You'Re My Brother (BTS)

You'Re My Brother (BTS)
Eps 41


__ADS_3

Masih di detik yang sama,


Ji-won perlahan mendekati Saerin dengan tatapan tajamnya yang dingin.


"J-jiwon, k-kau ingin apa?" ucap Saerin dengan gemetaran. Ji-won hanya menatap sinis sembari menyeringai seram pada Saerin.


"J..Ji-won"


Ji-won langsung menyambar tangan Saerin dan menariknya ke belakang kelas lalu memojokkannya di dinding. Tak sengaja, kepala Saerin ikut terbentur di tembok tersebut. Membuat kepalanya pusing dan penglihatannya juga sedikit buram. Saerin memegangi kepalanya dan meringis kesakitan.


"Untung saja, disini tidak ada orang. Jadi kau adalah milikku sekarang" ucap Ji-won dengan tawa sinisnya. Saerin hanya menatap Ji-won dengan masih meringis memegangi kepalanya yang barusan terbentur akibat kelakuan Ji-won.


Di luar kelas, Junho yang sedang berjalan santai dengan melewati kelas Saerin, ikut kaget karna melihat seorang siswa sedang memojokkan seorang siswi di dalam kelas. Keadaan pintu yang menutup karna dijaga oleh dua teman Ji-won di dalam, membuat Junho kesusahan untuk masuk. Tapi dengan sekuat tenaga Junho mendobrak pintu tersebut. Membuat Taejin dan Won-joon kaget, mereka berdua tak pernah menyangka Junho akan datang. Dengan cepat mereka berdua menyerang Junho. Hanya satu bogeman dari tangan Junho saja bisa membuat dua anak itu jatuh ke lantai.


Junho bergegas pergi ke belakang kelas, melihat Saerin yang tengah dipojokkan oleh Ji-won. Ternyata pertarungan Junho itu tak membuat Ji-won bergeming, ia masih tetap menahan Saerin.


Junho menarik tangan Saerin dan membawanya kedalam pelukannya yang menjauh dari Ji-won.


"Yak, Ji-won. Apa yang kau lakukan pada Saerin eoh?!?!" kesal Junho dengan menaikkan nada bicaranya pada Ji-won.


"Heh, kenapa lagi-lagi kau yang merusak rencanaku hah?! apa kau masih belum puas aku kalahkan?" sinis Ji-won.


"Seharusnya kaulah yang belum merasa puas kalau sudah berkali-kali menyakiti Saerin!! kali ini aku takkan biarkan Saerin disakiti lagi oleh dirimu. Apa kau juga belum puas telah membuat Saerin terluka karna perbuatanmu beberapa hari yang lalu itu hah?!?!" kesal Junho yang semakin bertambah emosi.


"Heh, aku tak akan pernah puas kalau aku belum mendapatkannya. Menyerahlah saja denganku Junho, kau tak akan pernah menang dariku" kata Ji-won dengan menyeringai menatap Junho.


"Aku tidak akan pernah menyerah pada anak nakal seperti dirimu!! aku akan tetap melawanmu jika kau mengganggu Saerin!! apalagi dengan menyakitinya!! aku tidak akan pernah membiarkan Saerin terluka ditanganmu, aku akan tetap menjaga Saerin walaupun aku berulangkali kalah bertarung melawan dirimu!! AKU TAKKAN BIARKAN KAU MELUKAINYA" ucap Junho yang sudah sangat kesal dan masih memeluk tubuh Saerin yang lemas.


"Jangan jadi sok pahlawan kau. Dirimu saja masih belum bisa menandingiku mana bisa kau menjaganya"


"AKU TAK PEDULI. Yang penting aku akan selalu melindunginya dari dirimu disaat kau mengganggunya" kata Junho.


"Percuma saja-"


"AKU TAKKAN PERNAH MENYERAH"


"Heh terserah kau saja" kata Ji-won yang menyeringai pada Junho sebelum ia pergi. Ji-won dan kedua rekannya pergi keluar dari kelas menyisakan kedua siswa lagi yang masih berada di dalam.


Saat menyadari Ji-won sudah pergi, Junho terkejut ketika menyadari Saerin tengah pingsan di dalam pelukannya.


"Saerin, Saerin. Kau kenapa? Saerin" ucap Junho yang panik dengan menepuk pelan pipi Saerin untuk menyadarkannya.


"Aku harus bawa dia ke UKS" gumam Junho. Ia pun menggendong Saerin keluar menuju ruang UKS.


Di ruang UKS,


Saerin sedang di periksa oleh salah satu perawat UKS. Junho tak henti-hentinya menggenggam tangan Saerin dengan raut wajah yang masih cemas.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Junho pada si perawat.


"Dia pingsan karna merasa pusing. Saya lihat tadi di belakang kepalanya masih ada bekas jahitan. Apa dia pernah mengalami kecelakaan?"


"Nee, itu terjadi beberapa hari yang lalu. Seseorang melempar batu ke kepalanya, jadi ia harus dioperasi di rumah sakit" jelas Junho.


"Oh begitu, keadaan kepalanya masih sedikit lemah. Jika kepalanya terbentur dua kali lagi, ia bisa jadi mengalami amnesia. Jadi jangan sampai kepalanya terbentur keras lagi. Itu tadi hanyalah benturan kecil saja, dan itu tidak masalah baginya. Ia akan segera sadar setelah ini"


"Gomawo"


"Nee, saya keluar dulu"


"Nee".

__ADS_1


Si perawat itupun keluar dari ruang UKS, memberi waktu berdua pada Junho dan Saerin. Junho masih setia menggenggam tangan Saerin. Ia sangat khawatir melihatnya seperti ini.


"Saerin, mianhae. Aku belum bisa membalas semua kejahatan Ji-won padamu. Dia benar-benar anak yang kasar, dia pasti akan terus mengganggumu lagi. Tapi aku takkan biarkan dia terus mengganggu dirimu, aku akan melindungimu darinya. Suatu saat nanti, aku akan membalasnya" ucap Junho.


"Engghh.."


"Saerin. Kau sudah sadar?" tanya Junho yang melihat Saerin membuka matanya.


"Dimana aku?" tanya Saerin dengan memegangi kepalanya.


"Kau ada di ruang UKS"


"Ash kenapa aku disini?" kata Saerin sambil berusaha bangun dari pembaringannya. Tapi aktivitas nya itu berhasil dicegat oleh Junho.


"Ya.. Saerin-ah, kau harus berbaring dulu"


"Ashh, aku tak apa-apa Junho-ssi. Lagipula sebentar lagi kan bel masuk, jadi aku harus kembali ke kelas" kata Saerin.


"Tapi bagaimana jika Ji-won datang lagi dan melakukan hal yang seperti itu lagi padamu"


"Aku tak apa. Sudahlah, kajja!" ucap Saerin dengan menuruni ranjang UKS.


Skip


Di dalam kelas, Saerin sudah duduk kembali di bangkunya yang tadi sempat diantar oleh Junho ke kelas.


5 menit kemudian, bel masuk berbunyi. Jiyeon juga masuk kembali ke kelas. Tapi sikapnya masihlah sama seperti tadi pagi. Membuat Saerin semakin cemas pada teman sebangkunya itu.


Skip pulang


Saerin sedang menunggu Hueningkai menjemputnya. Ia berdiri di samping gerbang sekolah. Tapi seketika tangannya dicekal oleh seseorang. Saerin mengira bahwa itu adalah Ji-won yang selalu mengganggunya tanpa melihat dulu siapa orang yang benar-benar mencekal lengannya.


"Ck, yak Ji-won, aku tau itu pasti kau. Mau apa lagi kau hah?!" ucap Saerin sebelum ia menoleh pada orang itu.


Saerin menatap heran pada orang tersebut. Tapi kebingungannya menghilang ketika orang itu menampakkan wajahnya dihadapan Saerin. Ia menatap Saerin dengan senyum sinisnya yang berhasil mendapatkan Saerin kembali.


"K.. k.. kau.."


.


.


.


"Y.. Yeonjun" kejut Saerin menyebut namanya.


Yeonjun hanya menyeringai pada Saerin dengan cekalannya yang masih melekat di tangan Saerin.


"L-lepaskan aku!!" berontak Saerin.


"Akhirnya aku mendapatkanmu lagi, gadis cilik" ucap Yeonjun dengan tersenyum miring.


"Tolong lepaskan aku, aku tak mau bersamamu lagi!! TOLONG!! TOLONG!! jebal, hiks.. hiks.."


"Ikut denganku!" tekan Yeonjun dengan menarik tangan Saerin.


"ANI, AKU TAK MAU. LEPASKAN AKU!" teriak Saerin berusaha menahan dirinya untuk tidak ditarik oleh Yeonjun.


"IKUT!" gertak Yeonjun.


"ANII!!"

__ADS_1


Saerin berusaha keras untuk melepaskan diri.


Di kejauhan terlihatlah mobil Hueningkai yang masih melaju mendekati sekolah Saerin. Saat mobilnya sudah tepat di depan gerbang dan ia segera turun. Seketika Hueningkai kebingungan karna tak melihat Saerin berdiri di tempatnya berpijak.


"Kemana Saerin? ini sudah jam 3 sore. Tapi kenapa dia tak berada disini? apa dia masih ada didalam?" ucap Hueningkai yang kebingungan. Matanya mencari-cari sosok gadis di sekelilingnya. Seketika pandangannya mulai menemukan sosok yang ia cari. Ia segera berlari ke seberang jalan dan mengejar dua orang yang sedang berdebat, yaitu salah satu gadis remaja dipaksa oleh seorang pria muda yang menyeretnya.


"Yak, apa yang kau lakukan?!" kata Hueningkai yang menahan tangan Saerin dari cekalan Yeonjun.


"Kau tak perlu ikut campur masalahku" kata Yeonjun dengan tatapan sinisnya pada Hueningkai.


"Yak, dia adalah adikku, kau siapa yang sembarangan menyeretnya hah?!"


"Hueningkai.." lirih Saerin.


"Lepaskan dia!" kata Hueningkai sambil menepis tangan Yeonjun. "Jangan pernah kau mengganggu adikku lagi. Atau kau akan tau akibatnya" sambung Hueningkai yang membawa Saerin ke belakangnya.


"Ck, memangnya kau bisa apa hah?!" ucap Yeonjun.


"Aku akan melakukan apapun untuk melindunginya, terutama dari orang jahat seperti dirimu" ucap Kai.


"Kembalikan anak itu!" kata Yeonjun sambil meraih tangan Saerin kembali, tapi tangannya ditepis kasar oleh Hueningkai.


"Dasar kau!". Yeonjun melayangkan satu kepalannya pada Hueningkai, dan berhasil ditangkis oleh sang lawan.


Hueningkai tak ingin tinggal diam, ia juga balas menyerang Yeonjun. Mereka saling berbalas pukulan. Lalu pertarungan berakhir dengan kekalahan di pihak Yeonjun. Ia sudah mendapat luka lebam di pipinya karna pukulan Hueningkai yang cukup keras.


Karna sudah merasa kalah, Yeonjun akhirnya pergi meninggalkan mereka.


"Awas saja nanti, tunggu pembalasanku. Dan aku akan kembali untuk mendapatkannya lagi" gumam Yeonjun sebelum ia berlari pergi.


"Aish.. kau tak apa-apa Saerin? apa kau baik-baik saja?" tanya Kai yang membalikkan badannya menatap Saerin yang ada di belakang.


Saerin diam saja, tak menjawab atau merespon. Ia masih syok ketika Yeonjun menyeretnya.


"Hiks.. hiks.."


Tiba-tiba Saerin menangis terisak, membuat Hueningkai panik dan cemas.


"Aigo, Saerin kau kenapa? apa kau terluka? katakan padaku.. Bilang padaku Saerin, kau terluka? dia melukaimu?" tanya Kai dengan memegang pundak Saerin.


"Hiks.. hiks.. aniya... Aku baik-baik saja, hiks.. hanya saja, aku takut tadi" ucap Saerin disela isak tangisnya.


"Gwenchana, aku ada disini. Dan dia sudah pergi, jadi kau jangan takut lagi. Karna sudah ada aku yang melindungimu. Kajja, kita pulang. Kau pasti lelah" kata Kai.


"Hiks.. nee"


Skip pulang


"Kami pulang!" seru Kai saat mereka berdua masuk.


"Ke kamarmu sana, mandi lalu ganti pakaianmu" pinta Kai pada Saerin.


"Nee, aku ke atas dulu"


"Nee".


Saerin pergi ke kamarnya dan Hueningkai pun duduk di sofa menunggu Saerin.


Skip ~malam


Saerin, Hueningkai dan juga Hye Ra atau ahjumma Shin. Mereka bertiga sedang makan malam bersama.

__ADS_1


Selesai menghabiskan makanannya, Hueningkai mengajak Saerin bermain game untuk menghiburnya karna ia masih sedikit truma dengan kejadian tadi sore itu. Dengan bercanda tawa, sedikit demi sedikit Saerin kembali ke kondisinya yang normal karna Hueningkai berhasil membuatnya bahagia kembali.


...


__ADS_2