
Di dalam mimpinya, Saerin sedang berada di padang rumput yang luas. Hanya ada rerumputan hijau dan beberapa pohon yang berada disana. Hampa, itu yang dirasakannya saat ini. Dia yang hanya duduk sendirian di atas rumput hijau dengan memandang pemandangan di depannya.
Saerin merasakan hembusan angin yang menerpa wajahnya dan menerbangkan setiap helai rambutnya dengan lembut. Sendirian tanpa seseorang yang menemaninya, ia hanya berdiam diri dengan kebingungan. Ia tak tau harus melakukan apa.
Datanglah seseorang yang berdiri di sampingnya, mengenakan pakaian serba putih yang sederhana. Saerin menoleh ke arah anak itu.
"Junho"
Junho hanya tersenyum melihat Saerin. Gadis itu juga sama, mengenakan dress putih yang sederhana tapi anggun jika ia pakai. Kepalanya dipakaikan sebuah mahkota bunga berwarna putih yang sangat cantik dan polos. Senyum yang terukir di wajahnya menambah kesan kesempurnaan dari seorang gadis remaja yang terduduk dihadapan anak lelaki yang sama halnya dengan dirinya.
Junho mengulurkan tangan dan segera diraih oleh Saerin dengan pelan dan menggenggamnya. Ia berdiri dan menatap Junho.
Junho mengusap poni rambut Saerin dengan lembut.
"Saerin, maukah kau ikut denganku?" tanya Junho.
"Kemana Junho?"
"Kajja, ikut aku!" Junho menarik tangan Saerin. Mereka berdua berlarian di hamparan rumput-rumput hijau. Junho membawa Saerin ke kebun bunga, yang disana terdapat berbagai bunga dengan jenis dan warna yang berbeda.
.
Junho memetik salah satu bunga berwarna perak, ia menaruh bunga itu di atas telinga Saerin.
Junho kembali menarik tangan Saerin, mereka berlarian lagi entah ingin kemana. Junho pun berhenti, dihadapannya terdapat ayunan yang berada disalah satu ranting di pohon besar yang rindang. Saerin dituntun untuk menaiki ayunan yang talinya dibuat dari cabang-cabang pohon dengan beberapa bunga kecil berwarna putih yang terikat di tali itu.
Saerin duduk di ayunan tersebut, lalu di ayun-ayunkan oleh Junho dibelakangnya.
Mereka saling tertawa bersama. Ayunan itupun dihentikan oleh Junho. Saerin merasa bingung, kenapa permainannya dihentikan. Junho berjalan kesamping dan mengulurkan tangannya lagi. Saerin hanya menurut dan mengikutinya kembali.
Mereka berada di taman yang disana terdapat kupu-kupu yang berkeliaran dengan warna sayapnya yang berbeda-beda. Beberapa kupu-kupu menghampiri Saerin dan melepaskan mahkota bunga yang berada di atas kepalanya. Dan digantikan oleh mahkota bunga yang baru dari beberapa kupu-kupu lain yang datang membawanya. Mahkota bunga yang baru itu terbuat dari bermacam-macam bunga, berbeda dengan yang tadi Saerin pakai. Ini berisikan berbagai bunga yang berwarna-warni. Tampak cantik untuk dikenakan pada Saerin.
"Owh gomawo" Saerin tersenyum pada kupu-kupu itu. Beberapa kupu-kupu tadi, terbang ke kepala Saerin dan bertengger cantik di mahkota bunga yang ia pakai.
Saerin hanya menatap kupu-kupu itu dengan heran.
"Kajja Saerin-ah!" Junho menggenggam tangan Saerin dan berjalan kembali. Menikmati waktu mereka bersama.
kembali ke dunia nyata..
Kai juga datang ke rumah sakit karna Jungkook menghubunginya. Sebentar lagi mereka akan berangkat, jadi Jungkook menyuruh Hueningkai untuk menjaga Saerin mulai hari ini.
Keesokan harinya..
"Kai, kami akan pergi sekarang. Tolong jaga Saerin dengan baik nee? aku percayakan semuanya padamu" kata Namjoon.
"Nee hyung, pasti akan aku lakukan. Jangan khawatir" kata Kai.
"Baiklah, Jin hyung. Kajja, kita harus bersiap-siap" kata Namjoon pada Jin yang masih lekat berada di samping Saerin. Namjoon pun menghampiri Jin dan menepuk pelan pundaknya.
"Jin hyung, percayakan saja semuanya pada Kai, aku yakin dia pasti akan menjaganya dengan baik. Kita harus segera berangkat hyung, yang lain sudah menunggu kita dirumah. Kita harus pergi sekarang"
__ADS_1
Jin menoleh
"Tapi aku tidak bisa meninggalkannya dalam kondisi seperti ini, apalagi dia belum juga sadar"
"Tapi pekerjaan kita juga lebih penting hyung, tolong mengertilah hyung"
Jin menghela napasnya. Sangat berat baginya meninggalkan Saerin dengan keadaannya yang sekarang. Sebenarnya jika pekerjaannya tidak sebanyak itu, maka Jin lebih memilih ingin menemani Saerin saat ini. Tapi tugas perusahaannya juga penting, untuk kelangsungan hidupnya yang harus dicukupi.
Akhirnya Jin pasrah dan mengikuti Namjoon. Hanya ada dia dan Namjoon yang tersisa dirumah sakit ini, karna yang lain sudah pulang untuk memberesi barang-barang mereka.
"Kai" panggil Jin yang beranjak ingin pergi.
"Nee hyung"
"Jagalah Saerin. Jika dia sudah sadar dan pulih, katakan padanya agar langsung mengabariku, nee?"
"Nee hyung, pasti akan aku katakan"
Jin mengecup pelan kening Saerin sebelum ia pergi.
"Saerin, cepatlah sembuh sayang. Mian oppa tidak bisa menemanimu, oppa akan merindukanmu" ucap Jin ditelinga Saerin. Kemudian Jin keluar dari ruangan bersama dengan Namjoon.
Melihat mereka berdua sudah keluar, Kai pun menghampiri Saerin dan duduk di kursi yang berada disebelahnya.
"Saerin, kenapa kau belum juga sadar? aku sudah sangat merindukanmu. Cepatlah bangun Saerin. Jika kau sudah sembuh nanti, aku akan mengajakmu jalan-jalan, kau pasti akan senang. Tenang saja, ada aku disini, aku akan menemanimu. Kau pasti tidak akan pernah kesepian Saerin. Kumohon cepatlah bangun" kata Kai yang menggenggam telapak tangan Saerin.
Di dunia mimpi..
Langit sudah berubah menjadi jingga, matahari mulai terbenam dan petang akan datang. Langit yang awalnya berwarna biru terang, sekarang menjadi hitam dan gelap. Hanya ada sinar rembulan dan para bintang yang bersinar menghiasi langit malam yang gelap gulita.
Saerin tengah duduk bersender di bahu Junho yang sedang mengamati bintang dan bulan dari bawah. Mereka sangat menikmati harinya dengan gembira bersama.
"Hmm.."
"Hari ini sangatlah menyenangkan. Berkat kau, aku tidak kesepian lagi. Hidupku hampa sebelum kau datang, dulu aku merasa seperti hanya seorang diri dalam dunia yang begitu luas ini. Aku sangat kacau, rasanya aku tidak ingin hidup lagi di dunia, aku merasa ingin mati saja dan meninggalkan dunia yang begitu kejam padaku. Dunia yang tak memberiku kasih sayang dan cinta. Aku tidak punya tujuan hidup karna itulah aku berpikir demikian. Tidak ada orang yang peduli denganku. Tapi itu sudah jauh berbeda ketika kau datang padaku dan bertemu denganku. Jujur, pertama kali kita bertemu saat hari itu, aku sedikit merasa gugup. Tapi baru sebentar kita berkenalan, aku sudah merasa nyaman padamu. Aku yang tadinya tidak punya tujuan untuk hidup itu, sekarang sudah tergantikan. Semenjak aku mengenalmu, aku merasa kalau aku sudah punya tujuan. Dan aku sadar bahwa tujuanku adalah dirimu sekarang. Sebenarnya aku malu mengatakan ini padamu. Mungkin sekaranglah waktu yang tepat bagiku mengutarakan semua isi hatiku."
Junho memegang bahu Saerin dan memintanya menghadap dirinya. Junho menatap Saerin dengan dalam sambil memegang bahu Saerin.
"Saerin, sebenarnya sejak pertama kita bertemu, aku sudah jatuh cinta padamu. Senyumanmu, tatapanmu, aku menyukainya. Aku tau ini sulit, tapi.. aku ingin memberanikan diri padamu" Junho melepas genggamannya. Dia menoleh ke samping, lalu bersiul. Datanglah dua ekor kupu-kupu dan beberapa kunang-kunang yang mendekatinya dengan membawa sekuntum bunga mawar. Mereka memberinya pada Junho.
Junho berdiri dan mengulurkan tangannya, meminta Saerin untuk ikut berdiri juga. Junho mengambil bunga itu dari dua ekor kupu-kupu tersebut. Dengan perlahan, Junho menghadap Saerin dan menatapnya.
"Saerin, aku ingin mengatakan sesuatu padamu"
Saerin hanya tersenyum menatap Junho dihadapannya.
"Saerin, aku mencintaimu. Sejak pertama kali aku menatapmu, aku merasa bahwa diriku telah jatuh cinta padamu. Aku kira ini hanyalah perasaan kecil saja, karna aku tak pernah bertemu seorang gadis. Tapi ketika aku bertemu denganmu, dan kau mengoleskan salep ke bibirku yang luka, aku sadar bahwa perasaan itu adalah rasa seseorang yang sedang jatuh cinta dan rasa itu sekarang mulai membesar. Saat kau tersenyum padaku, aku sudah merasa bahwa aku jatuh cinta padamu. Entah kenapa jantungku selalu berdebar jika bertemu denganmu, walau kita baru sebentar bertemu. Tapi aku selalu berharap bahwa aku akan selalu bertemu denganmu. Dan.. inilah rasaku untukmu. Maukah kau jadi kekasihku? jika kau terima bunga ini, itu berarti jawabanmu iya, jika tidak.. maka, tidak masalah. Tapi setidaknya, aku sudah mengatakannya padamu. Sekali lagi.." Junho menyodorkan bunga itu ke hadapan Saerin dengan tersenyum lebar, berharap ia akan menerimanya.
"Saranghae.. Saerin.." katanya dengan gugup.
Dengan tersenyum, Saerin mengambil bunga yang diberikan Junho.
Junho tak menyangka jika Saerin akan menerimanya. Ia sangat senang dan segera memeluk Saerin, ia melepaskan pelukannya lalu mengecup kening Saerin sekilas. Junho menggenggam tangan Saerin sambil menunduk karna ia terlalu gugup.
Setelah ia mendongak menatap Saerin, tiba-tiba ia terkejut. Tubuh Saerin secara perlahan berubah menjadi butiran-butiran debu yang pergi dari raganya. Dan akhirnya ia menghilang dengan menyisakan setangkai mawar di tangan Junho yang diberikan untuknya.
"Saerin?!" Junho panik sekaligus menoleh ke sekelilingnya dengan cemas.
"Saerin!!" teriaknya.
__ADS_1
"Waeyo? mwoya? Saerin-ah!!" teriakannya menggema di seluruh tempat.
"Saerin-ah!!" tiba-tiba, sebuah cahaya datang dari kejauhan. Junho menoleh ke arah cahaya itu. Ia terkejut saat Saerin berada disana yang sedang berdiri di depan pintu yang bercahaya tersebut. Kemudian Saerin membalikkan badannya menghadap pintu, saat ia ingin melangkah masuk, ia menoleh pada Junho.
"Saerin!! kenapa kau ada disitu?!!! kemarilah!! jangan kesana!!" teriaknya karna mereka berjauhan.
"Saerin tunggu aku!!" Junho berlari mendekati Saerin yang ingin masuk kedalam pintu itu, berharap ia tidak masuk.
Tapi Saerin malah menoleh ke arah pintu itu kembali, dan melangkah masuk saat Junho berlari menghampirinya.
"Saerin!! tolong jangan!! SAERIN!!!" teriaknya sambil berlari. Tapi terlambat, Saerin sudah masuk kedalam pintu itu dan menghilang bersamaan dengan pintunya pada saat Junho sudah dekat. Junho ingin meraih pintu tersebut tapi dengan sekejap pintu itu menghilang dan Junho hampir jatuh karna itu.
"Hah, kemana pintu itu?" gumamnya sambil mentolah-toleh.
"Saerinaa!!!"
...
Mata Junho mulai berkaca-kaca melihat bunga mawar yang ia genggam. Digelapnya malam seperti ini, ia tidak bisa menemukan Saerin. Dan ia sendirian lagi. Kepalanya mendongak keatas. Tergambarlah wajah Saerin diantara bintang-bintang dan bulan yang berada di atas kepalanya, ia sedang mengulurkan tangan pada Junho yang memintanya membalas ulurannya tersebut.
Junho pun mengulurkan tangannya juga, tapi ia tak bisa merasakan telapak tangan Saerin yang menggenggam tangannya. Dengan perlahan, bayangan Saerin yang cerah di langit malam itu pun sedikit demi sedikit menghilang, dan akhirnya lenyap di kegelapan malam. Junho tak kuasa menahan air matanya.
Ia meneteskan air mata yang mulai membasahi pipinya. Dengan tangan yang masih terulur berada di udara.
"SAAEERIIIINN!!!"
Junho menunduk dengan beraliran air mata.
•••
Jantungnya berdebar kencang, keringat dingin bercucuran dari wajahnya. Ia membuka matanya perlahan, melihat ke sekeliling dan tersadar.
"Kenapa aku ada disini?"
Junho mencoba bangun dari pembaringannya, tapi seketika ia meringis karna merasakan nyeri di seluruh tubuhnya. Ia tak kuat, jadi tubuhnya terjatuh lagi di ranjang.
"Hahh, ada apa ini? kenapa dengan diriku? apa yang sebenarnya terjadi?" Junho menoleh ke arah kanan, ia melihat seorang gadis tengah tertidur lelap disofa.
"Itukan.. Jiyeon? kenapa dia ada disitu?"
"Ah Saerin!?"
Junho memaksakan diri untuk bangun. Ia pun terduduk dengan merintih merasakan nyeri.
Ia berusaha menguatkan dirinya untuk berjalan menuju kursi roda di samping laci rumah sakit. Ia membawa serta penyangga infus untuk menyeimbangkan tubuhnya. Ia berjalan perlahan mendekati kursi roda. Ia duduk dan melepaskan selang infus itu dari tangannya. Kemudian, menjalankan kursi rodanya keluar, ia membuka pintu dan keluar hingga membiarkan pintunya terbuka.
Junho berjalan dengan menaiki kursi roda mengelilingi lorong rumah sakit. Ia mencari Saerin sampai keluar dari rumah sakit, ia mendapati dirinya berada di taman setelah ia keluar dari pintu. Memberhentikan laju kursi rodanya sejenak dan terdiam sesaat.
Suasana tampak sepi disekitarnya, malam hari yang gelap dan sunyi yang berada dihadapannya.
"Apa tadi itu hanyalah mimpiku saja? kenapa aku memimpikan dirinya? apakah itu kenyataan? tapi itu sepertinya tidak nyata. Aku hanya bermimpi ternyata.." Junho menghela napasnya panjang.
Ia kembali menjalankan kursi rodanya masuk kedalam. Ia kembali masuk ke kamarnya dan menutup pintu. Ia hanya bisa menatap langit dari jendela di kamar rumah sakit, dengan masih memikirkan kejadian itu. Kejadian yang membuatnya heran dengan dirinya sendiri. Apakah itu nyata atau hanya mimpi? itulah yang ia pikirkan dalam batinnya.
•
•
Nantikan kelanjutan kisahnya..
__ADS_1
Jangan lupa like, komen and vote 💜