You'Re My Brother (BTS)

You'Re My Brother (BTS)
Eps 69


__ADS_3

2 minggu kemudian...


Saerin tengah duduk di bangku taman belakang rumah, sambil menggenggam ponsel ditangannya. Tak tau pasti ia sedang menunggu apa, tapi ia sangat berharap jika beberapa detik lagi akan ada telfon yang masuk dari ponselnya. Namun, suasana disitu sangat sepi, hening. Hanya ada suara angin yang berhembus dan menerpa wajahnya saja. Tidak ada dering ponsel yang bersuara. Tapi Saerin masih setia menatap ponsel genggamnya itu.


1 detik...


2 detik...


3 detik...


Tidak terjadi apa-apa. Hatinya sudah mulai frustasi, menunggu sebuah kepastian namun tak kunjung ia dapatkan.


Seseorang menepuk bahunya pelan lalu perlahan duduk disampingnya. Seorang namja muda menatapnya dengan begitu intens. Tangannya masih menempel di bahu Saerin. Ingin sekali ia membuka suara, namun hatinya selalu menahan dirinya untuk berkata.


Beberapa detik kemudian, ia memantapkan hatinya lalu bersuara,


"Saerin, apa yang kau lakukan disini?" tanyanya lembut. Tapi Saerin tak menjawabnya.


"Apa kau tidak lapar? Ini sudah siang, mau makan diluar?" ajaknya pada Saerin yang sama sekali tak berkutik.


"Sa--"


"Sudah beberapa minggu aku menunggu?... Sudah berapa lama aku terus menunggu?... Dapatkah aku bertahan lebih lama?... Kapan ini akan berakhir?..." ucap Saerin yang masih menatap layar ponselnya yang mati.


"Apa yang kau katakan ini Saerin?"


"Aku tidak bisa mengatakan apa-apa lagi, aku sudah kehabisan kata-kata. Bahkan aku juga sudah kehabisan kepercayaan diri. Aku sangat berharap jika mereka meneleponku hanya untuk memberi kabar saja. Tapi kenyataan tak sesuai haluan. Aku begitu pede pada khayalanku"


"Saerin aku mohon, jangan terus seperti ini. Aku selalu sedih jika melihatmu dalam keadaan seperti ini. Mari kita lupakan saja masa lalu itu, dia tidak akan bisa kembali lagi Saerin"


"Dia.... " Saerin berhenti sejenak kemudian ia menoleh pada Hueningkai. "Atau kita?" dia membuat tanda tanya baru pada namja itu.


Hueningkai menelan ludahnya melihat tatapan Saerin yang seketika menajam. Lalu namja itupun menghela napasnya pelan dan kembali berbicara.


"Dia" Hueningkai pun berhenti sejenak. "Masa lalu.... Masa lalu itu yang tidak akan bisa kembali lagi pada kita. Bukan kita yang tidak bisa kembali ke masa lalu."


Saerin benar-benar kehilangan kata untuk sesaat. Dia kembali mencerna maksud dari ucapan Hueningkai itu. Sekarang ini dia mulai gugup, batinnya mulai gundah. Perasaan campur aduk itu kembali menghantuinya. Saerin benar-benar kehabisan pikiran. Dirinya seakan hampa. Memori dalam otaknya seketika kosong, lenyap.


Kenapa? Kenapa ini sangat menyakitkan? Sangat, sangat, sangat menyakitkan. Mereka mulai mempermainkannya. Ya, mereka yang membuat permainan ini. Mereka....


"Jika saja aku bisa kembali ke masa lalu, maka aku sendiri yang akan memperbaiki masalah ini. Dan akan menulis jalan cerita baru yang lebih menyenangkan" ucap Saerin sambil tersenyum miring.


"Entah apa yang sedang kau pikirkan saat ini, sejauh ini aku hanya bisa menenangkanmu dari hal-hal negatif yang memenuhi pikiranmu" batin Hueningkai.


Tapi tiba-tiba Saerin menangis. Matanya mulai mengeluarkan butir-butir bening yang turun dengan mulus namun begitu deras seperti air terjun. Sulit dihentikan, bahkan sangat sulit untuk menghentikannya. Hueningkai hanya bisa menatap Saerin, bingung? Sudah pasti. Ia selalu bingung dengan sikap Saerin yang terkadang sering berubah-ubah. Tak hanya sekali, bahkan berkali-kali ia melihatnya seperti ini. Lelah? Mungkin! Dia sangat lelah, namun hanya bisa berpasrah.


Tak lama Hueningkai pun merentangkan tangannya, secara langsung gerakan itu dibalas oleh Saerin dengan sebuah pelukan erat. Sangat-sangat erat, hingga membuat Hueningkai hampir sesak napas. Namun ia mengerti, gadis kecilnya itu pasti sangat membutuhkan sebuah dekapan erat nan hangat dari seseorang. Ia mencoba untuk menahan rasa sesak di dadanya akibat pelukan erat Saerin.


Hueningkai membalas pelukan itu dengan lembut seraya mengelus surai rambut Saerin.


"Jangan ditahan lagi, keluarkan saja semuanya. Keluarkan semua kesedihanmu. Kau pantas menangis sekarang. Tidak apa-apa, hanya kau dan aku saja yang mengetahui ini." Hueningkai tersenyum lalu mengecup puncak kepala Saerin.


Sementara Saerin sudah menangis sesenggukan sampai membuat baju Hueningkai basah. Benar, hanya dia dan Hueningkai saja yang tahu. Hanya namja itu yang bisa ia percayai.


"Hiks... hiks... Aku ingin melupakannya.. tapi aku sendiri pun tak tau kenapa aku tak bisa melupakan itu..." batin Saerin.


"Percayalah padaku Saerin, kau akan bisa melupakannya. Dan kau akan bahagia bersamaku" batin Hueningkai.


Skip~

__ADS_1


Keesokan harinya...


Hari ini bukanlah hari yang baik untuk Saerin. Memang cuaca pagi ini sangat cerah, bahkan matahari bersinar lebih cepat dari biasanya. Bukan Saerin yang membuat kekacauan, tapi dirinya sendirilah yang sedang kacau. Keadaannya begitu miris, hingga ia terpaksa diizinkan untuk tidak berangkat sekolah hari ini.


Sebelumnya Saerin sudah pernah beberapa kali menghancurkan barang-barang yang ada di kamarnya karena sedang mengalami depresi. Mungkin tidak terlalu banyak, tapi ketika dia sudah kehilangan kendali maka apapun yang berada disampingnya akan ia hancurkan hingga memberantakkan kamarnya sendiri.


Hueningkai benar-benar dibuat hilang akal oleh Saerin. Ini membuatnya semakin khawatir. Keadaan Saerin semakin memburuk. Dia percaya jika gadis kecilnya dapat melupakan masa lalu buruknya itu. Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Semuanya sulit dikendalikan untuk Saerin.


"Saerin... Tolong tenanglah... Ini aku Hueningkai... Aku ada disini Saerin..." lirih Hueningkai yang sedang menenangkan Saerin.


Saerin berteriak-teriak histeris, ia memberontak dalam dekapan Hueningkai. Keadaannya benar-benar kacau. Ia bahkan tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Air mata terus mengalir dengan kasar. Bola matanya mulai memerah, seluruh tubuh Saerin bergetar hebat. Suhu tubuhnya pun sangat panas. Hueningkai sampai sedikit berkeringat saat memeluk tubuh Saerin.


"Saerin.. sudah, aku mohon sadarlah... Kenapa kau jadi seperti ini hm?"


Saerin tak bisa berhenti menangis dan berteriak. Ia sungguh mengalami depresi berat untuk saat-saat ini.


"Aku yakin kau pasti sudah lelah dengan semua ini. Kau masih terlalu kecil untuk menghadapi masalah ini. Pikiranmu pasti sangatlah berat karna terus memikirkan masalah besar ini. Aku tau itu..." batin Hueningkai yang hampir menitikkan air matanya.


"Kenapa semuanya jadi sulit seperti ini?" batinnya kembali.



Skip siang~



Karna mendapat kabar jika Saerin tak masuk sekolah dikarenakan sedang sakit. Jiyeon dan Junho bersepakat untuk menjenguk Saerin ke rumah Hueningkai. Sebelumnya Jiyeon sempat menelepon dulu ke nomor Saerin bahwa ia dan Junho akan menjenguknya. Tapi karna Saerin sedang beristirahat karna pengaruh obat penenang dari dokter, jadi Hueningkai lah yang menjawab telepon tersebut.



Mungkin tidak ada salahnya jika Hueningkai membiarkan kedua teman dekat Saerin itu untuk menjenguk keadaannya. Bisa saja setelah ia bertemu temannya, Saerin akan merasa lebih baik.




Bel rumah berbunyi beberapa kali, menandakan ada seseorang yang sedang menunggu diluar.



Hueningkai bergegas pergi ke pintu utama dan membukakan pintu untuk kedua teman Saerin yang sudah datang, Jiyeon dan Junho. Mereka masuk sampai ke kamar Saerin. Sementara Hueningkai pergi menyiapkan minuman dan cemilan untuk mereka.



Di kamar Saerin...


Jiyeon dan juga Junho sama-sama terpaku melihat Saerin yang terbaring di kasur. Wajahnya pucat, kantong matanya pun mirip seperti panda. Apakah Saerin tidak bisa tidur?



"Saerin... Apa yang sudah terjadi? Kenapa keadaanmu seperti ini?" tanya Jiyeon yang duduk dipinggir kasur sambil menatap Saerin.



"Apakah keadaannya separah itu?" tanya Junho yang sedang berdiri disamping kasur.



"Mungkin, aku pun tidak tau." jawab Jiyeon.

__ADS_1



"Dia terlihat sangat sakit, sebenarnya dia sakit apa?"



Jiyeon hanya mengangkat bahunya tidak tau untuk pertanyaan Junho.



Sedetik kemudian jari-jari Saerin mulai bergerak. Disusul dengan bola matanya yang bergerak-gerak pula. Jiyeon dan Junho hanya menatap Saerin dengan bingung. Tak lama kemudian pun Saerin membuka matanya. Terlihatlah kedua temannya yang sedang berada disampingnya. Tatapan mereka mengisyaratkan sebuah kecemasan yang tertuju kepadanya.



"J-jiyeon, J-junho?"



"Saerin, kau tak apa-apa?"



"Hmm, aku baik-baik saja Jiyeon. K-kenapa kalian berdua ada disini?"



"Kami kesini untuk menjengukmu, tadi kau tidak masuk ke sekolah karna sakit. Lalu Jiyeon menelepon nomormu tapi yang mengangkat malah Hueningkai hyung, dia memperbolehkan kami untuk menjengukmu yang sedang sakit" jelas Junho.



"Ah, sebaiknya kalian tidak usah repot-repot menjengukku. Aku baik-baik saja kok" Saerin berusaha tersenyum.



"Kami tau kau sakit Saerin, karna itulah kami menjengukmu. Kami khawatir padamu" ucap Jiyeon.



"Tidak perlu mengkhawatirkan aku, aku baik-baik saja"



"Ya, terserah kau sajalah" pungkas Junho.



Saerin hanya tersenyum manis pada kedua temannya agar tak begitu mencemaskan keadaan dirinya.



Disamping itu, ada Hueningkai yang sedang mengintip mereka dari ambang pintu. Meskipun ia tak berada disana namun hatinya turut merasakan apa yang Saerin rasakan. Ia hanya berpura-pura baik didepan kedua temannya agar tak mencemaskan keadaannya. Tapi sebenarnya Saerin benar-benar merasa sakit, bahkan hatinya sekarang sangatlah rapuh, kepalanya seakan ingin pecah dan meledak seketika namun itu semua ia tahan demi perasaan teman-temannya. Hal ini membuat hati Hueningkai terenyuh, bahkan ingin sekali ia menangis sekarang. Tapi ia harus berpikir kuat agar Saerin juga ikut kuat. Ia akan menahan air matanya setiap kali merasa sedih dengan keadaan Saerin agar gadis itu juga bisa kuat.



Sore ini Saerin menghabiskan waktunya untuk bercanda gurau bersama Jiyeon dan Junho. Terkadang mereka tertawa dan terkadang mereka pun bertengkar. Tapi pada akhirnya mereka akan sama-sama tertawa. Saerin kembali tersenyum dengan alami, tanpa ada senyuman paksa yang dibuat-buat olehnya untuk meyakinkan orang lain dengan dirinya.


"Akhirnya, kau bisa tertawa kembali meskipun hanya sesaat" ucap Hueningkai yang tak sengaja lewat didepan kamar Saerin.


Hueningkai pun melanjutkan langkahnya pergi ke dapur untuk memasak makan malam, sekaligus untuk kedua teman Saerin juga.

__ADS_1


**Jangan lupa tinggalkan like, komen dan vote untuk menyemangati author💜


Dan jangan lupakan juga untuk menunggu kelanjutan ceritanya. See you... borahae💜💜💜**


__ADS_2