You'Re My Brother (BTS)

You'Re My Brother (BTS)
Eps 27


__ADS_3

Keesokan harinya.


Seperti biasa Jin bangun lebih dahulu dari adik-adiknya, karna ia harus menyiapkan sarapan untuk mereka.


Saerin juga mulai membuka matanya, merasakan cahaya matahari yang menghangatkan tubuhnya di pagi hari. Segera ia bangun dari tidurnya dan membersihkan diri. Selesai, ia memakai seragam sekolahnya. Menyisir rambutnya yang terurai dan menyiapkan buku yang akan ia bawa.


Setelah di rasa cukup rapi, ia pun turun ke bawah. Terlihatlah oppa tersayangnya yang sedang menyiapkan sarapan untuk dia. Dengan senyum manisnya yang lebar, ia berjalan menuju meja makan. Belum ada oppa nya yang lain disana. Ia hanya melihat Jin seorang, biasanya Hoseok juga akan membantu Jin membuat sarapan. Tapi sekarang hanya Jin saja yang berada di dapur.


"Jin oppa, mana yang lain? apa mereka masih tertidur?" tanyanya pada Jin.


"Nee, mungkin begitu" kata Jin yang berbalik ke belakang, menatap adik bungsunya yang sudah siap pergi ke sekolah.


"Gwenchana, biar oppa yang akan mengantarmu" kata Jin yang berjalan menghampiri meja makan dengan membawa piring berisi roti isi dan juga segelas susu.


"Gwenchana Oppa, aku akan membangunkan Jungkook oppa saja untuk mengantarku" kata Saerin dengan tersenyum, yang kemudian melahap sarapannya. Saat ini Saerin belum mengetahui jika oppanya akan meninggalkan dirinya lagi. Jin merasa resah jika akan meninggalkan adik perempuannya di rumah tanpa dirinya.


Selesai menghabiskan sarapan, Saerin bergegas menaiki tangga menuju kamar Jungkook. Sampai disana, Saerin langsung membuka pintu kamar Jungkook tanpa permisi, dan terlihat Jungkook yang masih tertidur dengan memeluk guling nya. Saerin mendekati oppanya dan membangunkan dia.


"Oppaa.. bangun, antarkan aku ke sekolah!!" teriaknya di telinga Jungkook. Membuat oppanya itu tersentak kaget, dan bangun dari tidurnya. Ia terduduk di kasur sambil menggosok telinganya.


"Yak, Saerin bisakah kau tidak teriak di telinga ku. Kau kan bisa membangunkan ku dengan halus. Kau itu, kau mau oppamu ini tuli hah?" kata Jungkook dengan wajah kesalnya yang masih menggosok-gosok telinga.


"Mianhae oppa, aku hanya ingin kau mengantarku ke sekolah. Aku akan terlambat nanti" kata Saerin.


"Oh benarkah? baiklah princess, pangeranmu akan mengantarmu ke sekolah. Tapi tunggu sebentar nee, oppa harus mandi dulu" kata Jungkook.


"Nee. Aku akan menunggumu di bawah" kata Saerin. Ia berjalan keluar dari kamar Jungkook, dan kembali turun ke bawah.


"Loh, Yoongi oppa. Kapan kau turun?" tanya Saerin yang melihat Yoongi sudah ada di meja makan.


"Dari tadi" jawabnya singkat dengan datar. Ia sedang menikmati sarapan paginya.


"Saerin, minum susunya dulu. Kau belum meminumnya" kata Jin yang menyodorkan segelas susu pada Saerin.


"Gomawo oppa" kata Saerin yang meraih gelas itu dari tangan Jin. Dan meneguknya sampai habis. Lalu dia menaruh gelas itu di meja dan mengecup pipi Jin sekilas.


"Saerin-ah, kalau habis minum lap dulu bibirmu sebelum mencium ku. Lihatlah, ludah mu tertinggal di pipiku" kata Jin yang mengambil tisu dan mengelap pipinya yang basah. Saerin hanya tertawa malu.


"Kemarilah! kau itu, seperti bayi saja" kata Jin yang membersihkan bibir Saerin dengan tisu. Saerin hanya tersenyum dengan ria, membuat Jin merasa tidak tega akan meninggalkan Saerin lagi. Walau akan ada pembantu yang menjaganya dirumah.


Setelah itu, Saerin diantar oleh Jungkook ke sekolahnya.


"Aku pergi oppa, gomawo karna sudah mengantarku. Mian kalau tadi aku membangunkan mu dengan sedikit kasar. Apa tadi gendang telingamu tidak sobek? jika benar aku akan-"


"Nee, gendang telingaku pecah karna suaramu yang begitu kencang menghantam telingaku. Owh sakit sekali, tolong aku" kata Jungkook yang berbohong, ia meringis memegang telinga sebelah kanannya.


"Ah benarkah?!! oh mian oppa, mianhae. Saerin tidak sengaja.. o-oppa apa kau baik-baik saja? jika telingamu sakit, kita ke rumah sakit saja untuk memeriksanya. Aku tidak mau melihatmu kesakitan seperti ini. Kajja, kita kerumah sakit saja, nee?" kata Saerin dengan cemas, sambil memegang tangan Jungkook yang menutupi telinganya.


"Op-oppa.." Saerin semakin cemas, karna Jungkook berteriak kesakitan sampai ia membungkuk di mobil. Membuat Saerin meneteskan air matanya melihat Jungkook yang kesakitan, padahal oppanya itu hanya membohonginya.


"Oppa tolong jangan seperti ini. A-aku akan menelepon ambulans. Tenanglah oppa, a-aku akan membawamu ke rumah sakit" kata Saerin yang mengambil ponsel di dalam tas sekolahnya. Ia segera menekan tombol di layar ponsel, untuk menghubungi ambulans. Saat ia ingin menempelkan ponselnya di telinga. Tangan Jungkook menahannya, dan ia menatap Saerin yang sangat khawatir sampai pipinya basah karna air mata yang terus mengalir.


"Saerin.. oppa tidak apa-apa" kata Jungkook yang tangannya memegang pergelangan tangan Saerin.


"Owh sayang, kau menangis? aigo.. mianhae. Oppa membuat princess menjadi menangis. Tak apa, aku baik-baik saja. Aku hanya berbohong, mianhae.."


Bukannya kesal karna telah dibohongi oleh oppanya, ia malah semakin menangis dengan terisak-isak.


"Owh aigo.. aigoo.. mianhae Saerin-ah. Oppa tidak bermaksud membuatmu menangis. Tolong berhentilah Saerin, mianhae" Jungkook memeluk Saerin dan menenangkannya. Ia juga menyeka air mata Saerin.


"Saerin.."


"Hiks.. kau jahat.. kenapa kau membohongiku? kau tidak tau, aku sangat ketakutan tadi. Aku cemas, saat kau berteriak kesakitan. Kau membuatnya seakan benar-benar kau merasa kesakitan. Hiks.."


"Ooh, gwenchana. Aku hanya bercanda saja, mian jika aku membuatmu ketakutan. Oppa sama sekali tidak bermaksud membuatmu khawatir. Sudahlah, hapus air matamu itu Saerin-ah. Kau membuat dadaku sesak, karna melihatmu menangis. Tersenyumlah seperti bidadari yang manis" kata Jungkook yang menaruh kedua telunjuknya di pinggir bibir, dan membuat bunny smile nya.


Saerin mulai berhenti menangis, senyuman yang Jungkook tunjukkan membuatnya begitu senang dan menghentikan air mata yang keluar di pelupuk matanya. Karna wajah tampan dan lucu dari oppanya itu, bisa membuat Saerin bahagia seketika.


"Ok baiklah, masuk ke kelasmu sana. Jika tidak kau akan dihukum oleh guru mu karna terlambat masuk. Pergilah!" kata Jungkook.


"Nee" Saerin mengecup pipi oppanya itu. Lalu membuka pintu mobil dan keluar. Ia membungkuk sedikit dan melihat ke dalam dari kaca mobil. Jungkook yang awalnya tercengang dan terpaku di tempat, menoleh ke samping dan membuka kaca mobilnya.


"Saranghae oppa. Aku menyayangimu. Jangan lupa untuk menjemputku nee? bye.." Saerin tersenyum dan berbalik badan, ia berlari memasuki gerbang sekolah.


Jungkook menggelengkan kepala, melihat tingkah adiknya itu. Ia pasti akan merindukan senyuman manis dari si bungsu, mengingat ia dan hyungnya akan pergi ke Busan untuk mengurus perusahaan. Ia akan sangat merindukan wajah cantiknya yang tersenyum dan kesal saat ia marah ketika dijahili oleh oppanya. Jungkook menghela napas panjang sebelum ia melajukan mobilnya kembali ke rumah. Saat di perjalanan, ia teringat sesuatu. Jungkook menghentikan mobilnya sejenak, ia mengambil ponselnya dan menekan tombol di layar.


"Yeoboseyo"

__ADS_1


"Ada apa hyung?" tanya seseorang dalam telepon.


"Apa kau berada dirumah?"


"Nee"


"Aku akan ke rumahmu sekarang. Ada hal penting yang akan aku bicarakan padamu"


"Arrasseo hyung"


Jungkook mematikan panggilannya. Ia pun melajukan kembali mobilnya.


Sampai disebuah rumah, Jungkook segera turun dari mobil dan masuk ke dalam. Ia mengetuk pintunya, dan itupun segera dibuka oleh seorang pemuda yang menghuni rumah tersebut. Jungkook langsung dipersilahkan masuk.


"Ada apa hyung? kenapa kau kesini?" tanya Kai.


"Aku ingin berbicara sesuatu. Semalam Jin hyung mendapat telepon dari perusahaan kami yang berada di Busan. Dan kita semua harus pergi kesana. Bisakah kau menjaga Saerin untukku? karna ia akan tinggal sendirian dirumah, hanya akan ada pembantu yang kami suruh untuk menjaga Saerin. Hanya sekedar merawat rumah saja dan memasak. Tapi aku masih cemas dengannya jika Saerin tinggal sendiri dirumah tanpa kami. Ia pasti akan kesepian, tolong temani dia selama kami pergi. Aku percayakan Saerin padamu, jaga dia dengan baik. Dan rawatlah dia sebagaimana adikmu sendiri" kata Jungkook.


"Nee, hyung. Aku akan melakukan apa yang kau katakan. Dan aku memang sudah menganggapnya sebagai adikku, hyung. Jangan khawatirkan itu, percayakan saja padaku. Dia akan aman bersamaku" kata Kai dengan tersenyum.


"Jangan pernah membuatnya menangis ataupun terluka. Dan jangan biarkan orang lain sampai melukainya, karna aku sangat menyayanginya. Jagalah dia untukku. Aku percayakan semuanya pada mu Hueningkai" kata Jungkook.


"Nee hyung, tenang saja. Jangan cemas, aku akan menjaganya. Aku berjanji ia tidak akan pernah terluka jika berada di dekatku" kata Kai dengan percaya diri.


Jungkook yakin bahwa Hueningkai akan menjaga Saerin dengan baik. Karna Kai dan Saerin sudah dekat, jadi tidak ada orang lain lagi yang bisa Jungkook percayakan untuk menjaga Saerin.


"Ohya, sore ini jemputlah Saerin dari sekolahnya. Sekalian kau mampir ke rumah, sudah lama kau tidak berkunjung" kata Jungkook.


"Ah nee hyung, mian karna aku tidak mampir lagi. Tugas kuliahku sangat banyak jadi belum bisa berkunjung. Tapi tak apa, nanti aku akan menjemputnya, kirimkan saja alamat sekolahnya. Aku akan langsung menjemputnya" kata Kai.


"Nee. Yasudah, aku hanya ingin mengatakan itu saja. Gomawo, aku sangat mempercayaimu. Tidak ada orang lain lagi selain dirimu yang aku percaya. Jadi, peganglah janjimu itu. Jangan sampai kau mengingkarinya" kata Jungkook.


"Nee hyung. Aku berjanji padamu"


"Baiklah, aku harus pulang sekarang" kata Jungkook yang beranjak dari sofa.


Kai mengantarnya sampai ke depan pintu. Ia pun melihat mobil Jungkook yang melaju meninggalkan rumahnya.


*


Triingg...


Begitu juga dengan Saerin dan Jiyeon. Mereka sedang berada di kantin, menyantap makan siangnya dengan lahap karna cacing dalam perutnya sudah meronta ingin diberi makan.


Junho tak sengaja melewati meja mereka berdua. Iapun menghampiri Saerin dan duduk disebelahnya.


"Annyeonghaseyo!" sapanya.


"Uhuk.." Jiyeon yang kala itu sedang meneguk minumannya menjadi tersedak karna kedatangan Junho yang tidak disangka.


"Aigo Jiyeon, apa kau baik-baik saja?" tanya Saerin dengan wajah sedikit cemas.


"Uhuk.. uhuk.. gwenchana. Ekhem, siapa kau hah? kenapa datang-datang mengagetkan orang saja?!! apa kau tidak bisa lebih sopan sedikit?!!" kata Jiyeon dengan kesal.


"Mianhae"


"Eoh, Jiyeon. Kenalkan dia-"


"Annyeong, Jung Junho imbnida" katanya dengan memotong ucapan Saerin, dan mengulurkan tangan. Jabatannya di balas oleh Jiyeon.


"Kim Jiyeon imbnida"


"Kau itu, tidak sopan sekali memotong ucapan orang sembarangan" kata Saerin dengan wajah yang sedikit kesal.


"Mian" Junho hanya cengengesan sendiri.


Tak lama kemudian, entah darimana, tangan Saerin tiba-tiba dicekal oleh seseorang. Membuat ketiganya menoleh kearah orang itu.


"Ji-won" kata Saerin yang terkejut. Ia berusaha menepis tangan Ji-won. Junho yang melihat itupun juga mencekal tangan Ji-won yang berusaha menarik Saerin.


"Heh kau lagi. Mwoya? mau jadi sok jagoan lagi?" kata Ji-won dengan tatapan sinis dan tersenyum miring.


"Jangan kasar pada perempuan" tegas Junho yang tak kalah dengan Ji-won.


"Memang kau siapa hah?!!"


"Aku temannya, jadi jangan sakiti dia. Atau aku akan-"

__ADS_1


"Akan apa? kau mau melawanku? heh kau lupa dengan perkelahian kita kemarin? kau kalah dariku. Apa kau mau melawanku lagi?! hh jangan harap kau bisa selamat hari ini" kata Ji-won.


"Aku tidak akan pernah kalah darimu Ji-won. Lihat saja, aku akan mengalahkanmu" kata Junho yang menepis kasar cengkeraman Ji-won dari lengan Saerin.


"Apa kau mau bertarung disini? baiklah, maju! maju kalau kau berani. Kita selesaikan disini" kata Ji-won yang bersiap. Semua murid yang berada di kantin, menyaksikan perdebatan mereka itu.


"Junho, kita pergi saja. Kajja! Jiyeon, ikut kita pergi" kata Saerin yang menggenggam tangan Junho agar dia tidak berkelahi dengan Ji-won. Jiyeon yang dari tadi hanya sibuk dengan makanannya, kini harus ikut pergi walau dia belum menghabiskan makanannya itu.


"Apa kau takut hah?!!! dasar pengecut!!!!" teriak Ji-won yang masih di tempat. Junho mendengar ucapan Ji-won, ia tak bisa membendung lagi emosinya. Ia sangat kesal dengan anak itu.


Dia adalah saingannya dari SD. Junho selalu mendapat perlakuan buruk dari Ji-won sejak mereka tau akan bersekolah di sekolah yang sama. Ji-won selalu menantang Junho berkelahi, dan Junho selalu kalah dengan Ji-won. Karna Ji-won memang mempunyai kekuatan bela diri yang baik. Ayahnya adalah pegulat hebat, dan Ji-won mempunyai kemampuan pegulat yang sama dengan ayahnya karna ia ingin menjadi kuat, dan bukan orang yang lemah. Tapi kekuatannya itu ia pergunakan dengan sembarangan. Junho yang tadinya masih duduk di bangku kelas tujuh, harus selalu ditindas oleh Ji-won. Sampai Junho harus belajar bela diri dengan pamannya yang jago bela diri. Tapi kemampuan Junho belum maksimal dibanding dengan kekuatan Ji-won.


Akhirnya Junho kembali ke kantin dan mendekati Ji-won. Mereka saling berkelahi. Sampai seorang anggota OSIS melerai mereka berdua. Yang akhirnya, mereka dibawa ke ruang kepala sekolah untuk membicarakan hal itu. Saerin dan Jiyeon hanya mengikuti mereka dan menemani Junho disana.


Triingg...


Bel pulang sudah berbunyi, dan masalah Junho dengan Ji-won juga sudah selesai.


Semua murid segera memberesi buku-buku mereka, dan bergegas pulang ke rumah masing-masing.


Saerin juga tengah menunggu oppanya menjemput. Tapi saat itu juga, tangan Saerin kembali dicekal oleh seseorang. Siapa lagi jika bukan Ji-won dan kedua temannya yang selalu mengikutinya.


"Ji-won, apa yang kau lakukan? kau belum sadar dengan kesalahan mu di kantin tadi? apa kau belum puas di laporkan pada kepsek? apa kau mau aku laporkan lagi hah?!! lepaskan!!!" Saerin berusaha menepis tangan Ji-won.


"Hey dengar!! Jika kau tidak ingin aku melakukan ini terus kepadamu. Kau harus jadi pacarku, lalu aku tidak akan pernah kasar padamu lagi" kata Ji-won.


"Apa yang kau katakan?!! aku tidak mau jadi pacarmu!! aku tidak mau mempunyai pacar yang kasar sepertimu!! aku tidak akan pernah mau denganmu!!" berontak Saerin keras.


"Yak, kau hanya harus jadi pacarku saja, maka aku tak akan pernah berlaku kasar lagi. Aku sudah jatuh cinta padamu, Saerin" kata Ji-won yang mendekatkan wajahnya pada Saerin.


"Ani!! aku tidak mau!! lepaskan aku!!" teriak Saerin.


Kai yang baru datang ke sekolah Saerin, dari kejauhan ia sudah melihat Saerin yang berada di depan gerbang sekolahnya. Tetapi ada seorang anak laki-laki yang sedang mengganggunya. Sampai Saerin berteriak berusaha memberontak.


Kai menghentikan mobilnya, tak jauh dari mereka. Lalu Kai segera mendekati mereka dan menepis tangan anak lelaki itu.


"Yak, siapa kau hah?!" kata Ji-won dengan kesal.


"Aku adalah oppanya. Jangan pernah kau mengganggu Saerin. Jika tidak, aku akan melaporkanmu pada kepala sekolah di sini. Agar kau bisa dikeluarkan dari sekolah ini" kata Kai.


"Memangnya kau siapa? kau bukanlah orang yang bersangkutan dengan sekolah ini. Dan kau tidak berhak melaporkanku pada kepala sekolah"


"Sudahlah, aku tidak perlu meladeni bocah seperti dirimu"


"Yak, apa kau mau melawanku hah?!!" kata Ji-won yang menantang Kai.


Tapi Kai tidak menghiraukan anak itu, dia membawa Saerin ke dalam mobilnya. Itu membuat Ji-won semakin kesal, saat mobil Kai melaju melewati mereka.


"Awas saja nanti, aku tidak akan pernah menyerah sebelum aku mendapatkan mu" gumam Ji-won.


*


"Kau baik-baik saja kan Saerin?" tanya Kai sambil melirik Saerin sekilas.


"Nee"


"Oh, tunggu. Kenapa kau bisa ke sekolahku Kai?" tanya Saerin dengan mengerutkan keningnya.


"Untuk menjemputmu" jawabnya singkat.


"Kenapa kau menjemputku? Ak-"


"Tenang saja, Jungkook hyung yang menyuruhku untuk menjemputmu" kata Kai memotong ucapan Saerin.


"Wae?"


"Gwenchana, yang penting kita pulang saja"


pause..





Nantikan kelanjutan kisahnya...💜

__ADS_1


Jangan lupa like, vote and komen guys.


__ADS_2