
Saerin POV
Aku membuka mata perlahan dan melihat ke sekeliling. Ternyata hari sudah pagi mentari sudah bersinar. Aku melihat-lihat lagi dengan lebih jelas. Aku berada diatas kasur didalam ruangan yang mewah.
Mataku terus saja berputar-putar melihat sudut ruangan.
"Kamar siapa ini. Kenapa aku ada disini?" gumam ku. Lalu saat aku menoleh kebawah, aku terkejut karna melihat tangan dan kakiku sudah diikat dengan tali. Aku mulai cemas dan berusaha untuk mencoba melepaskan tali itu tapi aku tak bisa.
"K-kenapa aku berada disini? A-apa yang terjadi semalam" kata ku dengan tegang.
Kemudian aku melihat pintu terbuka dan seorang pria masuk kedalam.
"S-siapa kau tuan dan kenapa aku ada disini?" tanyaku dengan kaget menatapnya.
(smirk) "Ternyata kau sudah bangun" menatapku.
"Siapa kau?!!" teriak ku karna mulai ketakutan.
"Hahaha... Kau tidak perlu tau siapa aku. Yang pasti aku sudah mendapatkanmu gadis manis" katanya tersenyum sambil melangkah menghampiriku.
"Apa yang kau inginkan!!" teriakku lagi.
"Hh. Aku sudah menyekap oppamu"
"Ternyata kau yang sudah menculik oppa-oppa ku. Apa yang kau inginkan? Mengapa kau menyekap mereka. Dan kenapa aku diikat hah! Apa yang kau mau!!"
"Pertama, aku melakukan ini karna mereka sudah membuatku menderita dengan membunuh Appaku. Kedua, mereka saingan bisnisku. Aku kehilangan klien ku karna mereka mengambilnya"
"Tidak mungkin jika oppaku membunuh seseorang. Mereka tidak akan pernah berbuat seperti itu. Tapi jika kau kalah saing dari oppaku itu tergantung rezeki masing-masing orang. Mungkin kau belum beruntung mendapatkannya" sela ku.
Lalu dia mencengkeram wajah ku dengan kencang sampai aku mengerang kesakitan.
"Diamlah jangan menceramahi diriku!!" katanya dengan kesal.
"A-a... s-sakit.." kataku lirih.
"Kau tau apa yang akan aku lakukan padamu dan mereka?" tanyanya sambil tersenyum miring.
"Aku akan membunuh ketujuh oppamu dan menjadikan dirimu sebagai budak ku" katanya lalu melempar wajahku ke atas kasur.
"Aku tidak mau jadi budakmu!!" teriakku dengan menatapnya.
"Kau harus mau! atau oppamu akan ku bunuh" tekannya.
"Jangan berani macam-macam denganku tuan. Aku tidak akan pernah mau menjadi budakmu!! dan aku tidak akan membiarkanmu membunuh oppaku!!" teriakku lagi. Aku mencoba untuk memukulnya dengan kedua tanganku yang masih diikat. Tetapi berhasil ditangkap oleh pria itu dengan satu tangannya. Sambil melepas tanganku ia lalu menamparku dengan tangan yang satunya. Lagi-lagi aku tersungkur diatas kasur. Tak sengaja aku meneteskan air mata.
"JUSTRU KAU YANG JANGAN BERANI MACAM-MACAM DENGANKU!! Aku bisa saja menyakitimu. Tapi aku mengurungkan niatku karna kau masih seorang gadis kecil"
"Kenapa memangnya jika aku masih gadis kecil. Apa kau takut denganku!!"
"Cukup!! diamlah kau. Asal kau tau aku tidak akan menyakiti gadis kecil. Apa kata dunia jika aku melawan gadis sepertimu. Memangnya aku pengecut hanya bisa berani bertarung dengan anak kecil"
"Aku bisa saja melawanmu dengan tangan kosong!" kataku dengan senyum miring.
"Heh!! Kau pikir dirimu siapa hah! Sudahlah aku hanya membuang-buang waktu berbicara denganmu. Masih ada hal yang lebih penting dari ini" katanya lalu pergi. Sampai di pintu depan dia berbalik menatapku.
"Jangan mencoba untuk kabur. Kalau tidak kau akan tau akibatnya" ucapnya lalu keluar dan menutup pintu.
"Aahh.. apa yang harus aku lakukan sekarang. Aku harus segera keluar dari sini dan mencari tempat dimana oppa disekap" gumam ku.
Tak lama kemudian masuk seorang pelayan dengan membawa senampan makanan.
"Apa yang kau lakukan disini!"
"Tuan hanya menyuruhku untuk membawakan makanan untukmu"
"Bawa saja kembali aku tidak ingin makan! dan pergilah dari sini!!" bentakku kasar. Tapi tetap saja pelayan itu menaruh makanannya dimeja dekat tempat tidur.
"Makanlah ini kalau tidak aku akan dimarahi oleh tuan Park" katanya halus. Seketika aku merasa kasihan padanya. Meskipun aku tadi sudah membentaknya dengan tidak sopan dia masih saja berkata halus denganku. Jadi mau tidak mau aku harus memakannya. Lagipula dari semalam aku juga belum makan. Aku disuapi oleh pelayan itu walaupun aku meminta untuk makan sendiri dan membantuku melepaskan talinya. Ia tetap saja tidak mau melakukannya ia pikir aku akan kabur. Jadi aku terpaksa memilih disuapinya. Sesudah selesai makan ia membereskan peralatan makannya lalu pergi membawa piring kotor itu.
Aku masih diam di tempat tidur memikirkan cara agar bisa keluar dari kamar ini. Tak lama kemudian terlintas ide dibenakku. Aku menengok ke kanan dan ke kiri mencari sesuatu. Aku melihat ada sebuah laci tak jauh dari tempat tidur ini. Aku mencoba untuk beranjak turun dari kasur dan menghampiri laci itu. Aku berhasil menuruninya meskipun aku tidak bisa berdiri, sambil ngesot aku menghampiri laci itu, setelah sampai aku membuka satu persatu dan menemukan ada silet kecil didalamnya.
__ADS_1
"Nah! bener feeling ku. Mana ada dikamar mewah nggak ada apa-apa, ketemu juga yang aku cari" kataku tersenyum lalu aku menyayatkan silet itu dengan tali dikakiku.
Setelah beberapa lama akhirnya tali itu putus juga. Aku membuka ikatan talinya dan berhasil terlepas. Saat ingin membuka di bagian tangan sulit untuk membukanya tangan ku tidak bisa menggapainya. Jadi terpaksa aku biarkan saja tali yang mengikat di pergelangan tangan ku. Lalu aku kembali melakukan siasat selanjutnya. Aku mengambil vas bunga yang terletak di meja rias tersebut. Aku berjalan mengendap-endap ke sebelah pintu kamar. Saat sampai aku sempat berpikir.
"Jika aku memecahkan vas ini itu akan membuat penjaga di luar menjadi kaget setelah mendengar ini. Dan jika tebakanku benar pasti penjaga itu akan membuka pintu dengan tergesa-gesa dan meninggalkan kuncinya masih tergantung di pintu lalu aku akan melangkah keluar, mengambil kuncinya dan mengunci mereka berdua disini. Dan untung tadi aku membawa siletnya disaku ku untuk membebaskan oppa jika mereka terikat". Aku perlahan menghela nafas dan mulai beraksi. Vas itu aku lempar dan pecah di samping tempat tidur. Aku menunggu penjaga itu masuk dan pintu terbuka masuklah mereka dengan gelisah dan tergesa-gesa. Benar saja dugaanku kunci itu ditinggal tergantung di pintu aku segera keluar dan mengambil kuncinya. Seketika mereka melihatku dan segera berlari menghampiri ku tapi terlambat aku sudah menutup pintu dan menguncinya. Berakhirlah mereka terkunci didalam.
Aku tersenyum puas melihat salah satu rencana ku berhasil.
Setelah itu aku beraksi menuruni tangga, aku yakin pasti ada penjaga yang menunggu di bawah. Dengan langkah perlahan aku menuruni anak tangga satu persatu dan mengintip kebawah. Benar juga ada satu penjaga yang mengawasi dibawah. Tanpa pikir panjang aku langsung turun dengan perlahan mendekati penjaga yang berada di samping tangga. Aku berhenti dan seketika penjaga itu menoleh ke arah ku.
"Hei! kenapa kamu ada disini!" serunya terkejut. Lalu aku memukul wajah nya dengan dua kepalan tangan yang masih terikat dan tanganku berhasil mengenai wajahnya. Ia mundur beberapa langkah dan kembali bersiap. Aku juga tak mau kalah, aku menyiapkan kuda-kuda dan menangkis semua serangannya.
"Percuma saja kau melakukan itu gadis manis kau tidak akan bisa mengalahkan ku" kata penjaga yang bertubuh besar itu. Tapi aku tidak takut, bahkan aku ingin sekali rasanya mencabik-cabik tubuhnya seperti serigala yang memburu mangsanya.
"AKU TIDAK AKAN KALAH DARIMU!!"
Sekarang giliran aku yang menyerang. Sangat sulit memukul dengan kedua tangan yang terikat tapi aku tidak akan menyerah demi menyelamatkan oppa-oppa ku. Aku mencoba berkali-kali untuk menendang dan memukul tapi berhasil ditangkis oleh penjaga itu. Satu kali lagi aku memukul tapi berhasil ditangkap dengan satu tangannya. Tangan lainnya melayang menuju perutku dan tinjunya berhasil membuatku mundur jauh dan terjatuh membentur anak tangga. Aku merasakan sakit yang luar biasa dan mulutku mengeluarkan darah. Tapi aku masih tetap tegar dan berusaha berdiri dan mengatur nafasku.
"Bagaimana masih ingin melawanku?" katanya dengan tersenyum miring dan tertawa lepas.
Aku menunduk dan memejamkan mataku sekilas lalu mengangkat kepala ku dan membuka mata menatapnya dengan tajam. Aku berjalan menghampirinya perlahan lalu makin cepat dan berlari dengan menyiapkan kedua kepalan tanganku yang tergabung dan melayang meninju perutnya yang kini ia masih menahan tawanya. Sekilas dia tak menyadari aku telah menghampirinya tapi saat jarak ku tinggal sedikit langkahan lagi dia terkejut dan tidak bisa menghindar. Pukulan ku berhasil menghantam perutnya dengan kencang dan ia terjatuh mundur dan mengeluarkan banyak darah dari mulutnya hingga ia melemas dan tak bisa berdiri. Aku mendekat dan menjejakkan kaki ku diatas perutnya.
"Apa kau masih mau meremehkan aku? Lain kali berwaspadalah, jika kau meremehkan kekuatan lawan maka kau sendiri yang akan kalah karna kekurang sadaran mu akan keadaan sekitar. Dan jangan pernah meremehkan orang yang lemah jika kau belum tau kekuatan orang tersebut.
Sekarang beritahu aku dimana kalian menyekap oppa-oppa ku kalau tidak kau katakan, aku akan MENGHABISIMU!!" aku menekan kata yang terakhir.
Seketika penjaga itu bercucuran keringat dingin.
"Ee.. m-mereka d-disekap d-di ruang b-bawah tanah" jawabnya lirih.
"Ruang bawah tanah? dimana itu tunjukkan jalannya dan beritahu dimana kuncinya."
"Terus saja jalan mengikuti lorong itu" sambil menunjuknya dengan jari telunjuk. "Jika sudah sampai ujung beloklah ke kanan lalu ke kiri. Ada pintu berwarna merah dengan gagang pintu berwarna emas. Bukalah, ada tangga kebawah yang menuju lantai bawah tanah. Ada dua pintu, pilihlah yang berwarna hitam dengan gagang berwarna perak. Itulah ruangan dimana oppamu disekap."
"Apa aku boleh mempercayaimu?"
"Uhuk.. uhuk.. aku benar dan tidak berbohong. Aku sudah menyerah"
Aku menginjak perutnya sekali lagi dan sedikit menekannya.
"Uhuk... aku tidak menipu. Tolong jangan sakiti aku lagi. Kumohon" katanya dengan nada memelas.
"Awas saja jika kau menipuku. Dimana kunci pintu itu"
"Aku tidak tahu. Jika tidak salah itu berada di tangan penjaga nya"
"Hmm... baiklah kalau begitu"
Tak lama aku mendengar suara derap kaki seseorang menuruni tangga.
Aku menoleh melihat kearah tangga di belakangku.
"Itu pasti penjaga yang aku kunci didalam kamar" kataku dengan cemas. "Aku harus segera pergi". Sebelum aku pergi mereka sudah berjalan mendekat menuruni tangga. Aku segera lari kearah yang ditunjuk oleh penjaga itu. Aku berlari dengan sisa nafas yang ku punya. Sesekali aku melirik ke belakang, dua penjaga itu sedang mengejar ku. Setelah sampai diujung lorong aku segera berbelok ke kanan dan kemudian ke kiri. Aku melihat ada dua buah pintu yang berwarna merah disisi kanan dan kiri. Aku mengingat kata-kata penjaga tadi, pintu yang berwarna merah dengan gagang emas. Di situ ada pintu yang bergagang emas di sebelah kiri pintu yang bergagang perak. Aku menoleh lagi ke belakang kedua penjaga itu sudah dekat lalu aku segera berlari menuju pintu di sebelah kanan yang bergagang emas. Aku membuka pintu itu dan mendapati tangga yang turun kebawah. Aku menoleh kembali ke belakang dan dengan segera melangkah menuruni tangga itu hingga aku lupa menutup pintunya karna tergesa-gesa. Penjaga itu masih mengikuti ku di belakang.
"Hei!! Berhenti jangan lari kau gadis kecil!!" teriaknya di belakang ku.
Aku masih terus berlari menuruni tangga hingga aku sampai di bawah dan terkejut melihat ada dua penjaga lain yang berada di bawah. Mereka juga sama-sama ikut kaget melihatku.
"Hei! kenapa kau di sini!" teriak salah satu penjaga. Sementara penjaga yang mengikuti ku sudah berada di belakangku. Aku menoleh dengan terkejut ke belakang. Aku agak gentar melihat ke empat pria dewasa berbadan besar mengepung ku dari dua arah yang berlawanan. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri dengan rasa takut. Mereka diam-diam melangkah mendekatiku dengan senyum miringnya.
"Ha-ha-ha.. mau apa lagi kau sekarang gadis manis ha-ha-ha.." kata salah satu penjaga dengan tertawa. Saat mereka hampir berada beberapa senti lagi, aku ketakutan dan tak sengaja melepaskan teriakan ku yang dengan lantang dan nyaringnya membuat mereka kaget dan menutup telinganya.
Saerin POV pause
Author POV
Sementara itu dibalik pintu berwarna hitam dengan gagang yang perak. Ketujuh pria muda terduduk dipojok dinding dengan kaki yang terikat serta tubuh dan tangannya diikat kebelakang.
Seketika mereka terkejut mendengar suara teriakan yang lantang dan nyaringnya hingga terdengar jelas di telinga mereka.
Author end POV
Bangtan POV
"Hyung sepertinya aku kenal dengan suara itu" kata Jungkook kepada keenam hyungnya yang lain.
__ADS_1
"Nee, sepertinya aku juga mengenali suara itu" kata Jimin mengulang kata dari Jungkook.
"Nee, aku juga Hyung" kata Taehyung menatap Namjoon.
"Nee, benar juga" kata Namjoon beralih menatap Yoongi.
"Sepertinya.. " Yoongi menggantungkan kata-katanya menatap Hoseok. Dan Hoseok menatap Jin kakak tertua mereka. "Itu.. " menggantungkan katanya kepada Jin.
Jin menatap pintu di depannya.
"Adalah... ".
Bangtan end POV
Saerin POV play
Seketika aku melihat mereka dengan tangan yang menyentuh telinganya dan memejamkan matanya kasar.
"Ini kesempatanku!" seru ku. Lalu aku menendang satu-satu perut mereka dengan kaki kanan ku menendang ke arah kanan dan dua kepalan tanganku memukul ke arah kiri. Dan mereka semua terjatuh ke lantai, aku menghela nafas dan bersiap melakukan kuda-kuda dan menyerang keempat orang di kedua sisi yang berbeda. Menyikut, memukul, menendang dengan satu persatu. Dan..
bruukk...
Mereka semua ambruk ke tanah. Tapi mereka masih kuat berdiri walau wajah mereka sudah terdapat luka lebam dan mengeluarkan darah. Dengan tenaga yang masih tersisa aku menghela nafas untuk kesekian kalinya lalu memutarkan tendangan kaki ku ke kanan dengan sangat kencang penuh tenaga dan berhasil mengenai wajah kedua penjaga lalu melayangkan pukulan lagi ke arah kiri memukul wajah kedua penjaga yang lainnya kemudian menendang perut mereka satu-satu dan mereka ambruk tak berdaya lagi di tanah. Setelah menyadari mereka sudah tidak bisa apa-apa lagi aku berjalan dengan gontai menghampiri kedua penjaga yang menjaga pintu bawah tanah dan merogoh saku keduanya satu persatu dan menemukan kunci pintunya. Aku mendekati kedua belah pintu. Mengingat kembali ucapan si penjaga yang memberitahuku tentang pintu bawah tanah.
"Ada dua pintu, pilihlah yang berwarna hitam dengan gagang perak "
"Ya! pintu hitam dengan gagang perak!" seru ku. Lalu aku menghampiri pintu itu di sebelah kiri. Memasukkan kunci itu dan memutarnya. Dan dengan tenaga yang tersisa sedikit, aku mendobrak dengan sekuat tenaga menggunakan kaki ku. Pintu terbuka dan disambut oleh teriakan ketujuh pria yang sedang duduk terikat.
"SAERIN!!" begitulah teriakan mereka.
"OPPA!!" aku juga ikut berteriak lalu berlari menghampiri mereka dan sampai dihadapan Jin oppa, kakak tertua ku.
"Oppa" lirihku mengelus pipinya dengan berlinang air mata.
"Saerin apakah itu kau sayang?! Gadis kecilku yang manis" lirihnya juga dengan air mata yang menetes membasahi wajahnya.
"Iya oppa ini aku Saerin!" seru ku sambil tersenyum menatapnya.
"Saerin" tangisnya dengan menyebut namaku. Aku memeluknya dan menangis bersama. Tak terasa yang lain juga menangis dengan terisak-isak melihatku. Lalu aku melepaskan pelukanku dan mengeluarkan silet di saku celana yang tadi aku ambil dari laci.
"Oppa aku akan melepaskan talinya".
Aku pergi ke belakangnya dan menyayatkan siletnya ke tali yang mengikat dibadannya. Tali itu berhasil putus lalu aku melepaskannya dan berpindah ke pergelangan tangannya yang diikat juga. Setelah berhasil dan melepaskan talinya, Jin oppa langsung memelukku lagi.
"Oh! Saerin, oppa sangat merindukanmu sayang"
"Nee, aku juga oppa. Tapi sekarang aku harus melepaskan ikatan yang lainnya dulu"
"Nee"
Kemudian aku berpindah lagi di sebelah Jin oppa yaitu Hoseok oppa yang kini dengan senyumannya membuat ku bahagia menatapnya. Aku kembali menyayat talinya dan berhasil lepas dan di pergelangan tangannya. Setelah lepas dari ikatan talinya, Hoseok oppa langsung memelukku dengan hangat dan aku membalasnya.
Lalu melakukan hal yang sama lagi kepada Yoongi oppa, Namjoon oppa, Tae oppa dan Jimin oppa. Mereka memelukku satu-satu saat talinya berhasil dibuka. Terakhir adalah Jungkook oppa, dan aku menyayatkan siletnya pada tali di tubuh dan dipergelangan tangannya dan setelah berhasil lepas, Jungkook oppa juga langsung memelukku erat dan menangis bersama karna saling merindukan satu sama lain.
"Saerin. Aku sangat-sangat merindukanmu. Kau sudah besar sayang" lirihnya di sela-sela isak tangis.
"Nee oppa, Saerin juga merindukanmu"
Ia melepaskan pelukannya dan menatapku dengan serius.
"Apa kau rela mati-matian ke sini hanya untuk menyelamatkan kita?"
"Nee oppa, hanya untuk kalian aku akan melakukan apa saja. Demi menyelamatkan kalian semua" kataku dengan tersenyum dan ia juga ikut tersenyum.
Di tengah-tengah momen ini tiba-tiba terdengar suara seseorang dari pintu yang berkata.
"Ouh sangat mengharukan sekali!" seru orang itu. Aku menoleh dan terkejut. Itu ternyata...
Saerin end POV
Tunggu kelanjutan kisahnya...
Gimana episode kali ini. Komen pendapat kalian ya dibawah ini. Maaf ya ceritanya digantungin lagi. Author nya capek dan biar readers pada penasaran dan pastinya nungguin kelanjutan ceritanya dari author. Nantikan next episode nya. 💜
__ADS_1