
Dengan rasa kesal Mexca memasuki kantornya. Merlin yang melihat merasa takut sekaligus heran, karna Mexca seolah kembali kepada dirinya yang dulu, keras dan kasar serta dingin.
"Ya walo dia tetep dingin pada saat di lapangan dan ruang rapat, tapi dia selalu baik pada ku sih belakangan ini. Trus ada apa dengan dia hari ini ya? Di rapat tadi dia juga sangat menakutkan." gerutu Merlin sambil merapikan meja kerjanya yang berantakan, belum sempat dia bereskan karna Mexca sudah ngomel - ngomel di ruang rapat dan menyuruhnya mengambil berkas pemasukan yang baru saja diserahkan.
"Hey. Kenapa manyun gitu, gak asik ah.!" ledek Merisca yang datang untuk mengantar makan siang kakaknya.
"Ya Allah, kau ini ngagetin aja. Gak tau apa kalo aku baru saja keluar dari kandang singa, dan ini mau menyiapkan diri untuk memasuki kandang singa lagi." kata Merlin dengan kesal
"Hahaha.... Siapa yang kau maksud? Apa singa itu adalah kakakku?" Tanya Merisca dengan tertawa terbahak menatap Merlin yang kesal.
"Jangan keras - keras nanti aku dipecat." kata Merlin takut.
"Kau ini, apa kakakku kalo di kantor sejahat itu?" Tanya Merisca bisik - bisik
"Ya begitulah. Bos sangat menakutkan, tapi masih banyak yang suka juga sih, karna bos cakep." jawab merlin ikut bisik - bisik
"Sudah, lakukan pekerjaanmu. Aku mau masuk dulu. Oh iya, dimana Faris? Aku tak melihatnya." Tanya Merisca sebelum dia masuk ke ruang kerja kakaknya.
"Di masih ada pekerjaan di luar, paleng habis ini dia juga datang. Apa kau sudah merindukannya?" ledek Merlin pada Merisca.
Mereka bisa bicara santai dan bisa saling ledek, karna mereka dulunya adalah teman sekolah satu angkatan waktu SMU dan juga sahabat.
"Kenapa kok buru - buru Din?" Tanya Dido yang melihat Adinda keburu - buru padahal dia baru saja nyampek cafe.
"Iya, ini mas. Barusan sekretarisnya tuan Yosef telphon katanya akan diadakan rapat dadakan yang membahas doal kerja sama dan juga pemasaran di kantornya sore ini. Jadi Dinda harus kesana sebelum terlambat." jelas Adinda pada Dido.
"Loh terus ini Lea, gimana kalo nanti kebangun dan nyariin kamu?" Tanya Dido yang melihat Adinda beranjak pergi
"Iya, nanti sama mas Adil aja." jawab Dinda yang sudah keluar keparkiran.
"Ngapain kamu, masih kusut saja. Gak makan?" Tanya Merisca yang melihat Merlin lemas di kursinya.
"Sudah barusan. Terus gimana? Apa bos masih kesel, apa dia masih terlihat ingin marah?" tanyanya penasaran
"Tidak begitu, tapi ya masih kesel" jawab merisca
"Ya Allah. . Bagaimana nasib para pendatang baru nanti kalo melihat bos marah - marah, bisa kabur mereka nanti." gerutu Merlin
"Eh ini apa? Dia juga ikut dalam rapat sore ini?" Tanya Merisca yang melihat berkas dengan tulisan nama desainer AL
"Iya, aku juga baru saja menghubunginya, mungkin sekarang dia dalam perjalanan." jawab Merlin lemes.
Merisca tersenyum menatap berkas itu dan dia pun memiliki ide. Walo dia tau itu jahat tapi dia ingin tau bagaimana reaksi orang - orang yang akan melihatnya. Merisca mendekat ke telinga Merlin dan menjelaskan idenya.
"Hah!? Bagaimana bisa begitu. Nanti aku yang disalahkan dan bisa - bisa aku diberhentikan dari pekerjaanku ini." tolak Merlin pada ide yang diberikan oleh Merisca
"Gak usah takut, nanti aku yang akan tanggung jawab kalo ada apa - apa sama kamu, aku janji. Masak kamu gak percaya sama aku sih.?!" paksa Merisca pada Merlin.
__ADS_1
Dan Merlin menghubungi Adinda lagi yang berada di perjalanan. "Iya, maaf ya,. Habis mendadak sekali ini tadi perintahnya turun. Maaf ya Non Dinda." kata Merlin dan menutup panggilannya.
"Sudah, terus sekarang bagaimana?" Tanya Merlin pada Merisca
"Bagaimana apanya? Ya siapkan rapatnya sekarang, ini sudah jam 1 siang loh" jawab Merisca sambil senyum dan meninggalkan Merlin.
"Ya, bagaimana sih ini. Orang penting seenaknya saja ya kalo perintah. Tadi disuruh ke Mol katanya rapatnya di sana, sekarang uda mau nyampak malah disuruh datang ke kantornya saja." keluh Adinda yang melajukan mobilnya ke arah kantor tuan Yosef.
"Ya Ampun bagaimana ini. Kalo laporanku ada yang salah atau kurang, bisa habis aku dimarahi bos." keluh seorang karyawan yang lagi menyiapkan berkas laporannya untuk ikut rapat.
"Benar, aku juga takut. Dari tadi aku sudah baca sampai 5 kali berkasku." sambung temannya yang juga akan ikut rapat.
"Hey, hati - hati lah. Tadi waktu di kantin aku dengaer tim pengerjaan kena marah bos dan mereka disuruh buat ulang laporan mereka." jelas seorang karyawan dari time sekretatis yang menginfokan pada rekannya yang akan rapat.
"Ya Ampun bagaimana ini, habislah kita." jawab para karyawan itu bersamaan dan mereka bergidik.
Sesampainya di perusahaan, setelah memarkirkan mobilnya Adinda menghubungi Merlin. Dan Merlin langsung menjemputnya di lobby dan membawah Adinda ke dalam ruang rapat.
Semua orang menatap Merlin dengan heran, karna mereka tidak dapat info kalo rapat kali ini akan diadakan dengan pihak luar juga. Karna kabarnya rapatnya akan dipisah jadi dua bagian.
Adinda menyapa dan memberi hormat pada semua orang yang berada di dalam ruang rapat itu dengan sopan.
Merlin mengarahkan Dinda ke kursi yang biasa diduduki oleh Faris saat dia ikut rapat, dan jika Faris tak ikut maka kursi itu selalu dikosongkan. Karna hanya Faris yang bisa duduk berdekatan dengan bos mereka.
Semua mata orang di ruang rapat itu menatap Merlin dengan penuh pertanyaan, bahkan ada ribuan pertanyaan dibenak mereka semua. Kerna sikap Merlin yang selalu baik dalam pekerjaan gak mungkin melakulan kesalahan, apa lagi sebesar ini.
Setelah menjelaskan pada Adinda, Merlin pergi dan sebelum Merlin keluar meninggalkan ruang rapat dia sempat menoleh pada rekan - rekannya dan mengangkat kertas berwarna hijau dari ambang pintu, yang artinya aku akan menyelamatkanmu.
"Apa maksudnya?" tanya salah satu rekannya pada rekannya yang lain. Sehingga mereka saling tatap dan menyimpan pertanyaan dalam kepala mereka untuk Merlin.
"Bos akan datang, siap - siap lah" teriak seseorang yang masuk ke dalam ruang rapat, dan menutup pintunya lagi.
Adinda melihat semua orang begitu tegang di kursi mereka masing - masing, dan dia pun jadi ikutan tegang, karna ini pertama kalinya dia ikut rapat.
Ceklek seseorang melangkah masuk dengan membawah iPad ditangannya.
"Apa kau sudah mengatur semuanya Mer? Dan jangan lupa bilang juga pada Faris untuk menangani masalah di sana sementara waktu." bicara sambil melangkah dengan terus berkutat pada iPadanya.
"Sudah bos, semua sudah saya lakukam dan juga sudah saya sampaikan pada pak Faris" jawab Merlin yang mengekor di belakang Mexca. Dan lagi - lagi dia menunjukkan kertas warna hijau.
Melihat semua orang yang tadi duduk dengan tegang berdiri, Adinda juga ikutan berdir. Dan melihat bos yang masuk ke dalam ruang rapat.
Deg, jantung Adinda berdetak tak beraturan saat dia tau dan mengenali sosok yang berjalan masuk dan mendekat ke arahnya berdiri, walo pandangan orang itu tertunduk pada iPadnya.
Dengan berani Adinda menyuarakan nama panggilan yang membuat semua orang di ruang rapat terkejud, "Mex...?" panggilnya sepontan saat sosok itu berdiri tempat di depannya. Dan dia mengulas senyum saat mata mereka bertatapan, namun senyumnya hilang begitu dia tak mendapatkan respon bahkan orang itu berpaling darinya.
"Astagfirallah.. Ini benar - benar gila, apa yang aku pikirkan. Haaaaah!" Mexca mencobak menyadarkan pikirannya dengan menghela nafas dalam.
__ADS_1
Jantung Mexca bahkan masih berdetak dengan kencang karna dia mendengar namanya dipanggil dengan suara yang sangat merdu dan dia rindukan, ditambah dia menatap bayangan Adinda dengan senyumnya yang merekah bagai mentari yang menyinari seluruh hidupnya.
Setelah Mexca merasa dia sudah bisa menguasai perasaannya, dia memutar tubuhnya menghadap karyawannya. "Baiklah, rapat akan kita mulai siapkan berkas kalian semuanya." suara Mex dengan lantang.
"Ada apa dengan ku? Kenapa aku merasa sedih dan kesal berbarengan?" gerutu Adinda dalam hati.
Aku tak tau kenapa ada rasa senang saat melihat orang yang akan menjadi atasanku adalah dia orangnya. Dan keberanian dari mana yang mendorongku sampai aku berani manggil namanya saja dihadapan karyawannya.
Dan entah rasa kesal dari mana juga dan kebaranian apa yang sebenarnya mengusai diriku. Ada rasa marah saat dia mengabaikan sapaanku, walo aku sadar itu pasti akan terjadi. Namun karna rasa sedih yang menguasai diriku tiba - tiba saja aku memberanikan diri untuk menyentuhnya dan ingin memberitau padanya kalo aku di sini.
"Mexca.." panggil Dinda lagi dan kali ini dengan menyentuh bahu Mexca.
Mexca yang tadi mati - matian mengendalikan dirinya, karna menganggap orang yang dia lihat berdiri di depannya tadi hanyalah bayangan dan angan - angannya saja, tersentak saat bahunya dipegang seseorang dan namanya disebut lagi, namun dengan nada yang terdengar sedih di telinganya.
"Deg.. Nyuut," terasa sakit di dadanya saat Mexca mendenger ada kesedihan di suara panggilannya.
Karna suara Adinda yang menggemah di seluruh ruangan yang sunyi itu, jadi Mexca bisa mendengar dengan jelas kalo ada kesedihan disuara yang keluar menyebut namanya.
Sementara para karyawan yang hadir dalam rapat merasa bingung dengan adegan yang terjadi antara bosnya dan desainer AL yang mereka tau baru masuk dan belum resmi bergabung dengan perusahaan mereka.
Semua orang dalam ruang rapat itu saling tatap dan bertanya dalam benak mereka sendiri, ada apa sebenarnya antara bosnya dan desainer AL.
Mexca memegang tangan yang mendarat di bahunya dan dia memutar dan menatap sang pemilik tangan itu. Rasa sakit terasa lagi saat dia tau tak ada lagi senyum yang merekah di wajah gadis itu, melainkan kerutan di keningnya, yang menandakan ada pertanyaan di sana.
"Ehem.! Rapat kita undur sampai besok. Sekarang selesai." kata Mex dengan lantang pada semua orang yang hadir dalam rapat.
"Dan kau, ikut aku." Mexca melangkah keluar yang diikuti oleh Adinda dari belakang.
Semua orang di ruang rapat kasak - kusuk dan berisik karna bingung dan bertanya - tanya dengan adegan yang baru saja mereka saksikan secara langsung dengan mata kepala mereka sendiri.
Merlin ketawa lepas sehingga suaranya mengisi seluruh ruang rapat "Sang penjinak singa.!!" teriak Merlin puas.
Mendengar itu akhirnya semua orang yang hadir dalam rapat tau dan mengerti arti kartu hijau yang Merlin tunjukkan sebelum dia keluar memanggil bosnya.
"Mer, kau sungguh luar biasa. Darimana kau tau kalo bos kita akan jinak dengan desainer AL?" taya rekan Merlin padanya.
"Benar, ini hebat banget." sahut karyawan lainnya.
"Sudah, kalian tak perlu tau itu. Yang penting sekarang selesaikan laporan kalian dengan baik dan benar, serta rapi. Biar besok tak kena masalah. Karna aku tau kalian belum siap rapat hari ini." jawab Merlin lalu pergi meninggalkan ruang rapat untuk mengikuti bosnya
"Ok. Mer siap!!" seru semua orang yang ada di ruang rapat.
Sekeluarnya mereka dari ruang rapat, semuanya merasa lega, dan mulai menggosip soal bos mereka. Dan mereka berharap kalo desainer AL bisa segera bergabung dan bekerja di kantor mereka secara resmi. Karna mereka mau merencanakan untuk mencomblangkan bos mereka dengan desainer AL.
Hallo...Kalian semuanyaaaaa.... Makasih ya kalian masih mau menemani Katri dan selalu hadir di sini 🥰
Jangan lupa untuk selalu memberi masukan ya... Keritik dan saran kalian... Like... Vote... Hadiah...
__ADS_1