
Skip
Keesokan harinya..
Saerin diantar oleh Jungkook ke sekolahnya.
"Saerin" panggil Jungkook saat mobil mereka sudah sampai di depan gerbang, dan Saerin ingin keluar. Tapi Saerin berhenti sejenak, ia menoleh ke Jungkook.
"Nee?"
"Mm.. aku.." kata Jungkook sambil mengusap belakang kepalanya.
"Jemput aku pukul 3. Jangan lupa dengan janji mu" kata Saerin dengan datar.
"Arrasseo"
"Hm, aku menyayangimu oppa" kata Saerin dengan tersenyum. Ia bergegas keluar setelah mengucapkan itu.
Jungkook hanya terdiam melihat Saerin keluar dari mobilnya, dan mulai memasuki gerbang sekolah. Setelah itu, ia melajukan mobilnya.
Saerin memasuki ruangan kelasnya. Disana Jiyeon sudah datang lebih dulu. Saerin pun menghampirinya dan duduk disebelah Jiyeon.
"Annyeong Jiyeon!" seru Saerin.
"Oh, annyeong Saerin-ah" balas Jiyeon dengan tersenyum.
Tiba-tiba, Ji-won cs datang dengan menggebrak meja. Membuat Saerin dan Jiyeon terkejut.
"Mau apa lagi kau?!" kata Saerin sedikit meninggikan nada suaranya. Bukannya menjawab, Ji-won malah menyambar tangan Saerin.
"Yak! apa yang ingin kau lakukan?" kata Saerin dengan menepis tangan Ji-won.
"Ji-won lepaskan tanganmu dari Saerin!" kata Jiyeon, ia juga berusaha melepaskan tangan Ji-won dari Saerin. Tapi Woon-Joon dengan cepat mencekal tangan Jiyeon dari belakang. Membuat Jiyeon tersentak dan berbalik ke belakang.
"Apa yang kau lakukan?! lepaskan tanganku!!" teriak Jiyeon. Hanya ada mereka saja dikelas itu, karna masih pagi jadi semua murid kelas belum berdatangan.
Ji-won menarik Saerin dan membawanya keluar kelas. Sementara Woon-Joon dan Taejin masih dikelas mengurus Jiyeon yang sedang memberontak melepaskan cekalan mereka berdua.
Ji-won membawa Saerin sampai ke taman belakang sekolah yang sepi. Dia memojokkan Saerin di tembok, menahan bahu Saerin dengan tangannya.
"A-apa yang akan kau lakukan, Ji-won?!" kata Saerin berusaha melepaskan diri.
"Jangan melawan diriku atau kau akan tau akibatnya" kata Ji-won dengan tatapan tajamnya yang dingin.
"Jangan berani-berani kau melakukan apapun denganku! atau kau akan aku-"
"Kau akan apa hah?! kau akan memukul ku? heh coba saja kalau kau bisa" kata Ji-won memotong ucapan Saerin.
Saerin memberontak tapi tidak bisa. Cekalan Ji-won terlalu kuat. Seketika, Ji-won mendekatkan wajahnya pada Saerin, membuatnya terdiam dengan berkeringat dingin dan jantung yang berdegup kencang sesaat, karna terpana akan wajah Ji-won yang jika dilihat secara dekat, memang tampan alami. Tapi semakin Saerin melamun, semakin dekat juga wajah Ji-won dengan wajahnya. Saerin pun menutup matanya, karna tak mau melihat apa yang seharusnya tidak ia lihat.
Tapi sebuah suara terdengar dari belakang yang membuat Ji-won menghentikan aktivitasnya. Saerin kembali membuka matanya. Seorang anak lelaki yang sama tingginya dengan Jiwon, ia berdiri sedikit jauh dibelakang Ji-won.
"Mwoya?! hah!" kata Ji-won yang berbalik badan menoleh ke anak lelaki itu.
"Lepaskan gadis itu" katanya dengan dingin.
"Memangnya kau mau apa hem?" kata Ji-won dengan melipat tangannya di dada.
"Aku bilang lepaskan gadis itu. Jika tidak..." dia tidak meneruskan ucapannya.
"Jika tidak, kau akan melakukan apa? kau mau jadi pahlawan?" kata Ji-won tersenyum sinis.
"Kau tidak boleh melakukan itu kepada seorang gadis. Itu namanya pelecehan, kau tau!?"
"Heh sok tau! jika berani, kemarilah. Lawan aku. Jangan hanya berani dari kejauhan saja. Mari lakukan ini secara jantan" kata Ji-won sambil melipat lengan bajunya dengan tersenyum miring.
"Kemarilah, jika kau berani" kata Ji-won menyiapkan kepalan tangannya.
Sang anak lelaki itu pun maju menghadapi Ji-won. Ia berlari menghampiri Ji-won. Anak lelaki itu melayangkan pukulannya ke arah Ji-won dan dengan cepat tangannya di tangkis. Ji-won juga mengarahkan pukulannya pada wajah anak lelaki itu. Tapi itu berhasil di tangkis oleh tangan anak itu. Pertarungan mereka seimbang, sama kuatnya. Saerin hanya bisa melihat pertarungan mereka dengan berharap, anak lelaki yang menolongnya itu menang dari Ji-won.
Ji-won mencoba menyeleding kaki anak itu. Tapi ia berhasil menghindarinya. Mereka terus saja berbalas pukulan, dan selalu dibalas dengan tangkisan. Mereka berdua tidak berhenti berkelahi. Akhirnya, Ji-won pun melayangkan sebuah bogem mentah yang mendarat di pipi anak lelaki itu. Membuatnya terjatuh ke samping dengan darah yang keluar dari pinggir bibirnya. Membuat Saerin terkejut menutup mulut dengan telapak tangannya. Ji-won mendekat dan menggenggam kerah baju anak tersebut. Anak itu tak tinggal diam, ia juga memukul wajah Ji-won lalu memutarkan kedua tangan Ji-won yang menggenggam kerah bajunya. Ia mendorong Ji-won dengan tinjunya yang mengarah ke perut Ji-won dengan sangat kencang, hingga Ji-won terjatuh lemah di tanah. Anak itu mendekati Ji-won dan menggenggam balik kerah bajunya sampai Ji-won terduduk dan anak itu berjongkok. Ji-won menahan sakit dengan memegangi perutnya.
"M-mian, tolong j-jangan sakiti aku lagi. Aku menyerah" kata Ji-won dengan wajah memelas. Anak itu melempar Ji-won ke tanah, ia berdiri dan ingin pergi menghampiri Saerin. Tapi belum juga ia berjalan, Ji-won bangun dan menyikut lutut anak itu dari belakang. Alhasil, anak itu pun terduduk di tanah dan Ji-won menarik tangan anak lelaki itu lalu memutar pergelangan tangan si anak lelaki itu yang kemudian dilipat di punggung anak itu.
"Hh mau apa lagi kau hah! makannya jangan jadi sok jagoan kalau kemampuan bertarung mu lemah" kata Ji-won dengan senyum miringnya.
"Ji-won, lepaskan dia!!" teriak Saerin yang berhadapan dengan mereka tetapi jaraknya agak jauh.
"Kenapa? lelaki seperti dia tidak pantas jadi jagoan. Karna dia LEMAH!" ucap Ji-won menekan kata lemah. Ji-won menundukkan kepalanya melihat wajah anak itu.
"Jangan jadi jagoan jika kekuatanmu masih lemah. Sampai kapan pun kau tidak akan bisa mengalahkanku" kata Ji-won sinis.
"Kau.." katanya lirih, menatap Ji-won.
"Wae!!? sudah berapa kali aku mengalahkanmu hah?! kau masih berani melawanku. Aku sudah mengatakan itu padamu, jangan berani melawanku jika kemampuan mu masih lemah. Kau tidak akan bisa mengalahkanku, SAMPAI KAPANPUN" kata Ji-won menekan kata terakhir.
trriingg...
Bel sekolah berbunyi.
Ji-won melepaskan genggamannya dan ia mendorong anak itu. Ji-won membalikkan badannya akan pergi. Tapi ia menoleh kebelakang menatap Saerin dengan tajam. Dan Saerin masih terdiam di tembok, ia juga menatap Ji-won. Saerin tak menyangka jika Ji-won pandai bertarung. Ia pikir Ji-won adalah anak lelaki biasa yang berlagak seperti jagoan, tapi itu malah sebaliknya dengan anak lelaki yang tersungkur di depannya.
Lalu Ji-won kembali berbalik dan lari menuju kelasnya. Setelah Ji-won pergi, Saerin bergegas mendekati anak lelaki yang mencoba menolongnya itu, meski dia yang kalah.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Saerin dengan wajah cemas sambil berusaha membantu anak itu untuk bangun.
"Nee, gwenchana" katanya.
"Bibirmu berdarah, aku akan mengantarmu ke ruang UKS" tawar Saerin.
"Ah ani. Aku baik-baik saja, ini tidak jadi masalah" katanya menolak tawaran Saerin.
"Ani, lukamu harus diobati. Kajja!". Akhirnya anak lelaki itu menurutinya. Saerin membawa dia ke ruang UKS. Biasanya, di ruang UKS sekolah. Terdapat perawat yang berada disana. Tapi sekarang ia sedang tidak ada di UKS. Jadi, Saerin sendiri lah yang mengobati luka anak itu, walau ia tidak tau benar caranya mengobati luka. Tapi Saerin berusaha agar lukanya itu bisa sembuh.
__ADS_1
"Aish!" pekik anak itu, saat Saerin mengoleskan salep ke bibir anak lelaki itu.
"Oh, sakit ya?! mian aku terlalu menekan" kata Saerin.
"Ani! gwenchana. Hanya saja.. aku yang terlalu lemah, dan tidak bisa menahan rasa sakit ini" katanya merendahkan diri sendiri.
"Hey, kau itu bukan anak yang lemah. Kau itu anak lelaki yang kuat. Buktinya, kau berani melawan Ji-won walaupun akhirnya kau yang kalah. Dan... gomawo karna sudah menolongku. Jika kau tak datang, aku sudah pasti akan jadi bahan pelecehan olehnya" kata Saerin.
"Nee, jika boleh aku tau, siapa namamu?" tanyanya menatap Saerin.
"Namaku Kim Saerin, kau bisa memanggilku Saerin. Dan siapa namamu?" tanya Saerin balik.
"Namaku Jung Junho, panggil saja aku Junho" katanya sambil tersenyum.
"Oh, Junho. Salam kenal" kata Saerin dengan tersenyum manis, sampai Junho terpaku menatapnya.
"Dia manis sekali" katanya dalam hati.
"Ah.. sepertinya aku sudah cukup mengobati lukamu. Apa itu masih sakit?" tanya Saerin.
"Ani" jawabnya singkat.
"Baiklah, ohh bel masuk sudah berbunyi dari tadi, pasti sekarang di kelasku sudah mulai jam pelajarannya. Bagaimana ini?" kata Saerin yang kebingungan.
"Bagaimana kalau kau ikut aku saja" kata Junho tiba-tiba.
"Haah.. memangnya mau kemana? jangan macam-macam denganku ya!" kata Saerin sedikit kaget dan khawatir, akan terjadi hal yang terulang lagi seperti tadi.
"Gwenchana, aku tidak akan melakukan apapun padamu. Lebih baik ikut aku!" ajaknya.
"Tapi kita akan ketahuan bolos pelajaran nanti"
"Tidak akan" kata Junho meyakinkan.
"Mm.. oke", Saerin pun menyetujuinya. Tangan Saerin langsung disambar oleh Junho. Ia membawa Saerin keluar sekolah dari pintu gerbang dibelakang.
"Junho, kau mau membawaku kemana?" tanya Saerin yang berlari dengan terpogoh-pogoh ditarik oleh Junho.
"Tunggu saja" jawab Junho yang menoleh kebelakang tapi tetap berlari.
Junho mengajak Saerin ke kafe, dibelakang sekolah. Mereka berdua duduk di salah satu bangku di sana. Hanya beberapa orang saja yang berada di situ. Tampaknya kafe itu sudah lama, karna terlihat dari dekornya yang bersifat kuno tapi masih bernuansa klasik.
"Junho, kenapa kau membawaku ke sini? seharusnya kita berada di sekolah sekarang" kata Saerin.
"Menunggu bel istirahat sampai bel masuk kembali itu sangat lama, kita santai saja dulu disini. Ini adalah tempat favoritku" kata Junho tersenyum melihat sekeliling kafe.
"Apa kau selalu seperti ini Junho? seharusnya kau tidak melakukan ini. Pelajaran lebih penting daripada bersantai"
"Belajar itu membosankan" katanya santai.
"Yakk.. apa yang kau katakan? belajar itu penting, apa gunanya orang tuamu menyekolahkan dirimu jika kau selalu seperti ini di sekolah? itu sia-sia saja Junho. Apa kau tidak menyayangi orang tuamu? seharusnya kau berusaha membahagiakan mereka, bukan malah mempermalukan mereka" kata Saerin, agak kesal.
"Heh lupakan itu, tidak ada yang peduli denganku" kata Junho yang menyenderkan badannya di kursi.
"Apa maksudmu?!!" kata Saerin yang menatap Junho kesal.
ku kepada halmeoni. Tapi kenyataannya mereka tak kunjung pulang sampai sekarang. Dan mereka tidak pernah menghubungiku sama sekali, selama lima tahun. Mereka juga sepertinya sudah melupakanku. Jadi setelah itu, aku diurus oleh halmeoni dan halbeoji" jelasnya.
"Apa karna itu, kau jadi seperti ini?" tanya Saerin dengan hati-hati.
"Sudahlah jangan dibahas lagi" kata Junho dengan datar.
"Nee arrasseo"
"Bagaimana kalau kita memesan sesuatu, kau ingin apa? biar aku yang pesankan. Tenang saja aku yang bayar kok" kata Junho.
"Nee, gomawo" kata Saerin tersenyum.
"Yasudah, nanti aku pesankan dulu, nee" kata Junho.
"Nee". Saerin mengangguk pelan. Lalu Junho pergi untuk memesan.
Beberapa menit kemudian, Junho kembali dengan membawa dua gelas cappuccino.
"Apa ini?" tanya Saerin yang tidak pernah mencoba minuman itu.
"Ini namanya cappuccino, apa kau tidak pernah meminumnya?" kata Junho yang baru duduk. Saerin hanya menggelengkan kepalanya.
"Heheh, gwenchana. Sekarang cobalah ini. Rasanya enak" kata Junho menyodorkan satu gelas cappuccino itu kepada Saerin. Junho meminum cappuccino tersebut, dan Saerin juga mencoba meminumnya.
"Bagaimana? enak bukan?" tanya Junho sambil tersenyum melihat reaksi Saerin yang meminum cappuccino itu.
"Mm.. enak" kata Saerin dengan tersenyum. Minuman itu berbekas ke bibir atas Saerin yang terlihat seperti sebuah kumis. Hingga membuat Junho tertawa melihatnya.
"Waeyo? apa yang lucu?" tanya Saerin kebingungan karna melihat Junho yang tiba-tiba tertawa.
"Wae? apa ada sesuatu di wajahku?" tanya Saerin sambil mengelus pipinya.
"Heheh, kemarilah!" . Junho mengambil sapu tangan dari saku celananya, lalu memajukan badannya pada Saerin dan mengelap bekas cappuccino di bibirnya.
Saerin hanya terdiam melihat Junho.
"Sudah!" seru Junho yang duduk kembali dan melanjutkan meminum cappuccino nya.
Junho melirik arlojinya,
"Saerin, sebentar lagi bel istirahat akan berbunyi. Sebaiknya kita segera kembali" kata Junho.
"Nee"
Mereka pun kembali ke sekolah.
trriingg...
__ADS_1
Bel istirahat berbunyi.
"Saerin, mungkin aku hanya bisa mengantarmu sampai sini" kata Junho. Mereka berdua berada di samping sekolah.
"Nee, gwenchana" kata Saerin memperlihatkan senyum manisnya. Dan untuk yang kedua kalinya, Junho terpaku melihat senyuman manis dari Saerin.
"Saerin, apa kita bisa bertemu lagi?" tanya Junho sedikit pelan.
"Tentu saja, kau dan aku sekarang adalah teman" kata Saerin yang masih tersenyum.
"Nee, gomawo" kata Junho. Ia tersenyum sebentar dan pergi meninggalkan Saerin.
Saerin juga pergi kembali ke kelasnya. Saat dia sampai di ruang kelasnya. Saerin mengintip sebentar dari jendela, menunggu guru yang mengajar di kelas keluar.
Dan tak lama kemudian, guru pun keluar dan pergi ke arah yang berlawanan dari tempatnya berdiri. Saerin pun menghela napasnya lega. Dan kemudian Jiyeon juga keluar dari kelas bersama dengan murid yang lain. Ia melihat Saerin dan segera mendekatinya.
"Saerin, kau darimana? kenapa kau tidak masuk? apa Ji-won menyakitimu?" tanya Jiyeon.
"Ani, aku baik-baik saja" kata Saerin sambil tersenyum agar Jiyeon tidak curiga. Tapi Jiyeon malah memasang wajah mencurigai.
"Ah yasudah, nanti akan aku ceritakan di kantin" kata Saerin yang menarik tangan Jiyeon dan mengajaknya pergi ke kantin.
Di kantin...
"Jadi..?" tanya Jiyeon menatap Saerin mengharapkan jawaban.
"Jadi apa?" tanya Saerin balik.
"Haah.. kau ini. Kau bilang ingin menceritakannya di sini" kata Jiyeon.
"Mm.. apa aku harus menceritakannya?" tanya Saerin yang mengelak.
"Harus! kau tidak tau aku sangat mencemaskanmu saat aku melihat Ji-won kembali tapi kau tidak"
"Nee, nee. Jadi tadi itu, aku dibawa oleh Ji-won ke taman belakang sekolah. Dia menahan tubuhku di tembok. Aku tidak tau dia akan melakukan apa padaku. Wajahnya terus maju mendekatiku, saat itu ada anak lelaki yang menolongku. Lalu Ji-won dan anak itu berdebat kemudian bertarung. Aku pikir anak itu akan menang, tapi sebaliknya. Ji-won mengalahkannya. Saat bel berbunyi, Ji-won meninggalkan kami berdua, setelah Ji-won pergi, aku segera mendekati anak itu. Dia terluka jadi aku membawanya ke ruang UKS, dan aku mengobatinya"
"Lalu..?" tanya Jiyeon yang penasaran.
"Kita berkenalan dan dia mengajakku pergi"
"Pergi kemana?" tanya Jiyeon.
"Dia mengajakku ke kafe di belakang sekolah. Kita minum cappuccino bersama" kata Saerin.
"Siapa nama anak lelaki itu? dan anak itu tampan tidak?" tanya Jiyeon lagi.
"Kau ini, banyak bertanya" kata Saerin yang mulai bosan karna pertanyaan Jiyeon.
"Ayolah Saerin" Jiyeon memohon.
"Jung Junho" jawab Saerin singkat.
triingg...
Bel masuk berbunyi.
"Nah udah bel tuh, masuk yuk!" kata Saerin yang beranjak pergi.
"Yaak.. tunggu aku Saerin!" Jiyeon menyusul Saerin.
Skip
Saerin sedang menunggu Jungkook menjemputnya. Dan tak lama, mobilnya pun datang. Saerin segera masuk setelah mobilnya berhenti.
"Kau janji kan?" tanya Saerin saat sudah masuk.
"Nee, aku janji. Sekarang?" tanya Jungkook.
"Tentu saja" kata Saerin antusias
"Arrasseo.."
Jungkook melajukan mobilnya.
Dia menghentikan mobilnya di toko bunga.
"Oppa, kenapa kau membawaku kesini?" tanya Saerin.
"Kan kita akan membeli bunga, untuk mengganti mawarmu yang aku potong tadi malam" kata Jungkook.
"Nee, tapi maksudku bukan di toko yang bunganya sudah mekar. Aku mau ke toko benih bunga. Aku ingin menanam bungaku sendiri" kata Saerin.
"Oh arrasseo" Jungkook hanya menuruti ucapan Saerin.
Ia menghentikan mobilnya di toko benih bunga. Saerin segera turun dari mobilnya, dan memasuki toko tersebut. Jungkook hanya mengikuti Saerin dari belakang. Saerin melihat-lihat sekeliling, mencari benih bunga yang baik.
Setelah memilih cukup lama, akhirnya Saerin selesai dan Jungkook segera membayar semua yang adiknya beli. Cukup banyak juga yang Saerin beli, mulai dari benih bunga mawar, matahari dan benih bunga lainnya. Dan Saerin juga membeli pot bunga serta pupuk juga. Setelah itu mereka pun pulang.
pause..
•
•
•
Noh hadiah dari mereka dan author. Semoga kalian suka.
Ya.. author si' cuman nemuin itu secara tiba-tiba, author juga kaget plus seneng lagi. 😁😁
°
__ADS_1
°
Nantikan kelanjutan kisahnya ya...💜