(Revisi) Terlambat Menyesalinya

(Revisi) Terlambat Menyesalinya
Rasa suka


__ADS_3

"Loh apa itu Din?" tanya mas Bram yang melihat aku membawa baki berjalan ke arahnya.


"Ini kue mas, yang tadi siang Dinda buat" sambil melangkah mendekatinya dan duduk dengan meletakkan baki itu di depanku.


"Duduk atas Din" kata mas Bram yang melihat aku duduk di karpet sambil meselonjorkan kaki.


"Gak usah mas, Dinda lebih suka duduk di lantai begini gak capek kaki" aku me jawab sambil memakan kue yang ku buat sendiri


"Bagi dong Din, kenapa dimakan sendiri sih kuenya" kesal mas Bram sambil berusaha menggapai baki yang kupangku.


"Lah tadi katanya mbak Monica mas Bram gak mau, karna gak suka sama kue kek gini?" ketus ku sambil menjauhkan baki dari jangkauan tangannya.


"Kapan? Emangnya tadi kamu ngasih itu ke mas, kok mas gak tau" kesalnya sambil menatapku.


"Tadi siang mbak Monica yang bilang dan mengembalikan kue ini padaku, karna mas Bram gak mau katanya" keluhku yang merasa agak bingung dengan sikap mas Bram.


Setelah berselisih dengan mas Bram, akhirnya aku pun tau kalo tadi siang mbak Monica gak menyampaikan kue yang ku berikan kepada mas Bram.


Dan saat perdebatan antara aku dan mas Bram belum selesai tiba-tiba sudah ada seseorang yang muncul dan marah pada Dinda, siapa lagi kalo bukan mbak Monica.


Monica


"Tunggu apa itu?! Jadi benar firasat ku kalo mas Bram mulai menaruh hati pada Adinda. Aku tak akan membiarkan itu terjadi" melangkah dengan cepat dan berteriak.


"Apa-apaan kalian ini, kayak anak kecil saja. Dan kamu Din.! Bukannya menjaga mas Bram tapi malah membuat mas Bram naik turun tangga, bagaimana kalo mas Bram sakit lagi!?" berteriak dengan kesal di depanku.


"Monica sudah, ini bukan Salah Dinda. Mas tadi yang turun sendiri, karna bosan di atas sendirian gak ada teman ngobrol. Dan tolong kalo masuk rumah itu ucapkan salam jangan nyelonong kayak gitu" sambil mengibaskan tangannya dihadapan Monica.


Aku tak menyahut satu pun kata-kata dari mbak Monica, aku hanya diam menatapnya yang sedang kesal, dan marah-marah gak jelas.


Setelah itu mbak Monica dan mas Bram naik ke atas dan aku menonton tv sendirian. Kadang aku merasa kalo aku di rumah ini hanya orang asing atau hanya orang yang kos.

__ADS_1


Setelah dipikir pikir emang sikap mas Bram belakangan ini agak aneh. Dia sedikit lunak padaku, dan kadang juga mengisengi aku jika gak ada mbak Monica.


"Dinda apa hari ini kamu akan kerja di cafe lagi?" Sambil sarapan mas Bram tiba-tiba saja bertanya soal kerjaan ku. Dan itu berhasil membuat mbak Monica kesal padaku.


"Ya, karna Dinda sudah lama di rumah...." belum selesai aku bicara mbak Monica sudah memotong kalimatku.


"Ngapain ke sana? Emang apa bagusnya jadi penyanyi cafe. Kamu itu mau mempermalukan suamimu ya?! Dengan tampilan berhijab tapi tampil di cafe seperti itu" sambil makan dan melirik kesal ke arah ku.


"Apa maksud mbak Monica? Saya kan...." belum selesai aku bicara tapi sudah dipotong lagi sama mas Bram.


"Sudah-sudah, tidak bisakah tenang sedikit masih pagi sudah ribut. Habiskan sarapan kalian, aku gak mau terlambat karna ini hari pertama aku masuk kantor setelah libur panjang" dengan nada yang sedikit ditekankan.


Jujur aku masih kesal dengan ucapan mbak Monica yang mengatai aku ingin mempermalukan mas Bram. Aku yang menyanyi dan mengurus cafe ku sendiri kok dikatain seolah aku cewek gak bener.


Dengan rasa kesal yang masih kesimpan di hati aku melajukan mobilku menuju butik, dan seperti biasa aku lewat pintu belakang yang langsung masuk ke ruang kerjaku.


"Dinda, kupikir masih ngurusin suamimu? Emang kemana istri mudahnya kok kamu sampek gak ke butik sebulan ini" sambil menyerahkan gambar yang sudah di revisi sama tante Angel.


"Ya sudah selesaikan itu semua, dan nanti kalo bisa datanglah ke hotel, karna tante Angel menunggu di sana" katanya sambil melangkah duduk di sofa, membuat laporan pengeluaran dan pemasukan butik selama 1 bulan.


Tepat dengan waktu makan siang aku beranjak ke hotel, dan aku langsung menuju restoran hotel karna sudah janjian sama tante Angel di sana.


Restoran


Dinda tak tau kalo ada sepasang mata elang yang mengawasi dirinya sejak dia masuk kedalam restoran sampai dia duduk dan menunggu di sana. Sepasang mata itu tak mengalihkan pandangannya dari Dinda walo dia sedang makan dengan seorang wanita di situ.


"Bos, bos" menggoyang goyang bahu Mexca karna terlihat bengong.


"Ah, iya kenapa Ris? Kau mengejutkan ku saja" menoleh ke arah Faris yang duduk di sebelahnya.


"Mex, kenapa kau seperti tak fokus. Sebenarnya kau melihat apa. sih?" celingukan melihat ke seluruh pengunjung restoran itu.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, ayo habiskan makanannya" memakan makanannya sambil melirik ke arah Faris.


"Apa maksud dari lirikannya itu?" Membatin sambil tak tenang menyuapkan makanan ke dalam mulut.


"Kenapa aku tak bisa mengalihkan pandanganku darinya, sudah ku cobak untuk tak peduli lagi dengannya, tapi dada ini semakin sesak rasanya." aku menghela napas dalam hati.


Saat aku mengamatinya, hatiku bergetar aku tak akan sanggup jika dia membuat janji dengan suaminya di sini. Namun entah kenapa hatiku merasa lega saat ku lihat dia membuat janji dengan seorang wanita.


Sepanjang makan aku tak bisa fokus pada urusanku, karna semuanya hanya terfokus pada sosok wanita yang ku hindari selama ini.


Sampai aku tak sadar sejak kapan Faris sudah mengusir wanita yang ada di hadapanku, dan selalu menggangguku belakangan terakhir ini.


"Bos kenapa dari tadi tak fokus dan hanya bengong. Menjawab juga asal asalan, apa ada masalah bos? Gak biasanya" gerutu Faris kayak manyang di telingaku mendengung berisik.


"Ris, apa kamu pernah suka pada seseorang? Yang sampai membuat mu merasa sesak" ku coba menarik napas dengan susah paya.


"Hem, maksudnya bos sedang menahan rasa suka pada seseorang?" membulatkan mata sebulat bulatnya.


"Tak bisakah kamu melihatku dengan biasa saja, apa kamu ingin dipecat hah?!" aku beranjak dari dudukku dan melangkah keluar restoran.


"Ris... Mas Faris.! Ya ampun beneran, apa sama kakakku ke sini? Dimana orangnya!?" celingukan


"Sudah keluar duluan, ngapain nona Merisca di sini?" menatap penasaran.


"Aku ada temu sama para desainer, tuh di sana" menunjuk ke arah meja Adinda, yang di sana sudah ada Angel, dan Amanda.


"Faris tolong kamu jaga kakakku ya, karna dia lagi aneh belakangan ini, seperti orang yang lagi gak ada di dunia ini. Uda ya daaah.!" melangkah pergi menuju meja Adinda.


"Tuhan, kenapa rasa suka ini bukan melegakan justru membuat ku tersiksa begini? Haruskah ku rebut paksa dia dari suaminya? Aku ingin mendapatkannya dan juga ingin merengkuhnya dalam pelukanku" bersimpuh di depan mimbar patung yesus di sebuah gereja.


Tanpa ku sadari rasa suka ini benar-benar menjadi penyakit di hatiku, rasa sukaku pada wanita itu telah memaksa air mataku mengalir dari kedua mataku tanpa malu.

__ADS_1


__ADS_2