
Skip pagi
*masih di rumah bangtan..
Dikamar Jungkook*..
Jungkook membuka matanya, ia dapat melihat matahari telah terbit karna sinarnya yang menembus hordeng kamar.
Setelah selesai membersihkan dirinya, Jungkook membuka hordeng dan membuka jendelanya juga. Ia terkejut ketika sebuah balon berwarna merah muda datang menghampirinya dengan sebuah surat yang tergantung di tali balon tersebut.
Jungkook meraih balon yang terbang ke arahnya, dan ia pun mengambil surat kecil itu.
"Siapa yang menerbangkan balon ke sini? apa ini terlepas dari tangan seorang anak kecil?" Ia membuka sebuah gulungan kertas itu.
"Hai baby, good morning untuk hari ini. Aku hanya ingin mengingatkanmu saja tentang nanti malam. Datanglah kesana pukul 22.00 kst. Jangan sampai terlambat. Kalau kau sampai lebih dulu itu cukup bagus. Jadi, jangan membuatku menunggu "
"Astaga, apalagi ini?! orang ini benar-benar membuatku pusing. Apa yang ia inginkan sebenarnya?!" teriak Jungkook dengan kesalnya.
tok.. tok.. tok..
Jungkook menoleh kaget ketika ada ketukan di pintu dan suara kenopnya yang diputar.
"Jungkook-ah, kenapa kau berteriak? aku khawatir sekali, ada apa denganmu?" tanya Hoseok yang masih berada di ambang pintu.
Jungkook segera menyembunyikan kertas yang ia pegang itu.
"A.. aku tidak apa-apa hyung. T.. tadi hanya ada serangga masuk ke kamarku" kata Jungkook dengan gugup.
"Kau yakin baik-baik saja?" tanya Hoseok lagi yang masih cemas.
"Nee, gwenchana hyung" Jungkook berusaha tersenyum untuk meyakinkan Hoseok.
"Yasudah, aku ingin kebawah duluan. Jika sudah selesai cepatlah turun. Kita akan berangkat ke kantor" kata Hoseok sebelum akhirnya ia pergi.
"Nee hyung" Jungkook hanya menatap kepergian Hoseok dan menghela napas lega.
"Huuhh, hampir saja" ucap Jungkook yang mengelap dahinya.
"Aku harus merahasiakan soal ini, karna aku tidak mau yang lain terlibat. Aku juga tidak tau siapa orang yang mengirim surat ini dan memintaku pergi ke salah satu tempat. Aku harap tidak akan terjadi hal-hal yang buruk" Jungkook kembali melihat kertas yang ia pegang itu.
"Apa yang sebenarnya orang ini inginkan?" ucapnya yang masih menatap kertas itu.
Jungkook merasa geram, ia meremas kertas itu lalu melemparnya ke dalam tempat sampah. Iapun bergegas memakai pakaian kantornya dan segera turun kebawah.
Dibawah, baru ada Jin, Hoseok, Namjoon dan Yoongi. Jungkook juga bergabung bersama mereka dan memakan sarapannya yang sudah disiapkan di meja.
"Jungkook-ah, kenapa raut wajahmu seperti itu? ada apa denganmu?" tanya Jin yang merasa aneh dengan ekspresi Jungkook.
"Aniya hyung, aku tidak apa-apa" jawabnya dengan dingin, tanpa menoleh sedikitpun kepada Jin.
"Apa kau sedang ada masalah Jungkook?" tanya Jin lagi.
"Tidak ada hyung" kata Jungkook masih dengan nada yang sama.
"Tidak ada apanya? aku tidak pernah melihatmu seperti ini. Tidak apa-apa Jungkook, kau bisa mengatakan keluhanmu padaku" ucap Jin.
"Aku tidak apa-apa hyung"
"Baiklah, jika kau memang tidak mau mengatakannya. Tapi jangan memasang wajah seperti itu, aku jadi tidak enak melihatmu dengan wajah yang cemberut" kata Jin.
"Nee hyung" Jungkook menoleh pada Jin dan tersenyum kepadanya.
"Mian hyung, aku tidak bisa menceritakan apa yang sebenarnya terjadi padaku. Kertas yang berisi tulisan dari seseorang itu membuatku kesal " batin Jungkook.
Di rumah sakit, ruangan Junho..
Junho sedang di periksa oleh dokter untuk memastikannya memang benar-benar sudah pulih. Ia juga melepas jarum infus dari tangan Junho, menandakan bahwa Junho sudah diperbolehkan pulang oleh sang dokter.
"Gomawo dok" kata Junho.
"Nee, jaga terus kesehatanmu. Aku pergi dulu" kata dokter itu sebelum ia melangkah pergi.
Jiyeon yang tadinya hanya duduk di sofa melihat Junho yang sedang di periksa, kini berdiri dan menghampiri Junho yang tengah terduduk di ranjang.
"Jiyeon, apa kau tidak pulang?" tanya Junho.
"Aku akan pulang sekarang, apa kau tidak membutuhkan aku lagi?" tanya Jiyeon.
"Nee, kau bisa pulang sekarang dan aku akan melihat Saerin" kata Junho yang beranjak dari ranjangnya.
Jiyeon hanya menatap kepergian Junho dari dalam.
Junho pun keluar dari ruangannya tersebut, dan tak lama Jiyeon juga keluar.
Setelah sampai di depan pintu ruangan Saerin, Junho mengetuknya terlebih dahulu lalu memutar kenop pintu dan membukanya.
Ternyata, Saerin juga tengah diperiksa oleh dokter. Seketika Saerin menoleh pada Junho yang masih berada di pintu.
"Junho, masuklah" ujar Saerin dengan tersenyum. Ia menurutinya dan masuk ke dalam. Berdiri di depan ranjang Saerin dan menatapnya.
Dokter selesai memeriksa keadaan Saerin, ia segera bergegas pergi dari ruangan.
"Junho, apa kau sudah diperbolehkan pulang? aku tidak melihat selang infus yang selalu kau bawa itu" kata Saerin.
"Nee, aku sudah dibolehkan pulang. Luka ku sudah sembuh dan aku juga sudah pulih, bagaimana denganmu?"
__ADS_1
"Dokter masih belum membolehkan ku pulang, ia bilang aku masih harus dirawat sehari lagi. Mungkin besok aku sudah dibolehkan untuk pulang" kata Saerin.
Junho hanya tersenyum menanggapi ucapan Saerin.
Tanpa disadari, Jiyeon melintasi kamar Saerin, ia berhenti sejenak dan melihat kedalam. Karna pintunya terbuka, Jiyeon bisa melihat apa yang ada didalam. Tapi Jiyeon menghela napasnya dengan kecewa untuk yang kesekian kalinya karna ia cemburu dengan kedekatan Junho dan Saerin. Ia pun melanjutkan langkahnya pergi. Sementara itu, Junho dan Saerin tersenyum bersama.
Dikantor Bangtan..
Semuanya sudah berada di ruang kerjanya masing-masing. Mereka sedang meneruskan tugas menyelesaikan berkas-berkas mereka yang masih menumpuk di meja kerja masing-masing.
"Aarrgghh, kenapa ini masih banyak saja?!!" kesal Jungkook dengan memegang kepalanya kasar.
Taehyung yang berada tak jauh dari meja Jungkook itu sempat menoleh pada adiknya, apa yang dirasakan Jungkook sama seperti yang dirasakannya sekarang.
"Jungkook-ah, kau.. baik-baik saja?" tanya Taehyung dengan pelan.
"Argh bagaimana bisa aku baik-baik saja dengan keadaan seperti ini hyung!? aku pusing sekali, sepertinya ini tidak akan pernah habis. Selalu saja bertambah dan bertambah!" ujarnya dengan sedikit kesal.
"Tenanglah Jungkook, aku juga sepertimu" Taehyung hanya menatap wajah adiknya itu dengan gugup, tak tau akan berkata apalagi padanya, ia juga sama pusingnya.
"Aku ingin keluar sebentar" ucap Jungkook yang beranjak pergi.
Saat Jungkook sedang berjalan di lorong kantor ia tak sengaja berpapasan dengan Jimin yang sedang memegang secangkir gelas.
"Jungkook-ah, kau mau kemana?" tanya Jimin yang berhenti sejenak dan mengobrol dengan Jungkook.
"Aku ingin jalan-jalan saja untuk sebentar hyung" kata Jungkook dengan wajah sedihnya. Jimin yang melihat raut wajah Jungkook yang tidak menyenangkan itu, seakan bingung dengan adiknya. Ia merasa jika Jungkook sedang menyembunyikan sesuatu dari dirinya.
"Jungkook, kau kenapa? kenapa wajahmu sedih seperti itu? apa kau sedang ada masalah?" tanya Jimin yang khawatir.
"Aniya hyung, aku tidak apa-apa"
"Apa yang sedang kau pikirkan hem? kenapa kau sedih seperti itu? jika kau mempunyai masalah, ceritakan saja padaku. Jangan memendamnya sendirian Jungkook. Kau adalah adikku, masalahmu adalah masalahku juga. Jangan menyembunyikannya dariku" ujar Jimin.
"Aniya hyung" Jungkook hampir melangkah pergi tapi lengannya dicekal oleh Jimin.
"Jungkook, jangan seperti ini. Kau seperti mempunyai masalah yang besar, aku khawatir padamu. Kumohon Jungkook, jangan menyembunyikannya, ceritakan saja apa masalahmu. Hatiku tidak tenang jika melihatmu dalam keadaan yang seperti ini, Jungkook-ah. Tolong jangan begitu, berbagilah ceritamu padaku, kau membuatku tidak nyaman" kata Jimin yang masih mencekal lengan Jungkook untuk menghentikannya pergi.
"Aku tidak apa-apa hyung, kumohon jangan ganggu aku dulu" Jungkook melepaskan cekalan Jimin dan pergi.
"Jungkook-ah!" panggil Jimin, berharap Jungkook akan berhenti tapi itu malah sebaliknya. Jungkook tak menghiraukan ucapan Jimin dan terus berjalan.
"Bagaimana bisa aku menceritakannya?! aku takut mereka akan terlibat juga. Seseorang yang mengirimi aku surat itu, membuatku bingung dengan kata-kata nya. Aku juga tak yakin akan pergi ke sana sendirian. Tapi aku juga penasaran apa yang sebenarnya orang itu inginkan. Jika aku tak pergi ke sana, dia akan menangkap Saerin dan membunuhnya. Aku tidak mau itu terjadi, bagaimanapun aku akan tetap pergi kesana apapun resikonya. Demi tetap melindungi Saerin. Ashh, kenapa Saerin selalu saja diincar oleh orang-orang jahat, apa yang sebenarnya mereka inginkan? " batin Jungkook sambil terus berjalan.
Jungkook terus menghentakkan kakinya ke lantai, entah kemana ia akan pergi.
Setelah beberapa lama ia terus berjalan, akhirnya Jungkook menghentikan langkahnya pada sebuah kursi panjang besi di taman belakang kantornya. Perlahan ia mendaratkan pantat nya di kursi dan menghela napas kasar.
Dengan menikmati waktu kesendiriannya, Jungkook bisa merasakan hembusan angin yang menerpa dirinya.
Jin sedang berada di ruangannya, ruangan tempat direktur perusahaan. Ia juga sedang mengurus berkas-berkasnya.
tok.. tok..tok..
Suara ketukan di pintu itu sontak membuat Jin mendongak dan menatap pintu tersebut.
"Masuk!" serunya, mempersilahkan seseorang memasuki ruangannya.
"Mian tuan direktur, saya hanya ingin memberi berkas-berkas ini saja" kata Jisoo yang mendekati meja kerja Jin.
"Nee, taruh saja di meja ku"
Jisoo pun menaruh beberapa berkas di meja kerja Jin.
"Tuan, berkas-berkas segini banyaknya, kau yang mengerjakannya sendirian?" tanya Jisoo dengan raut wajah yang heran.
"Nee, tidak ada yang bisa membantu saya lagi. Yaa, semua ini memang menjadi pekerjaan saya sendiri" kata Jin yang menoleh pada Jisoo dan melemparkan sebuah senyuman padanya.
"Owh, senyumannya, kenapa jantungku berdegup kencang? ia tampan sekali " batin Jisoo yang menatap Jin.
"Hey nona. Halloo" Jin melambaikan tangannya di depan wajah Jisoo untuk menyadarkannya dari lamunan.
"Yak!" ucap Jin tegas. Membuat Jisoo tersentak kaget dan tersadar.
"Ada apa denganmu nona?" tanya Jin yang masih sedikit kesal.
"A.. aah, ani.. ani tuan. Mianhae, a.. aku akan segera keluar" ucap Jisoo lalu bergegas pergi. Sampai di pintu, saat Jisoo ingin membuka pintunya dan keluar. Ia sempat menoleh ke belakang, menatap Jin. Ia melihat Jin sedang menatapnya juga.
Dengan rasa gugup, ia pun keluar dari ruangan Jin.
Jin hanya menatap kepergian Jisoo dengan heran.
Skip
Siang itu, masih di kantor Bangtan, di ruangan Taehyung..
"Kemana Jungkook, kenapa ia belum juga kembali?" gumam Taehyung sambil melirik-lirik sudut ruangannya.
"Apa aku harus mencarinya saja?", Taehyung pun bergegas keluar untuk mencari Jungkook, ia khawatir dengan adiknya itu karna ia belum juga melihat Jungkook kembali ke dalam ruangan.
Saat membuka pintu, Taehyung terkejut karna Jimin berada di depannya.
"Hyung, ada apa kau kesini?" tanya Taehyung.
__ADS_1
"Aku hanya ingin melihat keadaan Jungkook" kata Jimin.
"Tapi Jungkook tidak ada di sini hyung, dia tadi izin keluar sebentar padaku. Dari tadi pagi sampai sekarang dia tak kembali juga" ucap Taehyung yang sedikit cemas.
"Nee, tadi pagi aku juga berpapasan dengannya di lorong kantor. Ia terlihat sangat sedih, maka dari itu aku kesini untuk melihatnya. Aku rasa ada yang dia sembunyikan dari kita, tak biasa nya Jungkook seperti ini. Pasti ada hal yang ia sembunyikan, aku yakin itu" ujar Jimin.
"Hyung, mari kita cari dia. Aku takut ada hal buruk yang nanti terjadi padanya"
"Nee, kajja Taehyung-ah", Jimin dan Taehyung langsung bergegas pergi. Mereka terus saja berjalan sambil matanya tak habis-habis memandang sekeliling mencari sosok Jungkook.
Di sisi yang lain..
Jungkook masih termenung di kursi besi itu, tanpa sedikitpun berniat untuk kembali ke dalam kantor.
Lisa yang waktu itu hanya berjalan-jalan sendirian, tak sengaja melihat seseorang yang tengah terdiam di kursi besi. Ia nampaknya heran dengan orang itu, Lisa mencoba untuk menghampirinya dan duduk di sebelahnya.
"Mian tuan, ada apa dengan Anda?" tanya Lisa dengan hati-hati. Lisa tak dapat melihat wajah orang itu karna sedang tertunduk.
Merasa bahwa ada orang yang mengajaknya bicara, sontak Jungkook langsung mendongakkan kepalanya menoleh pada Lisa.
"Kau!" ucap mereka bersamaan sambil saling menunjuk.
"Yak, kenapa kau ada disini gadis aneh!?" kata Jungkook dengan sedikit kesal.
"Yak.. kenapa kau masih menyebutku gadis aneh eoh?!" ucap Lisa tak kalah kesalnya.
"Karna kau selalu saja mengikutiku!" ucap Jungkook.
"Hey, aku hanya tidak sengaja melihat seseorang tengah terdiam di kursi ini, aku mengira bahwa terjadi hal yang buruk pada orang itu. Jadi aku datangi saja kemari" ujar Lisa.
"Mian, apa kau sedang ada masalah? sepertinya dari raut wajahmu saja, kau sudah sangat terbebani. Apa yang kau permasalahkan, sampai-sampai kau jadi sedih seperti ini?" tanya Lisa. Pertanyaannya itu sontak membuat Jungkook tertegun. Bagaimana bisa gadis yang ia kira aneh dan pemarah itu, bisa sedikit simpati padanya?
"Kenapa kau bertanya itu padaku?" ucap Jungkook yang sedikit menaikkan alisnya dengan menatap Lisa.
"Yaa.. aku hanya bertanya saja, sejujurnya aku tidak suka ada seseorang yang aku jumpai merasa sedih dan terlihat seperti sedikit mempunyai masalah. Aku sedikit tidak nyaman dengan hal itu. Ketika aku melihat sahabatku yang tengah kesusahan saja aku langsung menolongnya, mungkin kupikir aku bisa saja menolongmu dari masalah yang tengah kau hadapi ini" ujar Lisa.
"Heh, kau mau menolongku? heheh" ucap Jungkook yang sedikit tak percaya dengan nada meremehkan.
"Nee, mungkin saja aku bisa membantumu"
"Sudahlah, jangan berpikir seperti itu. Ini hanyalah masalahku saja. Aku bisa menyelesaikannya sendiri, tidak perlu bantuan orang lain sepertimu" kata Jungkook.
"Yaak, kau mau aku bantu tidak hah! jangan memendamnya sendirian! kau tau, aku benar-benar tidak nyaman melihatmu yang sedih seperti itu!" teriak Lisa kesal.
"Tapi jika kau tak ingin menceritakannya juga tidak masalah, yang penting aku sudah menawarkanmu bantuan" sambung Lisa.
"Heh, memangnya kau bisa bantu apa untukku?" tanya Jungkook meremehkan Lisa.
"Apapun itu, apapun masalahnya. Aku yakin aku dapat sedikit membantumu" jawab Lisa dengan percaya diri.
"Jangan terlalu yakin dengan apa yang kau ucapkan itu, belum tentu kau bisa membantuku dengan kata-kata mu" kata Jungkook.
"Tidak masalah jikalau kau tidak mau, yang penting aku sudah menawarkan diri untuk membantumu"
"Terserah kau" ucap Jungkook yang mengalihkan pandangannya ke samping.
Setelah tak saling berbicara satu sama lain lagi, Lisa melirik arlojinya. Sudah pukul 13.00, menandakan waktunya makan siang.
"Hey, sudah jam makan siang. Kau mau ikut aku ke kantin tidak?" tawar Lisa mengajak Jungkook makan siang dengannya di kantin.
"Tidak, kau saja kesana. Aku sedang tidak nafsu makan" jawab Jungkook dengan dingin.
"Sudahlah, kajja!" kata Lisa yang menarik tangan Jungkook dan membawanya ke kantin. Merekapun duduk di salah satu kursi kosong untuk mereka bisa tempati.
"Yakk.. kenapa kau menarik ku hah?! aku kan sudah bilang jika aku sedang tak nafsu makan!" kesal Jungkook yang duduk berhadapan dengan Lisa.
"Hey, seharusnya kau dapat melihat keadaanmu yang sekarang ini. Wajahmu terlihat sedikit pucat, tau? aku khawatir jika kau sakit dan bagaimana jika kau tiba-tiba pingsan eoh?! niat ku baik, hanya untuk membantumu. Jangan meremehkan tentang kesehatanmu, itu lebih penting untuk dirimu juga. Meskipun seberapa besar masalah yang kini tengah melanda dirimu, tapi kau jangan terus memikirkan itu. Pikirkan juga tubuhmu, kesehatan lebih penting walaupun kau sedang mempunyai masalah. Jangan bertindak egois untuk dirimu sendiri, kau paham!?" tutur Lisa menatap Jungkook dengan serius.
Sekali lagi, Jungkook tertegun dengan ucapan Lisa. Dia memang benar-benar simpati padanya. Ia bisa melihat tatapan yang tulus dan bagaimana seriusnya Lisa saat berbicara. Jungkook dapat melihat niat baik dari seorang Lisa yang kini tengah menatapnya.
"Apa yang kau bicarakan ini hah?!" ucap Jungkook yang kesal tak percaya dengan ucapan Lisa.
"Apa ucapanku tadi kurang jelas?! sudahlah, aku akan memesankanmu makanan. Aku tidak mau melihat anak orang jadi mati kelaparan karna perutnya yang sudah berteriak ingin diisi" kata Lisa sebelum ia pergi memesan.
"Hey, apa yang kau katakan itu?! perutku tidak pernah berbunyi" setelah mengatakan itu, terdengar suara yang membuat Jungkook malu mengucapkan hal itu.
kruyuk.. kruyuk..
"Hah, suara apa itu? mana mungkin itu adalah suara dari perutku!" ujar Jungkook. Ia memegangi perutnya dan ternyata memang benar itu adalah suara dari perutnya, menandakan ia memang kelaparan. Jungkook jadi sedikit malu dengan kelakuannya sendiri.
Jungkook menoleh pada Lisa yang tengah berdiri menunggu pesanannya dibuat.
"Kenapa dia sebegitu pedulinya padaku? akh lupakan saja, mana mungkin dia menyukaiku " batin Jungkook.
Siang itu, mereka pun makan bersama di kantin.
Lalu bagaimana dengan Taehyung dan Jimin yang sedang mencari-cari Jungkook? Nantikan kisah selanjutnya..
Happy Birthday untuk Kim Namjoon, 12/09/1994. Saengil chuka hambnida 🎉🎉💜💜 Semoga sehat selalu, dipanjangkan rizkinya, dipanjangkan juga umurnya dan menjadi leader yang terbaik untuk BTS.
Sekali lagi, Saengil chuka hambnida Kim Namjoon 🎉🎉💜💜😊😊
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan vote 💜