You'Re My Brother (BTS)

You'Re My Brother (BTS)
Eps 51


__ADS_3

Keesokan paginya...


Saerin bangun dengan mata sembabnya yang terlihat sedikit bengkak akibat menangis semalam. Setelah selesai membersihkan diri, Saerin mengambil air hangat dan kain lalu mengompres matanya dengan itu.


Setelah beberapa menit berlalu, Saerin pun sudah siap dengan baju seragam sekolah dan matanya juga sudah lebih baik dari yang sebelumnya. Saerin segera menyiapkan buku-buku pelajarannya kemudian ia pun turun dari kamar. Saerin sudah melihat ketujuh oppanya itu sedang sarapan di meja makan. Ia lalu ikut bergabung dan memakan sarapannya juga. Setelah selesai Saerin meminta salah satu diantara mereka untuk mengantarnya ke sekolah, tapi kali ini direspon berbeda oleh mereka. Ketujuh oppanya kini menatap Saerin dengan tajam dengan wajah datar dan dingin menjadikan suasana di meja makan menjadi sedikit mencekam bagi Saerin.


"Ayolah oppa, antarkan aku sebentar ke sekolah" ucap Saerin yang memohon pada mereka bertujuh.


"Apa kau tak bisa berangkat sendiri?! pergilah naik bus ke sana! kami lelah setelah pulang dari Busan, dan kau malah meminta kami mengantarmu ke sekolah!" ucap Hoseok yang masih menatap Saerin dengan tajam.


"Sebentar saja oppa, hanya mengantarku ke sekolah" ucap Saerin yang menggoyangkan lengan Jimin di sebelahnya.


Jimin menepis tangan Saerin dengan kasar hingga membuat sang empu kaget karna setaunya Jimin tidak pernah sekasar itu. Tapi sekarang berbeda dari yang dulu, mereka semua berubah jadi membenci Saerin. Entah apa alasannya.


"Kenapa kau memaksa hah?! memangnya kau tidak punya kaki?! pergilah sendiri!" tekan Jimin.


"Namjoon oppa, tolong antarkan aku ke sekolah nee?" ucap Saerin yang beralih pandang pada Namjoon di sebelah kirinya.


Namjoon pun sama halnya seperti Jimin, ia menepis kasar tangan Saerin yang melekat pada lengannya.


"Kalian ini kenapa sih?! kenapa kalian jadi bersikap seperti ini padaku?! apa salahku hingga membuat kalian kesal padaku oppa?!" ucap Saerin yang berdiri dari kursi. Lalu iapun mendekat ke arah Taehyung dan Jungkook di depannya.


"Ayolah oppa, kalian kan selalu berebut giliran untuk mengantar jemput ku ke sekolah. Ayolah.." rengek Saerin sambil menggoyangkan bahu Taehyung dan Jungkook. "Ayolah.. aku mohon..." ucap Saerin lagi dengan melakukan aegyonya.


Karna mulai risih dengan ucapan Saerin, Jin terpaksa memukul meja makan itu dengan satu kepalannya yang berhasil membuat mereka semua terkejut, terutama Saerin.


"YAK! APA KAU TAK BISA PERGI SENDIRI HAH?! KAMI SEDANG LELAH! KENAPA KAU BELUM MENGERTI JUGA?!!" bentak Jin dengan wajah yang memerah menahan amarah. Dengan kepalannya yang masih berada di atas meja.


"Tapi..."


"PERGI SEKARANG JUGA!"


Sekarang malah Yoongi yang ganti membentak Saerin. Ia pun berdiri dari kursi dan mendekati Saerin dengan sikap dinginnya yang membuat gadis itu takut hingga berkeringat dingin. Yoongi mencekal erat pergelangan tangan Saerin dan menyeretnya keluar. Saerin hanya bisa pasrah terseret oleh Yoongi, tanpa sengaja air matanya sudah mengalir membasahi pipinya.


"Cepatlah pergi! atau aku takkan pernah membiarkanmu masuk kembali ke rumah ini! pergi cari taksi atau naik bus ke sekolahmu! ini.. uangnya!.. kau pasti menginginkan ini bukan? ambilah!" ucap Yoongi yang melempar beberapa lembar uang ke hadapan Saerin, lalu masuk ke dalam dan menutup pintunya dengan keras hingga membuat Saerin kaget.


"Hiks... kenapa kalian jadi seperti ini padaku? ada apa dengan kalian? kenapa kalian jadi kasar begini padaku? apa salahku oppa? kenapa kau jadi membenciku?" gumam Saerin yang menangis terisak.


Lalu ia pun pergi keluar dan berjalan kaki sebentar hingga mencapai halte bis. Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya bus yang ia tunggu pun datang. Saerin segera masuk ke dalam dan mencari tempat duduk.


10 menit kemudian, ia sampai di depan halte yang berada di sebelah sekolahnya. Saerin pun turun dari bus itu.


Saerin berjalan hingga sampai ke dalam sekolah, ia menapakkan kakinya ke dalam koridor dan sampai di depan pintu kelas. Dengan perlahan Saerin membuka pintunya, ia terkejut jika kelas sudah dimulai. Ia lupa melihat jam berapa sekarang, karna ia lebih memikirkan tentang ketujuh oppanya yang sekarang mulai benci padanya.


"Saerin, kenapa kau terlambat?" tanya guru Jong yang melihatnya masih terdiam di ambang pintu.


"S..S-saya... saya..." ucap Saerin dengan gagap.


Saerin tak bisa mengatakannya, ia bingung ingin berkata apa pada gurunya ini. Karna melihat Saerin yang masih diam dan menunduk di tempat, guru Jong pun menghampiri Saerin dan berhenti di hadapannya.

__ADS_1


"Kenapa kau sampai terlambat seperti ini? apa kau tidak melihat jam di tanganmu itu eoh?" tanya guru Jong dengan menahan emosinya.


"A...aku..." ucap Saerin yang gugup dan menunduk.


"Haishh.. Saerin, aku akan menghukum mu karna sudah terlambat masuk. Kau tak boleh mengikuti pelajaran ku hari ini, dan kau harus berdiri di lapangan, hormat kepada bendera disana sampai bel istirahat berbunyi. Arrasseo?" ucap guru Jong dengan tegas.


"N-nee.." kata Saerin yang masih menunduk.


"Tunggu apa lagi? cepat pergi sekarang!" perintah guru Jong.


"Nee.." ucap Saerin yang kemudian pergi ke lapangan.


Sampai disana, ia langsung menuruti perintah guru Jong. Saerin melepas tasnya dan melakukan gerakan hormat pada tiang bendera yang ada di depan itu. Banyak siswa-siswi yang memperhatikan dirinya dari kaca jendela di setiap kelas. Tapi Saerin menahan rasa malunya dan tetap teguh pada pendiriannya sekarang. Sambil mendongak pada tiang bendera yang ia tatap itu, Saerin pun tak sengaja meneteskan air matanya dengan masih mendongak dan diam di tempatnya. Ia masih memikirkan beberapa kata-kata kasar ketujuh oppanya di rumah, Saerin tak tau apa penyebab mereka membencinya sekarang. Ucapan mereka sangatlah membekas pada hatinya yang kini sedang rapuh dan tersakiti.


Dia merindukan Hueningkai yang selalu ada dan sayang padanya disaat ketujuh oppa Saerin keluar kota untuk mengurus perusahaan mereka disana dan meninggalkan Saerin di rumah sendirian. Tapi karna Hueningkai menemaninya, ia jadi tak kesepian kembali. Tapi rasa rindu pada oppa-oppanya itu belum bisa terbalaskan sampai saat ini.


"Hueningkai... aku merindukanmu... cepatlah pulang... " batin Saerin sambil masih menangis.


Sesekali ia menyeka air matanya dan mengusap-usap beberapa bulir air dari pelupuk mata agar tak menetes kembali.


Skip


Trriinngg... trriinngg...


Bel istirahat akhirnya berbunyi, Saerin pun menurunkan tangannya karna hukuman dari guru Jong sudah selesai. Ia pun mengambil tas yang berada di bawah dan berjalan santai ke ruang kelas. Sampai di depan pintu kelas, Saerin menghentikan langkahnya. Saat ia ingin membuka pintu, tiba-tiba pintunya terbuka sendiri dan menampilkan seorang guru yang baru keluar dari kelas. Guru Jong menatap Saerin yang ada di sampingnya dengan tajam, sementara Saerin hanya bisa menunduk mengakui kesalahannya.


Saerin hanya merespon dengan gelengan sebagai tanda tidak akan mengulang kembali kesalahannya itu.


"Baiklah, kali ini aku akan memaafkanmu. Aku tak akan mengadukan perbuatanmu ini pada guru BK. Tapi tetaplah bersikap tertib dan jangan terlambat seperti tadi lagi. Ini hanya sebagai hukumanku padamu karna kau terlambat datang disaat pelajaran ku tadi. Aku melakukannya agar ini dapat menjadi contoh untuk murid lain termasuk dirimu yang suka menentang peraturan sekolah. Sekarang kau boleh istirahat. Kau tidak apa-apa kan setelah aku menghukummu berjemur di lapangan itu?"


"Nee, aku baik-baik saja" ucap Saerin yang masih tertunduk.


"Yasudah kalau begitu.." ucap guru Jong, setelah itu ia pun pergi meninggalkan Saerin.


Saerin mulai masuk ke dalam kelas setelah murid lain keluar dari kelasnya satu persatu. Saerin mulai duduk di bangku sebelah Jiyeon. Tapi ia masih tertunduk di kursinya.


"Saerin apa kau baik-baik saja?" tanya Jiyeon sambil menepuk pelan bahu Saerin.


"Nee" ucap Saerin yang mendongak dan menatap Jiyeon dengan senyumannya.


"Arrasseo. Kajja, kita ke kantin" ucap Jiyeon antusias.


Saerin hanya mengikuti Jiyeon saja dari belakang, raut wajahnya masih terlihat murung ketika berjalan ke kantin.


Sampai di kantin, Jiyeon dan Saerin sudah duduk. Mereka juga sudah memesan tinggal menunggu saja. Jiyeon yang memperhatikan wajah Saerin dari tadi pun ikut merasakan perasaannya juga. Tapi ia tak tau kenapa Saerin sedih seperti itu. Ia berusaha menghibur temannya itu tapi tetap saja sama, Saerin semakin bertambah sedih saat ini.


"Saerin, apa yang sedang terjadi kepadamu? jika kau mempunyai masalah, katakan saja padaku. Siapa tau aku dapat membantumu?" ucap Jiyeon.


"Nee, khamsambnida. Tidak ada yang terjadi padaku" bohong Saerin.

__ADS_1


"Ayolah Saerin, dari matamu saja aku sudah tau jika kau itu berbohong. Kau pasti sedang mengalami sebuah masalah kan? tak apa... berbagilah ceritamu padaku, aku akan jadi pendengar yang baik untukmu" kata Jiyeon dengan tersenyum.


"Khamsambnida, tapi aku benar-benar tidak apa-apa. Aku baik Jiyeon, tidak ada yang terjadi padaku" ucap Saerin dengan senyum paksa.


"Saerin..." panggil Jiyeon sendu.


"Gwenchana" ucap Saerin yang menunjukkan senyuman manisnya agar membuat Jiyeon percaya pada ucapannya itu.


Jiyeon hanya menghela napas dengan perasaan yang tidak enak, ia juga tak bisa memaksa Saerin untuk mengatakan masalah yang dihadapinya sekarang pada Jiyeon. Yang penting ia bisa melihat wajah temannya yang tersenyum tanpa kesedihan yang terlukis disana.


Skip


Bel pulang sudah berbunyi, saatnya para guru selesai mengajar dan memperbolehkan siswa dan siswinya untuk pulang ke rumah mereka masing-masing.


Saerin sedang menunggu bus di haltenya. Beberapa menit kemudian, bus pun datang dan Saerin segera masuk kesana.


Skip


Sampai di rumah, Saerin bergegas masuk dengan seruannya yang biasa ia lakukan ketika memasuki rumah. Saerin dapat melihat ketujuh oppanya itu sedang duduk di sofa ruang tengah dengan kesibukan mereka masing-masing tanpa memperhatikan bahkan menyapa pada Saerin sedikitpun. Membuat gadis ini menghela napas dengan kecewa.


Saerin mulai menghiraukan mereka dan berjalan menuju kamarnya di atas.


"Haishh, kenapa sikap oppa seperti itu? mereka sekarang malah mengacuhkanku" gumam Saerin.


Selesai mengganti bajunya, Saerin menaiki kasur dan bermain dengan ponselnya. Karna ia merindukan Hueningkai, jadi Saerin memilih untuk melakukan panggilan video dengannya.


"Annyeonghaseyo " sapa Hueningkai saat panggilannya sudah tersambung.


"Annyeong Kai, bagaimana kabarmu disana?" tanya Saerin.


"Aku baik-baik saja, bagaimana dengan dirimu? "


"Aku juga baik" ucap Saerin sambil tersenyum.


"Kau tidak apa-apa kan disana? apa kau kesepian karna tidak ada aku? "


"Nee, gwenchana. Mm... sebenarnya, aku kesepian tanpamu Kai. Cepatlah kembali"


"Hehe, baiklah. Tapi setelah tugasku sudah selesai. Nee? "


"Nee"


"Baiklah, aku akhiri dulu nee. Nanti aku akan menghubungimu kembali "


"Nee, annyeong"


"Annyeong "


Saerin pun menutup panggilannya. Ia kemudian merebahkan dirinya di atas kasur sambil sesekali menatap langit-langit kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2