You'Re My Brother (BTS)

You'Re My Brother (BTS)
Eps 6


__ADS_3


Author POV


Di rumah sakit tempat Sari dirawat.


Sekarang Sari sedang diperiksa oleh dokter.


Selesai diperiksa


"Pasien sudah boleh pulang" katanya memberitahu Tante Luna dan yang lainnya.


"Terima kasih dok." kata Tante Luna.


"Sari sekarang kamu udah boleh pulang" sambungnya dengan tersenyum menatap Sari yang berada di samping ranjangnya.


Sementara Sari hanya terdiam memaku diranjang. Ia masih memikirkan oppa-oppa nya.


"Sari" panggil Tante Luna tapi Sari masih terdiam. Lalu Tante Luna menyenggol lengan Sari. Sari terkejut lalu menoleh kepada Tante Luna.


"Kenapa? Ada apa?" tanya Sari kebingungan.


"Ih kamu tuh gimana sih Sari orang udah di bolehin pulang juga malah diem aja" kata Tante Luna agak kesal menatap Sari.


"Oh udah boleh pulang. Yaudah ayo pulang" kata Sari hampir beranjak dari ranjang.


"Tunggu sebentar nona" kata dokter itu menghalangi Sari pergi dari ranjang.


"Kenapa dok. Kan Sari udah boleh pulang" kata Sari heran.


"Sebentar, kita masih belum melepas selang infus nya" kata dokter menatap Sari. "Suster tolong lepaskan selang infus nya" sambungnya.


Kemudian suster itu segera melaksanakan perintah dokter.


"Tahan sebentar ya nona" kata suster itu berhati-hati. Kemudian suster mulai melepas selang infus itu dengan perlahan.


Sementara Sari terus saja terdiam.


Setelah selang infus nya berhasil dilepaskan suster langsung memberesi peralatan pemeriksaan.


"Nggak sakit Sar" kata Tante Luna yang berada di samping Sari dengan heran menatap Sari.


"Apanya yang nggak sakit?" kata Sari menoleh dengan heran kepada Tante Luna.


"Ih kamu itu gimana sih orang nanya kok malah balik nanya" kata Tante Luna agak kesal.


"Oh ini, biasa aja kok" kata Sari sambil memperlihatkan tangannya yang berbekas jarum infus.


Tante Luna hanya menggeleng-geleng dengan heran melihat kelakuan Sari.


"Udah ah kan udah boleh pulang ayo kita pulang" kata Sari yang turun dari ranjang.


"Yaudah kalo kayak gitu. Dok kita pamit dulu terima kasih" kata Tante Luna dengan sopan.


"Iya sama-sama. Sudah kewajiban saya untuk merawat pasien yang sakit" kata dokter itu dengan tersenyum. "Yasudah saya permisi dulu. Mari sus" sambungnya mengajak suster pergi.


"Iya dok terima kasih" kata Tante Luna lagi.


Kemudian dokter pergi keluar diikuti suster yang berada dibelakang.


"Ayo tunggu apa lagi. Kita pulang" kata Sari tak sabar untuk pulang.


"Ya ampun kamu ini Sari"


"Yaudah ah" sahut Sari kemudian ia pergi keluar dari ruangan. Yang lain hanya menatap Sari heran.


Rey yang tadinya diam saja, akhirnya ikut keluar menyusul Sari. Dan diikuti oleh Tante Luna dan Om Roy.


Sementara itu Sari yang bergegas keluar melewati lorong-lorong kamar rumah sakit. Tiba-tiba tak sengaja ia menabrak seseorang di depannya. Hampir saja Sari terjatuh tapi di tangkap oleh orang yang Sari tabrak itu. Dan ternyata dia adalah Adit yang masih memakai seragam sekolahnya.


"Adit" sahut Sari kemudian.


"Ternyata feeling ku benar" kata Adit menatap Sari.

__ADS_1


Sari berdiri dan melepaskan tangan Adit.


"Kenapa kamu ada disini Dit?" tanya Sari heran.


Tiba-tiba terdengar suara seseorang memanggil nama Sari.


"Kak Sari!" seru Rey menghampiri Sari.


Mendengar namanya dipanggil Sari sontak menoleh ke asal suara.


"Kak Sari ayo kita pulang jangan berbicara dengan orang asing. Ayo!" kata Rey sambil menarik tangan Sari dan mengajaknya pergi dari Adit. Ternyata Rey melihat Sari yang hampir jatuh tapi ditangkap oleh seorang lelaki.


Sari berusaha menahan tangan Rey.


"Bentar Rey. Dia itu bukan orang asing. Dia temen sekolahnya kak Sari. Kamu kenapa sih" kata Sari mencoba menepis tangan Rey.


"Udah ayo kita pulang!" seru Rey tidak peduli ucapan Sari.


"Sebentar Rey kak Sari mau ngomong dulu sama dia" kata Sari berusaha menahan dirinya yang ditarik-tarik oleh Rey.


"Udah ayo!" Rey memaksa Sari untuk pulang dan Sari terpaksa mengikutinya.


"Yaudah tunggu sebentar. Dit maaf ya mungkin lain kali aja kita ngobrolnya. Aku permisi dulu" setelah Sari selesai berbicara Rey langsung menarik Sari lagi. Sari hanya bisa pasrah ditarik Rey.


"Rey kenapa sih kamu kayak gitu itu namanya nggak sopan Rey. Kak Sari nggak pernah ngajarin kamu jadi anak yang nggak sopan kan. Bagaimanapun dia itu temen sekolah kak Sari berarti dia juga seumuran dengan kak Sari dan dia lebih tua dari kamu. Kamu harusnya bisa sopan sama dia" kata Sari yang berjalan masih dengan tarikan tangan Rey. Tapi Rey diam saja tak menggubris ucapan Sari dan masih menariknya menuju parkiran mobil. Sari yang hanya diam pasrah ditarik oleh Rey. Entah apa yang terjadi dengan Rey sampai dia tidak suka Sari berdekatan dengan lelaki.


Sampai di depan mobil Om Roy. Sari dan Rey langsung masuk ke dalam yang tak lama Tante Luna dan Om Roy ikut masuk.


Skip


Sampai rumah Sari segera masuk ke dalam tanpa memperdulikan yang lainnya. Ia berjalan masuk menuju kamarnya dan menutup pintu kamar lalu membanting tubuhnya ke atas kasur. Dia mencari ponsel dan mengeceknya. Ternyata ada panggilan masuk dari Tiara.


"Apa tadi Tiara menelpon ku" gumamnya dengan melihat ponselnya.


"Aku akan menelponnya kembali"


Ia menekan tombol lalu meletakkan ponselnya disamping telinganya.


Tuutt... tuutt... tuutt...


"Halo Ti, ada apa kamu menelpon ku. Apa ada urusan yang serius" kata Sari menjawabnya di telepon.


"Ya kamu urusannya"


"Kenapa memangnya"


"Kamu kenapa nggak masuk sekolah"


"Oh itu. Aku sakit" jawab Sari singkat.


"Hah kamu sakit. Apanya yang sakit Sar kenapa kamu sakit. Sekarang kamu ada dimana nanti aku jengukin" kata Tiara di dalam telepon dengan nada cemas.


"Nggak papa kok cuma pusing aja. Aku udah ada dirumah tadi sempet ke rumah sakit"


"Terus sekarang gimana udah baikan belum kalo belum nanti aku beliin kamu buah-buahan deh. Nanti aku bakal jenguk kamu ya" kata Tiara masih dengan cemas.


"Nggak. Nggak usah ngerepotin kamu aja. Aku udah baikan kok tenang aja. Kamu nggak usah jenguk"


"Tapi kamu beneran baik-baik aja kan"


"Iya aku baik-baik aja. Yaudah kalau kayak gitu aku tutup dulu ya. Bay.. " kata Sari dan langsung menutup sambungannya tanpa memperdulikan kata-kata Tiara selanjutnya.


"Hah.. capek banget!" serunya sambil menghela napas merebahkan tubuhnya dan menutup matanya. Seketika ia mengingat sesuatu lalu membuka matanya.


"Oh iya gimana kabarnya oppa sekarang" gumam Sari.


Kemudian Sari beranjak dari tempat tidur pergi ke kamar mandi. 15 menit kemudian ia keluar dan memakai bajunya lalu turun ke bawah. Di sofa ruang keluarga sudah ada Tante Luna, Rey dan Boy.


"Dimana Om Roy" sahutnya setelah menuruni tangga.


Sontak semuanya menoleh ke arah Sari.


"Om kamu lagi pergi katanya ada urusan mendadak" jawab Tante Luna.

__ADS_1


Kemudian Sari bergabung duduk di sofa disamping Tante Luna.


"Tante Sari mau ngomong" kata Sari dengan serius menatap Tantenya.


"Ngomong apaan Sari"


"Mm.. Tante. Tolong beliin Sari tiket pesawat ke Korea ya. Sari mau ke sana ya. Ayo dong Tant, Sari mau ketemu sama oppa-oppa Sari. Boleh ya, ya" kata Sari sambil menggoyangkan lengan Tante Luna meminta izin.


"Ya boleh ya Tante. Please, Sari mau pergi. Izinin Sari pergi ya" kata Sari dengan nada memelas.


"Tapi kamu belum sembuh" ujar Tante Luna merasa kasihan kepada Sari.


"Sari udah sembuh kok Tante. Sari pengen ketemu sama oppa. ya tolong ya Tante biarin Sari pergi"


"Tapi kan itu berbahaya Sari. Kata kamu oppa mu itu dalam bahaya. Biarin Om kamu aja yang ngurus ya. Sari tenang aja biar Om yang ..." belum selesai Tante Luna berbicara Sari sudah memotongnya.


"Sari nggak mau Tante biar Sari sendiri aja yang urus biar Sari sendiri yang akan kesana" kata Sari mengguncang lengan Tante Luna.


"Kamu itu gimana sih udah dibilang bahaya. Kamu ngerti nggak sih Sari. Kalo kamu kenapa-napa gimana. Tante nggak mau kamu terluka" kata Tante Luna menatap Sari dengan serius.


"Tante, Sari udah nggak tahan lagi. Sari pengen kesana Sari mau nyelamatin oppa. Sari juga nggak mau terjadi apa-apa dengan oppa. Sari mohon, Sari nggak bisa nunggu kayak gini lagi Tante hiks.. hiks.. Sari nggak tahan, perasaan Sari nggak enak. Sari nggak mau mereka tiada. Walaupun selama lima tahun Sari nggak ketemu mereka dan nggak pernah tahu kabar mereka tapi Sari selalu memikirkan keadaan mereka. Tante nggak pernah ngasih tau nomor mereka ke Sari. Tante selalu bilang Tante nggak punya nomor mereka. Sari yakin sebenernya kalian punya nomornya kan. Tapi kenapa kalian nggak mau ngasih itu ke Sari. Apa oppa yang bilang ke kalian agar jangan ngasih nomernya ke Sari iya kan. Mereka pasti bilang begitu kan. Kalo nggak, darimana pelaku itu bisa tau nomor ponsel Sari. Itu pasti dari ponselnya oppa kan. Kalo enggak pelaku itu nggak akan nelpon ke Sari untuk pergi ke Korea bertemu oppa" kata Sari dengan cemas dan tak sengaja meneteskan air matanya. Ia sangat terpukul mendengar keadaan oppa-oppa nya yang selalu ia pikirkan dan belum bertemu selama lima tahun ia berada di Indonesia.


Sementara Tante Luna hanya diam mendengar kata-kata Sari. Ia tahu sebenarnya ia mempunyai nomor oppanya Sari. Dan kata-kata Sari menjelaskan segalanya. Tapi kenapa ia menutupinya dari Sari. Itu masih menjadi sebuah tanda tanya.


Tante Luna hanya bisa menghela nafas nya dengan berat. Dia tahu sebenarnya selama Sari bersekolah Sari sudah mengikuti ekskul silat dan karate. Sampai-sampai Sari pulang terlambat karna latihan itu. Tapi Tante Luna hanya bisa pasrah akan keinginan keponakannya itu. Ia tidak bisa melarang Sari untuk berhenti. Sebenarnya ia pernah melarang Sari berhenti mengikuti ekskul itu tapi Sari tetap saja memberontak. Sari bahkan pernah menunjukkan kemampuannya kepada Tante Luna dan itu membuat Tante Luna tak bisa melarang Sari. Tante Luna tahu bahwa Sari sedikit keras kepala tapi tidak ada gunanya dia memarahi Sari. Sari tetap saja bungkam dan melawan kata-kata Tantenya. Hingga akhirnya Tante Luna hanya bisa pasrah melihat Sari seperti itu masih dengan pendiriannya. Sampai sekarang Sari bisa membawa pulang medali dan sertifikat lomba silat dan karate untuk menunjukkannya kepada Tante Luna.


Tidak ada yang bisa Tante Luna lakukan lagi. Sikap keras kepala Sari dalam keinginannya tidaklah berubah sama sekali sampai sekarang. Mau tidak mau Tante Luna mengiyakan keinginan Sari. Baginya Sari adalah gadis yang baik, ramah dan sopan tetapi jika keinginannya sudah bulat dan tidak bisa berubah, Tante Luna tidak bisa membantah keinginan Sari tersebut. Ia tetap saja kalah saing dari keponakannya.


"Baiklah Sari, Tante akan mengizinkan kamu pergi ke sana. Tapi apakah kamu benar-benar ingin sendirian pergi ke Korea. Negara itu sangat besar dan padat kemungkinan banyak orang-orang berbahaya yang bersembunyi dibalik keramaian orang banyak. Apakah kamu siap melakukannya. Tante tidak mau kamu terluka Sari, tolong kali ini dengarkan kata-kata Tante. Ini semua demi kebaikan mu juga Sari" menatap Sari dengan serius.


"Iya Tante, Sari siap melakukannya. Sari akan berwaspada, Sari janji nggak akan terluka. Sari bisa menjaga diri sendiri. Sari janji Tante"


"Yasudah kalau memang seperti itu keinginan mu. Tapi nanti Tante akan memesankan apartemen untuk kamu tinggali sementara dulu ya"


"Iya Tante. Terima kasih" kata Sari sambil memeluk Tante Luna.


"Sama-sama sayang" kata Tante Luna membalas pelukan Sari dan mengelus lembut kepala Sari. "Yasudah nanti Tante akan mengurus semua keberangkatan kamu. Besok kamu akan pergi ke sana. Nanti kemasi barang-barang mu ya"


"Iya Tante, sekali lagi terima kasih. Sari menyayangi Tante"


"Iya" kata Tante Luna dengan tersenyum.


"Jadi kak Sari mau ninggalin kita" kata Rey yang sedari tadi menyimak pembicaraan Tante Luna dan Sari.


"Iya! Memangnya kenapa Rey takut kak Sari tinggalin" kata Sari melepaskan pelukan Tante Luna dan menatap Rey.


"Nggak juga kok. Siapa yang takut ditinggalin kalo mau pergi ya pergi aja" kata Rey tanpa menatap Sari. Ia tahu pasti Sari akan pergi. Mulutnya memang berkata iya tapi sebenarnya hatinya berkata tidak. Ia tidak ingin Sari meninggalkannya. Menurutnya Sari adalah kakak yang bisa ia andalkan. Sari selalu mengajarkan kepadanya tentang menjadi anak yang baik dan sopan, tidak begitu cuek kepada orang lain di sekitarnya. Dan Rey juga sangat menyayangi Sari. Dia menganggap Sari seperti kakak kandungnya sendiri. Sari selalu menegur Rey jika ia berbuat salah dengan nada yang halus. Karna itu dia sangat menyayanginya. Meskipun ia selalu berbuat nakal kepada Sari tapi itu hanya sebuah candaan sayang kepadanya. Karna ia tak ingin melihat Sari bersedih. Itu hanya untuk menghiburnya semata.


Kemudian Sari berdiri dan menghampiri Rey dan duduk disebelahnya.


"Beneran Rey nggak takut kak Sari tinggalin. Apa nanti Rey nggak akan merindukan kak Sari jika sudah pergi. Jangan menyesal ya dengan kata-kata Rey sendiri" kata Sari sambil menepuk bahu Rey. Tapi Rey tetap tidak bergeming dia tetap berusaha tidak menatap Sari dan mengalihkan pandangannya ke arah lain untuk menghindari bertatap muka dengan Sari.


Tiba-tiba tanpa pikir panjang Sari langsung memeluk Rey yang ia anggap seperti adiknya.


"Kak Sari nggak akan ngelupain Rey. Kak Sari akan tetap menyayangi Rey" katanya dalam pelukan Rey. Kemudian Rey membalas pelukan Sari.


"Rey juga sayang kak Sari" katanya dan tak sengaja Rey mengeluarkan air matanya. Baginya ini kali pertama ia meneteskan air mata di pelukan Sari.


"Sstt... jangan nangis masa anak cowok nangis. Sstt.. sudah sudah" kata Sari sambil menepuk pelan pundak Rey.


Tante Luna yang melihat keduanya saling menyayangi membuatnya bersyukur mempunyai mereka berdua di dalam keluarganya. Kemudian Sari melepaskan pelukannya dan mengusap air mata di wajah Rey yang masih menangis.


"Sstt... udahan dong nangisnya nggak enak tuh ingus Rey keluar" kata Sari sambil bercanda kepada Rey. Rey yang mendengarnya langsung mengusap wajahnya dengan lengan bajunya.


"Nggak ada kok. Kak Sari boong" kata Rey disela-sela isakannya.


Sari hanya tertawa mendengar kata-kata Rey. Dan Tante Luna juga ikut tersenyum dan tertawa.


Semuanya berakhir dengan tersenyum dan tertawa bersama.



Tungguin terus cerita selanjutnya ya.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan vote.


Terima kasih. 💜


__ADS_2