You'Re My Brother (BTS)

You'Re My Brother (BTS)
Eps 67


__ADS_3

Saerin mulai berhenti menangis, ia lalu melepaskan pelukannya dari Hueningkai dan menatap namja itu. Tangan Hueningkai bergerak dan menghapus jejak-jejak air mata dari pipi Saerin. Lalu mengusap puncak kepalanya dan mengecup kening Saerin.


"Jangan menangis lagi, aku yakin kita berdua bisa melewati semua ini. Kau jangan takut, karna ada aku disini yang bersiap melindungimu. Dan.. tidak akan ada hal apapun yang terjadi padamu selagi aku masih di sisimu" ucap Hueningkai yang tersenyum pada Saerin.


"Hemm.. gomawo Kai, aku bersyukur masih mempunyai dirimu. Aku yakin kau dapat diandalkan" kata Saerin yang mulai tersenyum.


"Nee, aku berjanji" Mereka berdua sama-sama tersenyum.


"Yasudah, hari sudah malam. Sebaiknya kau membersihkan dirimu dulu, nanti aku akan membuatkan makanan untuk kita" kata Hueningkai.


"Nee"


Saerin mengangguk pelan dan berusaha untuk bangun dari tempat tidur lalu pergi ke kamar mandi. Hueningkai pun mulai beranjak dari kasur lalu keluar kamar dan pergi ke dapur.


20 menit kemudian...


Saerin turun dari kamarnya dan langsung pergi ke dapur. Disana Hueningkai baru selesai menata piring makanan diatas meja makan. Saerin menghampirinya dan menarik satu kursi untuk ia duduki. Mereka berdua pun memakan makanannya dengan santai.


Malam ini hujan masih turun dengan deras, bahkan suara gemuruh dan kilat petir pun turut hadir, tak ingin membiarkan hujan sendirian.


Setelah selesai makan dan memberesi piring-piring kotor, Saerin dan Hueningkai memasuki kamarnya masing-masing. Saerin baru keluar dari kamar mandi setelah ia selesai menyikat giginya, ia naik ke atas kasur dan menyelimuti tubuhnya lalu perlahan memejamkan mata. Tapi tiba-tiba, ia dikejutkan oleh suara gemuruh petir yang sangat terdengar jelas hingga menusuk telinganya. Saerin ketakutan dan bersembunyi dibalik selimut. Tubuhnya mulai gemetaran, wajahnya semakin pucat. Suara itu benar-benar membuat jantung Saerin berdebar kencang. Rintikan hujan masih terdengar keras.


Lama-kelamaan suara gemuruh itu mulai tak terdengar lagi dan hujan pun sedikit demi sedikit mereda. Saerin membuka selimutnya lalu bangun dan terduduk diatas kasur. Ia mulai menenangkan dirinya dengan menghela nafas dan menghembuskannya perlahan. Ia pun mulai tenang, tapi saerin belum bisa tidur kembali. Ia menoleh ke arah jendela lalu turun dari tempat tidur dan mendekatinya. Saerin membuka hordeng dan menatap tetesan air hujan yang terlihat diluar sana.


Tiba-tiba hujan kembali turun dengan deras yang suaranya terdengar sangat bising, dan tak lama kemudian kilat cahaya terlihat di jendela disusul dengan suara gemuruhnya dan..


tep


Semua lampu mati, Saerin sangat kaget terlebih lagi lampu didalam kamarnya pun mati seketika. Saerin menjerit keras lalu jatuh terduduk dilantai dan meringkukkan badannya. Ia sungguh sangat ketakutan. Ia berteriak-teriak dan memanggil nama Hueningkai. Lalu tak lama suara pintu terbuka dan seseorang masuk dengan berlari ke tempat Saerin.


Karna kamar Hueningkai dan Saerin bersebelahan, jadi dia bisa mendengar teriakan Saerin. Hueningkai datang dan langsung memeluk Saerin yang tubuhnya bergetaran. Karna Saerin sangat-sangat takut, saat ada tangan yang menyentuhnya Saerin langsung menepis kasar tangan tersebut sambil berteriak histeris. Ia tak menyadari jika itu adalah tangan Hueningkai yang mencoba meraihnya.


"MENJAUH DARIKU!! JANGAN DEKATI AKU!!" teriak Saerin yang menepis bahkan menjauhkan tangan itu yang berusaha menyentuhnya.


"Saerin... Saerin tenanglah, ini aku.. Hueningkai.." ucap Hueningkai yang berusaha menenangkan Saerin.


Tapi suaranya tak terdengar jelas oleh Saerin karna tersamarkan oleh suara hujan yang deras dan gemuruh petir yang menyambar. Saerin benar-benar ketakutan, ia masih berteriak histeris. Ia juga tak membiarkan Hueningkai untuk memeluknya karna ia tidak tau jika itu adalah Hueningkai. Lampu yang padam dikamarnya membuat Saerin tak bisa melihat apa-apa bahkan wajah Hueningkai sekalipun, Saerin menutup matanya kasar dan menutupi telinganya dengan kedua telapak tangan.


"PERGI!! JANGAN MENDEKAT!!!"


Saerin berteriak dan mulai menangis, itu membuat Hueningkai jadi bingung. Ia tak tau harus bagaimana membuat Saerin tenang. Hueningkai pun mengambil ponselnya dan menyalakan senter untuk menerangi penglihatannya. Ia kembali mengguncang tubuh Saerin dan menarik-narik tangan gadis itu.


"Saerin... Saerin, buka matamu. Ini aku Hueningkai, bukalah matamu Saerin. Lihat aku" ucap Hueningkai sambil mengguncang tubuh Saerin dan menerangi tempatnya.


Saerin mulai membuka mata, ia mendongak ke atas dan melihat Hueningkai. Segera Saerin memeluk erat Hueningkai sambil masih menangis ketakutan. Hueningkai membalas pelukan Saerin dan mengusap-usap punggungnya berupaya menenangkan hati gadis itu. Ia membawanya berdiri tanpa melepas pelukannya dan menuntun Saerin ke tempat tidur. Hueningkai mengelus kembali punggung Saerin sambil memegang ponselnya untuk menerangi tubuh mereka.


"Kai... hiks... hiks... Aku benar-benar takut... hiks..." tangis Saerin dalam pelukan Hueningkai.


"Tak apa-apa Saerin, aku sudah ada disini. Jangan takut lagi ne? Sebaiknya kau tidur saja, agar kau tak takut lagi"


"Tapi aku masih takut... Bisakah kau menemaniku? Ayo tidur bersamaku, aku takut jika tidur sendirian" rengek Saerin.


"Huft.. baiklah, aku akan tidur disini bersamamu. Aku akan menemanimu sampai kau tertidur, oke?"


"Hemm" ucap Saerin sambil mengangguk.


"Baiklah, aku akan menyalakan lilin. Pegang ponselku untuk menerangimu, dan aku akan mencari lilinnya dulu. Setelah itu aku akan bergabung bersamamu" ucap Hueningkai yang melepaskan pelukan Saerin dan memberikan ponselnya pada Saerin.

__ADS_1


Hueningkai berdiri dan berjalan menuju laci meja, ia mengambil sebuah lilin dan menyalakannya di dekat tempat tidur. Saerin mulai membaringkan badannya, lalu disusul dengan Hueningkai yang naik ke kasur bersama Saerin.


"Sudah, sekarang mari kita tidur" kata Hueningkai sambil menarik selimutnya dan menyelimuti tubuh mereka berdua.


"Bolehkah aku memelukmu lagi?" tanya Saerin sebelum ia akan memejamkan matanya.


"Tentu, tapi tunggu sebentar" Hueningkai mengambil sebuah bantal guling lalu meletakkannya ditengah-tengah Saerin dan dirinya.


"Sudah, kau bisa memelukku"


"Tapi guling ini akan menghalangiku. Aku jadi tidak bisa memelukmu sepenuhnya" ucap Saerin dengan polos.


"Tidak apa-apa, ini supaya kita berjaga-jaga. Bagaimanapun juga kita ini bukan saudara kandung dan kita pun tak sedarah. Jadi aku melakukan ini hanya untuk menjagamu"


"Tapi bagaimana bisa aku memelukmu jika guling ini berada di depanku?"


"Sudahlah, meskipun guling ini menghalangi jarak kita tapi kita masih bisa terikat. Sudah peluk saja aku dan pejamkan matamu, biarkan saja guling itu. Dan cepat tidurlah" ucap Hueningkai yang lebih dulu mendekap Saerin dan memejamkan matanya.


"Huft.. yasudahlah" ucap Saerin pasrah membiarkan guling itu menghalanginya untuk berpelukan dengan Hueningkai. Ia pun mulai mengaitkan tangannya ke pinggang Hueningkai dan memejamkan matanya.


Skip


Pagi..


Mobil Hueningkai telah sampai di depan pintu gerbang sekolah Saerin. Tanpa basa-basi Saerin langsung membuka pintu mobil dan turun tanpa mengatakan sesuatu pada Hueningkai.


"Saerin tunggu dulu" kata Hueningkai yang ikut turun dari mobilnya. Ia lalu menghampiri Saerin yang terlihat sedang sedih.


"Ada apa Kai?" tanya Saerin yang menatap Hueningkai.


"Aku tidak apa-apa Kai" jawab Saerin.


"Apa kau sakit? Kalau begitu kau jangan bersekolah dulu jika kau merasa tak enak badan"


"Aku tidak apa-apa Kai" jawab Saerin dengan kata yang sama.


"Jangan membuatku cemas Saerin" ucap Hueningkai yang mulai mengerutkan keningnya.


"Sudahlah Kai, aku ingin masuk kelas. Sebentar lagi bel akan berbunyi. Dan kau juga harus cepat berangkat ke kampus mu bukan? Sudah, jangan khawatirkan aku. Aku akan baik-baik saja" ucap Saerin dengan tersenyum kecil pada Hueningkai agar namja itu mempercayainya.


"Tapi kau benar tidak apa-apa bukan?" tanya Hueningkai dengan sedikit ragu.


"Nee, gwenchana. Ohya, nanti kau tidak usah. menjemputku nee"


"Kenapa?"


"Emm... Aku ada janji dengan temanku, dia ingin aku menemaninya pulang bersama menaiki bis"


"Oh arrasseo, yasudah aku pergi dulu. Jaga dirimu baik-baik"


Saerin hanya tersenyum tipis dan mengangguk pelan pada Hueningkai. Lalu Hueningkai pun masuk kembali ke mobilnya dan segera melaju pergi. Saerin juga mulai melangkah masuk setelah mobil Hueningkai menjauh.


Skip di kelas...


Dari bel masuk, Saerin tidak bisa berkonsentrasi pada pelajarannya. Ia terus saja melamun hingga Jiyeon yang ada disebelahnya pun ikut bingung. Jiyeon berusaha untuk tak ingin mengobrol dengan Saerin dulu, karna ia tau jika kelasnya sedang dalam masa pembelajaran. Ia juga tak ingin dimarahi oleh guru karna terbukti mengobrol didalam kelas. Tapi Jiyeon selalu melirik Saerin sesekali hanya untuk memastikan jika temannya itu baik-baik saja.


Meskipun Jiyeon sudah berkali-kali bertanya pada Saerin tentang keadaannya, Saerin tetap saja menjawab bahwa ia tidak apa-apa. Itu membuat Jiyeon curiga dengan sikap Saerin yang semakin lama semakin menjadi orang yang dingin dan pendiam. Ia juga sering melamun dan wajahnya pun menyiratkan kesedihan yang terpendam dalam benaknya. Jiyeon hanya bisa menghela napas dengan kecewa melihat keadaan Saerin sekarang. Ia belum tau jika Saerin diusir dan dibenci oleh oppanya karna Saerin tak pernah mengatakan itu semua pada Jiyeon. Saerin memilih untuk tetap memendamnya sendirian, hanya Hueningkai saja yang dapat mengerti kesedihannya sekarang. Dan ia juga tak ingin temannya itu tau jika ia mempunyai masalah yang sangat berat terasa dalam hidupnya.

__ADS_1


Skip


Bel pulang sekolah berbunyi, Saerin memberesi buku-bukunya dan segera berjalan keluar kelas tanpa menghiraukan Jiyeon yang berada dibelakangnya. Jiyeon mulai berlari sampai ia bisa menjajarkan langkahnya dengan Saerin. Jiyeon menatap temannya yang sedang menunduk sambil berjalan itu.


"Saerin... Kau kenapa? Sejak pagi tadi kau selalu seperti ini. Kau seakan seperti bukan Saerin yang ku kenal dulu. Kau berubah. Kenapa denganmu? Ayo ceritakan saja padaku Saerin. Aku sangat cemas melihatmu terus seperti ini" kata Jiyeon dengan nada sedih.


Saerin memberhentikan langkahnya, lalu Jiyeon pun sama berhentinya. Saerin mendongak dan menoleh pada Jiyeon. Senyum mulai mengembang dengan terpaksa pada pipi Saerin. Gadis itu tersenyum palsu pada temannya agar dia bisa percaya bahwa dirinya baik-baik saja.


"Aku tidak apa-apa Jiyeon. Aku sudah berulangkali mengatakannya padamu, jika aku ini baik-baik saja. Sudah ya, sekarang kita kan harus segera pulang. Aku juga sudah lelah, jadi ayo kita pulang bersama kedepan pintu gerbang" kata Saerin masih dengan tersenyum pada Jiyeon.


"Tapi kau terlihat tidak baik-baik saja Saerin. Aku merasa ada yang aneh dalam dirimu. Kau lebih terlihat seperti seseorang yang sedang bersedih. Aku merasa ada yang tak nyaman darimu Saerin. Tolong katakan padaku kau kenapa? Ayolah.. jangan membuatku semakin cemas Saerin. Kumohon katakan yang sejujurnya padaku. Senyummu itu terlihat tidak tulus, kau memaksakan senyum itu bukan? Kenapa kau melakukan ini Saerin...?" kata Jiyeon yang matanya mulai berkaca-kaca karna merasa tak nyaman dengan diri temannya yang sekarang.


Saerin mulai menghadapkan dirinya kepada Jiyeon. Lalu memegang bahu Jiyeon dan menatap temannya dengan dalam.


"Jiyeon... Maafkan aku jika aku membuatmu terganggu dan tidak nyaman. Tapi percayalah, aku ini baik-baik saja. Tidak ada yang terjadi padaku, aku adalah aku. Aku masih sama dan tidak berubah sama sekali. Hanya saja aku sedang tidak enak badan, mungkin karna itu aku terus murung seperti tadi"


Saerin mulai tersenyum dengan tatapan tulusnya pada Jiyeon yang tengah ingin menangis karna tak nyaman dengan keadaan Saerin.


"Sudah, jangan bersedih. Aku benar-benar baik-baik saja. Aku seratus persen baik-baik saja. Jadi kumohon jangan mencemaskanku. Sekarang kita pulang saja nee" ucap Saerin lalu merangkul Jiyeon dan berjalan bersama hingga keluar sekolah.


Sampai di depan pintu gerbang, Saerin melambaikan tangannya pada jiyeon yang berjalan menjauh dari depan sekolah. Setelah Jiyeon benar-benar sudah pergi jauh, Saerin pun pergi berjalan kaki kearah yang berlawanan dengan arah jalan ke rumah Hueningkai sambil terus menundukkan kepalanya disetiap perjalanan.


Junho yang baru keluar dari pintu gerbang pun menoleh kearah Saerin yang salah mengambil arah jalan pulang kerumahnya. Ia terlihat mencurigai gerak-gerik Saerin yang nampak sangat aneh. Perlahan, Junho mengikuti Saerin dari belakang untuk mengetahui apa yang terjadi dengan Saerin.


*


Saerin sampai dipinggir sungai Han. Ia berhenti disana lalu menatap air sungai yang jernih. Saerin mulai duduk diatas rumput dan melepaskan tasnya. Ia menghela napas untuk menenangkan dirinya sendiri, sambil menghirup udara segar dari pinggir sungai yang indah.


"Kenapa Saerin malah duduk disana? Seharusnya ia kan pulang. Tapi kenapa malah berada di sungai Han?" kata Junho dengan suara pelan. Ia bersembunyi dibalik pepohonan sambil mengintip ke arah Saerin.


"Jika aku perhatikan, akhir-akhir ini dia selalu terlihat murung. Bahkan ia selalu diam. Aku bisa melihat kesedihan yang ada pada matanya. Ia pasti sedang mempunyai masalah. Apa aku harus menghampirinya saja dan bertanya? Aisshh... Tapi ia terlihat ingin sendirian dulu sepertinya. Yasudah, aku akan menunggunya saja. Aku akan tetap mengawasinya, aku takut jika ia terkena bahaya nanti" kata Junho lagi.


Junho berusaha untuk mengawasi Saerin meskipun dari kejauhan seperti itu. Ia berharap jika temannya tidak kenapa-napa dan tetap dalam keadaan baik-baik saja.


***


Waktu berlalu begitu cepat. Saerin masih berada disekitar sungai Han hingga malam pun tiba. Junho juga masih bersembunyi didekat pepohonan untuk memperhatikan Saerin. Dengan lagaknya yang seperti seorang detektif.


Keadaan di sungai Han yang sudah sepi, hanya masih ada Saerin saja yang duduk dipinggir sungai itu. Matanya mulai berkaca-kaca, membendung setiap bulir demi bulir air mata yang akan siap jatuh dari tempatnya.


Saerin mulai menangis, air matanya mengalir dari kedua sisi, membasahi pipinya yang semula kering menjadi basah. Saerin tak bisa berhenti menangis, air mata yang sejak pagi tadi ia tahan, kini mulai turun tanpa tanda berhenti. Ia menangis dengan tersedu-sedu, menundukkan kepalanya tanpa berniat untuk menghapus jejak air mata yang terus mengalir dengan deras di pipinya.


Saerin mendongak dan menatap kedepan kearah sungai Han yang sedari tadi ia lihat, lalu mulai berkata.


"Hiks... hiks... Kenapa kalian membenciku? Wae?!"


"Hiks... KENAPA KALIAN MEMBENCIKU?! WAE?! WAE?! hik..."


Saerin berteriak pada sungai. Ia berteriak berupaya untuk melontarkan semua kesedihan dan kekesalannya yang terpendam. Air matanya terus mengalir seperti sungai yang ada didepannya sekarang. Berteriak dengan sekencang-kencangnya untuk dapat mengurangi kesedihan itu.


---


"Saerin..." gumam Junho dengan pelan.


Jangan lupa like, komen dan vote๐Ÿ’œ


Borahae๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ

__ADS_1


__ADS_2