You'Re My Brother (BTS)

You'Re My Brother (BTS)
Eps 52


__ADS_3

Skip malam...


Semuanya sudah ada di meja makan begitu juga dengan Saerin. Entah mengapa, Saerin merasa ada yang kurang di sana. Ia sudah terbiasa dengan suasana hangat saat makan malam bersama dengan ketujuh oppanya. Tapi sekarang keadaannya sedang sunyi hanya ada suara sendok yang terdengar dan tak ada suara canda tawa yang memenuhi ruangan itu karna mereka semua sedang sibuk sendiri. Saerin merasa sedih karna mereka mengacuhkannya, apalagi mereka tak merespon sedikitpun jika Saerin berbicara. Ia jadi terlihat asing dalam keluarga di rumah ini.


"Aku sudah selesai" ucap Saerin yang menghentikan makan malamnya walau belum sepenuhnya habis. Ia hanya memakan satu sampai tiga sendok saja lalu pergi ke kamar. Seperti dugaannya, tidak ada yang menyahut saat Saerin pergi. Mereka tak mempedulikan Saerin, mereka malah masih berkutat dengan piring makanannya.


Saerin pergi ke balkon kamar, di sana ia dapat melihat langit gelap yang dipenuhi banyak bintang-bintang bertebaran di atas sana. Bahkan terdapat bulan purnama juga yang melengkapinya, tampak bulat sempurna dan bersinar terang.


"Oppa... kenapa kalian jadi seperti ini? kalian mengacuhkanku lagi. Apa kalian tidak merindukanku? aku sangat-sangat merindukan canda tawa kalian, senyum indah kalian yang selalu mencerahkan hidupku. Kalian adalah kakakku... kenapa kalian jadi bersikap seperti ini padaku? aku merindukan kalian yang dulu... kenapa dengan kalian? sebenarnya mereka semua sedang mempunyai masalah apa? kenapa mereka jadi lebih sering murung dan bersedih? kenapa saat kalian pulang, kalian malah membentakku bahkan sempat kasar padaku juga? aku menyayangi kalian... kenapa kalian membenciku seperti ini?... apa salahku?..." keluh Saerin sambil menatap langit.


Matanya mulai berkaca-kaca tapi ia tak ingin menangis karna itu tidaklah menyelesaikan masalah. Saerin tidak mau jadi gadis cengeng. Ia berani dan tangguh, ia bisa melawan rasa sakit di hati walaupun para oppanya sekarang telah membenci bahkan mengacuhkannya. Saerin harus terlihat kuat agar ia tak dianggap lemah hanya karna hal kecil saja.


Setelah puas melihat bintang, Saerin kembali masuk ke dalam dan merebahkan dirinya di atas kasur. Kemudian sedikit demi sedikit memejamkan matanya.


00.00


Saerin terbangun karna mendengar suara keributan dari bawah. Ia segera melompat menuruni kasur dan pergi ke bawah. Disana ketujuh oppanya sedang mabuk lagi bahkan mereka lebih parah dari yang kemarin. Sekarang ruang tengah sangatlah kacau, pecahan kaca berserakan dimana-mana.


"A..apa yang kalian lakukan ini? kenapa berantakan sekali?" tanya Saerin dengan khawatir.


Mendengar suara Saerin mereka bertujuh menoleh dan menatap tajam pada sang gadis. Membuat Saerin terdiam sesaat karna tatapan mereka. Tak lama kemudian, Jungkook pun berdiri dan menghampiri Saerin.


"Haishh... kenapa kau lagi? Kau selalu datang di saat yang tidak tepat. Mau mu apa sih? kenapa kau terus saja mengganggu kesenangan kami?" kata Jungkook dengan suara berat dan wajah sangarnya.


"A..aku..."


"Ish, pergi kau dari sini!!" ucap Jungkook.


"Tapi oppa, kalian harus berhenti. Ini tidaklah baik untuk kesehatan kalian" ucap Saerin yang sedikit gugup.


"AKU BILANG PERGI DARI SINI" ucap Jungkook sambil mendorong Saerin hingga jatuh dan lengan kirinya tergores pecahan kaca di lantai.


"Akkhh..."


"Haishh... sudah aku bilang, pergilah.. kenapa kau masih ada disini? lihatlah kau terluka, lalu kami juga yang repot tau!" ketus Jungkook.


Saerin hanya meringis menahan sakit. Bukannya menolong, Jungkook malah duduk kembali di sofa bersama hyungnya. Mengabaikan Saerin yang sedang terluka dan meringis kesakitan.


"Aish, aku harus kuat. Aku tidak boleh lemah, apalagi cengeng di depan mereka. Aku akan pergi ke kamarku dan mengobati lukanya sendiri " batin Saerin.


Iapun berusaha berdiri, sambil memegangi lengannya yang berdarah. Saerin segera melangkah menaiki tangga dan masuk ke kamarnya. Ia membasuh lukanya terlebih dahulu, kemudian ia mengambil obat merah dan kapas yang ada di dalam laci. Lalu mengoleskannya pada luka itu.


"Asshh... kenapa oppa jahat sekali? ia mendorongku lalu mengabaikanku begitu saja tanpa berniat menolong adiknya ini. Apa mereka semua memang membenciku? kenapa sekarang jadi seperti ini?" ucap Saerin sambil masih mengobati lengannya.


Setelah selesai mengobati tangannya sendiri, Saerin pun kembali tidur tapi ia masih memikirkan tentang para oppanya yang masih berada dibawah.


Skip


06.00


Saerin sudah ada di meja makan. Tapi kali ini ketujuh oppanya tak ada di meja makan, hanya ia sendirian saja yang duduk di sana yang lain entah kemana.


"Kenapa mereka belum bangun juga? apa karna tadi malam? mereka pasti tidak tidur semalaman. Tak apa lah, aku kan bisa ke sekolah sendiri naik bus. Aku tidak mau mengganggu mereka. Aku akan membiarkan mereka untuk saat ini dulu.." gumam Saerin.


"Saerin, kau kenapa? kenapa kau sedih em?" tanya Hye Ra yang dari tadi melihat Saerin bergumam sendiri.

__ADS_1


"Ah aniya ahjumma Shin, aku tak apa-apa" ucap Saerin dengan tersenyum.


"Apa ini semua karna sikap oppamu?" tanya Hye Ra lagi, kali ini raut wajahnya berubah cemas.


"Ani, bukan karna mereka. Lagipula mereka kan baru pulang kemarin dari Busan, mereka mungkin sedang sangat lelah jadi mereka terus marah padaku. Tak apa ahjumma Shin, jangan khawatirkan aku" ucap Saerin.


"Hm.. Ohya, pagi tadi ahjumma melihat ruang tengah sangat berantakan bahkan ada pecahan kaca di lantai. Dan anehnya lagi, ada sedikit tetesan darah disana. Tapi tenang saja, ahjumma sudah bersihkan kok. Jadi jangan khawatir. Sebenarnya sih kemarin malam juga terjadi hal yang sama tapi tidak seburuk sekarang ini. Apa yang terjadi semalam hingga membuat ruang tamu berantakan?" ucap Hye Ra.


"Entahlah ahjumma Shin, aku tak tau" bohong Saerin. Ia tak mau ahjummanya tau jika tetesan darah itu adalah miliknya semalam. Saerin berusaha menutupinya pada Hye Ra agar dia tidak khawatir dengan keadaannya.


Skip


Saerin menaiki bus sampai ke sekolah. Setelah sampai ia pun segera masuk ke kelasnya. Dan bel sekolah telah berbunyi menandakan pelajaran akan segera dimulai, semua siswa dan siswi juga terlihat fokus saat guru menerangkan di depan. Tapi tidak dengan Saerin, ia malah melamun dari tadi membuat Jiyeon memegang lengan Saerin yang terdapat luka itu hingga Saerin sedikit meringis kesakitan karna lukanya yang masih terasa sakit disentuh oleh tangan Jiyeon.


"Eoh, kau kenapa Saerin? kenapa kau malah kesakitan saat aku pegang? apa aku menggenggamnya terlalu erat?" tanya Jiyeon yang melepaskan genggamannya.


Mereka berdua saling bertatapan hingga membuat guru yang ada di depannya pun menoleh karna mendengar suara Jiyeon tadi.


"Jiyeon, Saerin. Ada apa dengan kalian?" ucap guru Kim dengan tegas yang menurunkan sedikit kacamata minusnya itu.


"A-a... t-tidak ada apa-apa Ibu Kim, kami hanya sedikit mengobrol tadi" bohong Saerin.


"Jangan mengobrol di kelas, kalian membuat yang lain jadi tidak fokus. Sekarang diamlah dan perhatikan pelajaran yang sedang saya bahas ini. Jika kalian ketahuan berbicara lagi, saya akan menghukum kalian berdua. Arrasseo?" ucapnya menatap Jiyeon dan Saerin dengan tajam.


"Nee, Ibu Kim" ucap Saerin dan Jiyeon bersamaan.


"Hm, baiklah kita lanjutkan pelajarannya" kata guru Kim dengan membalikkan badan menghadap papan tulis.


"Haish.. Saerin, kenapa denganmu ini?" bisik Jiyeon yang hampir tak terdengar jelas oleh Saerin.


"Nee" ucap Jiyeon yang kembali fokus ke depan. Sementara Saerin memegangi tangannya yang tadi terkena genggaman Jiyeon.


Skip


Saerin dan Jiyeon pergi ke kantin karna bel istirahat sudah berbunyi. Seperti biasa mereka akan mengisi perutnya dengan jajanan yang ada di kantin sekolah dan mereka berdua juga sedikit berbincang-bincang disana sambil memakan makanannya.


"Eoh, Saerin tadi waktu kita di kelas. Kenapa kau meringis sakit tadi saat aku memegang tanganmu? Apa kau benar baik-baik saja?" tanya Jiyeon yang menyodorkan kepalanya dengan rasa penasaran.


"Aku baik-baik saja Jiyeon, kau tidak perlu khawatir. Tidak terjadi apa-apa denganku" ucap Saerin sambil tersenyum.


"Apa itu benar?" tanya Jiyeon yang belum yakin dengan jawaban Saerin.


"Nee" ucap Saerin dengan mengangguk pelan. Karna Saerin terlihat yakin, jadi Jiyeon sudah mengiyakan ucapannya itu.


Skip pulang


Rumah


Sampai di rumah seperti biasa Saerin menyapa yang ada didalam setelah ia masuk. Yang menjawab sapaan itu hanyalah ahjummanya, padahal masih ada ketujuh oppanya juga yang ada di rumah tapi mereka tak menjawabnya menoleh saja tidak. Saerin benar-benar dibuat asing oleh mereka. Tapi ia harus tetap kuat untuk menghadapinya.


Di dalam kamar, Saerin mengganti bajunya dan duduk di pinggir kasur menatap jendela balkon yang terbuka. Angin sepoi-sepoi masuk ke dalam ruangan membuat kamar Saerin sedikit terasa menyejukkan. Saerin mengambil ponselnya dan menelepon Hueningkai.


"Yeoboseyo" ucapnya dengan suara pelan.


"Eoh annyeong. Apa kau baik-baik saja Saerin-ah? kenapa suaramu pelan begitu? apa ada yang terjadi padamu? katakan Saerin " ucap Hueningkai.

__ADS_1


"Aniyo, gwenchana Kai. Tidak ada yang terjadi padaku"


"Kau bohong Saerin. Kenapa kau menutupinya dariku? katakan saja "


"Sudahlah Kai, aku tidak ingin membicarakan tentang itu, bagaimana jika kita beralih topik saja? aku merindukanmu, apa kau baik-baik saja disana?"


"Hmm... baiklah, kabarku baik dan aku juga merindukanmu. Apa kau kesepian tanpaku disana? "


"Nee, aku sangat kesepian. Jadi cepatlah kembali"


"Nee, arrasseo. Aku akan segera kembali untuk menjemputmu dari sana. Menjemputmu ke dalam pelukanku, agar kau tak kesepian lagi karna ada aku yang akan selalu berada di sampingmu. Untuk memelukmu... "


"Gomawo Kai. Aku akan menunggumu..."


"Hm... tunggu aku disana nee, aku akan segera datang "


"Hehe, ada-ada saja kau ini" Saerin terkekeh karna mendengar tuturan Hueningkai yang membuatnya semakin merindukan namja muda itu.


"Baiklah, aku tutup dulu. Jaga dirimu baik-baik disana, sebentar lagi aku akan pulang "


"Nee"


"Annyeong "


"Annyeong!"


Saerin pun menutup sambungan telponnya, setelah itu menghela napas panjang mengingat ucapan Hueningkai yang ingin menjemputnya kemari.


"Hueningkai, aku akan menunggumu menjemputku. Oppaku sudah tak menyayangiku lagi, mereka telah membenciku. Jadi kemarilah dan jemput diriku untuk menuju ke pelukanmu dimana kita bisa berdua saja seperti dulu. Aku merindukan candaan mu itu, aku juga merindukan quote yang terucap di bibirmu. Itu membuatku semakin lebih nyaman denganmu daripada dengan oppaku sekarang" ucap Saerin.


Lagi-lagi ia menghela napasnya, sungguh ia tak pernah merasa dibenci oleh ketujuh namja yang dari dulu sangat menyayanginya. Ia juga tidak tau apa penyebab mereka bertujuh membencinya sekarang. Kali ini ia dibuat bingung oleh ketujuh oppanya yang baru pulang dari Busan dua hari lalu.


Karna merasa bosan dikamar, akhirnya Saerin turun kebawah untuk mengecek keadaan. Dari tangga ia bisa melihat ketujuh oppanya sedang berada di ruang tengah, tapi Saerin berusaha untuk tak mengganggu mereka. Ia malah pergi ke dapur untuk bertemu dengan Hye Ra. Ketika melihat Hye Ra sedang membersihkan dapur, Saerin jadi mengurungkan niatnya kesana karna ia tak mau mengganggu Hye Ra juga. Akhirnya Saerin pergi ke taman belakang rumah, melihat sebuah kolam yang airnya jernih dan tenang. Mengingat kembali masa lalu dimana ia tengah duduk bersantai di kursi dekat kolam renang bersama ketujuh oppanya.


Bayang-bayang mereka selalu ada dalam pikirannya, bahkan di setiap malam Saerin selalu memimpikan wajah-wajah tampan para oppanya itu dengan senyuman yang selalu mereka pancarkan padanya. Itu karna dia sangat merindukan ketujuh oppa tampannya, maka dari itu ia selalu bermimpi tentang mereka.


"Mimpi itu... tak seperti kenyataan ya...?" gumam Saerin.


Saerin berjalan mengitari kolam renang sambil melihat air yang tenang tanpa gelombang. Saerin mulai berhenti melangkah dan kemudian berjongkok menatap air di kolam renang tersebut. Lalu ia mengambil sebuah batu kerikil dan menjatuhkannya ke dalam kolam. Nampak sebuah gelombang kecil di air itu setelah kerikilnya dijatuhkan. Saerin terus saja mengamati air dalam kolam, lalu sekian detik kemudian air itu mulai tenang kembali.


"Seperti air... dilempar sebuah kerikil kecil maka airnya pun akan bergelombang kecil, lalu dengan cepat air itu akan kembali normal. Jika dilempar sebuah batu besar, apakah gelombangnya akan ikut besar juga? dan berapa lama akan kembali normal?"


"Aku mempunyai sebuah masalah kecil, lalu dengan cepat aku bisa mengatasinya. Tapi bagaimana jika masalahku ini besar? apa aku juga bisa mengatasinya dengan cepat pula? berapa lama aku dapat menyelesaikannya?"


"Aku bingung, kenapa sikap ketujuh oppaku berubah? dan itu terjadi sejak kemarin, tapi kenapa mereka tak kunjung sadar? Jika masalah mereka kecil, mereka pasti masih bisa mengatasinya. Apa mungkin mereka sedang mempunyai masalah yang besar? tapi apa? asshh... apa mereka hanya tertekan saja karna pekerjaan kantor mereka?" kata Saerin yang berbicara sendiri sambil menatap bayangannya di air kolam.


Saerin mulai menunjukkan wajah sedihnya, ia terus saja memikirkan hal itu.


Beberapa lama kemudian, nampak sebuah bayangan seseorang di sebelah bayangan Saerin dari air kolam tersebut. Seketika Saerin juga kaget karna melihat sebuah bayangan lagi disampingnya. Dengan cepat Saerin berbalik badan dan melihat siapa orang tersebut.


Betapa terkejutnya ia melihat seseorang tengah berdiri di hadapannya...


"K-kau..."


Mau tau kelanjutan kisahnya?...

__ADS_1


Tungguin di next episode ya.... 💜💜


__ADS_2