(Revisi) Terlambat Menyesalinya

(Revisi) Terlambat Menyesalinya
Pengganggu ketenangan


__ADS_3

"Dinda, selamat ya sayang kau telah mendapat banyak tawaran kerja sama. Om bangga padamu, tak sia-sia Om mengirimmu jauh-jauh ke LA. Jika kau menerima tawaran mereka makan ilmu yang kau pelajari selama ini akan semakin berkembang." sambil memelukku Om Bambang terus bicara, aku jadi merasa seolah ayahku sedang menjelma dan merasukinya.


"Selamat ya sayang, mama percaya kalo kamu pasti bisa sukses." ucapan selamat dari mama mas Bram yang sengaja menungguku bersama Om Bambang di belakang panggung.


Aku sangat bahagia mendapat ucapan selamat dari semua orang yang selalu mendukungku selama ini.


Saat acara selesai ada banyak orang yang menungguku di belakang panggung. Mas Didi dan mbak Ayuni, Yulia dan keluarganya, Om Bambang dan kedua orang tua mama Bram.


"Selamat sayang, tante bangga punya murid sepertimu." ucapan selamat dari tante Anggel yang sangat membuatku senang.


Sesampainya di rumah aku melihat satu persatu dari buket bunga yang ku terima di acara tadi. Aku dan Bi Sumi serta man Ujan membongkarnya dan melihat kartu nama dari perusahaan dan nama pimpinan mereka.


"Yosef Guardian Abigail pimpinan dari PT Antariksa Sauntetik Howl. sepertinya dia orang luar. Tapi tunggu dulu, kenapa namanya seolah aku pernah dengar ya?"


"Kenapa non, apa non Dinda pernah bertemu dengan orang itu?" Tanya bi Sumi padaku yang sedang terlihat berfikir.


"Entalah bi, sepertinya pernah dengar tapi lupa dimana. Kalo menurut bibi dan man Ujang, kalo harus milih. Akan memilih yang mana untuk kerja sama?"


"Waduh, bibi ndak tau non. Yang mana enaknya. Kalo non Dinda ingin ikut dengan siapa?"


"Bagaimana kalo yang ini saja non. Sepertinya dia orang hebat." kata man Ujang menyarankan kartu nama milik PT Antariksa Sauntetik Howl.


"Iya bibi juga berfikir begitu. Dia terlihat seperti hebat kan pak ya?" sambung bi Sumi atas usulan suaminya.


"Hahaha... Ya baiklah, Dinda akan tanya pada Om Bambang besok."


Setelah selesai membereskan semua buket-buket bunga itu aku dan bi Sumi serta man Ujang istirahat di ruang tengah bersama. Bagiku bi Sumi dan man Ujang sudah seperti keluargaku, karna mereka telah merawatku sejak aku masih bayi.


"Yooo... Siapa ini yang datang. Ku pikir kau tak akan kembali lagi kesini. Senang bertemu denganmu lagi kawan." Sambut sahabatku itu atas kedatanganku.


"Singkirkan tanganmu Gae.!" hardikku pada sahabatku Gaeyan yang mengalungkan tangannya di bahuku.


"Widi.! Masih aje tetep galak." ledeknya sambil berjalan duduk.


"Sudah berapa lama kau di sini. Dan baru muncul sekarang. Apa kau lagi semedi, perusahaan juga gak lagi dalam masalah." Ketus Dito yang juga merupakan sahabatku.


"Kau sudah tua masih saja di sini, apa anak dan istrimu tak mencari." kataku balik mengatainya.


Ya, sejak seminggu aku datang lagi ke LA, yang lebih tepatnya melarikan diri, baru pertama ini aku datang ke bar.


Berada di rumah membuat pikiranku semakin kacau, dan bayang-bayang akan dirinya semakin mengusikku.


"Mex, bagaimana kabar Om dan Tante di sana? Apa masalah di sana sudah teratasi dan setabil kok kau sudah balik ke sini lagi." Tanya Dito yang emang dekat dengan orang tuaku.


"Apa sih yang tak bisa diatasi oleh seorang Mexca." tegas Gae mewakili diriku.


"Yang tak bisa diatasi oleh ku, benar katanya. Semua bisa ku atasi. Namun masih saja tetap ada yang tak bisa ku atasi, bahkan aku sampai melarikan diri ke sini." gerutuku dalam hati sambil menenggak menumanku.


"Kenapa kau diam saja dari tadi gak asyik." keluh Gae yang dari tadi ngomel gak berhenti.

__ADS_1


"Aku lagi malas. Aku datang hanya untuk minum jadi jangan ganggu aku.!" jawabku dengan dingin.


"OK. Kalo gitu silakan minum sampai kau mabuk. Nanti kalo sudah mabuk ku carikan ja**** untuk menemanimu." katanya dengan santay sambil meminum minumannya.


"Gae, kau mau aku membunuhmu di sini sekarang juga ya.!" liriku pada sahabatku itu.


"Takut... Tidak berani" meringkuk sambil mengangkat tangannya.


"Kau jangan membuatnya kesal kalo gak mau babak belur." jelas Dito yang dari tadi hanya diem mengawasi kami.


Ku habiskan malamku itu bersama kedua sahantku dalam sebuah bar langganan kami jika kami sedang kumpul untuk melepas penat atau hanya sekedar santay.


Hari-hariku ku sibukkan dengan segala urusan pekerjaan. Dan aku juga menjalin sebuah hubungan tanpa setatus dengan seorang gadis di sini, guna mengalihkan dan menghilangkan perasaanku pada Adinda. Aku ingin meninggalkan semuanya hanya dalam sama lalu yang tak bisa ku gapai. Cinta bertepuk setelah tangan yang memusingkan.


"Sayang maukah nanti kamu menemaniku jalan-jalan, aku ingin kita bisa bersantai sejenak." pinta wanita itu dengan nada manja padaku. Aku tak menjawab dan hanya mengangguk saja.


Sudah sebulan ini aku menjalani hubungan tanpa setatus dengan cucu dari sahabat kakekku. Awalnya aku tak mau, tapi kakek terus saja memaksaku karna dia merasa khawatir melihatku yang hanya berputar antara kantor, rumah dan bar.


Setelah ku pikir tak ada salahnya aku mengenal dia. Aku tak memberinya setatus apa pun, aku hanya menikmati dan memanfaatkan dia untuk melupakan Adinda yang tak bisa ku miliki.


Namun samakin kesini aku justru merasa aneh pada diriku, karna aku tak bisa menyentuh gadis ini. Seolah ada sesuatu yang menghambat, jadi hasratku menghilang begitu aku ingin menyentuhnya.


Saat aku menceritakan keluhanku pada para sahabat gilaku, mereka justru memberiku solusi dengan menambah obat peransang dalam minumanku tanpa sepengetahuanku. Dan setelah obat itu bereaksi mereka menyewakan aku kamar di bar itu dan juga mengirim wanita ke dalam kamar tersebut.


"Sial.! Aku akan membunuh kalian saat aku bertemu dengan kalian nanti. Lihat saja.!" teriakku kesal sambil menahan gejolak hasrat yang menggebuh dalam diriku.


"Pergilah, keluarlah dari sini." suruku pada wanita itu.


"Sayang kenapa kau harus menahannya, ayo lepaskan padaku." bujuknya padaku sambil merabaku dan berusaha membuka kancing kemejaku yang membuatku semakin kesal.


"Aku bilang keluar.?! Atau aku akan membunuh mu di sini.!" bentakku dengan kasar.


"Aaah.!" ku lihat wanita itu telah keluar.


"Egm. Haaah... Haaah... A.. Din.. DA" ku tahan mati-matian hasratku dan ku masukkan tubuhku kedalam bathtub.


Ku remas pinggiran bathtub dengan kuat, ku tutup mataku dan ku tenggelamkan tubuhku semakin dalam lagi dengan membayangkan Adinda.


Ke esokan harinya mereka datang menjemputku yang sudah mati kutu dalam bathtub. Seketika aku menghajar mereka berdua begitu aku sadar, namun karna tenagaku habis aku jadi hanya bisa membuat mereka ambruk saja, kalo tidak sudah ku bunuh mereka.


"Sayang, kau kenapa? Wajahmu terlihat pucat, apa kau sedang sakit?" khawatirnya padaku sambil duduk dipangkuanku dan menangkup pipiku, lalu seketika men-ci-um bibirku.


Awalnya aku terkejut dengan tingkahnya, namun setelah aku sadar ku ladeni permainannya. Ku susuri setiap inci bibirnya dan ku lakukan perang lidah dengannya, ku tuntut dia untuk melakukan lebih.


"Heh, ternyata gampang untuk menggodanya. Memang tak ada satupun laki-laki yang bisa menolak permainan bibir dan lidah ini. Tau gitu aku lakukan sejak awal, pasti sekarang aku sudah bersetatus kekasihnya, atau mungkin aku sudah bisa mengendalikan dia dan menikah dengannya." berkata dalam hati. Karna merasa menang dan berfikir Mexca telah menerimanya.


"Kau puas sekarang?! Jangan bersikap seperti wanita ja**** atau pe******* aku tak sudi menyentuhmu.!" aku dorong dia samapi menjauh dari tubuhku. Dan aku berkata dengan nada kesal serta dingin padanya.


"Sayang, maafkan aku. Aku salah, aku janji tak akan melakukannya lagi. Aku tadi melakukan itu karna aku sangat mencintaimu." berusaha untuk membela diri.

__ADS_1


"Dengar, aku tak ingin cinta atau apa pun darimu. Aku melakukan ini semua hanya untuk kakekku dan karna memandang kakekmu." jawabku dengan menatap tajam padanya.


"Aku tau, tolong maafkan aku." pintanya padaku dengan berlutut.


"Bangunlah, ku antar kau pulang." aku melangkah keluar dari ruang kerjaku.


Saat dalam perjalanan aku merasa aneh pada diriku. Aku merasakan ketenangan dengan suara lantunan lagu yang diputar dalam acara live yang disiarkan dan memenuhi jalanan. Namun tiba-tiba fokusku hilang saat aku mendengar nama seseorang disebutkan.


Ya.! Dan tak kalah dari sang maha guru, desainer baru kita yang telah menciptakan beragam rancangan uniknya yang juga sudah kita saksikan malam ini, dan telah mendapatkan banyak tawaran kerja sama. Mari kita panggil sang pemilik nama AL, dia adalah Adinda Larasati. Penyanyi dengan suara merdunya sudah kita dengarkan dari tadi dan ternyata dia adalah sang desainer malam ini.


"Adinda?" seketika aku menghentikan laju mobilku, dan ku genggam erat setir kemudi mobilku.


Ku lihat dari layar yang terpasang di atap gedung yang sangat besar. Dan dia berjalan dengan memeluk lengan seorang pria. Berjalan dengan sangat anggun dengan gaun berwarna biru muda yang terlihat sangat cantik, serta memancarkan aura kecantikan yang sangat luar biasa



Anggap itu ya gambar Adinda dan Dido.. Silakan kalian berimajinasi sendiri.


"Sial. Apa kau tak bisa berdiam ditempatmu saja. Kau benar-benar pengganggu, kau adalah pengganggu ketenangan yang sangat luar biasa." geramku dalam hati.


"Kenapa sayang? Sayang?" aku tersentak saat ada sebuah tangan yang menyentuh bahuku.


"Ah, maaf." jawabku singkat.


"Kamu kenapa? Apa kamu juga kagum dengan wanita itu? Dia wanita yang luar biasa bukan." ocehnya disepanjang jalan.


"Hem." jawabku malas.


Setelah aku mengantarnya sampai rumah, aku langsung melajukan mobilku menuju bar. Ku lihat sahabatku juga sedang melihat acara siaran langsung Adinda.


"Hay bro kau datang juga. Lihatlah dia adalah gadis yang luar biasa, dia seseorang dengan bakat yang disembunyikan, dia sungguh gadis multitalen." puji Gae pada sosok Adinda.


"Iya, dia benar-benar multitalen sampai bisa menguasai hatiku." jawabku tanpa sadar karna kesal padanya yang tak bisa ku gapai cintanya.


"What.!? Kau bilang apa tadi? Dia dan kau...? Huwahahaha."


"Apa yang terjadi sebenarnya? Seorang penakluk wanita dan rajanya play boy terjebak dengan cintanya gadis itu? Tunggu, jangan bilang kau ke sini karna ditolak olehnya." omel Gae yang terus meledek dan itu membuat ku sekal, namun memang benar aku lari ke sini karna dia.


"Hahaha... Jadi sahabat kita ada dua orang yang patah hati karna sayangku." celetuk Dito yang membuat ku tak suka dengan panggilannya.


"Siapa maksudmu? Aku tak patah hati, aku hanya mengagumi dia." bela Gae.


"Bukan kau, tapi Samuel. Dia telah ditolak olehnya. Dia memang gadis yang luar biasa, dia bisa berteman dengan siapa saja, namun untuk cinta dia hanya menerima orang yang sama dengan keyakinannya." jelas Dito yang hanya ku dengarkan saja.


"Kau jangan sok tau begitu." ledek Gae pada pernyataan Dito.


"Dia berkata benar, Dinda adalah orang yang berkeyakinan tinggi. Dan Dito, dia adalah guru musiknya." jawab Samuel saat dia datang bergabung dengan kami.


"Hanya menerima pasangan yang sekeyakinan dengannya.? Benar juga, jika aku tak bisa menggapai dan memeluknya. Setidaknya kalo aku bisa memeluk keyakinan yang sama dengannya aku bisa merasakan apa yang dia rasakan saat dia menjalani ibadahnya, dan aku juga bisa melakukan kegiatan yang sama yang dia lakukan dalam keyakinannya itu. Baiklah, semoga keputusanku ini tak Salah." kataku dalam hati yang dibarengi dengan tekadku.

__ADS_1


__ADS_2