
skip
Malam*
Setelah selesai makan malam, Saerin masuk ke kamarnya. Dia berjalan ke arah balkon di samping tempat tidur. Dia memandang langit yang dipenuhi dengan bintang-bintang yang menyinari malam. Ia menutup matanya, merasakan angin malam yang menerpa tubuhnya. Dan kembali membuka matanya. Ia sangat menikmati suasana malam hari itu. Tampak sepi dan hanya dipenuhi dengan suara-suara binatang kecil. Seperti, jangkrik yang sedang mengkerik dari bawah.
Tiba-tiba ada sebuah tangan yang menyentuh punggungnya. Sontak Saerin langsung berbalik, dan melihat ternyata itu Hueningkai.
"Kai!?"
"Mian kalau aku sudah mengagetkanmu" kata Kai.
"Ah gwenchana" kata Saerin sambil tersenyum.
"Apa yang kau lakukan disini. Angin malam tidaklah baik" kata Kai yang mendekat ke samping Saerin.
"Ani, aku hanya memandang bintang-bintang. Rasanya indah sekali, melihat banyaknya bintang yang menghiasi langit malam" kata Saerin sambil mendongakkan kepalanya keatas, menatap bintang dari satu sisi ke sisi lain.
Kai yang dari tadi melihat Saerin, sekarang juga beralih menatap bintang diatasnya.
"Nee, kau benar. Mereka sangat indah" kata Kai yang matanya berputar melihat bintang itu satu persatu. Dan pandangan Kai beralih pada Saerin, yang masih memandang langit.
"Saerin!" seru Kai. Saerin langsung menoleh padanya.
"Waeyo Kai?" tanya Saerin, mengangkat sebelah alisnya.
Bukannya menjawab, Kai malah melamun menatap wajah Saerin.
"KAI!!"
Sontak Kai kaget mendengarnya.
"Ada apa denganmu?" tanya Saerin yang bingung melihat Kai sedang melamun menatapnya.
"Ahh.. aniya" kata Kai sambil tersenyum.
"Hmm.. kau aneh" kata Saerin.
"Mwo!? kau bilang apa?"
"Aneh!"
"Kenapa kau mengatakan itu padaku?"
"Karna kau melamun tapi tersenyum kepadaku, aku merasa aneh dengan ekspresi wajahmu yang seperti itu"
"Apa itu mengganggumu?"
"Mm.. tidak juga"
"Yasudah, kalau begitu kau harus tidur"
"Wae?? ini belum larut. Aku masih ingin melihat bintang"
"Ini sudah jam 9 malam"
"Mwo?! secepat itu?"
"Cepat tidur!" kata Kai dengan tegas.
"Nee tuan!" kata Saerin dengan nada bicara yang sama.
Kai tertawa kecil melihatnya. Dan Saerin juga ikut tertawa.
"Good night" kata Saerin pelan tapi masih bisa terdengar jelas oleh Kai.
"Nee, good night too". Kai terlebih dahulu masuk dan diikuti Saerin dibelakang. Saerin menutup pintu balkon. Sementara Kai terus berjalan keluar dan akhirnya menutup pintu kamar dengan pelan.
Saerin merebahkan dirinya di atas kasur, ia menyelimuti tubuhnya dan menutup mata.
skip
Paginya, Saerin terbangun dan segera membersihkan dirinya. Setelah selesai, Saerin langsung turun menuju dapur.
__ADS_1
Dia melihat bibi Lee sedang memasak, lalu Saerin menghampirinya.
"Hai bibi, kau sedang memasak apa?" tanya Saerin disamping bibi Lee. Karna tidak tau keberadaan Saerin, bibi Lee sontak terkejut.
"Saerin?! kamu mengagetkan bibi saja" kata bibi Lee sambil berusaha mengatur nafasnya. Saerin hanya cengengesan menanggapinya.
"Hihi, mian bibi. Apa Kai sudah bangun?"
"Bibi tidak tau" jawabnya dengan singkat, sambil fokus memasak. "Sebaiknya kau sarapan saja dulu Saerin. Di meja makan, bibi sudah menyiapkan sarapan untukmu. Pergilah sarapan" sambungnya.
"Nee bibi. Khamsambnida" kata Saerin yang langsung berlari ke meja makan. Dia duduk di salah satu kursi dan memakan sarapannya.
"Good morning!" seru seseorang di belakang Saerin dan dengan suara langkahan kaki.
Saerin berbalik saat mendengar ucapan Kai.
"Morning Kai" kata Saerin yang mulutnya penuh dengan roti. Kai menghampiri Saerin dan duduk disebelahnya.
"Perlahan-lahan lah jika makan Saerin" kata Kai yang melihat mulut Saerin penuh. Saerin melihat Kai dari atas ke bawah, dia memakai seragam sekolahnya kembali. Saerin cepat-cepat menelan makanannya.
"Kai, kau sudah mulai masuk sekolah lagi?" tanyanya kemudian.
"Nee, aku harus mengejar keterlambatan ku. Tidak apa-apa kan jika kau disini sendirian?"
"Hey, kau pikir dirumah ini hanya ada aku dan kamu saja. Tenang saja, kan ada bibi Lee yang menemaniku. Jangan khawatir, rumah ini akan baik-baik saja. Aku tidak akan melakukan apapun yang membuat rumah ini berantakan kok"
"Hhh, terserah kau sajalah" kata Kai yang melanjutkan sarapannya.
skip
Kai sudah pergi ke sekolahnya. Sementara Saerin, dia sedang membantu bibi Lee membereskan rumah. Walaupun bibi Lee menolak tawaran Saerin, tapi Saerin bersikeras untuk membantu.
Akhirnya bersih-bersihnya selesai, dan hari sudah siang, terlihat matahari yang sudah meninggi.
skip
Sorenya, Saerin merasa bosan dirumah Kai, dan Kai belum juga pulang. Dia berinisiatif untuk pergi keluar mencari udara segar. Sebelum pergi, Saerin sempat meminta izin kepada bibi Lee dulu, agar dia tidak khawatir mencarinya.
Saerin melangkah keluar dari Rumah Kai, dia hanya ingin berjalan-jalan sebentar, menikmati suasana sore hari di kota Busan. Dia berjalan melewati sebuah taman, dan Saerin berhenti sejenak di kursi kosong di dekat pohon yang rindang. Menatap taman di kota Busan yang indah, dipenuhi dengan pepohonan dan bebungaan. Sesekali ada beberapa orang yang berlalu-lalang di depannya.
~
Waktu semakin berlalu, sudah cukup bagi Saerin untuk keluar sebentar. Diapun beranjak dari tempat duduknya, dan pergi pulang ke rumah Kai.
Di perjalanan, Saerin merasakan hal yang aneh di sekitarnya.
"Sepertinya perasaanku terlihat tidak menyenangkan? ada apa denganku?" gumamnya. Saerin berusaha untuk tidak menghiraukan perasaannya itu. Dia mencoba menenangkan dirinya sendiri.
"Aisshh.. perasaanku mulai tidak enak sekarang" gumamnya lagi. Karna merasa terganggu, Saerin menoleh ke kanan dan ke kirinya. Dan iapun sesekali melirik ke belakang, tapi tidak ada siapapun dibelakangnya. Saerin mengalihkan pandangannya lagi ke depan, dan kembali berjalan.
"Sepertinya, aku merasa ada yang mengikuti ku di belakang" Saerin bergumam lagi. Ia berhenti sejenak dan menoleh kebelakang untuk kedua kalinya. Tapi tetap saja, tidak ada siapa-siapa di sana. Saerin berbalik ke depan lagi dan melanjutkan perjalanannya dengan santai.
Tak lama kemudian, ada sebuah tangan yang mencengkeram erat lengannya, membuat Saerin kaget dan langsung berbalik badan menghadap ke belakang. Seorang pria dengan wajah yang ditutupi masker, dan menatap tajam ke arahnya.
"A-apa yang kau lakukan!!" kata Saerin dengan kaget. "Lepaskan aku!!" sambungnya sambil menepis cengkeraman pria itu dari lengannya. Tapi semakin Saerin menepisnya, semakin kuat juga tangan pria tersebut yang memegang lengan Saerin. Dia jadi panik dan ketakutan, entah apa yang pria itu akan lakukan kepadanya.
"Eehh.. LEPASKAN AKU!!" teriak Saerin. Karna keadaan jalanan di situ terlihat sepi. Tidak ada seseorang pun yang menolongnya. Saerin berusaha keras untuk melepaskan diri. Lalu pria itu menyeret Saerin pergi, ke arah yang berlawanan dengan jalan ke rumah Kai.
Dari arah yang berhadapan, terlihat Kai yang sedang menyetir mobil, ia baru pulang sekolah. Tanpa sengaja ia melihat seorang gadis yang diseret oleh seorang pria di depannya. Kai cepat-cepat mendekati orang tersebut, dan memberhentikan mobilnya. Kai segera turun dan menghentikan langkah pria itu yang berada di depannya.
"Hey! berhenti tuan, apa yang kau lakukan kepada gadis di belakangmu itu", karna Saerin berada di belakang pria yang menyeretnya, jadi Kai tidak bisa melihat Saerin. Tapi Saerin mendengar suara Kai, Saerin langsung berteriak padanya.
"Kai!!!" ucap Saerin kencang.
Kai dibuat terkejut oleh suara yang didengarnya itu, dia melebarkan matanya melihat Saerin yang berada dibelakang orang tersebut. Dan sepertinya, pria itu juga terkejut mendengar keduanya saling kenal.
"Saerin!! hey tuan, apa yang kau lakukan. Lepaskan dia!!" bentak Kai. Lalu tangannya meraih lengan Saerin. Belum sempat tangannya menyentuh Saerin, orang itu menepis kasar tangan Kai.
Kai tidak bisa menahan amarahnya, ia segera melayangkan pukulan kepada pria tersebut, tapi berhasil di tahan olehnya.
Pria itu melepaskan cengkramannya dari lengan Saerin dan maju untuk melawan Kai. Kai terdorong oleh pria tersebut, ia berjaga-jaga. Pria itu melayangkan sebuah pukulan pada Kai, dan untungnya berhasil di tangkap oleh Kai. Dan dia membalasnya dengan sebuah tonjokan yang mengarah pada pipi pria tersebut, dan berhasil mengenainya. Karna kesal, si pria itu membalasnya lagi, sampai mereka berdua saling berbalas pukulan.
Saerin hanya bisa melihat pertarungan keduanya dari belakang. Ia khawatir Kai terluka, tapi Saerin juga tidak bisa mencampuri perkelahian mereka.
__ADS_1
Pria itu kembali melayangkan satu pukulannya pada Kai, dan berhasil mengenai perut Kai. Dia terjatuh lemas tapi tangan kirinya masih bisa menopangkan badan. Pria itu mendekat dan siap dengan satu tangan yang mengepal. Pria itu menarik kerah baju Kai dan langsung menonjok pipi kiri Kai, membuatnya menerima luka lebam dari tonjokan pria tersebut.
Saerin yang melihat Kai tersiksa, tidak bisa berdiam diri lagi, menahan amarahnya. Diam-diam Saerin melangkah mendekati pria itu, dia juga sudah menyiapkan satu kepalan dari tangan kanannya, yang sudah geram melihat apa yang ia lakukan pada Kai. Saat sudah sampai tepat di belakangnya, Saerin langsung meraih lengan pria tersebut yang menggenggam kerah baju Kai dan membalikkan arah pandangnya pada Saerin. Saat dia sudah menoleh, Saerin segera menghantam wajah si pria dengan pukulannya yang sangat kencang. Dan pria itu tersungkur mencium jalanan. Tidak bisa melakukan apa-apa lagi, pria itu langsung berdiri dan berlari kabur.
Saerin mengatur nafasnya dan memalingkan pandangannya ke arah Kai yang berdiri memegangi perutnya dengan luka lebam besar di pipi kirinya. Saerin berjalan menghampiri Kai.
"Kai, apa kau baik-baik saja?" tanya Saerin dengan wajah cemas.
"Uhuk.. gwenchana" kata Kai yang menahan sakit.
"Benar kau tidak apa-apa?" kata Saerin yang memegang pipi Kai yang lebam.
"Aauu..!!" teriak Kai kesakitan.
"Ups! mianhae Kai, aku tidak sengaja" kata Saerin yang melepas tangannya.
"Nee, kajja k-kita p-pulang" kata Kai lirih.
"Nee". Mereka berdua berjalan memasuki mobil.
skip
Sampai dirumah, Saerin menuntun Kai masuk kedalam. Lalu dia merebahkan tubuh Kai di sofa ruang tengah. Seketika bibi Lee datang dengan tergesa-gesa menghampiri mereka.
"Tuan muda?! kenapa anda jadi seperti ini?" tanya bibi Lee yang kaget.
"Mmm.." mulut Saerin menutup tapi mengeluarkan suara.
"Ah.. sebentar, bibi akan membawa obatnya dulu" kata bibi Lee yang bergegas pergi.
Saerin yang berdiri, langsung mendekat dan duduk disamping Kai. Beberapa menit kemudian, bibi Lee kembali dengan membawakan sebaskom air hangat, kain, dan kotak P3K. Dia menaruhnya di meja dan mulai membersihkan luka lebam di pipi Kai, dengan kain yang di celupkan di air hangat, dan memberinya obat luka.
"Bagaimana Kai? apa masih sakit lagi?" tanya Saerin yang dari tadi melihat Kai diobati oleh bibi Lee.
"Sstthh.. sedikit" kata Kai sambil meringis kesakitan.
"Tuan muda kenapa kau bisa terluka seperti ini?" tanya bibi Lee yang masih cemas.
"Mm.. tadi ada orang yang tak sengaja memukul Kai. Tidak perlu khawatir lagi bibi Lee, sekarangkan Kai sudah baik-baik saja" kata Saerin dengan tersenyum agar bibi Lee tidak lagi merasa cemas.
"Tuan muda, tolong berhati-hatilah. Jangan sampai terluka lagi seperti ini. Bibi jadi khawatir" kata bibi Lee.
"Nee bibi. Gwenchana, jangan terlalu mengkhawatirkan ku. Aku baik-baik saja" kata Kai.
"Nee, kalau begitu bibi pergi dulu"
"Nee bibi!" seru Saerin. Bibi Lee membereskannya dan pergi ke belakang.
"Saerin, apa kau baik-baik saja?" tanya Kai.
"Nee, aku tidak apa-apa" jawab Saerin.
"Bagaimana bisa kau diseret oleh lelaki itu? dan kenapa kau berada di luar?" tanya Kai lagi menatap serius Saerin.
"Aku hanya keluar untuk berjalan-jalan saja, aku bosan di sini. Tapi saat aku ingin pulang, tiba-tiba orang itu datang. Sebelumnya aku merasakan ada seseorang yang mengikuti ku dan dialah orangnya" jelas Saerin.
"Aisshh.. lain kali berhati-hatilah Saerin"
"Nee"
"Tapi kau keren juga melawan orang itu. Kau hanya melumpuhkannya dalam satu pukulannya itu saja" ujar Kai kagum.
"Aahh.. sudahlah jangan membicarakan tentang hal itu".
skip
•
•
•
**Halo para readers, makasih ya sudah baca cerita ini.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan vote.
Terima kasih, Anyeong... 💜**