(Revisi) Terlambat Menyesalinya

(Revisi) Terlambat Menyesalinya
Hari kelahiran


__ADS_3

Setelah kepergian bos Mexca tugasku hanya menyupiri dan mengawal Merisca serta menemani pak Yosef bertemu dengan kalen dan mengatur jadwal pertemuan dengan para investor. Selebihnya aku hanya melakukan pekerjaan ringan dari bos Mexca.


Menjadi pengantar bunga ke cafe langganan bos Mexca dan juga resto yang entah milik siapa, karna ditujukan pada siapa bunga itu aku juga tak tau, yang ku tau hanya mengantarkannya saja dengan inisial AL.


Entah apa yang terjadi padaku. Ini hanya karna sebuah kebiasaan atau kah sesuatu yang tak bisa ku pahami, tanpa sadar kakiku selalu melangkah menuju dirinya. Karna setiap hari melihatnya dan mengamatinya, sehingga ada rasa tertarik pada sosok dirinya dan pribadinya yang sangat baik.


Seperti sebuah magnet aku selalu saja mengingat tentang tempat yang sama setiap datang waktu jam makan, baik itu makan siang ataupun makan malam. Seperti saat ini, aku datang untuk menikmati makan malam di situ.


Dan mataku seolah haus akan sosok yang ingin ku lihat setiap waktu. Seperti saat ini, aku sudah nangkring di sini pada jam makan malam. Aku mengedarkan pandanganku untuk mencari sosok yang ingin ku lihat.


"Adinda, sungguh aneh kenapa aku harus terus teringat akan dirinya sampai seperti ini?" gerutuku dalam tempat dudukku dengan hati tak tenang.


"Tu... Eh pak Faris anda kesini lagi? Mau pesan apa pak untuk menu makan malamnya?" tanya seorang pegawe padaku.


"Apa Adinda tak kesini malam ini?" tanyaku pada pegawe itu tanpa sadar.


"Oh, mbak Dinda. Mungkin sebentar lagi pak" jawab pegawe itu dengan Rama.


Setelah aku memesan menu, sambil menunggu ku buka Hp ku untuk melihat jadwal untuk hari esok. Tiba-tiba sosok yang ku nantikan datang. Ku amati kedatangannya, dan ku lihat dia yang berjalan diantara pengunjung, yang kadang ku lihat dia berinteraksi dengan pengunjung yang mungkin sudah dikenalnya atau pelanggan tetap di cafe ini.


Pandanganku tak bisa lepas darinya. Aku terus mengamati gerak geriknya sampai dia naik ke podium dan mengambil gitarnya 🎸 lalu duduk sambil memetik senar gitarnya dan mulai menyanyikan sebuah lagu yang enak didengar, mungkin karna suaranya yang merdu jadi lagu yang dia bawahnya sangat enak untuk dinikmati.


Malam ini dia terlihat berbeda, dia tak datang kesini sendiri. Ada sosok pemuda yang bersamanya, yang dari awal dia masuk pemuda itu terus menempel padanya. Entah siapa dia, adik atau kerabatnya. Dan setelah pemuda itu memasang alat perekam dia langsung naik ke podium juga dan menempel padanya, berdiri tepat di sebelahnya dengan gitar yang berada ditangannya juga.


"Ya dia pemuda yang lumayan tampan menurutku, tapi tidak mungkin kalo itu kekasihnya. Dia terlalu mudah dan terlihat kekanakan." gerutuku dalam hati.

__ADS_1


Setelah aku selesai menikmati makan malamku sambil mendengar lagunya, aku berdiri ingin menyapanya, namun hp ku berbunyi dan ternyata itu bos Mexca yang menghubungiku. Terpaksa aku mengangkatnya dulu. Namun setelah aku selesai telpon dia telah pergi.


Disisi laian Bram merasa cemas akan keadaan Monica yang mau melahirkan. Dia membawah Monica ke rumah sakit karna Monica telah mengeluarkan air yang begitu banyak tanpa adanya rasa sakit.


Di rumah sakit Monica berdebat dengan Bram karna dia tak mau melahirkan secara normal, dengan alasan dia gak mau merasakan sakit dalam proses persalinannya. Dan dia ingin melahirkan dengan cara oprasi saesar.


Setelah perdebatan yang cukup alot akhirnya Bram mengalah dan Monica dianter oleh para perawat ke ruang oprasi. Bram yang menunggu di ruang tunggu merasa cemas. Dia hanya bisa mondar mandir tak tentu arah, dan sesekali menghela napas dalam, memikirkan Monica yang berada dalam ruang oprasi.


"Ma. Tolong Bram ma, Monica sedang dalam peroses persalinan ma. Bram mohon, Bram bingung harus berbuat apa nanti" pintaku pada mamaku melalui telpon.


Ku dengar mamaku sangat marah padaku dan juga Monica atas apa yang telah kami lakukan pada Adinda, sampai aku menceraikannya. Ya emang ada rasa menyesal pada hati kecilku setelah aku mengucapkan kata talak padanya waktu itu. Apa lagi saat ku lihat air katanya yang mengalir dengan deras dan dia terduduk di rerumputan taman rumah sakit, ada rasa sesak dalam setiap tarikan nafasku. Bahkan setiap aku mengingat akan dirinya yang menangis di hari itu, rasa sesak ini masih menyelimutiku.


Setiap kali aku teringat akan dirinya, aku ingin sekali berlari ke arahnya dan memeluk erat tubuhnya. Namun aku selalu tertahan akan rasa bersalah atas perbuatan yang telah ku lakukan padanya. Rasa sakit akan semua sikapku dan perbuatanku pada dirinya selama dia masih menjadi istriku tak sanggup aku untuk menggapainya.


"Bram, bagaimana?" sapa seseorang padaku dengan nada ketusnya, dan langsung membuyarkan lamunanku akan sosok Adinda.


"Kenapa kau harus merepotkan kami seperti ini kalo hanya untuk hal seperti ini. Bukankah dia istrimu, harusnya kau mengurusnya sendiri." omel mamaku padaku. Sementara papaku dia tak berkata apa pun, hanya duduk sambil bersedekap dan menutup matanya dengan bersender pada sandaran kursi.


"Ma Bram belum pernah mengalami ini semua. Bram hanya takut kalo nanti Bram bingung dan tak tau harus berbuat apa." jelasku pada mamaku yang terlihat kesal.


"Bukankah itu juga cucu mama, apa mama tak ingin melihat dia disaat dia dilahirkan ke dunia ma?" sambungku untuk mengambil hati mamaku.


"Dia bukan cucu yang ku harapkan. Aku hanya menginginkan cucu dari Adinda bukan wanita laen." ketus mamaku yang seketika membuat sakit hatiku.


"Ma, tapi anak yang dikandung oleh Monica juga anak Bram, darah daging Bram ma." jelasku agar mamaku tak membenci bayiku nantinya.

__ADS_1


"Apa kau yakin kalo itu anakmu dan darah dagingmu?" celetuk papaku yang membuat ku tersentak kaget.


Aku tak bisa menjawab pertanyaan papaku, entah kenapa mulutku merasa keluh dan tak bisa mengeluarkan kata-kata, akhirnya hanya keheningan yang ada dalam ruang tunggu itu. Tak ada lagi perkataan baik dari mamaku atau papaku.


Sekitar 1 jam lamanya aku menunggu, akhirnya seorang perawat memanggilku untuk mengambil ari-ari dan baju-baju kotor milik Monica.


Aku, mama dan juga papa menunggu lagi di ruang tunggu. Dan setelah Monica di keluarkan dari ruang oprasi untuk di pindahkan ke ruang perawaan, aku meminta tolong pada mamaku untuk menjaga Monica sebentar karna aku mau pulang untuk menguburkan ari-ari anakku.


Setah beberapa jam, aku pun kembali ke rumah sakit dan tanpa sengaja di perjalanan kembali aku melihat Adinda di persimpangan jalan. Ku lihat dia sedang berjalan dan berbincang dengan seorang pemuda yang terbilang sangat muda darinya. Dia tertawa dengan pemuda itu dan terlihat sangat cantik.


"Apa ini?" ku seka tetesan air yang mengalir di pipiku.


Rasa sesak di dadaku semakin menjadi saat melihatnya, hingga aku tak menyadari kalo kedua mataku mengalirkan air mata hanya dengan melihat dirinya.


"Adinda. Akankah kau mengingat akan diriku yang pernah hadir dalam hidupmu bahkan pernah bersetatus sebagai suamimu?" tanyaku dalam gumaman yang tak mungkin bisa didengarnya.


Ku lajukan lagi mobilku menuju rumah sakit. Dan sesampainya di rumah sakit aku langsung menuju ruang keperawatan Monica, namun di sana tak lagi ku lihat mama atau papaku, hanya Monica yang terbaring dengan lemah di tempat tidurnya.


"Mas? Mas Bram baru datang? Mas Bram kenapa lama sekali." Tanya Monica padaku dengan suara yang lemah.


"Iya mas tadi mencuci dan menguburkan ari-ari anak kita." jelasku pada Monica dan ku kecup keningnya.


"Dimana mama kok mas tak melihat, apa mama ke ruang bayi." tanyaku yang tak mendapati mama dimanapun dalam ruang perawatan Monica itu.


"Mama sudah pulang dari tadi mas." katanya dengan nada lemas.

__ADS_1


"Ya sudah kamu istirahat mas mau ke ruang administrasi dulu." kataku dan langsung meninggalkannya untuk istirahat.


Setelah 4 hari akhirnya Monica sudah diizinkan untuk pulang ke rumah. Ku boyong istri dan juga putri kecilku ke rumah, dan di rumah sudah ada bu Dami yang ku perkerjakan untuk membantu Monica.


__ADS_2