You'Re My Brother (BTS)

You'Re My Brother (BTS)
Eps 44


__ADS_3

Masih di waktu yang sama..


"Saerin" panggil Junho setelah mereka tak lagi berbicara.


"Nee, mwoya?"


"Besok kan hari Minggu.."


"Mm.. memangnya kenapa?" tanya Saerin.


"Emm.. aku ingin.. besok kita... bertemu di taman dekat sini.. jam 9 pagi" ucap Junho dengan gugup.


"Hem baiklah. Aku akan kesana" kata Saerin dengan tersenyum.


Junho hanya mengangguk pelan dengan senyumannya yang lekat pada Saerin.


trriinngg... trriinngg..


"Eoh, sudah bel masuk. Aku mau masuk ke kelas dulu. Daahh" ucap Saerin sebelum ia berlari ke kelasnya.


"Mungkin besok adalah saatnya.. aku harus bisa " batin Junho sambil menatap punggung Saerin yang menjauh.


Skip, pulang..


"Jiyeon, kajja kita pulang" ajak Saerin yang tengah menaruh buku-buku nya di dalam tas, sesekali ia melirik pada Jiyeon.


Tapi Jiyeon tak menghiraukan ucapan Saerin itu. Ia malah duluan pergi meninggalkan Saerin ke luar kelas.


"Jiyeon, tunggu aku!" teriak Saerin yang ingin beranjak pergi menyusul Jiyeon. Tapi saat ia ingin pergi, tangannya dicekal oleh Ji-won.


"Yak, mau apa lagi kau hah?!"


"Sstt.. kenapa kau buru-buru pulang hem..? kita bermain-main dulu chagi" ucap Ji-won dengan senyum miringnya.


"Lepaskan!" tegas Saerin sambil menepis kasar tangan Ji-won.


"Kenapa baby? aku kan hanya ingin bermain denganmu saja" ucap Ji-won yang mendekat ke arah Saerin. Dan mendekatkan wajahnya pada Saerin.


Saat jarak wajah mereka tinggal beberapa senti lagi, Ji-won seakan ingin mengecupnya. Karna menyadari kejadian itu, Saerin menggeliat-geliat. Alhasil satu tamparan mendarat di pipi Ji-won hingga wajahnya berpaling ke samping karna tamparan Saerin yang cukup keras.


"Iihh, menjijikkan. Apa yang ingin kau lakukan hah?! Jangan macam-macam denganku! hh.." ucap Saerin yang memutar badannya hingga ujung rambut terurainya itu mengenai wajah Ji-won dan berlalu meninggalkan kelas.


Tapi Ji-won tak merasa kesal dengan hempasan rambut Saerin yang menyambar wajahnya. Ia malah lebih semakin bernafsu untuk mendapatkan Saerin.


"Hey Ji-won, kau tak apa-apa?" tanya Woon-Joon yang mendekat pada Ji-won.


"Hhh, aniya.. aku tak apa. Dia semakin membuatku tergila-gila, lihat saja nanti.. aku akan segera mendapatkannya, dia akan jadi milikku" kata Ji-won.


Mereka bertiga pun keluar dari kelas.


Skip


Karna tak menemukan sosok Jiyeon di depan sekolah, akhirnya Saerin pasrah dan memutuskan untuk menunggu Hueningkai datang menjemputnya.


5 menit menunggu, akhirnya mobil Kai sudah terlihat dari kejauhan. Setelah itupun mobil Kai berhenti tepat di depannya berdiri. Dengan segera, Saerin langsung memasukinya dan mobil Kai juga segera melaju pulang.


"Kau baru pulang dari kampus ya?" tanya Saerin di dalam mobil.


"Nee, baru saja. Jadi aku sekalian menjemputmu" kata Kai. Saerin hanya membulatkan mulutnya dengan ber oh ria.


Skip, sampai dirumah..


"Kami pulang!" ucap Saerin dan Kai dengan serentak sambil masuk ke dalam.


"Eoh kalian sudah pulang, ini.. ahjumma sudah memasakkan makanan yang enak untuk kalian berdua. Pergilah ke kamar kalian, mandi dulu lalu ganti pakaiannya" ucap Hye Ra.


"Nee ahjumma Shin" ucap Saerin.


Ia dan Kai segera menaiki tangga dan memasuki kamarnya masing-masing. 10 menit kemudian, mereka berdua turun dan memakan makanannya.


Setelah selesai menghabiskan makanannya, Saerin membantu Hye Ra mencuci piring kotor itu. Dan setelah itu, ia langsung merebahkan tubuhnya di sofa ruang keluarga, menonton televisi bersama Hueningkai.


Beberapa menit kemudian, ponsel Saerin berbunyi tanda seseorang menelponnya.


"Yeoboseyo"


"Saerin-ah.. "


"... yaa OPPAAA!!" teriak Saerin dengan wajah yang berseri-seri.


Teriakannya itu membuat Hueningkai tersentak kaget karna ia berada disamping Saerin.


"Yak Jungkook oppa, aku sangat-sangat merindukanmu. Kau kemana saja, aku telpon tak diangkat" kata Saerin yang memajukan bibirnya.


"Oouuhh, mianhae my princess. Aku sangat sibuk hingga tak mengabarimu belakangan ini. Aku terlalu sibuk dengan pekerjaan ku hingga aku melupakan dirimu. Mianhae.."


"Eoh gwenchana oppa. Aku mengerti.."


"Kau memaafkanku kan?.. "


"Tentu saja, untuk apa aku marah pada Pangeran kesayanganku ini. Aku takkan marah padamu, aku hanya kecewa karna kau tak selalu memberiku kabar. Aku sangat merindukanmu tau"

__ADS_1


"Nee mianhae, lainkali aku akan sering menghubungimu. Untuk menghilangkan rasa rindu mu ini "


"Nee. Aku sangat merindukanmu, saanggatt.. sangat rindu"


"Ssttt... sstt.. Jangan katakan rindu, karna rindu itu berat.. Kamu takkan kuat.. biar oppa saja.. "


"Ouch, kau ini.. dasar tukang gombal"


"Aku memang ahlinya "


"Hahaha, Pangeran gombal"


Mereka berdua saling tertawa di dalam telpon. Hueningkai hanya tersenyum menatap Saerin yang tengah tertawa bahagia itu.


Skip


Setelah puas menelepon, mereka berdua sama-sama mematikan sambungannya. Karna hari sudah malam, Jungkook pun menghentikan pembicaraannya pada Saerin karna terdengar teriakan Jin yang meminta mereka turun ke ruang makan. Saerin juga tengah diteriaki sang ahjummanya untuk pergi ke meja makan.


Skip


Pagi dihari Minggu..


Setelah sarapan, Saerin dan Hueningkai sedang menikmati pagi hari yang sejuk di taman belakang. Mereka berdua bersantai di kursi panjang yang ada disana. Merasakan angin pagi yang segar dan cahaya matahari pagi yang menghangatkan tubuh mereka.


09.00


Saerin sedang menunggu Junho di taman dekat sekolah seperti janjinya kemarin. Tapi orang yang ia tunggu belum juga datang, padahal dia duluan yang mengajaknya. Sesekali Saerin melirik arlojinya dan kembali melihat sekeliling mencari sosok seseorang.


"Dimana Junho? sekarang sudah lewat sepuluh menit. Dia duluan yang mengajakku, kenapa dia yang terlambat"


"Asshh, dimana Junho?" tanya Saerin sambil berdiri dari kursi yang didudukinya.


"Kemana di--". Saerin tak meneruskan ucapannya, karna matanya tiba-tiba tertutup oleh sebuah tangan.


"Yak, siapa ini?" tanya Saerin, tapi tak ada jawaban dari orang itu.


"Ck, siapa--". Saerin melepas tangan seseorang yang menutupi matanya. Ia kaget saat melihat itu adalah ulah Junho.


"Ashh Junho. Untung itu kau, aku kira orang lain" ucap Saerin.


"Hehe, mian.." ucap Junho dengan mengusap kepala belakangnya.


"Lalu, mau apa kau mengajakku kesini?" tanya Saerin.


"Emm.. i..itu.."


"Mwoya?"


"Bicara apa? bicarakan saja padaku" kata Saerin.


"Sebenarnya.. aku tak ingin berlama-lama menyatakan hal ini, aku ingin ini cepat-cepat dikatakan, aku tak tahan lagi, aku tak mau berbelit-belit menyatakannya. Saerin.." ucap Junho sambil menunjukkan setangkai bunga mawar ditangannya.


"Entah bagaimana caranya aku mengatakan ini padamu. Sebenarnya aku sedikit gugup sekarang. Tapi aku ingin memberanikan diri untuk mengatakannya langsung padamu"......


"Aku mencintaimu.. Saerin.. Maukah kau jadi kekasihku?" ucap Junho spontan.


"Junho..."


"Hem, nee..?"


"...Mianhae... aku belum bisa menerimamu. Aku masih terlalu muda untuk menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Lagipula, aku juga belum diperbolehkan berpacaran oleh oppaku..." ucap Saerin.


"Ahh, gwenchana.. Aku mengerti maksudmu" kata Junho.


"Kau baik-baik saja kan?" tanya Saerin.


"Nee, jangan khawatirkan aku.. em.. Saerin.." ucap Junho.


"Nee"


"Meskipun aku tidak menjadi kekasihmu, apa aku bisa menjadi sahabatmu?" tanya Junho.


"Tentu saja. Sejak kita bertemu juga aku sudah menganggapmu sebagai sahabatku. Hubungan persahabatan lebih baik daripada berpacaran" ucap Saerin antusias.


"Gomawo.. meski kau tak jadi kekasihku, tapi setidaknya aku dapat menjadi sahabatmu" kata Junho dengan tersenyum.


"Nee"


"Saerin... Tak apa kau telah menolakku sekarang. Tapi aku masih memiliki rasa cinta padamu. Aku masih ingin menantimu, bolehkah aku menunggumu hingga kau siap menerimaku?" ucap Junho.


"Mmm... itu..."


"Hhh, gwenchana. Tapi ingat, aku.. akan tetap menantimu, rasaku ini hanya untukmu. Meski kau menolakku, aku akan terus berjuang demi mendapatkan hatimu. Aku akan merebut cintamu dan jika aku berhasil mendapatkannya aku akan memasukkan cintamu itu kedalam hatiku" ucap Junho yang menatap Saerin dengan dalam.


"Aku akan menunggumu sampai kapanpun, dimana aku akan mendapatkan hatimu. Hari dimana kau akan mengatakan hal yang sebaliknya dari yang sekarang. Aku menanti itu.. menanti.. jawabanmu yang berbeda..." sambung Junho dengan lembut.


"Junho.." kata Saerin dengan suara pelan.


"Sepertinya, kau sangat serius meminta ini padaku. Tapi maaf, aku belum bisa..." batin Saerin.


"Saerin, kau tak apa?" tanya Junho.

__ADS_1


"Nee, aku baik-baik saja" kata Saerin.


"Ohya, satu lagi"


"Apa itu?" tanya Saerin.


"Mulai saat ini, kau jangan khawatir lagi tentang Ji-won. Karna akan selalu ada aku yang melindungimu dari kenakalan Ji-won dan dua temannya itu. Aku berjanji akan menjadi pelindungmu. Aku janji akan tetap menjagamu, aku tak mau kehilanganmu. Jadi ingatlah selalu diriku" kata Junho.


"Nee, arrasseo" ucap Saerin dengan senyum kecilnya.


"Aku akan tetap menantimu. Meski kau tak jadi kekasihku sekarang, tapi aku yakin, aku pasti akan menjadi kekasihmu dikemudian hari. Aku akan selalu menantimu, sampai kapanpun. Aku akan selalu mengingatmu jika nanti kau melupakanku " batin Junho.


"Baiklah Junho. Aku harus pulang, aku takut jika Hueningkai sedang mencariku. Aku pulang dulu nee" kata Saerin.


"Eoh, biarkan aku yang mengantarmu pulang"


"Gwenchana, aku bisa pulang sendiri. Aku pergi dulu, bye" ucap Saerin yang berlari sambil melambaikan tangannya pada Junho.


"Aku akan menantimu.. aku akan menunggumu.. Menunggu cintamu.. Saerin.. " batin Junho.


Skip, sampai dirumah..


"Aku pulang!" seru Saerin yang berjalan masuk kedalam.


"Kau darimana saja? aku mencarimu" ucap Hueningkai di sofa. Saerin pun ikut merebahkan dirinya disamping Hueningkai.


"Jalan-jalan" jawab Saerin singkat.


"Jinjja? kenapa kau tak bilang dulu padaku?"


"Aku buru-buru"


"Aishh yasudah. Tapi kau jalan-jalan kemana?" tanya Hueningkai lagi.


"Jalan-jalan di taman dekat sekolah" kata Saerin.


"Kenapa kau tak bilang padaku agar aku mengantarmu kesana?"


"Gwenchana. Lagipula aku ingin merasakan naik bus kesana, aku bosan diantar jemput olehmu" kata Saerin.


"Hm, baiklah"


Skip


Disisi lain...


Terlihat seorang pria muda yang duduk di sofa. Dengan beberapa bodyguard yang ada disampingnya.


"Asshh, Saerin.. kau masih terngiang di pikiranku. Aku tak habis pikir denganmu, bisa-bisanya kau kabur dariku. Lihat saja nanti... perlahan aku akan menerormu hh" ucap Yeonjun dengan tawa jahatnya.


Tiba-tiba salah satu bodyguard nya datang dan memberi berkas yang ia pegang itu pada Yeonjun.


"Permisi Tuan, ini informasi yang kau minta" kata si bodyguard itu.


Yeonjun mengambil berkas yang ada di meja dan membacanya dalam hati.


"Kai Kamal Huening. Oohh jadi itu namanya. Sepertinya aku mengenal dia, nama itu... aku rasa tak begitu asing ditelinga ku" ucap Yeonjun.


"Memangnya, kalau boleh tau. Siapa dia Tuan?" tanya si bodyguard itu.


"Aku rasa, dia adalah adik kelas ku waktu aku masih duduk di bangku SMP. Dia terkenal karna kecerdasannya, dan bukan hanya itu saja. Appanya adalah pengusaha sukses di Amerika. Dia mempunyai dua perusahaan terbesar disana, satu diurus oleh dia sendiri dan satu lagi diserahkan kepada istrinya-" kata Yeonjun.


"Tapi jika kedua orang tuanya berada di Amerika, kenapa dia masih tetap tinggal disini?" sela bodyguard itu.


"Karna ia harus menyelesaikan pendidikannya di Busan. Tapi aku juga tak paham, seharusnya bulan kemarin dia sudah lulus. Kenapa ia tak menyusul kedua orangtuanya ke Amerika?" ucap Yeonjun.


"Mian tuan, jika soal itu. Saya tidak tau, hanya beberapa informasi tentang identitas dirinya saja yang saya dapatkan" kata bodyguard itu.


"Hmm... eoh, tunggu sebentar"


"Ada apa tuan?"


"Beberapa hari yang lalu, saat aku bertemu dengan Saerin waktu itu.. bukankah pria yang melawanku itu adalah Hueningkai. Apakah dia orangnya?" kata Yeonjun ragu.


"Permisi, Anda bisa melihat foto wajah orang itu di sebaliknya" kata bodyguard itu mengarahkan.


Yeonjun langsung membuka halaman sebaliknya dari berkas tersebut. Terlihat sebuah foto di sana. Setelah melihat fotonya Yeonjun jadi merasa yakin bahwa orang yang melawannya beberapa hari yang lalu itu adalah Hueningkai.


"Berarti benar, pria itu adalah dia. Berarti, sekarang dia pasti sedang berada tak jauh dari rumah Saerin. Atau mungkin dia tinggal di sana. Ada hubungan apa dia dengan gadis itu?" kata Yeonjun.


"Jika seperti itu, aku punya satu lawan lagi yang harus dimusnahkan" sambungnya dengan tersenyum miring.


"Apa mungkin dia berada di Seoul karna ia ingin mengikuti gadis itu kerumahnya?" tanya si bodyguard itu dengan hati-hati.


"Nee, itu pasti. Dia pasti pindah ke Seoul untuk bisa dekat dengan gadis itu. Dan dia pasti sudah memilih universitas di sekitar sini" kata Yeonjun.


"Ashh, baiklah jika memang itu kenyataannya. Aku akan melawannya lagi, dan mendapatkan gadis itu dari tangannya" sambungnya.


Si bodyguard itu hanya menatap sang bosnya dengan tersenyum miring.


...

__ADS_1


Like, comment and vote 💜


__ADS_2