
Skip
Bibi Lee sudah menyiapkan sarapan di meja makan. Dan ia juga memasak bubur untuk Saerin. Selesai menyiapkan sarapannya, bibi Lee langsung menuju ke kamar tamu dengan membawa nampan berisi makanan. Dia sudah tiba di depan pintu kamar, tapi..
"Bibi Lee biar aku saja" seru Kai yang membuat bibi Lee kaget.
"Tuan muda!?"
"Biarkan aku saja" kata Kai dengan datar.
"Baik tuan muda".
Kai membuka pintu kamar dan mengambil nampan itu dari tangan bibi Lee. Kai berjalan masuk dan menaruh nampannya di atas meja dekat tempat tidur. Ia menoleh ke arah Saerin yang masih tertidur. Dia mengecek suhu tubuh Saerin.
"Mm.. masih panas" gumam Kai yang menempelkan tangannya pada kening Saerin.
"Saerin.. bangun" kata Kai dengan pelan sambil mengguncang tubuh Saerin.
Saerin pun membuka matanya perlahan.
"Kai.." katanya dengan lirih.
"Bangunlah, makan sarapan mu, setelah itu kau harus minum obat agar demammu turun".
Kai membantu Saerin duduk, dan ia mulai menyuapi Saerin sedikit demi sedikit. Selesai menghabiskan sarapannya, Saerin meminum obat yang Kai berikan.
skip
Sesudah Kai menyuapi Saerin. Sekarang gilirannya yang sarapan. Sementara Saerin, dia sedang membersihkan badan dan mengganti bajunya yang kemarin. Setelah selesai, Saerin kembali lagi berbaring. Dia menatap langit-langit ruangan, dengan tak sengaja air matanya kini menetes.
"Oppa.. hiks.." tangisnya.
**skip>
Selama beberapa hari ini, Kai terus saja dirumah menjaga Saerin. Sampai-sampai ia harus bolos sekolah karna ia ingin merawat Saerin dengan baik sampai sembuh. Padahal sebentar lagi adalah hari kelulusannya. Tapi dia meminta izin kepada gurunya bahwa ia harus merawat saudaranya yang sedang sakit.
Semenjak Saerin sakit, Kai jadi lebih sering menemaninya. Kai sudah menganggap Saerin sebagai adiknya sendiri, karna ia sangat menyayanginya. Dia tidak pernah mempunyai saudara kandung karna ia adalah anak tunggal. Dan kedua orang tuanya pergi ke luar negeri untuk menyelesaikan pekerjaan mereka.
***
Lima hari sudah berlalu. Dan Saerin sudah merasa lebih baik dari yang sebelumnya, itu semua berkat Kai yang merawatnya dengan baik.
skip
Pagi hari yang cerah. Suasana di sekitar rumah yang sejuk, embun-embun yang berada di atas rumput mulai berkilauan menyambut pagi. Bunga-bunga yang mekar, sinar matahari yang menghangatkan diri. Dan.. Saerin yang sudah sembuh, siap mengawali pagi hari yang indah.
Diruang makan*
"Saerin! apa kau benar-benar sudah sembuh? kau sudah sehatkan?" kata Kai yang tersenyum bahagia melihat wajah Saerin yang segar.
"Nee, aku sudah sembuh. Gomawoyo karna sudah merawatku dengan baik. Ternyata kau pintar juga merawat orang sakit" kata Saerin yang sama tersenyumnya menatap Kai.
"Nee.. karna kau sudah sembuh, aku akan mengajakmu pergi" kata Kai.
"Pergi kemana?" tanya Saerin yang mengangkat sebelah alisnya.
"Ikuti saja aku" kata Kai sambil menyantap sarapannya.
"Baiklah!".
skip
Selesai sarapan, Kai langsung membawa Saerin pergi.
Mereka menikmati pagi yang indah.
***
Sementara itu, Jin masih pusing memikirkan Saerin. Dia tidak tau adiknya sekarang berada dimana? dalam kondisi apa?.. dia sangat bingung.
Jin melamun di kursi panjang yang terletak di samping rumahnya, hanya memandang tanaman dan rumput-rumput di sekelilingnya dalam diam. Dan keenam adiknya yang lain hanya memantau keadaan Jin dari belakang, ikut merasakan apa yang ia rasakan. Karna sudah seminggu Saerin diculik, dan belum juga mendapat kabar dari kepolisian.
"Hyung, bagaimana ini? apa yang harus kita lakukan untuk menghibur Jin hyung. Sudah lima hari dia terus saja seperti itu, aku tidak tahan melihatnya bersedih" kata Jungkook yang mulai membuka suara.
"Aku juga tidak tau Jungkook-ah. Kita semua juga memikirkan hal yang sama. Tapi apa boleh buat, jika Saerin masih belum kembali juga, Jin hyung akan terus seperti ini" kata Namjoon yang berada di sebelah Jungkook.
"Ini semua salah ku hyung. Seharusnya akulah yang mencari Saerin sekarang. Aku benar-benar oppanya yang tidak bertanggung jawab!!" kata Jungkook menekan kalimat terakhirnya.
"Sudahlah Jungkook, kau tidak perlu merasa seperti itu. Itu semua bukan sepenuhnya kesalahanmu, kau harus berpikir positif." kata Jimin yang mendekat dan mengelus punggung Jungkook.
"Tapi hyung, bagaimanapun juga itu semua adalah salahku. Aku yang kurang waspada menjaganya" kata Jungkook.
"Jangan bersedih, Kookie. Kita semua juga mengkhawatirkan Saerin. Kita hanya bisa berharap bahwa Saerin baik-baik saja. Harus selalu positif dalam semua keadaan. Aku yakin pasti Saerin akan segera di temukan" kata Hoseok yang mendekat dan tersenyum ceria pada adiknya itu.
Namjoon yang dari tadi memperhatikan Jin, dan kemudian berjalan kearahnya. Namjoon duduk di samping Jin yang masih diam memaku di tempat, pandangannya pun hanya lurus ke depan tapi tatapannya kosong. Namjoon yang melihat hyungnya itu, seakan tampak ragu untuk mengajaknya bicara. Entah apa yang sekarang Namjoon pikirkan untuk membuat Jin tidak bersikap seperti ini lagi.
"Jin hyung!" seru Namjoon yang agak pelan. Tapi Jin tetap diam saja masih sama. Melihat reaksinya yang mendiamkannya, Namjoon kembali lagi mengajaknya bicara.
"Aku tau, kau pasti masih memikirkan Saerin. Aku juga begitu hyung, dan yang lain juga sama. Tapi apakah kau hanya terus seperti ini, diam saja memandang sesuatu dengan tatapan kosongmu itu!? Aku tau kau pasti sangat terpukul, tapi jangan seperti ini juga hyung, jangan terlalu memikirkan itu. Kasihan Jungkook, dia selalu saja menyalahkan dirinya atas Saerin. Apa kau tidak bisa melihat wajah khawatir adik-adik mu ini yang melihat sikap mu diam saja seperti ini hyung" kata Namjoon.
__ADS_1
"..."
"Hyung, tolong katakanlah sesuatu. Kau bukan seperti Jin hyung yang aku kenal. Kau seperti orang lain. Apa kau tidak tau sikap mu ini membuat kami juga cemas. Tolong jangan seperti ini hyung"
Jin masih diam terpaku, tapi ia juga mendengar ucapan Namjoon, hanya saja ia belum mau berbicara.
"Hyung, tolong dengarkan aku kali ini saja. Kumohon hyung" kata Namjoon yang menatap Jin penuh harap. "Hyung!" serunya sekali lagi.
"Hyung!" panggilnya lagi, masih dengan menatap Jin.
Tapi Jin tetap saja diam. Membuat Namjoon menghela nafas kecewa.
Tiba-tiba saja, Namjoon menyadari sesuatu tentang keadaan hyungnya itu.
"Jin hyung! kenapa wajah mu terlihat sedikit pucat? hyung, apa kau sakit?" kata Namjoon dengan panik. Ia memegang bahu Jin, dan mengeceknya sekali lagi. Wajahnya memang tampak pucat dan lesu.
"H-hyung, apa kau baik-baik saja? jawab aku hyung" kata Namjoon sambil mengguncang pelan tubuh Jin. "HYUNG!!" teriak Namjoon, membuat saudaranya yang di belakang mendekat ke arahnya.
"Waeyo Namjoon-ah?!!" kata Hoseok yang ikut panik.
"Kita harus membawa Jin hyung ke rumah sakit. Tae! cepat ambil mobil!!" kata Namjoon.
"Nee, hyung" seru Taehyung, ia segera berlari menuju garasi. Dan yang lain berusaha memapah Jin yang lemas.
Mereka langsung membawa Jin ke rumah sakit, dengan menggunakan mobil yang di kendarai oleh Taehyung. Dan sisanya di mobil kedua, bersama Yoongi.
skip
Sampai di rumah sakit, mereka meminta bantuan suster. Dan suster itu pun membawa Jin ke ruang pemeriksaan.
Dokter langsung menanganinya, sementara Namjoon dan yang lain menunggu di depan ruangan.
Namjoon berdiri di depan pintu dengan khawatir.
"Jin hyung.." gumamnya.
***
Hari sudah siang. Kini, Saerin masih sedang bersenang-senang dengan Hueningkai, sampai hari menjelang senja. Mereka berdua menikmati waktunya bersama. Setelah itu mereka kembali pulang.
Dalam perjalanan*
"Kai, sepertinya aku tidak pernah melihatmu sesenang ini. Apa yang membuatmu senang?" kata Saerin menatap Kai yang sedang menyetir dengan senyumnya yang mengembang.
"Itu karna kau" jawabnya tapi tatapannya fokus ke depan.
"Karna aku? waeyo??" kata Saerin sambil menaikkan alisnya.
"Waeyo??"
"ppfftt.. dari dulu, aku selalu sendiri. Temanku tidak banyak ..."
"Oh! bukannya waktu hari itu, ada lelaki yang seumuran denganmu datang ke rumahmu? apa hanya dia saja yang menjadi temanmu Kai?" kata Saerin, menyela ucapan Kai.
"Hhh.. ani, ada juga yang lain"
"Siapa??"
"Itu tidak perlu dibahas"
"Oh ya!??"
"Nee"
"Kenapa kau tidak menceritakannya kepadaku saja?"
"Menceritakan tentang apa?" kata Kai yang keningnya mulai mengkerut.
"Ceritakan tentang kehidupanmu. Aku belum mengenalmu dengan baik. Jadi.. aku ingin sekali mengenalmu dengan lebih jauh lagi. Kau belum pernah menceritakan apa-apa tentang dirimu padaku. Itu membuatku sedikit gugup jika bersama mu. Aku tidak tau apa yang kau sukai dan apa yang kau tidak sukai" kata Saerin panjang lebar.
"Apa kau ingin mengenalku lebih dekat lagi?"
"Nee"
"Ok. hhffuutt... Jadi! namaku adalah Kai Kamal Huening. Tapi orang lain sering memanggilku Hueningkai. Sebenarnya, aku tinggal di Amerika. Tapi orang tua ku ingin menyekolahkan ku di Korea. Kebetulan juga karna eomma ku adalah orang Korea ..."
"Kenapa mereka harus menyekolahkan mu di Korea? bukan di Amerika? setahuku pendidikan di Amerika sangatlah bagus" sela Saerin sekali lagi.
"Mm.. entahlah, mungkin karna eomma ku ingin pulang ke kampung halamannya.."
"Lalu..."
"Aku pindah ke Korea saat umurku 12 tahun. Dan kampung halaman oemma ku adalah Busan"
"Hanya itu saja.. arrasseo!" kata Saerin yang mengalihkan pandangannya ke depan.
"Bagaimana denganmu?" kata Kai yang menoleh sekilas ke arah Saerin.
"Mwo!!??" kata Saerin dengan ekspresi bibir yang membulat menatap kaget kepada Kai.
__ADS_1
"Nee, bagaimana dengan dirimu? kau juga belum menceritakan kehidupanmu padaku. Katakanlah.."
"Oke, sekarang giliranku. Dengar ini baik-baik.."
"Nee"
"Namaku Kim Saerin. Aku berasal dari Seoul. Aku memiliki tujuh orang kakak, yaitu Kim Seokjin, dia oppaku yang pertama. Yang kedua yaitu Min Yoongi. Yang ketiga, Jung Hoseok. Yang keempat, Kim Namjoon. Yang kelima, Park Jimin. Yang keenam, Kim Taehyung. Yang ketujuh, Jeon Jungkook. Dan aku adalah yang bungsu. Saat usiaku lima tahun, oemma dan appa ku meninggal karna kecelakaan. Hanya ada oppaku dan pembantu di rumah yang masih setia merawat kami. Karna Jin oppa yang tertua, jadi dialah yang mendapat warisan dari mendiang oemma dan appa. Lalu saat umurku sembilan tahun, oppaku terpaksa harus melanjutkan pekerjaan perusahaan appa di Busan. Tapi aku tidak boleh ikut, jadi mereka menitipkanku pada Tante Luna, dia adalah kerabatku. Tante Luna membawaku pindah ke Indonesia, karna dia penduduk asli Indonesia. Dia pergi ke Korea hanya untuk berlibur. Selama lima tahun, aku tinggal di Indonesia. Lalu pada suatu hari, aku menerima telepon dari orang asing yang mengatakan bahwa oppaku dalam bahaya, dan aku harus segera kembali ke Korea. Jadi aku pulang ke Seoul, dan orang itu sudah berjanji akan menemui ku di sungai Han. Tapi ketika aku sampai dan menunggu, orang itu tidak muncul sampai malam"
"Lalu apa yang terjadi selanjutnya?" sela Kai.
"Malam itu, tiba-tiba ada yang membekap ku. Dan saat aku bangun, aku sudah berada di kamar mewah. Tapi aku tidak tau itu kamar siapa. Tangan dan kakiku terikat, lalu aku bertemu dengan seorang pria dewasa. Dia mengatakan bahwa ialah yang menyekap ketujuh oppaku. Saat dia sudah keluar dari kamar, aku langsung beraksi untuk berusaha kabur dari kamar itu. Sampai.. aku berada di ruang bawah tanah, yang ternyata itu adalah ruangan tempat oppaku di sekap. Dan aku berhasil membebaskan mereka, tapi saat itu juga pria dewasa yang tadi mengurungku dikamar tiba-tiba muncul. Dia membuat taruhan, jika aku kalah dia akan menjadikan ku sebagai budaknya. Tentu saja aku tidak mau. Dan sayangnya oppaku mendengar hal itu, dia tidak terima, seharusnya aku yang melawan pria itu tapi malah Jin oppa yang maju. Pria itu melumpuhkan Jin oppa hanya dengan satu bogemannya, itu juga terjadi pada Hoseok oppa dan Namjoon oppa. Sementara sisanya termasuk aku, melawan para bodyguard pria itu. Semua oppaku sudah mulai bertarung, dan aku dihadang oleh pria itu, saat aku ingin menyusul oppaku. Tapi anehnya, ketika aku melawan dia, justru dialah yang kalah, padahal dia bisa saja menggunakan bogem mematikannya itu. Aku dan dia pun bertarung, dia melemparku ke tengah dan menembakkan pistol padaku, tapi.. Yoongi oppa malah menghadang peluru itu. Jadi dialah yang terkena tembakan. Setelah itu, aku membawa oppaku yang terluka ke rumah sakit dan pria tadi yang menyekap oppaku, sekarang sudah dipenjara"
jelas Saerin panjang lebar.
"Ooh, jadi seperti itu ceritanya. Kisah mu benar-benar hebat Saerin, kau hanya seorang diri melakukannya. Dan itu berhasil!!?? waah daebak! kau sungguh luar biasa, kau memang gadis tangguh" puji Kai.
"Aahh, jinjja??! aku rasa tidak" kata Saerin yang menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal.
skip
Sampai di rumah Kai. Saerin langsung bergegas masuk dan merebahkan dirinya di sofa ruang tengah. Kai hanya berjalan mengikuti Saerin dengan tertawa kecil melihat tingkahnya yang seperti anak kecil, dan Kai juga ikut duduk di samping Saerin.
"Apa kau Lelah?" tanya Kai yang menatap Saerin.
"Haah.. aku tadi berbicara banyak di mobil, aku sungguh lelah" kata Saerin.
"Kalau begitu, aku akan menyuruh bibi Lee untuk membuatkanmu minuman"
"Eeh! tidak usah, aku bisa mengambilnya sendiri" kata Saerin, lalu ia beranjak pergi ke dapur. Dan Kai lagi-lagi tertawa kecil melihatnya.
Didapur*
Ada bibi Lee yang sedang memasak. Saerin sampai di dapur. Dia melihat bibi Lee, Saerin mendekat dan menyapanya.
"Hai bibi Lee!" serunya.
"Saerin!? kapan kau datang?" kata bibi Lee yang menoleh.
"Baru saja. Aku akan mengambil minuman" kata Saerin, ia berjalan ke arah kulkas dan membukanya.
"Apa yang mau kau buat Saerin?" tanya bibi Lee yang melihat Saerin sedang kebingungan mencari sesuatu.
"Apakah di sini tidak ada sirup bibi? aku ingin membuatnya, sekalian juga dengan Kai" kata Saerin yang matanya masih mondar-mandir di dalam kulkas.
"Kau mencari sirup, itu ada di laci atas" pinta bibi Lee. Saerin langsung mendongak dan membuka laci di atas, dan dia menemukannya.
"Gomawoyo bibi!" seru Saerin.
"Nee".
Saerin menyiapkan dua gelas dan menaruhnya di nampan. Ia menuangkan sirupnya ke kedua gelas tersebut. Dan sirup dingin sudah siap.
"Ok! sirup dingin buatan Saerin, sudah siap! dan tinggal di berikan kepada tuan rumah!" seru Saerin dengan kencang. Sampai bibi Lee yang mendengar itu pun hanya bisa menahan tawa dengan tingkah laku Saerin.
Saerin segera membawa nampan itu ke ruang tengah. Disana Kai sedang bermain dengan ponselnya.
"Sirup es dingin sudah siap tuan!" seru Saerin saat langkahnya mulai dekat. Kai sontak menoleh karna suara Saerin. Dan Saerin meletakkan nampan itu di atas meja, dan menaruh gelasnya satu-satu, dengan gaya seperti seorang pembantu yang sopan.
"Hehh! apa yang kau lakukan Saerin?" tanya Kai yang bingung melihat Saerin.
"Aku hanya menjalankan perintah tuan" kata Saerin dengan sopan.
"Hey! kau ini apa-apaan sih". Setelah mendengar itu, Saerin langsung tertawa melihat wajah kebingungan Kai yang menggemaskan. Dan Saerin berjalan mendekati sofa dan kembali duduk di samping Kai.
"Hahaha.. aku hanya bercanda Kai" kata Saerin yang tertawa.
"Kau ini ada-ada saja. Apa yang kau buat ini?"
"Es sirup. Aku membuatkannya untukmu. Minumlah!"
Kai mengambil gelas sirup itu dan meminumnya.
"Mm.. kau pandai juga membuatnya, rasanya pas"
Saerin hanya tersenyum melihat Kai minum.
Bibi Lee yang melihat keakraban keduanya dari belakang, merasa terharu melihat pemandangan indah di depannya. Tuan muda yang ia kenal selalu menyendiri dan menjadi anak yang cuek, kini bisa melihat dia bahagia seperti dulu, sebelum eomma dan appanya meninggalkan dia sendirian. Bibi Lee hanya tersenyum ceria melihat Kai dan Saerin dekat seperti saudara.
*
•
•
•
**Halo para readers tercinta, maaf ya author lama up nya.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan sekalian vote nya ya. Makasih**.
Nantikan kelanjutan kisahnya.. 💜