angkat kaki dari rumah ini, tapi kenapa kalian juga mengusir Saerin? dia adalah adik kalian. Dan kenapa kalian menyebutnya sebagai anak sialan? ada apa dengan kalian?!" ucap Hueningkai yang bingung dengan keadaan.


"Heh kau mau tau? kami semua telah hancur gara-gara dia. Hanya karna gadis ini kami sudah tak punya apa-apa lagi sekarang!" kata Hoseok.


"Yak hyung! apa yang kalian bicarakan ini?! kenapa kalian jadi membenci Saerin?" tanya Hueningkai.


"Kenapa kau belum juga mengerti?!" kata Namjoon dengan kesal.


"Kami ucapkan sekali lagi bahwa kami ini sudah hancur dan tak punya apa-apa lagi, itu semua karna anak ini. Kami bodoh telah melindunginya dari bahaya, kami kira ia takkan pernah diincar oleh seorang penjahat lagi. Tapi nyatanya tidak, setiap hari kami selalu dikecam oleh orang-orang yang ingin membunuhnya. Mereka semua menjebak kami dengan cara menjadikan anak ini sebagai sasaran umpannya. Kami sudah lelah mengurusnya dan kami juga sudah tidak sanggup lagi dengan anak ini yang selalu menjadi beban dalam hidup kami. Jadi sekarang pergilah dan jangan kembali lagi kesini" kata Jin.


"Karna dia menjadi tanggungjawab itulah kami selalu berusaha melindunginya. Tapi dia juga sering menjadi kelemahan kami, banyak orang jahat yang selalu mengincarnya tapi sasaran mereka pasti akan datang terlebih dahulu kepada kami" kata Jimin.


"Kami jadi stres karna selalu mendapatkan sebuah teror yang akan mengancam kami dengan dialah yang menjadi alasannya" sambung Taehyung.


"Dan kami semua sudah hancur, perusahaan kami sudah bangkrut. Kami tak bisa melakukan apa-apa lagi. Kami sudah tak kuat lagi, kami sudah hancur!" kata Namjoon.


"Jadi itu... jadi itu alasan kalian membencinya. Asal kalian tau saja, dia juga pernah diteror oleh seseorang sampai dia sangat terpuruk. Tapi dia tak selemah kalian, jadi ia berusaha untuk dapat bangkit dari keterpurukannya itu. Tapi kalian? kalian malah memilih pasrah dari sebuah peristiwa yang menimpa hidup kalian hingga jadi seperti ini" ucap Hueningkai.


"Hmh... Baiklah, jika kalian sudah tak mau lagi menjaganya biar aku saja yang akan menggantikan posisi kalian untuk Saerin. Biar aku saja yang akan melindunginya dan jadi oppa yang baik untuk Saerin daripada kalian" sambung Hueningkai.


"Yasudah, ambil saja dia. Tapi kami meminta bayaran untuk itu" ucap Jin.


"Mwo? bayaran? kalian ingin menjual Saerin padaku? tega sekali kalian mengatakannya di depan Saerin. Dia adalah adik kalian bukan seorang budak yang diperjual-belikan. Jika kalian tidak ingin mengurus Saerin lagi tidak apa-apa, tapi jangan jadikan ia sebagai budak yang kalian jual. Saerin tidaklah serendah itu dia memiliki harga diri. Kalian sebagai oppa kandungnya telah menjatuhkan harga diri adik kalian. Itu sungguh mengecewakan hyung" kata Hueningkai.


"Yasudah jika kau tak mau membayar, dia akan tetap disini bersama kami tapi dia akan kami perlakukan seperti seorang pembantu. Bagaimana? pasti kau tak mau kan?" kata Jin.


"Kalian sangat tidak berperasaan!!" teriak Hueningkai.


"Heh, terserah apa katamu. Yang penting kau harus memilih. Kau ingin membawanya pergi tapi bayar dulu pada kami, atau kau biarkan saja dia disini tapi kami akan memperlakukannya seperti pembantu. Kau pasti tak ingin jika adik kesayanganmu ini diperlakukan seperti itu bukan?" kata Hoseok.


Hueningkai mengalihkan pandangannya pada Saerin, lalu menghela nafasnya panjang. Dengan berat hati ia memilih untuk membeli Saerin dari ketujuh oppanya ini.


"Hm... baiklah, aku akan membelinya" jawab Hueningkai.


Saerin yang mendengar pilihan Hueningkai itupun mendadak membelalakkan matanya karna terkejut dengan apa yang dipilih Hueningkai. Sekarang harga dirinya sudah dipermainkan dan dibeli oleh Hueningkai, ia seakan tak berharga lagi di mata ketujuh oppa kandungnya.


"Hueningkai..."


"Mianhae Saerin" ucap Hueningkai pelan.


Saerin kembali meneteskan air matanya, tak menyangka bila takdir akan sebegitu kejam pada kehidupannya.

__ADS_1


"Ambilah tas ini, disana sudah ada uang yang akan cukup untuk kalian semua" ucap Hueningkai yang melempar tasnya pada mereka.


Lalu ia menggendong Saerin keluar dari rumah itu menuju ke mobilnya dan membawa Saerin pergi dari sana. Hueningkai sangat kesal pada perilaku ketujuh namja yang ia kira bahwa tetap akan menyayangi Saerin selamanya walaupun banyak masalah yang mereka hadapi. Ia tak pernah menyangka jika ketujuh namja itu berubah sikap jadi sekejam ini pada seorang gadis yang tak lain adalah adik kandung mereka sendiri.


Di dalam perjalanan, Saerin masih terus saja menangis di mobil. Hueningkai sungguh tak tega melihat Saerin yang sudah kacau seperti itu. Ia sudah dicampakkan oleh ketujuh oppanya yang sangat ia sayangi. Tapi hari ini, Saerin mungkin akan membenci Hueningkai karna ia lebih memilih untuk membelinya.


"Saerin, mianhae... ini semua demi kebaikanmu juga Saerin. Aku tak mau kau terus-terusan di perlakukan seperti tadi. Itu cukup sekali saja Saerin. Aku mohon mengertilah. Aku bukannya pasrah memilih untuk membelimu dari mereka. Hanya saja aku tidak mau jika aku menyerah dan kau akan disakiti lagi oleh mereka. Ini adalah keputusanku Saerin, bukan berarti aku menganggapmu sebagai seorang budak yang diperjual-belikan. Tap-"


"Cukup Kai!! sudah cukup!! sekarang aku tak punya harga diri lagi. Mereka telah merendahkannya dengan cara menjualku padamu. Aku sudah hancur Kai.. hiks.. hiks.." potong Saerin.


"Tidak Saerin, ini tak seperti yang kau kira" kata Hueningkai.


"LALU SEPERTI APA LAGI YANG KAU KIRA EOH? KAU PIKIR AKU SERENDAH ITU HINGGA KAU MEMBELIKU DARI MEREKA. KAU TAK MENGERTI PERASAANKU KAI. KAU TAKKAN BISA MENGERTI" teriak Saerin.


Mendengar itu Hueningkai pun memberhentikan mobilnya sambil terus menatap Saerin.


"Saerin, ini.. ini tidak seperti yang kau pikirkan"


"Yang tidak apalagi Kai!?! aku sudah tak punya apa-apa lagi hiks.. hiks... diriku sudah tak berguna lagi di dunia ini" ucap Saerin.


"Jangan berpikir seperti itu Saerin. Kau masih mempunyai aku, kau sangat berharga bagiku Saerin. Aku berjanji akan menjagamu dengan sepenuh hati, dengan cinta dan kasih sayang yang seharusnya kau dapatkan. Aku juga berjanji akan melindungimu dari orang-orang jahat Saerin. Aku takkan pernah membiarkanmu tersakiti lagi seperti tadi. Aku dapat menjaminnya" kata Hueningkai yang menggenggam tangan Saerin.


"Tapi-"


"Sssttt.... jangan mengatakan tapi lagi. Aku akan menjadi oppamu yang baik Saerin. Aku akan merawatmu dengan baik, aku akan melindungimu, menjagamu bahkan aku akan mengorbankan nyawaku jika nanti akan ada bahaya yang mengancammu. Aku rela melakukan apapun demi dirimu, karna aku sangat menyayangimu Saerin. Kau sudah seperti keluarga bagiku. Kau lebih berharga dari apapun yang aku punya" ucap Hueningkai dengan tersenyum kecil.


"Apa aku sangat berharga bagimu?" tanya Saerin.


"Lebih dari kata sangat. Kau benar-benar berharga dibandingkan batu permata bagiku"


"Seperti itukah?"


"Nee"


"Gomawo Kai, aku sangat bersyukur masih mempunyai dirimu" kata Saerin yang mulai tersenyum.


"Nee, apapun akan aku lakukan. Sudah ya, sekarang kita pergi ke rumahku dan jangan pikirkan soal mereka lagi" kata Hueningkai.


"Hmm... tapi... aku masih memikirkan sesuatu" ucap Saerin.


"Apa yang kau pikirkan?" tanya Hueningkai.


"Ahjumma Shin"


"Kenapa dengan ahjumma?"


"Dia... sudah meninggal" ucap Saerin sambil menundukkan kepala.


"Mwo? meninggal?" kaget Hueningkai yang membulatkan mata tak percaya.


"Hmm..."


"Ini pasti ulah mereka bertujuh" geram Hueningkai sambil memukul setir dengan satu kepalannya.


"Sudahlah Kai, jangan marah. Ahjumma sudah tenang disana" ucap Saerin sambil matanya memandang ke atas.


"Aku tak habis pikir dengan mereka, bisa-bisanya mereka membunuh ahjumma. Dasar orang yang tak punya perasaan!"


"Hueningkai..."


"Eoh, mianhae Saerin. Sekarang kita pulang saja nee" ucap Hueningkai yang melajukan mobilnya.


.


.

__ADS_1


__ADS_2