You'Re My Brother (BTS)

You'Re My Brother (BTS)
Eps 46


__ADS_3

Skip


Keesokan harinya..


Saerin baru saja turun dari mobil Hueningkai yang mengantarnya. Melangkahkan kakinya ke dalam sekolah dengan wajah datar.


"Saerin!!" panggil Ji-won yang berlari di belakangnya.


Saerin menoleh karna suara seseorang yang memanggilnya.


"Ada apa?"


Pertanyaan Saerin itu membuat Ji-won sedikit tertegun berdiri disampingnya. Ia menggaruk kepala belakangnya dengan ragu-ragu.


"Em.. kau mau masuk ke kelas bukan?" tanya Ji-won yang hanya melirik Saerin lalu tertunduk malu-malu.


"Nee" jawab Saerin singkat.


"Berarti kita sama dong, hehe" ucap Ji-won dengan tertawa garing.


"Kita kan memang satu kelas Ji-won"


"Oh, hehe nee" kekeh Ji-won.


"Yasudah, kajja!" ajak Saerin yang pergi lebih dulu.


Ji-won hanya terdiam ditempatnya melihat Saerin yang pergi duluan. Karna menyadari sesuatu, Saerin menghentikan langkahnya lalu menoleh kebelakang menatap Ji-won yang masih berdiri ditempatnya hanya menatap dirinya yang berlalu pergi.


"Ji-won, tunggu apalagi? ayo kita ke kelas!" ucap Saerin.


"Ouh nee". Ji-won langsung menyusul Saerin ke sebelahnya.


Akhirnya mereka berdua pun berjalan bersama ke kelas.


"Sepertinya, aku merasa nyaman padanya. Benar-benar nyaman. Ini memang nyata. Sepertinya aku memang menyukainya sekarang. Ash tidak, aku kan memang menyukainya. Tapi rasa ini seakan berbeda dari yang biasanya. Sepertinya aku mencintainya... " batin Ji-won yang terus menatap Saerin.


Sampai di kelasnya, mereka berdua pun duduk di bangku masing-masing. Hari ini Saerin tak melihat Jiyeon disebelahnya, hanya tas sekolahnya saja yang bertengger di kursi sebelahnya itu.


disisi lain..


"Ada apa kau memanggilku kemari?" tanya Junho yang berada di taman belakang sekolah bersama Jiyeon.


"Junho, aku ingin mengatakan sesuatu padamu" ucap Jiyeon yang mendekati Junho.


"Apa itu?"


"Aku mencintaimu Junho" ucap Jiyeon dengan spontan tanpa basa-basi.


"Mwo?" respon Junho dengan kaget. "Kau mengatakan apa?" tanya Junho lagi.


"Aku mencintaimu Junho, apa itu kurang jelas terdengar olehmu eoh?"


"Apa yang kau--". Ucapan Junho terpotong karna Jiyeon memeluknya.


"Yak, apa yang kau lakukan hah?!" ucap Junho berusaha melepaskan tautan Jiyeon dari pinggangnya, tapi Jiyeon masih tetap memeluknya.


"Junho, tolong. Jadilah kekasihku, aku mencintaimu Junho. Aku mencintaimu.." ucap Jiyeon dipelukan Junho.


"Apa yang kau lakukan?! lepaskan aku!" ucap Junho dengan melepas kasar ikatan tangan Jiyeon.


"Wae Junho?! waeyo?! apa ini karna kau mencintai Saerin, dan bukan mencintaiku? Aku tau Saerin telah menolakmu, jadi tidak perlu kau mengejarnya lagi, dia tidak menyukaimu Junho. Aku lebih mencintaimu daripada Saerin. Lupakan anak itu, kemarilah bersamaku. Kita jalin hubungan yang romantis sebagai sepasang kekasih Junho" ujar Jiyeon.


"Yak, aku tidak mencintaimu Jiyeon"


"Kenapa Junho? aku tulus mengatakannya padamu. Aku menerimamu apa adanya Junho, tapi kenapa kau menolakku?"


"Mianhae Jiyeon, tapi aku tak mencintaimu. Aku sudah terlanjur jatuh cinta pada Saerin. Aku tak bisa melupakannya"


"Tapi aku yang lebih mencintaimu Junho. Tolong balaslah rasaku ini. Aku tulus mencintaimu"


"Mian Jiyeon. Tapi aku tak mencintaimu, aku masih mencintai Saerin dan aku masih ingin menunggunya. Jadi.. Aku benar-benar minta maaf, aku tak bisa membalas cintamu-"


"WAE?! Junho, kumohon.."


"Mian, aku tak bisa" ucap Junho yang ingin pergi, tapi dicekal oleh Jiyeon.


"Junho"


"Lepaskan tanganku Jiyeon" ucap Junho sambil menepis tangan Jiyeon.


"AKU YANG TELAH MENJAGAMU DI RUMAH SAKIT, AKU YANG SELALU KELUAR MEMBELIKANMU MAKANAN SAAT KAU SEDANG DIRAWAT. AKU YANG MEMBANTUMU, MENJAGAMU, DAN MENEMANIMU DI RUMAH SAKIT KARNA AKU MENCINTAIMU JUNHO!" teriak Jiyeon.


"Tapi apa yang Saerin lakukan padamu? tidak ada kan? Aku hanya ingin kau membalas cintaku sebagai bentuk balas budimu padaku" sambung Jiyeon.

__ADS_1


"Jadi kau ingin aku membalas cintamu itu hanya untuk balas budi karna kau telah menemaniku dirumah sakit?"


"Nee, aku memang meminta itu darimu. Jadi aku mohon jadilah milikku"


triing.. trriinngg...


"Sudah bel masuk. Aku ingin masuk ke kelas ku" ucap Junho yang meninggalkan Jiyeon.


"JUNHO.. JUNHO" teriak Jiyeon saat Junho pergi menjauh.


di kelas Saerin..


Ji-won selalu menatap Saerin sampai tak menghiraukan guru yang sudah datang dan masuk ke dalam kelas. Ji-won tetap saja menatap Saerin dengan menaruh dagunya di telapak tangan di atas meja. Membuat Won-joon yang duduk disebelahnya pun merasa aneh dengan tingkah laku Ji-won itu.


"Ji-won, Ji-won.. Apa yang sedang kau lakukan?" bisik Won-joon di telinga Ji-won.


Tapi Ji-won tetaplah diam menatap Saerin sambil tersenyum-senyum. Won-joon mencoba melambaikan tangannya didepan wajah Ji-won, tapi itu tetap tak berhasil membuat Ji-won sadar dari lamunannya.


"Ji-won.." bisik Won-joon lagi, kali ini ia mendekatkan wajahnya pada Ji-won.


Ji-won malah memalingkan wajah Won-joon untuk menjauhi wajahnya. Tapi pandangannya masih tetap ke arah Saerin.


Sementara itu, Saerin masih bingung ketika Jiyeon tak kunjung masuk ke dalam kelas.


"Kemana Jiyeon? tasnya berada disini, tapi tidak ada orangnya? dia sedang apa? kenapa dia tak masuk juga? guru Jong sudah masuk di kelas, tapi Jiyeon malah belum masuk" gumam Saerin.


"Ya, anak-anak. Mari kita absen dulu sebelum belajar" ucap guru Jong.


"Nee" ucap yang lain serempak.


Saat guru Jong menyebutkan nama satu persatu siswanya. Tiba-tiba pintu kelas terbuka, dan menampilkan seorang siswi yang baru datang ke kelas.


"Jiyeon, kau darimana saja?" tanya guru Jong pada Jiyeon yang masih berada di pintu.


"S-saya dari toilet" jawab Jiyeon yang menundukkan kepalanya.


"Baiklah, silahkan masuk dan duduk di bangkumu" pinta guru Jong.


"Nee, gomawo" ucap Jiyeon yang melangkah masuk lalu duduk di sebelah Saerin.


Saerin berusaha untuk tak menanyakan sesuatu padanya yang membuat temannya itu terlambat masuk. Saerin menahan semua pertanyaan yang ada di batinnya kepada Jiyeon, walaupun ia ingin sekali berbicara padanya. Tapi Saerin masih mengingat ucapan Jiyeon kemarin, jadi Saerin mengurungkan niatnya itu.


Skip, pulang..


Di depan gerbang, Jiyeon berhenti karna ingin lewat ke seberang jalan. Tapi tiba-tiba ada yang menabraknya dari belakang hingga membuat Jiyeon terjatuh di tengah jalan. Dan dari arah kanan ada sebuah mobil yang melaju kencang ke arahnya. Saat mobil itu sudah dekat, Jiyeon merasa bahwa tangannya ditarik oleh seseorang hingga membuatnya jatuh di trotoar jalan bersama dengan anak yang menolongnya itu.


Beberapa menit yang lalu..


"Jiyeon tunggu aku.." teriak Saerin yang berlari menyusul Jiyeon.


Saat melihat Jiyeon berhenti, Saerin masih berlari mengejarnya. Tetapi seorang siswa menabrak Jiyeon dari belakang hingga si pemilik terjatuh di tengah jalan. Ketika Saerin berhenti di depan gerbang dan melihat sebuah mobil yang melaju ke arah Jiyeon, Saerin cepat-cepat mendekati Jiyeon dan menarik tangannya sampai mereka berdua jatuh bersama di pinggir jalan. Dan Saerin mendapat luka kecil di sikunya karna terbentur trotoar.


Kembali ke waktu pasca kejadian..


"Akh.." pekik Saerin yang melihat luka di sikunya.


"S-Saerin.. k-kau baik-baik saja?" tanya Jiyeon yang melihat Saerin terluka.


"Aukh.. sakit sekali.." ringis Saerin memegang sikunya.


"M-mian.. mianhae..." sesal Jiyeon yang menundukkan kepalanya.


"Assh.. J-Jiyeon, kau baik-baik saja kan? apa kau terluka?" tanya Saerin dengan raut wajah cemas.


"Eoh? a..aku tak apa-apa. Tapi bagaimana dengan dirimu?" ucap Jiyeon yang mencemaskan Saerin balik.


"Aku tidak apa-apa, ini hanya luka kecil saja. Yang penting kau baik-baik saja" ucap Saerin yang tersenyum pada Jiyeon.


"Hiks... hiks... hiks..."


"Jiyeon, kenapa kau menangis?" tanya Saerin yang melihat Jiyeon menangis.


Jiyeon tak menjawabnya, ia malah memeluk Saerin dan terus menangis.


"Jiyeon kau kenapa? apa ada yang sakit? apa kau terluka? mana, dimana yang luka? aku akan mengobatinya. Dimana lukanya Jiyeon?" tanya Saerin yang panik. "Jiyeon..." panggil Saerin sekali lagi.


"Saerin... hiks.. hiks.. mianhae.. mianhae.. hiks.. aku sudah jahat padamu, seharusnya aku tak mengatakan hal itu kepadamu kemarin.. hiks.. kau pasti sangat tertekan dengan ucapanku waktu itu bukan... hiks.. mian.. mianhae.. hiks.. hiks.. aku sudah membentakmu, mian karna aku sudah berkata kasar padamu.. aku minta maaf.. ini semua kesalahanku.. hiks.." ucap Jiyeon yang masih terisak memeluk Saerin.


"Jiyeon.. kau tidak perlu meminta maaf padaku"


"Ani... aku sudah bersalah Saerin, ini semua karna aku. Kau terluka karna menyelamatkanku.. ini semua salahku Saerin.. hiks.. hiks.."


"Jiyeon.. Jiyeon, dengarkan aku" pinta Saerin sambil melepas pelukan Jiyeon lalu menatapnya. "Ini semua bukan salahmu, aku terluka karna diriku sendiri, bukan karna menyelamatkanmu.. jadi jangan menyalahi dirimu sendiri Jiyeon. Aku melakukan ini karna aku menyayangi temanku. Aku tidak mau temanku terluka di hadapanku. Daripada kau yang terluka lebih baik akulah yang mendapatkan luka itu, agar kau tak sedih karna lukamu. Jadi, aku ingin kau baik-baik saja daripada aku" sambung Saerin dengan menatap Jiyeon sambil menggenggam bahu Jiyeon yang bergetar.

__ADS_1


"Hiks.. hiks.. mianhae... hiks.."


"Sstt... diamlah Jiyeon, jangan menangis lagi. Kau tak bersalah Jiyeon.." ucap Saerin.


"Ani.. aku memang salah. Mianhae.. maaf atas semua yang terjadi padamu Saerin. Maafkan aku, semua yang aku katakan padamu kemarin.. dan semua perlakuanku padamu yang membuat kau sedih karna sikapku, dan mian... karna aku telah membencimu. Seharusnya jika aku tidak sebegitu marahnya padamu hanya karna seorang lelaki yang aku cintai, aku takkan pernah mengatakan bahwa kau bukanlah temanku lagi. Dan aku juga takkan pernah membentakmu dengan ucapanku yang kasar"


"Gwenchana Jiyeon. Aku tak pernah membencimu sedikitpun. Kau adalah temanku, tapi karna kau mengatakan itu padaku kemarin, aku jadi sedikit takut jika ingin berbicara padamu" kata Saerin.


"Mianhae Saerin.. seharusnya aku tak membenci dirimu. Kau pasti sangat tertekan waktu itu"


"Hem, tak apa.. lupakan itu, aku tak pernah sedikitpun membenci dirimu hanya karna kau sudah mengatakan hal yang kasar padaku. Aku tetap menyayangimu sebagai temanku Jiyeon.. selalu.." ucap Saerin dengan tersenyum kecil.


"Gomawo Saerin.." ucap Jiyeon yang ikut tersenyum.


"Hem.. kemarilah" ucap Saerin yang merentangkan tangannya. Lalu jiyeon membalasnya dengan pelukan.


Semua siswa dan siswi yang menyaksikan kejadian itu, hanya ikut terharu melihat interaksi Saerin dan Jiyeon. Ji-won dan Junho yang melihat kejadian itu juga ikut terharu melihat persahabatan manis mereka berdua.


"Sudahlah, kita pulang" ucap Saerin yang menghentikan pelukan mereka.


"Tapi bagaimana dengan lukamu?" tanya Jiyeon.


"Eoh tenang saja, aku akan mengobatinya dirumah. Sebentar lagi juga Hueningkai akan datang menjemputku, jadi jangan khawatirkan aku" ucap Saerin.


"Baiklah, mari aku bantu berdiri" tawar Jiyeon yang mengulurkan tangannya dan membantu Saerin berdiri.


"Saerin, apa kau baik-baik saja?" ucap Ji-won dan Junho secara bersamaan saat mereka mendekati Saerin dan Jiyeon.


"Nee, aku tak apa-"


"Saerin!" panggil Hueningkai yang mendekat.


"Kai"


"Ada apa dengan ramai-ramai ini?" tanya Hueningkai yang melihat seluruh siswa berkumpul di depan gerbang sekolah.


"Eoh, tidak ada apa-apa Kai.." jawab Saerin menenangkan Kai yang tengah panik.


"Baiklah, mari kita pulang. Dan kalian semua juga harus pulang!" ucap Hueningkai pada siswa-siswi yang lain juga.


Mereka semua pun bubar dan hanya menyisakan mereka berlima saja disana.


"Kenapa kalian masih disini? pulanglah!" ucap Kai pada Jiyeon, Junho dan Ji-won.


"Nee" ucap mereka bertiga dengan kompak.


"Yasudah, Saerin masuk ke mobil" pinta Hueningkai yang duluan menuju mobilnya.


"Nee, aku pulang dulu" ucap Saerin pada ketiga temannya.


"Nee"


Setelah itu, Saerin bergegas masuk ke dalam mobil Kai, dan melaju ke jalan pulang.


Sementara Jiyeon, Ji-won dan juga Junho masih berdiri di sana menatap mobil Kai yang menjauh.


"Untung saja Saerin tidak terluka parah, jika itu benar aku akan menyalahkanmu karna sudah membuatnya terluka" ucap Ji-won pada Jiyeon.


"Yak, apa yang kau katakan itu hah?! Kau ingin menyalahkanku karna ia terluka gara-gara aku. Apa kau tak dengar, dia sendiri yang bilang jika ini semua bukan salahku!" ucap Jiyeon.


"Sudahlah kalian berdua, tidak perlu berdebat. Lebih baik kita pulang saja" ucap Junho yang menghentikan perdebatan mereka berdua.


"Hh, jaga ucapanmu itu Ji-won!" tegas Jiyeon yang kemudian berlalu pergi.


Ji-won hanya mendengus kesal pada Jiyeon yang berjalan pergi. Lalu Junho juga pergi meninggalkan Ji-won.


"Yak, kenapa aku ditinggal?!" kesal Ji-won yang merasa ditinggal sendirian. Lalu ia juga pergi pulang.


Skip





*Brraaakkk... brrakk.. brraaakkk...


Buummm*....


...


Jangan lupa like, komen dan vote 💜

__ADS_1


__ADS_2