
skip sampai rumah..
Saerin sudah masuk ke dalam kamarnya, ia membersihkan dirinya sekaligus membasuh luka di sikunya itu. Setelah selesai, ia turun kebawah mengambil kotak P3K untuk mengobati lukanya. Hueningkai tak sengaja lewat dan melihat Saerin di sofa yang tengah meneteskan obat merah ke dalam kapas dan mengoleskan itu di siku tangannya. Hueningkai langsung menghampiri Saerin dan duduk disebelahnya menatap apa yang sedang dilakukan oleh Saerin.
"Ada apa denganmu Saerin?" tanya Hueningkai. Saerin tersentak kaget karna ia tak tau kalau Hueningkai sudah ada disebelahnya.
"K..Kai..?"
"Kau kenapa?!" ucap Hueningkai yang panik sampai ia menarik tangan kiri Saerin dan melihat luka di sikunya. "Ada apa denganmu?" tanya Hueningkai lagi sambil masih memegang tangan Saerin.
"A..aku.."
"Katakan"
Saerin menghela napasnya, "Saat pulang tadi, aku menyelamatkan temanku yang akan tertabrak mobil di tengah jalan. Aku menariknya hingga sikuku bergesekan dengan trotoar" jelas Saerin kemudian.
"Seharusnya kau lebih berhati-hati lagi Saerin. Aku kan sudah berjanji pada oppamu untuk tak membiarkanmu terluka sedikitpun" ucap Hueningkai.
"Gwenchana, ini hanya luka kecil saja. Nanti juga akan sembuh dengan cepat" kata Saerin.
"Baiklah, tapi lainkali berhati-hatilah, jangan sampai dirimu terluka seperti ini lagi"
"Nee"
•
Skip
Seminggu kemudian...
16.00
Saerin sedang berada di dalam kamar, memainkan ponselnya sembari berbaring di kasur. Sore ini Hueningkai sedang pergi keluar dan Hye Ra juga sedang ke pasar membeli bahan makanan. Saerin hanya sendirian dirumah.
Tanpa disengaja, ia melihat seekor burung merpati yang bertengger di balkon kamarnya. Saerin pun menghampiri burung itu, dan ia mengelus lembut bulu si burung tersebut. Dengan tak sengaja Saerin melihat sebuah gulungan kertas yang diikat di kaki burung merpati itu. Ia mengambilnya dan membuka isi kertas tersebut.
"KEMATIANMU AKAN DATANG SEBENTAR LAGI!!!"
Sebuah kata yang ditulis dengan pena hitam, berhuruf kapital dengan tulisan besar.
Awalnya Saerin hanya mengerutkan keningnya saja menatap selembar kertas bertulis yang ia pegang itu. Tapi saat ia mendongak ke depan, Saerin kaget karna tak menemukan burung merpati yang bertengger di pagar balkon nya itu.
Saerin mulai keluar dari kamarnya dan pergi ke samping rumah untuk mencari burung merpati itu tadi. Ia melihat-lihat sekelilingnya tapi tetap tak menemukan burung itu.
"Dimana burung merpatinya? kenapa ia menghilang?" gumam Saerin sambil masih mencari burung itu.
Sudah beberapa kali ia mencoba mencarinya di semak-semak, ditaman belakang rumahnya dan disamping rumah pula. Merasa lelah untuk mencari burung itu kembali, akhirnya Saerin pasrah dan kembali masuk ke dalam. Saat ia berada di pintu depan dan ingin membuka pintunya, seketika terdengar suara klakson mobil dari belakangnya. Saat Saerin menoleh, ternyata itu adalah mobil Hueningkai.
Hueningkai memberhentikan mobilnya lalu turun dari mobil bersamaan dengan Hye Ra yang juga berada di dalam mobil. Saerin masih memaku di tempatnya menunggu mereka berdua datang mendekatinya.
"Saerin, kenapa kau ada di pintu?" tanya Hueningkai.
"Eoh.. e.. aku.." ucap Saerin dengan terbata-bata sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. Hueningkai mengerutkan keningnya melihat tingkah Saerin yang kebingungan. Tapi pandangannya teralihkan oleh secarik kertas yang dipegang Saerin.
"Saerin, kertas apa yang kau pegang itu?" tanya Hueningkai sambil menunjuk kertas itu.
"I..ini.."
__ADS_1
Hueningkai langsung merebutnya dari tangan Saerin. Dan membaca tulisan di kertas itu.
"Kematianmu akan datang sebentar lagi" gumam Hueningkai yang membaca tulisan itu.
"Apa artinya ini? siapa yang memberimu kertas seperti ini Saerin?!" tanya Hueningkai dengan panik sambil mengangkat kertas itu.
"Aku tidak tau siapa yang memberiku itu. Aku hanya mendapatkannya dari seekor burung yang datang di balkonku saat kau sedang pergi. Aku juga kaget saat membacanya, aku pikir itu hanyalah orang yang sedang iseng padaku saja" ucap Saerin.
"Lalu kenapa kau ada diluar?"
"Oh, tadi saat aku selesai membaca kertas itu, aku lihat burungnya sudah tidak ada jadi aku keluar untuk mencarinya. Tapi tidak ketemu juga jadi yasudah aku kembali saja"
"Huuhh.. yasudah kita masuk saja. Ahjumma..?" ucap Hueningkai yang tak melihat Hye Ra ada di belakangnya. Hueningkai melihat Hye Ra yang tengah kesusahan membawa barang belanjaannya dari bagasi mobil. Hueningkai langsung berlari mendekati Hye Ra dan membantunya membawa beberapa kantong plastik dari bagasi. Lalu membawanya masuk ke dalam.
Sampai di dapur, Hueningkai menaruh semua kantong plastik yang ada ditangannya itu ke atas meja.
"Gomawo tuan muda" ucap Hye Ra yang tersenyum pada Hueningkai karna dia sudah membantunya.
"Nee, gwenchana ahjumma. Lainkali jika kau kesusahan mintalah bantuan padaku, aku akan dengan senang hati membantumu"
"Nee" ucap Hye Ra yang mengangguk mengiyakannya.
Saerin yang baru datang ke dapur langsung meremas kertas yang ada di tangannya lalu melemparkan kertas itu ke dalam tempat sampah di dapur. Hueningkai yang melihat itupun hanya menggelengkan kepala melihat tingkah savagenya Saerin saat melempar kertas itu ke dalam tempat sampah dari jarak yang cukup jauh dan tepat pada sasaran.
Keesokan harinya..
19.00
Yeonjun melempar sebuah vas bunga. Ia sangat marah mengetahui ancaman yang diberikannya kepada Saerin itu tak membuat si gadis takut. Ia kesal karna salah satu rencananya gagal.
"M-mian tuan, kami juga tidak tau kenapa dia masih tidak bergeming dengan kertas tulisan itu" ucap salah satu anak buahnya.
"Aku tidak peduli!! sekarang cepat berikan dia teror lagi hingga ia merasa ketakutan!! APAPUN CARANYA, CEPAT!!" teriak Yeonjun pada anak buahnya itu.
"N-nee Tuan" ucap mereka semua dengan serempak. Setelah itu mereka pergi meninggalkan ruangan Yeonjun.
"Lihat saja nanti, seberapa kuatnya kau menghadapi ini" ucap Yeonjun dengan senyum sinisnya.
Skip
2 hari kemudian..
disekolah...
Pelajaran olahraga sedang dilaksanakan di kelasnya. Sekarang, pertemanan Saerin dan Jiyeon kembali seperti dulu lagi. Jiyeon sudah meminta maaf duluan pada Saerin dan memang sudah dimaafkan juga oleh temannya itu. Mereka berdua pun berganti baju olahraga dan segera ke lapangan untuk melakukan gerakan pemanasan terlebih dahulu. Mulai dari Won-joon sang ketua kelas yang memimpinnya di depan para murid lain. Lalu diikuti oleh teman-temannya kemudian.
Jam istirahat pun telah datang. Setelah menyelesaikan tugasnya, para murid langsung pergi ke kantin karna sudah mendengar bel berbunyi. Saerin dan Jiyeon juga pergi ke kantin.
Skip, pulang..
Saerin berjalan sampai ke depan gerbang bersama dengan Jiyeon. Lalu tak lama Saerin menunggu, mobil Hueningkai sudah datang dan menjemputnya.
Skip
Beberapa hari belakangan ini, Saerin selalu saja mendapatkan beberapa teror dari seseorang. Mulai dari beberapa kertas bertulis, sampai benda-benda aneh yang didapatnya. Tapi Hueningkai mencoba untuk menenangkan Saerin dari beberapa teror yang ia dapatkan itu. Dan Hueningkai pernah membakar semua benda-benda aneh yang ia temui di depan rumah.
2 bulan kemudian...
__ADS_1
00.00
Braakk... brrakk... brakk...
BBUUMM...
Suara kekacauan dari kantor polisi yang di serang oleh beberapa orang berbaju serba hitam. Mereka membawa senapan dan juga bom untuk meledakkan sel penjara.
Mereka adalah anak buah dan bodyguard dari Irene dan juga Seo-joon. Mereka berusaha untuk membebaskan dua orang bosnya yang ada di dalam sel tahanan. Beberapa polisi yang menjaga kantor itu pun telah dilumpuhkan dan ada juga yang terluka hingga tewas disana. Keadaan kantor polisi sudah sangat hancur karna banyaknya orang-orang yang menyerang mereka.
Akhirnya, Irene dan Seo-joon dapat melepaskan diri dari penjara dengan dibantu oleh bodyguard mereka. Hingga para anak buah suruhannya itu meledakkan satu kantor polisi dengan bom peledak yang mereka bawa. Dan kantor polisinya pun hancur tak tersisa, menewaskan beberapa orang polisi yang masih bernyawa yang ada di dalam kantor itu tapi tak bisa keluar.
Kobaran api masih melahap tempat itu, hingga para warga di dekat kantor polisi segera memanggil petugas pemadam kebakaran untuk memadamkan apinya. Selang beberapa jam kemudian, api pun berhasil di padamkan. Warga yang merasa resah itupun hanya bisa berjaga-jaga agar kejadian ini tak terulang lagi.
Keesokan harinya..
Para wartawan sudah ada di tempat kejadian, melaporkan berita dimana kantor polisi yang ada di dekatnya itu sudah ludes terbakar yang hanya menyisakan abu hitam yang bertaburan dimana-mana.
Berita ini sampai terdengar di telinga Hueningkai yang tengah menonton televisi dan menemukan saluran berita dimana beberapa acara televisi menampilkan berita yang sama.
Saerin juga mendengar seorang wartawan yang sedang berbicara mengenai peristiwa itu.
"Keterlaluan sekali orang yang melakukan itu" ujar Hye Ra yang juga menontonnya di belakang sofa.
"Perbuatan seperti ini bukan hanya salah satu orang saja yang melakukannya. Tapi ini pasti dilakukan oleh sekumpulan orang-orang jahat. Aku rasa, mungkin mereka ingin membobol sel penjara dan mengeluarkan salah satu tahanan yang terpenjara disana" ucap Hueningkai.
"Tapi kenapa mereka sangat tega sekali. Mereka melakukan itu hingga meledakkan satu kantor polisinya sampai hangus seperti itu" kata Saerin.
"Mereka pasti adalah penjahat, dan mungkin orang yang mereka lepaskan adalah salah satu bosnya. Karna itulah mereka melakukan ini" kata Hueningkai.
"Semoga hal-hal yang seperti ini tidak akan terulang lagi. Kasihan sekali beberapa polisi yang tewas karna ulah si penjahat itu" kata Hye Ra.
"Nee, kejam sekali mereka sampai melakukan ini. Mereka menghilangkan nyawa orang lain hanya karna ingin membebaskan salah satu tahanan polisi" kata Saerin yang menggeleng pelan. "Semoga oppa tidak apa-apa disana, itukan tempatnya di Busan. Aku khawatir dengan mereka. Semoga mereka baik-baik saja " batin Saerin.
Skip, malam
Dirumah Bangtan...
Mereka juga sudah mendengar berita itu tadi pagi. Dan mereka sekarang jadi lebih berwaspada lagi karna mengingat diri mereka yang sebenarnya sedang diincar-incar.
disisi lain...
Di mansion mewah dan luas yang tempatnya sangat terpencil dan tidak ada orang yang tau.
Irene dan Seo-joon bersepakat untuk bekerja sama dengan tujuan yang sama pula. Setelah keluar dari penjara, mereka berdua dibawa keluar kota dan menempati mansion mewah itu berupaya untuk menyembunyikan diri.
"Bagaimana dengan rencana kita selanjutnya?" tanya Irene pada Seo-joon di ruang tengah mansion itu.
"Kita harus menyamar dan kembali lagi ke Busan" kata Seo-joon.
"Baiklah, tapi sekarang kita istirahat dulu. Aku sangat-sangat lelah" ucap Irene. Lalu ia pergi menaiki tangga dan tidur di kamarnya.
Sementara Seo-joon masih berada di sofa, ia mulai memikirkan cara yang tepat untuk melakukan rencananya.
•
•
__ADS_1