
Masih dengan keadaan yang sama. Sari, Rey dan Tante Luna masih tertawa. Tiba-tiba ponsel Sari berbunyi. Sari segera mengambil ponsel di saku celananya lalu mengangkat telepon.
"Halo"
"Datanglah ke sungai Han besok jam empat sore. Jika tidak aku akan membunuh mereka" kata orang dari telepon lalu mematikan sambungan.
"Hei jangan kau.. "
Tuutt.. tuutt..
Seketika wajah Sari kembali lemas.
"Dari siapa Sar?" tanya Tante Luna setelah melihat wajah Sari melemas.
"Dari orang yang nelpon Sari semalem. Dia nyuruh Sari untuk bertemu di sana jam empat sore. Kalau enggak dia bakalan ngancem Sari. Orang itu akan membunuh oppa jika Sari nggak datang. Gimana nih Tante"
"Sudahlah Sari kamu tenang saja, nanti malam Tante akan mengurus semua keberangkatan kamu untuk besok. Kamu yang sabar aja ya. Tante yakin kamu bisa kuat jalaninnya. Doa Tante akan selalu menyertaimu Sari"
"Makasih Tante".
Skip
Malamnya Sari segera memberesi barang-barangnya. Dan Tante Luna yang menyiapkan semua keberangkatan Sari ke Korea.
Setelah semuanya selesai mereka langsung tidur.
Skip
Pagi pukul 04.45. Sari pergi menuju bandara yang diantar oleh Om Roy, Tante Luna dan Rey.
Sampai di depan bandara setelah turun dari mobil.
"Tante Luna, Om Roy. Sari pergi dulu ya" kata Sari sambil berjalan menghampiri Tante Luna dan memeluknya.
"Iya. Hati-hati di jalan ya Sari. Janji sama Tante kalau kamu nggak akan terluka. Tante sayang sama kamu" kata Tante Luna dengan membalas pelukannya dan mengelus kepala Sari.
"Sama mereka berdua aja nih, Rey enggak dianggep" kata Rey dengan menatap Sari yang memeluk Tante Luna.
Sari langsung melepaskan pelukannya dan menghampiri Rey.
"Iya kak Sari pamit pergi dulu ya" kata Sari dihadapan Rey. Tanpa di beri aba-aba Rey langsung memeluk Sari sekilas dan melepaskannya.
"Hati-hati di jalan kak Sari. Sering-sering ya ngabarin Rey"
"Iya!" seru Sari dengan tersenyum sambil mengacak-acak rambut Rey.
"Yah kak Sari emang Rey kucing yang bulu nya minta di elus-elus apa. Rambut Rey jadi berantakan nih butuh di salon buat ngebetulinnya lagi tau" kata Rey memperbaiki rambutnya.
"Ih lebay banget. Rambut nggak pernah di keramas juga pake butuh di salon segala"
"Ih yaudah suka-suka Rey dong"
"Hem. Yaudah Sari pergi dulu. Dah Om, Tante" sambil melambaikan tangan kepada Tante Luna dan Om Roy yang berada dibelakangnya. Kemudian menatap Rey lagi. "Rey jangan kangen ya" bisiknya dengan tersenyum.
"Nggak akan. Yaudah sana pergi, pergi jauh-jauh" kata Rey dengan ketus.
"Jadi ngusir si'. Nggak ada akhlak nya ya kamu"
"Yaudah sana bentar lagi pesawatnya terbang nanti ketinggalan baru tau rasa"
"Iyaiya yaudah pergi dulu dah.. " kata Sari mengacak rambut Rey sekali lagi dan pergi.
"Yah udah Rey bilang ini butuh perawatan di salon!" teriak Rey saat Sari melangkah pergi.
"BODO AMAT" teriak Sari lagi sambil berjalan masuk bandara.
Skip
Sari sudah masuk kedalam pesawat dan pesawatnya langsung lepas landas.
Skip
__ADS_1
Sampai di bandara Korea. Sari langsung mencari taksi. Dan pergi ke alamat yang sudah di beritahu oleh Tante Luna.
Skip
Turun dari taksi, Sari terkejut bahwa alamat yang diberikan Tantenya bukanlah alamat apartemen melainkan itu alamat rumah.
"Kok kesini sih katanya apartemen kok rumah" tanpa pikir panjang, Sari langsung menelpon Tante Luna.
Tuutt.. tuutt..
"Halo Tante kenapa alamatnya rumah bukannya tadi bilang apartemen"
"Oh itu Tante lupa mau bilang ke kamu. Tante nggak jadi nyewa apartnya. Tante pikir kamu sekalian aja tinggal di rumah jadi Tante beliin rumah. Bagus nggak? "
Sari melihat-lihat di depan rumahnya sepertinya memang bagus.
"Iya Tante bagus kok. Makasih ya Tante"
"Iya sama-sama Sari. Gimana tadi perjalanannya baik-baik aja kan? "
"Iya Tante, Sari baik-baik aja. Yaudah Sari masuk dulu ya Tante, Sari capek dan mau liat-liat juga di dalemnya. Sari tutup ya Tante"
"Iya jaga kesehatan ya disana"
"Iya Tante"
Tuutt.. tuutt..
Sari langsung masuk ke dalam rumah.
Melihat-lihat dengan kagum.
"Wah bagus juga!" serunya.
Dan Sari pergi ke kamarnya.
Kemudian ia mulai memberesi baju-bajunya. Ia juga membersihkan diri.
Skip
Waktu telah menunjukkan pukul 03.40 sore. Sari telah bersiap-siap pergi ke tempat dimana orang itu menyuruhnya.
Sari segera pergi dan mencari taksi menuju sungai Han.
skip
Sampai di pinggir sungai Han Sari turun dari taksi dan menuju ke tempat. Sari tidak bisa melihat ada siapa-siapa yang menunggunya. Banyak orang di sana, Sari tidak bisa melihat dengan jelas ada yang menunggunya. Sari berjalan memecah jalan di dalam kerumunan banyak orang. Sari pergi untuk melihat kawasan di sungai Han dengan lebih jelas tidak ada yang mencurigakan di sekitarnya. Sari melirik jam tangannya pukul 04.00 sore. Sari melihat sekelilingnya lagi dan memantau keadaan. Sari kebingungan tidak banyak yang ia bisa lakukan kecuali menunggu seseorang yang meneleponnya. Sari masih berdiri di tempat dan sesekali ia melirik jam tangannya lagi masih belum ada apa-apa. Sari melihat lagi dan menemukan kursi kosong untuk ia tempati dan berjalan menghampirinya. Sari duduk sejenak untuk mengatasi rasa lelahnya dan masih melihat ke sekelilingnya.
Waktu berlalu begitu cepat tak terasa sudah hampir malam dan keadaan di sekitar sungai juga terlihat agak sepi. Sari mulai sedikit putus asa dia tidak tahu apa yang harus dilakukan tapi karna demi oppa nya ia akan melakukannya.
Dan hari sudah malam jam berlalu menunjuk pukul 07.00 malam. Sari masih berada di tempatnya dan tidak ada niatan sedikitpun untuk beranjak meninggalkan kursi yang ia duduki. Sari sudah merasa khawatir dari tadi, tapi ia tetap tenang menunggu.
Sampai akhirnya Sari memutuskan untuk beranjak dari kursi dan berjalan disekitar sungai. Ia melangkah berbarengan dengan air sungai yang berjalan searah dengan langkahan kaki Sari sampai ia menyadari bahwa aliran air sungai seperti mengikutinya berjalan. Sari berjalan dengan kepala yang sedikit menunduk melihat arah kakinya. Karna tidak memandang ke depan alhasil ia bertabrakan dengan seseorang. Sari terjatuh dan tak sengaja ponsel yang ia genggam terlempar ke bawah orang yang Sari tabrak.
"Aduh.." keluh Sari. Ia melihat kearah orang yang ditabraknya. Seorang lelaki muda yang tampan membungkuk dan mengambil ponsel milik Sari yang terlempar di bawah kakinya dan menyerahkan ponsel itu kepada Sari.
"Ini nona ponselmu". Dan Sari langsung mengambilnya dari tangan pria itu.
"Lain kali berhati-hatilah dan jangan menunduk bila berjalan. Mungkin bukan hanya aku yang akan kau tabrak melainkan lampu jalanan"
"Nee. Mianhae" (Iya. Aku minta maaf) kata Sari lirih.
"Apakah sakit?" pria itu bertanya dan menatap Sari.
Sari hanya menggeleng pelan. Pria itu mengulurkan tangannya untuk membantu Sari berdiri dan dibalas uluran dari tangan Sari.
__ADS_1
"Khamsambnida" (Terima kasih)
kata Sari dengan membungkukkan badannya.
"Gwenchana" (Tidak apa-apa).
"Siapa namamu?" tanyanya menatap Sari lagi.
Sari diam dan mengingat kembali nama aslinya.
"Saerin. Kim Saerin" katanya kemudian.
"Choi Yoenjun" kata pria itu dengan tersenyum dan menjabat tangan Sari.
Maksudnya Saerin.
Dan itu disambut ramah dengan menjabat kembali tangan pria itu.
"Kenapa kamu berada di sini. Malam hari tidaklah cocok untuk wanita seperti dirimu. Benarkan? Kalau boleh aku tahu berapa usiamu? kau lebih terlihat seperti seorang gadis"
"Usiaku.. 14 tahun"
"Benarkah! hm benar dugaanku kau masih seorang gadis rupanya" tak lama ponselnya berdering.
Drrtt... drrtt..
Yoenjun langsung mengambil ponselnya.
"Tunggu sebentar ya" katanya kepada Saerin. Ia berbalik membelakangi Saerin.
"Yeoboseyo" (halo)
"..."
"Nee"
"..."
"Nee saya akan kesana" lalu ia mematikan teleponnya dan berbalik badan lagi menghadap Saerin.
"Saerin maafkan aku tapi aku harus pergi"
"Nee"
"Aku pergi dulu. Semoga kita bisa bertemu kembali" katanya lalu pergi melewati Saerin. Saerin menatap mengikuti tubuh Yeonjun yang pergi berlalu.
Tak lama setelah melewati Saerin, Yeonjun berhenti dan menoleh menatap Saerin. Ketika mata mereka saling bertemu, Yeonjun tersenyum lalu pergi.
Dan Saerin ikut tersenyum dan masih memandang punggung Yeonjun yang mulai menjauh dan tak terlihat lagi.
Author end POV
Saerin POV
Aku melamun menatap punggung lelaki itu sampai akhirnya ia menghilang. Lalu akupun tersadar.
"Ck.. kenapa aku ini. Melihat lelaki tampan saja sudah seperti ini. Hmm.. sepertinya ia orang yang baik" gumam ku.
Lalu entah kenapa dan darimana ada orang yang membekap mulutku dengan sebuah kain. Dan tak lama semuanya menjadi gelap dan aku tidak tahu lagi.
Saerin end POV
Author
Penasaran siapa yang menculik Saerin (Sari) ini. Tungguin di next episode nya ya.
***Pasti kangen kan sama mereka? nanti ya tungguin di next episode.
__ADS_1
Buat kalian para readers yang udah selalu setia nungguin kelanjutan cerita ini, author mengucapkan terima kasih banyak karna udah setia sama ceritanya author. Dan buat yang lain author cuma mau bilang, tolong dukung author ya dengan komen dibawah ini supaya bisa author tahu gimana pendapat kalian tentang cerita di novel ini. Dan jangan lupa di like dan vote juga ya*.
Author sayang kalian para readers 💜**