You'Re My Brother (BTS)

You'Re My Brother (BTS)
Eps 55


__ADS_3

Skip~ Keesokan harinya...


09.00 kst.


Hye Ra duduk kembali di kursi yang berada disamping ranjang Saerin setelah ia menyelesaikan sarapannya. Ia menggenggam erat tangan Saerin dan kembali meneteskan air mata melihat nona mudanya yang sudah ia anggap sebagai anak sendiri itu sedang berbaring di ranjang rumah sakit dengan kondisi yang sangat lemah. Sesekali Hye Ra mengecup tangan Saerin dan mengusap-usap rambutnya juga, berharap gadis itu dapat cepat siuman.


Di sisi lain, diruangan Taehyung dan Jungkook...


Hoseok dan Jimin sudah kembali dari rumah dan sekarang sudah ada di dalam ruang rawat, kini giliran mereka yang bergantian menemani kedua adik bungsunya itu. Jin, Yoongi dan Namjoon harus beristirahat dirumah.


"Hyung, biarkan kami berdua yang akan menemani mereka lagi. Dan kalian bertiga istirahatlah dirumah pasti kalian sudah sangat lelah" ucap Jimin pada ketiga namja yang lebih tua darinya.


"Nee, kami akan beristirahat dirumah. Kalian jagalah mereka berdua dengan baik, jika ada apa-apa telfon saja aku" kata Jin.


"Nee" ucap Jimin dengan mengangguk.


Setelah itu mereka bertiga pun keluar dari ruangan dan menuju ke tempat parkiran mobil. Ketika berjalan di lorong rumah sakit, tak sengaja pandangan Seokjin menoleh pada salah satu pintu ruangan yang terdapat sebuah kaca kecil. Ia memberhentikan langkahnya sejenak dan melihat kedalam pintu itu. Wajah yang sangat ia kenali dan sangat familiar sedang terbaring di ranjang rumah sakit dengan bantuan alat oksigen yang terpasang di wajahnya.


Melihat itu, Jin merasa sedikit bersalah pada apa yang ia lakukan pada seorang gadis yang tak lain adalah adik kandungnya sendiri. Ia menatap ruangan tersebut dengan sendu sambil sesekali ia merasakan sedikit rasa sesak di dadanya saat melihat gadis itu.


"Apa ini? kenapa... dadaku terasa sesak melihatnya seperti itu? aishh... Seokjin, apa yang kau pikirkan ini? jangan mengada-ada, dia adalah anak sialan yang hanya bisa menyusahkan hidupmu dan saudaramu saja. Hh, sampai kapanpun aku takkan pernah menerimanya lagi sebagai adikku. Dia bukanlah adikku lagi, dialah yang sudah mencelakai kedua adik mu Seokjin. Terserah pada apa yang akan ia lakukan nanti, aku tak peduli. Dan aku takkan pernah menganggapnya lagi " batin Jin sebelum akhirnya ia pergi menyusul Yoongi dan Namjoon di depan.


Skip~ malam...


Di ruangan Saerin...


Ia sedang diperiksa oleh dokter dan Hye Ra terus saja mengamati sang dokter karna ia khawatir tentang keadaan Saerin. Di benaknya ia selalu berharap agar Saerin cepat siuman dan kembali pulih, rasa khawatir kerap saja selalu menyelimuti batin dan pikirannya.


"Bagaimana dok?" tanya Hye Ra saat dokter itu melepas stetoskop dari telinganya.


"Kondisinya mulai membaik, detak jantungnya kembali stabil dan nafasnya pun juga berjalan dengan normal. Mungkin sebentar lagi ia akan siuman, kita hanya harus menunggunya saja" ucap dokter itu dengan tersenyum kecil, membuat Hye Ra sedikit lega dengan penjelasannya.


"Aku sangat bersyukur sekali jika Saerin tidak kenapa-napa. Sebentar lagi ia akan segera sadar " batin Hye Ra yang tersenyum sambil mengusap kepala Saerin.


"Jika dia sudah sadar cepat-cepat hubungi saya, agar saya dapat mengecek ulang keadaannya" ucap sang dokter.


"Nee, gomawo" kata Hye Ra dengan membungkuk pelan.


"Cheonmaneyo" (Sama-sama).


Setelah itu, dokter pun keluar dari ruangan Saerin. Dan betapa leganya Hye Ra sesaat setelah mendengar keadaan Saerin yang mulai membaik. Sekarang ia hanya dapat menunggu Saerin siuman saja.


"Saerin, ahjumma yakin kamu pasti akan segera sadar. Ahjumma sangat menyayangimu, cepat sembuh nee" ucap Hye Ra pada Saerin.


Skip~


Pagi hari yang cerah, matahari mulai terbit dan bersinar. Burung-burung pun ikut bersenandung di kala munculnya fajar. Embun yang berkilau di atas rerumputan dengan angin sepoi sejuk yang menerpanya. Sungguh hari yang indah untuk memulai sebuah kegiatan.


Disisi lain, perlahan Saerin membuka matanya dan melihat langit-langit ruangan yang berwarna putih. Suara dari layar monitor di sebelahnya, tangan yang tertusuk jarum infus dan satu hal lagi, yaitu seorang wanita paruh baya yang tengah tertidur lelap sambil terduduk dikursi sebelah dan menggenggam erat tangan kirinya.


Mula-mula ia menarik nafas lalu menghembuskannya hingga ia benar-benar tersadar. Jarinya mulai ia gerakkan dengan perlahan membuat Hye Ra merasakan pergerakan itu. Hye Ra terbangun dan kembali menyadarkan diri dari tidurnya. Kemudian menatap seorang gadis yang tengah menatapnya pula.


"Ahjumma..." panggil Saerin dengan pelan.


"Saerin?! kamu sudah sadar? ouh sebentar, ahjumma akan memanggil dokter dulu untuk kesini" ucap Hye Ra.


Kemudian Hye Ra berdiri dan memencet bel di samping ranjang. Setelah itu ia pun kembali duduk dan menatap Saerin.


Skip


Dokter sudah memeriksa Saerin dan memberikan beberapa penjelasan lagi kepada Hye Ra.


Skip

__ADS_1


19.00 kst.


Hye Ra menuntun Saerin untuk masuk ke dalam rumah, saat masuk dan melewati ruang tengah, ia mendapatkan tatapan tajam dari ketiga namja yang sedang duduk di sofa. Tapi Saerin berusaha untuk mengabaikan mereka dan terus tetap melangkah menuju ke kamarnya dengan dituntun oleh Hye Ra. Baru saja beberapa langkah menaiki anak tangga, ia mendengar suara dari pintu depan yang sangat familiar di telinganya.


"Kami pulang!" seru Hoseok yang sedang menuntun Taehyung masuk ke dalam.


Seketika ketiga namja yang tadinya duduk bersantai itu sekarang jadi berdiri dan menghampiri mereka yang baru saja datang.


"Kalian sudah pulang? kapan kalian sadar? kenapa tidak menghubungi ku?" tanya Jin pada Hoseok.


"Eoh, mereka berdua sudah siuman dari siang. Dan dokter bilang kondisi mereka sudah membaik jadi mereka diperbolehkan pulang. Soal aku tidak menelfonmu itu karna aku lupa hyung, aku terlalu memikirkan mereka" ucap Hoseok.


"Yasudah kalau begitu" kata Jin.


"Jin hyung" rengek Jungkook yang meminta pelukan dari Jin.


"Aigo anak ini, kau manja sekali. Kemarilah!" kata Jin yang mengulurkan tangannya. Kemudian Jungkook pun memeluk Jin dengan sangat erat.


"Hahaha, kau ini benar-benar adikku yang manja" kekeh Jin yang masih memeluk Jungkook.


Jungkook hanya tersenyum sambil memeluk sang kakak. Disisi lain, ada Saerin yang melihat keakraban mereka yang sangat harmonis. Itu membuatnya sedikit iri karna ia juga rindu memeluk satu persatu oppanya yang sangat ia sayangi. Hye Ra yang menyadarinya pun langsung membuyarkan lamunan Saerin agar ia tak sedih melihat kejadian itu.


"Saerin, kita lanjut ke atas yuk. Agar kamu bisa istirahat nee" ucap Hye Ra.


"Eoh? n-nee ahjumma" ucap Saerin.


Lalu mereka pun kembali melanjutkan langkah yang sempat terhenti. Sampai di kamarnya, Hye Ra dengan perlahan membaringkan Saerin di atas kasur lalu menyelimuti tubuh Saerin dengan selimut.


"Saerin, ahjumma akan membuatkanmu makanan dulu. Kau harus istirahat disini dengan baik. Ahjumma tinggal dulu nee, tidak akan lama kok" ucap Hye Ra.


"Nee ahjumma Shin" kata Saerin sambil tersenyum. Hye Ra pun berdiri dan keluar dari kamar Saerin.


Melihat Hye Ra sudah keluar dari kamarnya, Saerin kembali menghela nafas. Kali ini dengan rasa yang sungguh sangat kecewa. Hatinya terasa sakit melihat para oppanya yang bersenang-senang tanpa dirinya. Mereka sudah tak mempedulikan si gadis ini lagi, mereka memilih untuk tak menganggap Saerin ada meskipun ia sudah beruntung tak diusir dari rumah ini.


"Aku merindukan kalian yang dulu... kenapa kalian sejahat itu padaku... kalian hampir membunuhku.. Apa aku tak ada gunanya lagi dalam kehidupan kalian?... ahhh... Hueningkai, cepatlah kembali.. kau bilang akan menjemputku.. jadi cepat bawa aku kemana pun kau mau asal aku jauh dari mereka. Karna aku tak tahan lagi, aku sungguh tak tahan melihat sikap mereka yang memperlakukanku seperti ini. Jebal!.. aku akan menunggumu Hueningkai " batin Saerin sambil menatap langit-langit kamar.


Skip


Saerin berusaha untuk menguatkan dirinya pergi ke sekolah walaupun tubuhnya masih lemah. Ia selesai merapikan buku yang dimasukkan ke dalam tas sekolahnya, setelah itu ia pun turun kebawah. Melihat ketujuh namja yang tengah bercanda tawa meski tanpa dirinya. Ia mengurungkan niat dalam sebuah batin yang ingin melangkahkan kaki ke arah meja makan tersebut. Langkahnya kini berbelok ke arah yang sebaliknya, ia mengabaikan ketujuh namja itu dan memilih bergegas pergi ke sekolah walau perutnya masih kosong. Berjalan sendirian dengan kaki bergemetaran untuk mencapai ke halte bus.


"Sepertinya, mereka memang tak menginginkanku lagi. Mereka bahkan melupakanku. Mereka bersenang-senang tanpa aku.. Saerin, sungguh malang nasibmu " batin Saerin sambil berjalan.


Sampai di depan halte bus, ia menghentikan langkahnya sejenak untuk menunggu sebuah mobil bus yang akan mengantarnya sampai ke sekolah. Tapi tiba-tiba pandangan Saerin jadi sedikit kabur dan kepalanya pun terasa pusing.


"Ya Tuhan, ada apa ini? kenapa kepalaku sangat pusing? " batin Saerin sambil memegangi kepalanya.


Tubuhnya kini hampir jatuh ke jalan, tapi dengan cepat seseorang telah menangkapnya dan berakhirlah Saerin dalam pelukan orang tersebut.


"J..Ji-won?"


"Saerin kau kenapa? hampir saja kau jatuh ke jalan. Apa kau baik-baik saja?" tanya Ji-won dengan khawatir.


"Gwenchana Ji-won. Aku hanya pusing sedikit saja, eoh mianhae..." ucap Saerin yang melepas pelukan Ji-won.


"Nee gwenchana, apa benar kau baik-baik saja?" tanya Ji-won lagi.


"Nee, aku sudah membaik" ucap Saerin dengan tersenyum.


...


"Emh, Saerin. Aku ingin bertanya" ucap Ji-won yang memecah keheningan saat mereka berdua tak saling bicara.


"Bertanya apa?"

__ADS_1


"Kenapa kau tak masuk sekolah kemarin?"


"A... aku..." ucap Saerin gugup.


"Nee?" tanya Ji-won yang sangat penasaran.


Tak lama berselang, bus yang mereka tunggu pun segera datang. Membuat Saerin menghembuskan nafas lega karna bisa berpaling sejenak dari pertanyaan Ji-won.


"Ah Ji-won, bis nya sudah datang. Ayo kita masuk" kata Saerin yang terlebih dahulu masuk ke dalam bus. Ji-won hanya mengikutinya dari belakang.


Mereka pun duduk bersebelahan dalam bus, tapi Ji-won tak henti-hentinya terus menatap Saerin. Seakan ia masih ingin meminta sebuah jawaban dari pertanyaannya tadi pada Saerin.


"Ji-won, kenapa kau menatapku seperti itu?" gugup Saerin.


"Kau belum menjawab pertanyaan ku" ucap Ji-won tegas.


"Eoh itu, e.. a-aku hanya... hanya bolos satu hari saja" bohong Saerin.


"Oh jinjja? apa alasannya?" tanya Ji-won lagi.


"Kau tidak perlu tau alasannya, ini urusan pribadiku Ji-won" ucap Saerin.


"Eoh baiklah, mianhae"


"Gwenchana"


Skip


Mereka berdua pun sampai di sekolah dan bersama-sama pergi ke kelas mereka.


.


.


Skip


Bel pulang sekolah sudah berbunyi. Untung saja Saerin dapat makan siang yang banyak karna perutnya yang memang menginginkan untuk diisi dengan penuh.


Sampai dirumah...


Saerin sudah biasa menyapa seseorang yang ada didalam setelah ia masuk kerumah. Entah kenapa, ia sangat senang pulang sekolah ini. Mungkin karna tadi ia habis ditraktir oleh sahabatnya hingga Saerin dapat mengisi perut sampai penuh. Sebuah senyuman tengah terlukis indah dalam wajahnya setelah ia melewati ruang tengah. Tanpa disangka, sebuah tangan besar mencekal penuh lengannya yang jauh lebih kecil. Saerin membalikkan badan dan menatap seorang namja yang berdiri di hadapannya dengan tatapan tajam.


"Jungkook oppa"


.


.


.


Plak!!


Saerin tersungkur ke lantai dan memegangi pipinya yang merah berbekas akibat sebuah tamparan keras yang ia dapatkan.


"Akkhh..." pekiknya pelan.


"Aku sudah muak melihat wajahmu!! sekarang cepat beresi barang-barang mu dan pergi jauh-jauh dari rumah ini!!!" bentak Jungkook yang masih kokoh berdiri.


"M-mwo?? tapi oppa, jika kau mengusirku aku akan tinggal dimana?" ucap Saerin.


"Aku tak peduli dan aku tak mau tau!! cepat beresi barang-barang mu dan pergi dari sini! sekarang!!!" bentaknya sekali lagi.


"Wae?? hiks... kenapa kau jahat sekali oppa?... apa salahku? kenapa kau tega mengusirku?" ucap Saerin yang menatap Jungkook dengan sendu.

__ADS_1


"Aarrgghh.. kau sudah sangat menyusahkan bagiku!! Aku kehilangan semuanya hanya karna untuk melindungimu dari orang-orang jahat!!! Kau tau? kami ini sudah bangkrut! Perusahaan kami di Busan sudah dijual, rumah kami yang ada di Busan juga sudah kami jual karna perusahaan kami sudah bangkrut!! Karna apa?? itu sudah jelas karna kau!! anak sialan! heh, betapa bodohnya kami yang hanya mempertaruhkan hidup kami untuk melindungi anak sialan seperti mu ini!!" tekan Jungkook seraya menunjuk-nunjuk Saerin.


"Mwo??"


__ADS_2