
Masih dimalam yang sama*
skip setelah makan
Kai masih berada disitu, setelah makan malam, Kai menawarkan diri untuk membantu membereskan meja makan. Ia membantu mencuci piring-piring kotor itu.
"Gomawo Kai, seharusnya kau tidak usah melakukan itu, kau adalah tamu disini" kata Jin yang sedang membereskan dapur juga.
"Ah.. gwenchana hyung, aku merasa tidak enak dengan hyung yang mengerjakannya sendiri" kata Kai sesekali melirik ke arah Jin.
"Mulai sekarang, anggap kami adalah keluargamu. Kau bisa datang ke sini kapanpun kau mau, tidak usah sungkan. Jika kau ada masalah, ceritakan saja padaku dan yang lain, nee?" kata Jin.
Mendengar ucapan Jin, Kai jadi menghentikan aktivitasnya sejenak, lalu menoleh ke Jin. Ia terkejut jika mendengar kata-kata itu, entah kenapa ia begitu kaget. Tapi Jin hanya tersenyum ketika ia melihatnya dengan tatapan yang aneh. Dan kemudian Kai juga membalas senyuman Jin. Didalam batinnya, ia sangat bersyukur bertemu dengan orang seperti mereka. Mereka saja menganggap orang asing yang hanya ikut-ikutan pindah ke sini karna seorang gadis saja, bisa menerimanya menjadi bagian keluarganya. Apalagi orang-orang yang dekat dengan mereka, itu pasti terlihat sangat akrab.
skip
Selesai membereskannya, Kai memutuskan untuk berpamitan pada mereka.
"Hyung, aku pamit dulu, ini sudah malam. Aku akan kesini lagi besok" kata Kai yang berdiri disamping sofa ruang tengah.
"Kalau begitu biarkan aku mengantarmu sampai ke depan" kata Jungkook beranjak dari sofa.
"Ah, tidak usah hyung, aku bisa sendiri kok" kata Kai.
"Sudahlah, kajja!" kata Jungkook yang mendorong pelan bahu Kai.
Sampai di pintu depan, tepatnya di luar. Jungkook berhenti sejenak, sepertinya ia ingin berbicara sesuatu dengan Kai.
"Kai.." panggil Jungkook dengan memegang bahu Kai.
"Nee hyung" kata Kai, mereka berdua saling berhadapan.
"Aku ingin berbicara padamu" kata Jungkook.
"Bicara apa hyung?" kata Kai dengan mengerutkan keningnya.
"Kau, sudah menganggap Saerin seperti adikmu sendiri bukan?" tanya Jungkook dengan serius.
"Nee hyung" kata Kai dengan mengangguk pelan.
"Aku ingin.. kau jaga Saerin dengan baik. Aku ingin kau tetap berada disamping Saerin, dan membuatnya terus bahagia. Karna aku tidak ingin melihat Saerin sedih. Jadi, kumohon tetaplah disisi Saerin, aku percayakan semua ini padamu. Karna akhir-akhir ini, banyak sekali orang jahat yang ingin mengancam dirinya" jelas Jungkook.
"Memangnya kenapa hyung?" tanya Kai mulai bingung dengan ucapan Jungkook.
"Karna mungkin, aku tidak akan bisa menjaganya lagi. Jadi aku percayakan Saerin padamu, buat ia tetap bahagia seperti sekarang. Aku yakin kau pasti bisa melakukannya" kata Jungkook menepuk pelan bahu Kai.
"Hyung, aku berjanji akan terus menjaganya. Dia yang telah membuat hidupku jadi bahagia dari kesendirian ini hyung. Kau tenang saja, kapanpun aku akan selalu berada disisinya" kata Kai yakin.
"Aku percaya padamu" kata Jungkook, ia lalu merogoh saku celananya dan mengambil ponsel miliknya dan menyodorkan itu pada Kai.
"Ketik nomor ponselmu" kata Jungkook.
Kai mengangguk, dan meraih ponsel Jungkook. Ia mengetik beberapa digit nomor ponselnya. Dan kemudian mengembalikan ponsel itu pada Jungkook.
"Gomawo!" seru Jungkook yang mengambil kembali ponselnya dan memasukkan ponsel itu ke saku celananya.
"Yasudah, sana kau pulang. Ini sudah malam" kata Jungkook.
"Nee hyung".
Kai pergi menuju mobilnya. Dan ia pun mulai melaju meninggalkan rumah Bangtan.
Jungkook kembali masuk ke dalam, saat ia membuka pintu, tiba-tiba Saerin sudah ada didepannya dengan menggendong Yeontan. Membuat Jungkook tersentak.
"Saerin, kenapa kau ada disini?" tanyanya.
"Aku tidak melakukan apa-apa, hanya mengejar Yeontan yang lari kesini. Memangnya ada apa oppa?" tanya Saerin.
"Ani, gwenchana. Kajja kita kembali!" ajaknya yang jalan terlebih dahulu.
"Kai mana oppa?!" tanya Saerin yang masih ditempat dengan sedikit berteriak.
"Dia sudah pulang!" teriak Jungkook saat ia ingin sampai di sofa. Saerin mendengar ucapan Jungkook, dan segera berlari menyusulnya. Saat tiba di sofa.
"Kenapa dia sudah pulang?" tanya Saerin yang ikut duduk disebelah Jungkook, dan memberinya tatapan bertanya, menghadap Jungkook.
"Inikan sudah malam Saerin, kau juga seharusnya tidur. Besok kau masih sekolah bukan?" kata Jungkook tanpa menatap Saerin.
"Tapi aku masih ingin bermain dengan Yeontan" kata Saerin, mengelak. Ia juga sebenarnya sudah tau jika ini memang sudah waktunya untuk ia tidur.
"Sudahlah.. sini! berikan Yeontan padaku!" kata Taehyung yang merebahkan dirinya di sofa samping Saerin, dan mencoba mengulurkan kedua tangannya, meminta Yeontan dari Saerin.
"Aniya!" tolak Saerin.
"Saerin, kau seharusnya tidur. Ini sudah malam" kata Jin yang baru datang, dan ikut merebahkan dirinya.
"Ani!" tolak Saerin keras, sambil menggelengkan kepalanya. Dan Yeontan hanya bisa menggonggong kecil di dalam pangkuan Saerin.
"Nah! Yeontan saja masih mau bermain denganku" kata Saerin sambil memanyunkan bibirnya. Lalu kembali mengelus bulu Yeontan.
"Yak! kau harus tidur Saerin!" kata Taehyung yang mencoba meraih Yeontan dari pelukan Saerin. Tapi dengan cepat Saerin memalingkan tubuhnya, dan membelakangi Taehyung. Akhirnya Taehyung terpaksa mengalah, dan membiarkan Yeontan bersama Saerin.
Setelah beberapa menit berlalu, tidak ada pergerakan dari Saerin maupun Yeontan. Dan itu membuat Taehyung curiga, karna Saerin menyamping menghadap Jungkook dan membelakangi Taehyung.
"Hey Jungkook, apa Saerin tertidur?" kata Taehyung. Jungkook yang sedari tadi fokus menonton televisi tanpa memperhatikan Saerin, kini ia menoleh melihat keadaannya. Ternyata benar dugaan Taehyung, Saerin dan Yeontan sama-sama tertidur dengan pulas. Tapi tidurnya Saerin menyamping menghadap dirinya.
"Nee hyung" kata Jungkook dengan pelan, agar tidak membangunkan Saerin.
"Baiklah, bawa Saerin masuk ke kamarnya" kata Jin.
"Nee hyung" kata Taehyung. Saat tangannya ingin meraih tubuh Saerin..
"Hyung, biarkan aku saja yang menggendongnya" pinta Jungkook.
"Nee, baiklah. Aku akan menggendong Yeontan ke kamarku" kata Taehyung masih dengan nada pelan. Mereka bertukar tempat, dan menggendong keduanya ke atas.
Jungkook membaringkan Saerin dikasur. Ia menarik selimut dan menyelimuti Saerin.
__ADS_1
"Dia tidur dengan polos" kata Jungkook. "Good night Saerin" sambungnya sambil mengelus kepala Saerin. Jungkook keluar dari kamar Saerin, dan pergi ke kamarnya karna ia juga sudah mengantuk. Ia pergi sambil meregangkan otot tangannya.
Skip
Keesokan harinya, Saerin membuka mata dengan perlahan. Ia duduk di kasur sejenak untuk mengembalikan kesadarannya. Sesudah ia benar-benar bangun, Saerin langsung pergi ke kamar mandi, dan memakai baju seragamnya. Kini Saerin tampil rapi dengan rambutnya yang dikuncir. Ia mengambil tas sekolahnya dan keluar kamar, menuruni tangga menuju dapur.
"Morning oppa!" sahutnya ketika sedikit lagi mendekati meja makan.
"Morning Saerin!" sahutannya dibalas oleh Jin dan Hoseok yang sedang membuat sarapan. Saerin menarik salah satu kursi dan duduk.
"Apa yang lain belum bangun oppa?" tanya Saerin pada kedua oppanya didapur.
"Mungkin belum" kata Hoseok dengan tidak yakin.
"Katanya, mereka bertiga akan bergantian mengantarku, kenapa belum bangun juga" gumam Saerin.
Tak lama setelah ia mengatakan itu, ada suara ribut yang datang dari tangga. Saat Saerin menoleh, ternyata itu adalah Jimin, Taehyung dan Jungkook yang sedang berebut untuk cepat-cepat turun.
"Jadi, siapa yang kau pilih untuk mengantarmu hari ini Saerin?" tanya Jimin, yang datang dan duduk disebelah Saerin lebih dulu. Dan diikuti oleh Taehyung juga Jungkook.
"Kenapa kalian menanyakan itu padaku?" kata Saerin.
"Ayolah Saerin.." kata Jimin melakukan aegyonya.
"Mm.." kata Saerin sengaja menggantungkan ucapannya. Ia memainkan dagunya dan melirik kepada ketiga oppanya itu.
"Mainkan itu" kata Saerin memberi kode.
Mereka bertiga langsung mengerti ucapan Saerin. Dan ketiganya saling berhadapan.
"Baiklah, kita siap!" kata Jimin dengan tatapan yang serius, begitu juga sebaliknya.
"Hana.." kata Jungkook.
"Du..." kata Taehyung.
"Se!".
"Gunting! kertas! batu!" kata mereka bertiga bersamaan.
•
•
•
"Dan... pemenangnya adalah Kim Taehyung!! yay!!" teriak Taehyung yang berdiri penuh kemenangan, sambil mengangkat kedua tangannya ke atas.
"Ada apa dengan kalian bertiga ini? mengganggu pagi hari yang indah saja!" kata Yoongi yang turun dari tangga bersama Namjoon dibelakangnya.
Mereka bertiga hanya meresponnya dengan cengengesan. Taehyung pun kembali duduk, dan menoleh pada Saerin. Ternyata sedari tadi, Saerin sudah menyantap sarapannya terlebih dahulu, tanpa menghiraukan ketiga oppanya yang sedang berdebat hanya karna ingin mengantar Saerin hari ini.
"Nee oppa" kata Saerin sambil mengunyah rotinya.
Selesai menghabiskan sarapannya, Saerin langsung bergegas keluar menuju garasi. Dan disusul dengan Taehyung dari belakang.
"Saerin, tunggu aku!" teriak Taehyung sambil berlari.
Saerin sudah ada didepan menunggu Taehyung membuka kunci pintu mobilnya. Dan Taehyung pun membuka kunci pintunya. Lalu bergegas menancap gas, menuju sekolah Saerin.
Sampai di depan pintu gerbang sekolahnya, Saerin segera melepas sabuk pengaman dan keluar dari mobil.
"Saerin!" teriak Taehyung dari dalam mobil, saat Saerin ingin melangkah masuk. Mendengar itu, Saerin menghentikan langkahnya.
Taehyung membuka kaca mobil sebelah kanannya.
"Ada apa oppa?" tanya Saerin yang menoleh.
•
Taehyung hanya menunjukkan senyumnya.
"Belajarlah dengan rajin" kata Taehyung.
"Nee oppa".
Saerin kembali membalikkan badannya, dan memasuki sekolah.
Saerin berjalan melewati lorong-lorong kelas, dan sampai ke kelasnya.
tringg...
**Skip
°
°
°
Bel pulang sekolah berbunyi. Saerin cepat-cepat membereskan buku-bukunya. Ia segera pergi ke luar, hampir saja Saerin mencapai pintu. Tiba-tiba ia dicegat oleh ketiga anak lelaki yang kemarin itu. Mereka bertiga berdiri di depan pintu, dan tak membiarkan Saerin keluar.
"Apa yang kalian mau? hah!" kata Saerin sedikit teriak karna sudah tidak sabar lagi.
"Kau harus ikut kami" kata Ji-won.
"Aku tidak punya urusan dengan kalian" kata Saerin datar.
"Kau punya satu urusan dengan kami" kata Taejin.
__ADS_1
"Jangan mengada-ada, aku tidak punya banyak waktu hanya untuk meladeni kalian bertiga" kata Saerin yang akan pergi ke arah kanan, tapi berhasil ditahan oleh mereka bertiga. Begitu juga sebaliknya saat Saerin akan mengambil arah kiri.
"Jangan membuatku emosi, minggir!" tekan Saerin. Saat ia kembali ingin pergi, tangannya tiba-tiba dicekal oleh Ji-won. Saerin berusaha melepaskan cekalannya, tapi tangan itu sangat kuat sehingga Saerin tidak bisa apa-apa.
"Jangan mencari gara-gara denganku. Aku bisa saja memukulmu jika aku sudah kesal" kata Saerin.
"Heh! kau tidak akan bisa melakukannya, karna kau hanyalah perempuan biasa" kata Ji-won.
Saerin sudah sangat kesal dibuatnya, tidak ada cara lain. Ia terpaksa mendaratkan tinjunya di pipi Ji-won, membuatnya mundur beberapa langkah. Dan Saerin dengan santai melangkah keluar dari kelas, tanpa menghiraukan mereka bertiga.
"Awas saja nanti" gumam Ji-won yang memegang pipinya.
Saerin keluar menuju gerbang, di depan sudah ada mobil Jin yang menunggu. Saerin bergegas ke mobil oppanya. Ia pun memasuki mobil, dengan wajah datar yang agak kesal.
"Kau kenapa Saerin?" tanya Jin. Saerin menghela nafasnya dan menatap Jin dengan tersenyum ceria.
"Gwenchana oppa. Kajja! kita berangkat" kata Saerin. Jin pun melajukan mobilnya, entah kemana ia akan membawa Saerin.
~
Jin menghentikan mobilnya di toko ponsel. Ia keluar dari mobil diikuti Saerin dalam diam. Mereka memasuki toko tersebut. Jin membelikan ponsel baru untuk Saerin, karna ia kehilangan ponselnya.
Mereka kembali lagi ke mobil, dan melanjutkan perjalanan pulang. Saerin merasa mengingat sesuatu, Ia kembali mengingatnya.
"Oh, oppa. Apa sekarang tanggal 14 Agustus?" tanya Saerin menoleh ke Jin.
"Nee, memangnya ada apa Saerin?" tanya Jin.
"Hari ini berarti adalah hari ulang tahunnya Kai" kata Saerin dengan tersenyum bahagia.
"Hari ulang tahun Kai? darimana kau tau?" tanya Jin.
"Dari bibi Lee, pembantu rumah tangga Kai di Busan" kata Saerin.
"Lalu, apa rencanamu?"
"Aku ingin membuat pesta kejutannya malam ini, kau tidak keberatankan oppa?" kata Saerin berharap.
"Ani, hm.. itu bagus, bagaimana jika pestanya di adakan dirumah. Bagaimana menurutmu Saerin?"
"Itu bagus juga oppa, mari kita buat pesta ulang tahun Kai jadi meriah!" kata Saerin dengan semangat.
"Arrasseo, kalau begitu. Kita harus membeli bahan-bahannya dulu" kata Jin menoleh pada Saerin.
"Yeayy! let's go!" seru Saerin.
Skip>
Mereka sudah membeli perlengkapannya, dan Jin juga sudah memberitahukan rencana pesta kejutan ini untuk Hueningkai. Mereka mulai mempersiapkan pestanya. Membagi pekerjaan mereka masing-masing. Sampai sore hari menjelang malam, semua dekorasinya sudah selesai, tinggal menyiapkan kuenya saja.
"Apakah semuanya sudah selesai?" tanya Jin pada adik-adiknya.
"Sudah hyung" sahut mereka semua.
"Bagaimana kita akan memanggilnya kemari?" tanya Saerin.
"Tenang saja, aku yang akan mengurus itu" kata Jungkook.
"Kau akan membawanya kemari?" tanya Taehyung.
"Sudahlah, tidak perlu ditanyakan. Tenang saja" kata Jungkook.
"Ok, baiklah. Terserah kau saja" kata Taehyung.
"Aku akan ke depan dulu. Jika sudah selesai, beritahu aku" kata Jungkook, ia berjalan ke depan.
"Nee, sudahlah!" kata Taehyung mendorong bahu Jungkook.
Jungkook sudah ada di teras depan. Ia mengambil ponselnya, dan menekan tombol dilayar ponsel itu. Ia menelepon Kai untuk datang ke rumahnya. Setelah itu, Jungkook kembali masuk ke dalam.
"Nah! semuanya sudah siap, tinggal menunggu Hueningkai datang" kata Hoseok.
"Jungkook, bagaimana dengannya?" tanya Jimin.
"Dia sedang kesini" kata Jungkook.
"Baiklah, semuanya. Kita ke posisi masing-masing!" pinta Jin.
"Nee" sahut yang lain bersamaan.
Tak lama, bel rumah pun berbunyi.
"Dia sudah datang. Cepat!" kata Taehyung.
Mereka bergegas ke posisi masing-masing. Sementara itu, Jungkook pergi ke depan untuk membuka pintunya.
"Ada apa hyung? kenapa kau menyuruhku datang?" tanya Kai yang tidak tau jika mereka sudah merencanakan sesuatu untuk Kai.
"Masuklah dulu" kata Jungkook. Ia mengajak Kai masuk, tiba-tiba lampu di dalam rumah pun mati. Semuanya menjadi gelap gulita.
"Hyung, kenapa lampunya mati?" tanya Kai yang sedikit cemas. Tapi tidak ada jawaban dari Jungkook.
Dan.. 1.. 2.. 3..
"Saengil chukka hambnida!!" seru yang lain, saat lampunya kembali menyala. Saerin membawa kue itu dan meminta Kai meniupnya. Dan lilin-lilin kecil itu pun ditiup oleh Kai dengan rasa gembira. Kai sangat terharu dengan semua yang mereka rencanakan untuk ulang tahunnya. Ia kira tidak akan ada yang merayakan ulang tahun itu, karna mengira mereka belum tau tanggal lahir Kai.
"Khamsambnida Saerin, Hyung" kata Kai yang meneteskan sedikit air matanya.
"Kai, kenapa kau menangis? heheh.. cengeng sekali" kata Saerin yang merogoh saku celananya dan mengeluarkan sapu tangan, ia mengusap air mata di wajah Kai, dengan senyuman.
"Sudahlah, mari kita rayakan ini!" seru Jin dengan senang.
Mereka pun merayakan ulang tahun Kai di rumah Bangtan.
•
•
__ADS_1
•
Nantikan kelanjutan kisahnya...💜