
3 hari kemudian...
Hari-hari berlalu seperti biasa, belum ada tanda-tanda buruk yang datang pada Saerin semenjak tiga hari berlalu ini. Apakah mimpi itu hanya sebuah mimpi biasa?? buktinya Saerin belum mendapatkan kejadian buruk itu. Apakah mimpinya hanya mempermainkan Saerin saja?
Kita masih belum tau itu...
.
.
Hari ini adalah hari Minggu. Satu hari yang indah untuk semua orang, tapi... tidak dengan Saerin. Gadis itu nampak biasa saja saat menyambut hari Minggu yang cerah ini, bahkan ia terlihat sedikit murung. Ia meringkuk di atas kasur sambil memegangi lututnya dan membenamkan wajah bersamaan dengan air mata yang sedikit menetes. Terasa sekali jika ia sangat tertekan saat-saat ini. Saerin menangis dengan sesenggukan sambil masih meringkuk di atas tempat tidur.
Sungguh, ia masih belum bisa melupakan kejadian itu. Dimana ketujuh namja yang sangat ia sayangi telah membenci dia sepenuhnya. Bahkan sampai saat ini mereka tak pernah menghubungi Saerin sekalipun dan tak pernah ingin mencarinya apalagi mereka belum merasa bersalah dan menyesal jika sudah membenci sampai mengusir Saerin dari rumah.
Saerin tak tau kenapa ketujuh oppanya sekarang sangat membenci dirinya sampai ia disebut anak sialan oleh mereka. Saerin juga tak tau kenapa mereka bisa membencinya saat baru pulang dari Busan. Apa selama ini Saerin telah membuat kesalahan pada mereka bertujuh? kalau memang benar, apakah kesalahannya itu??
Ini masih menjadi sebuah tanda tanya...
.
.
Hueningkai memasuki kamar Saerin karna dari tadi ia mendengar suara isak tangis seseorang, karna itu ia jadi khawatir. Apalagi melihat Saerin yang tengah meringkuk, rasa cemasnya kini kian membesar.
Hueningkai duduk disebelah Saerin, tanpa pikir panjang ia langsung memeluk Saerin dengan hangat hingga dirinya pun ikut menitikkan air mata. Ia juga tak sanggup melihat Saerin yang terus-menerus dihantui oleh rasa penasaran yang bercampur aduk dengan perasaan lain. Ia bisa merasakan apa yang Saerin rasakan saat ini, benar-benar berat baginya menghadapi segala cobaan tanpa dukungan dari keluarga yakni saudara kandungnya sendiri yang sangat ia sayangi.
"Saerin... jangan pernah menangis lagi nee..." ucap Hueningkai yang sama-sama menangis.
"Hiks... hiks... hiks... aku tak kuat Kai... aku tidak kuat... hiks... hiks... aku sangat-sangat menyayangi mereka tapi kenapa mereka malah membenciku? hiks... hiks..."
"Saerin, aku tau perasaanmu... aku mengerti, aku bisa merasakan apa yang kau rasakan saat ini... Tapi cobalah untuk kuat dan bertahan sebentar lagi. Pasti ada jalan lain bagi kita untuk melewati ujian hidup ini"
"Apa yang kau katakan?! Kau bilang aku harus mencoba kuat dan bertahan sebentar lagi?! apa semua usahaku untuk menahan rasa ini masih belum cukup menurutmu hah?! apa aku masih kurang kuat untuk menahan semua rasa sakit yang aku alami ini?! menurutmu bagaimana Kai?!!!" kesal Saerin sambil berusaha melepaskan dekapan Hueningkai.
"Hiks... tolong Saerin, tetaplah bertahan bersamaku. Untukku dan untukmu, kumohon. Aku akan selalu ada di sisimu Saerin... Jangan pernah menyerah... mari kita lakukan ini bersama. Kumohon" tangis Hueningkai yang tak melepaskan pelukannya, ia malah semakin erat memeluk Saerin.
"Hiks... lepaskan aku Kai!!" bentak Saerin sambil memukul punggung Hueningkai, agar namja itu melepaskan pelukannya.
"LEPASKAN AKU KAI!!!" teriak Saerin yang mendorong keras tubuh Hueningkai sampai terjatuh dari tempat tidur.
"Akh..." pekik Hueningkai saat sikunya terbentur lantai.
"Aku sudah menderita Kai!! hidupku sudah sangat menderita sekarang!! aku tak kuat untuk bertahan lagi!!! hiks..." tangis Saerin.
Hueningkai menyeka air matanya kemudian berdiri dan perlahan menghampiri Saerin kembali. Ia pun duduk di tepi kasur dan menggenggam tangan Saerin, lalu menatap gadis itu dengan dalam.
"Aku tau kau kuat Saerin. Aku yakin kau pasti bisa bertahan sedikit lagi. Kita hanya perlu mencari kunci masalahnya dan menyelesaikan masalah itu Saerin" ucap Hueningkai masih menatap Saerin.
"Tapi bagaimana caranya jika aku saja tidak tau apa masalahnya?!"
"Hanya takdir yang dapat menjawab semua tanda tanya ini Saerin. Tenanglah, aku disini bersamamu" ucap Hueningkai sambil menyenderkan kepala Saerin pada dada bidangnya. Kali ini Saerin hanya bisa pasrah dan menangis dalam pangkuan Hueningkai. Menerima semua takdir yang akan terjadi padanya walau belum sepenuhnya ia siap untuk menghadapi takdir itu. Tantangan atau cobaan apalagi yang akan ia lewati bersama Hueningkai nanti.
__ADS_1
***
Sementara itu,
Di rumah Bangtan...
Mereka bertujuh sedang menikmati waktu kesendirian mereka masing-masing.
~*~
*
Jungkook yang berada di taman belakang rumah, terduduk di kursi panjang besi sambil menggenggam ponselnya dan menunduk menatap kebawah melihat kedua kakinya yang saling mengayun santai.
*
Taehyung yang berada di belakang rumah juga dengan berdiri membelakangi kolam renang, hanya menatap sekelilingnya dan merasakan angin sejuk menerpa wajahnya dengan lembut hingga surai rambutnya pun ikut tersapu oleh angin. Memandang kembali taman disampingnya dimana waktu itu mereka bermain dengan selang air bersama. Ia membayangkan kembali masa lalu.
°°~~°°
*Taehyung berlari mengejar Saerin dengan selang air di tangannya, mereka berdua begitu ceria dan tertawa bersama.
"Oppa, kejar aku jika kau bisa!!" teriak Saerin.
"Arrasseo, aku akan mengejarmu. Bersiaplah untuk ku tangkap Saerin!" teriak Taehyung sambil berlari mengejar Saerin.
"Aaaa... tolong!! aku dikejar alien jahat!! hihihi"
°°~~°°
Taehyung menghela napas berat saat kembali melihat bayangan masa lalu yang diingatnya.
*
Jimin yang berada di kamar Taehyung dan sedang bermain game sendirian. Sejenak ia berhenti bermain dan melihat sekeliling ruangan kamar Taehyung. Dimana kamar inilah yang menjadi tempat mereka berempat bermain bersama, yaitu dirinya, Taehyung, Jungkook dan Saerin. Jimin menghela napasnya sedih, ia pun mematikan layar komputer kemudian merebahkan dirinya di lantai.
*
Namjoon yang berada di ruang tengah sedang duduk di sofa sambil menonton televisi. Ia mulai menoleh ke sekelilingnya, sangat sepi hanya dia sendirian yang duduk. Mengingat kembali masa lalu dimana kedelapan bersaudara itu bersama-sama duduk di sofa dan menonton televisi bersama juga. Namjoon menghela napasnya panjang lalu mematikan televisi kemudian berbaring di sofa sambil memainkan ponselnya.
*
Hoseok yang berada di dalam kamarnya, tengah duduk diatas kasur dengan memangku bantal diatas pahanya sambil menatap jendela kamar. Kemudian ia menaruh bantal itu kembali lalu turun dari tempat tidur dan keluar kamar. Langkah kakinya kini menuju ke salah satu kamar yaitu kamar Saerin. Ia membuka pintu itu dan masuk ke dalam. Mengingat kembali masa lalu dimana dia selalu membuka hordeng kamar Saerin saat pagi hari dan membangunkan Saerin untuk bersiap pergi ke sekolahnya. Hoseok kembali berjalan dan mendekati hordeng kamar yang tertutup. Ia pun membuka hordengnya setelah itu menoleh pada tempat tidur dibelakangnya. Hoseok menghela napas sedih yang masih berdiri dan menatap tempat tidur Saerin.
__ADS_1
*
Yoongi yang berada di taman kota dan sedang duduk di salah satu kursi panjang besi disana. Dimana itu adalah tempat mereka jalan-jalan bersama dulu. Yoongi hanya melihat lurus ke depan, sesekali ada beberapa orang lewat didepannya tapi Yoongi berusaha mengabaikan mereka. Kemudian menunduk kebawah melihat sebuah foto yang ada di tangannya. Sebuah foto dimana terdapat kedelapan bersaudara yang sedang tersenyum ria sambil memeluk salah satu adik paling bungsu mereka. Terlihat bahagia dari kenyataannya. Yoongi menatap foto itu dengan sendu.
*
Sementara itu, kakak tertua mereka yaitu Seokjin, sedang berada di sungai Han. Ia berdiri di pinggir sungai sambil memegang sebuah foto. Foto ketujuh anak lelaki remaja dan seorang balita perempuan yang dipangku oleh kakak tertua dengan posisi mereka yang berada di tengah keenam anak lelaki lain yang lebih muda darinya. Foto itu sudah terlihat usang karna sudah termakan waktu. Foto lama mereka yang selalu disimpan dengan baik oleh Seokjin sebagai kenang-kenangan.
Seokjin merasakan angin sejuk yang menerpa wajahnya membelah rambut depan yang menutupi dahinya. Memejamkan mata sejenak, menghirup udara segar dari pinggir sungai dan menghembuskannya dengan panjang.
~***~
Sebenarnya mereka bertujuh merasa kesepian karna ketidakhadirannya sang adik bungsu yang sangat mereka sayangi dalam ikatan sedarah dari keluarga mereka ini.
Merasa sedikit menyesal tapi belum bisa melupakan amarahnya pada si bungsu.
Kenapa mereka melakukan itu??
Apa mereka tak tau jika adik bungsu mereka sangat terpukul menerima kebencian dari ketujuh kakak kandungnya itu??
Apa mereka tak memikirkan perasaan adik bungsu mereka???
*
*
*
You'Re My Brother (BTS)
[SPOILER EPISODE] /Minggu, 08 November 2020.
Nantikan kelanjutan kisahnya...
Jangan lupa like, komen dan vote.
~***~
°
Maaf ya, sebelumnya episode ini terdapat kesalahan teknis saat ada perbaikan dikit dari author. Jadi author buat lagi. Semoga kalian dapat membacanya dengan teliti lagi di episode-episode berikutnya.
°
__ADS_1
NANTIKAN ENDING DARI CERITA INI.
BORAHAE 💜💜💜