(Revisi) Terlambat Menyesalinya

(Revisi) Terlambat Menyesalinya
Bulan madu ke 2


__ADS_3

Pagi itu seperti biasa aku sibuk masak di dapur, tapi karna masih tinggal di rumah mertua jadi ada yang bantuin banyak ada mama dan juga merisca serta art yang diperkerjakan oleh mama.


Saat aku sibuk masak tiba - tiba saja mas abi datang mengganggu ku dengan terus mengekor dibelakangku dan membuat aku jadi sulit bergerak, entah kenapa dari semalam dia selalu ngekor seolah tak mau jauh dariku.


"Mas bisa menjauh dulu gak.!" dengan kesal aku membentaknya karna dia sangat mengganggu.


"Kenapa? Aku kan gak ngapa - ngapain cuma lihatin kamu masak aja, masak gak boleh sih.!" gerutunya dengan memajukan bibirnya manyun kek anak kecil.


"Lagian kamu ini ngapain sih baby? Kayak anak kecil aja, sana jauh - jauh." mama mendorong tubuh mas abi menjauh dari dapur dan mendudukkannya di ruang makan.


"Aku kan ingin lihat dinda masak ma!?" mexca teriak dengan wajah kesalnya yang dilarang mendekati dapur.


"Dari situ kan bisa lihat. Kamu itu makin kesini kok makin manja, ingat kamu baru juga seminggu lalu naik usia kok malah kek anak kecil. Malu sama usia yan uda tua kamu uda kepala 3 sekarang ini." mama yang ikut merasa geram dengan tingkahnya yang jadi aneh dan manja gak jelas.


*


*


*


Mexca : Sayang liburan yuk, kita refsering menenangkan pikiran yang sudah menjubel sejak 3 bulan yang lalu, sekalian temani mas kerja luar.


Adinda : Mau liburan kemana?


Mexca : Sini sayang duduk diranjang, kamu ngapain sih dari tadi duduk didepan meja tolet.


Adinda : Ya karna aku kagum, mama belikan meja tolet yang sangat bagus.


Mexca : Ya sudah, kagumnya sambil duduk diranjang sini, puk puk ( mexca menepuk - nepuk tempat ridurnya).


Adinda : Mas belum jawab mau liburan kemana?


Mexca : Gimana kalo ke jeju.


Adinda : Hah? Korea? Jauh banget.


Mexca : Jauh apanya? Kan kamu sudah pernah kulya di LA waktu itu.


Adinda : Ya bedalah mas, dulu dinda masih belum ada tanggungan yang lain selain belajar, lah sekarang sudah kerja. (naik ketempat tidur)


Mexca : Ngapain mikirin itu, kamu kan nyonya dari president direktur.


Adinda : Ya tetap saja Dinda adalah pegawe.


Mexca : Kalo gitu sebagai bos dan juga suami kamu aku memberi perintah kamu harus pergi liburan sama aku 💋 (mendarat dileher dinda).


Adinda : Aih, penyalagunaan kekuasaan itu namanya 😄


Mexca : 😑


Adinda : Lagian ngapain kita liburan aja kok jauh - jauh.


Mexca : Untuk bulan madu ke 2 sayang 😊


Adinda : Hihihi, baiklah


Mexca : Serius?


Adinda : Hem


Mexca : Kalo gitu kita berangkat besok.


Adinda : Hah?! Besok? Jangan mengada - ada ah.


Mexca : kenapa ada yang salah?


Adinda : Kan belum nyiapin apa - apa?


Mexca : Gak perlu bawah apa - apa sayang, kamu cukup bawah dirimu saja. Karna yang aku butuhkan adalah sarung senjataku saja 😁


Adinda : Jangan mulai.

__ADS_1


Mexca : Iya gak sayangku, aku tau kamu capek. Ayo tidur sayangku besok biar bisa berangkat pagi - pagi (tidur sambil memeluk erat tubuh dinda)


*


*


*


Sesuai yang telah direncanakan oleh mexca pagi itu dinda dan mexca berangkat liburan ke pulau jeju, yang sebenarnya adalah ada pekerjaan di sana. Dan mexca ingin membawah serta istrinya sekalian liburan dan merayakan bulan madu mereka yang ke 2.


Sesampainya di hotel mexca langsung melakukan pertemuan dengan relasinya yang ingin bekerja sama, yang pernah ditemui mexca di indonesia. Sementara mexca ada pertemuan dinda justru mengerjakan pekerjaannya yang dia tinggalkan lewat tabletnya.


"Sayang ngapain hem?" mexca datang yang langsung memeluk dinda dan mengecup lehernya, karna didalam kamar dinda hanya mengenakan baju santai tanpa hijabnya.


"Sama seperti mas Abi, melakukan pekerjaan 😁" dinda menjawab sambil tersenyum menatap mexca yang baru saja datang dari pertemuannya.


"Begitu serius sampai gak denger ucapan salam mas?" gumam mexca yang terus menyusupkan wajahnya dileher dinda.


"Iya maaf, mungkin dinda terlalu fokus tadi." tangan dinda mengusap kepala mexca dengan lembut.


"Ayo kita mencari makan sambil jalan - jalan dipantai sayang." ajak mexca yang merasa perutnya lapar minta diisi.


"Iya, mas shalat dulu apa mas sudah shalat?" tanya dinda menatap mexca dengan senyumnya yang manis bagi mexca.


"Yaudah mas shalat dulu, apa sayangnya maaf udah?" tanya mexca sambil beranjak ke kamar mandi.


"Sudah buruan dinda tunggu." teriak dinda yang siap - siap ganti baju.


*


*


*


"Waaaa... Segar sekali, emang enak ya kalo habis makan jalan - jalan di pantai." dinda menghirup udara banyak - banyak dan dalam, menikmati hawa segar di pinggir pantai.



Dinda dan mexca berjalan - jalan dipesisir pantai dan juga duduk menikmati suasana, tak banyak orang di pantai itu, hanya beberapa pasangan muda mudi yang sepertinya mereka sedang berkencan atau mungkin sama dengan mexca berbulan madu.


Sambil duduk diantara batu mexca mengawasi istrinya yang tertawa dengan lari kesan kemari sambil merentangkan tangan seolah dia lagi belajar terbang. Sementara dinda yang sedang menikmati liburan dia menghirup banyak oksigen untuk membuang hal negatif yang telah banyak terjadi, jadi dia tak menghiraukan mexca, terlebih lagi pantai ini tak banyak pengunjung, jadi dinda lebih bisa mengekspresikan dirinya dengan bebas tanpa malu.


"Begitu sukanya sampai mengabaikan suamimu sayang?!" teriak mexca yang mulai merasa kesal karna diabaikan oleh dinda begitu mereka sampai di pantai.


"Maafkan aku mas Abinya dinda yang cakep." dinda memeluk mexca yang sedang duduk di bebatuan.



"Tapi mas dari tadi dinda perhatiin pantai Samyang ini pasirnya hitam ya?" dinda bertanya karna dia baru kali ini lihat pantai dengan pasir hitam yang sangat indah.


"Iya, dan mas sengaja memilih ke sini karna di sini tempat yang cocok untuk menghabiskan waktu secara privasi." jelas mexca yang membawah dinda untuk duduk dipasir diantara bebatuan.


"Kita habiskan waktu di sini, dan kita nikmati suasananya." ucap mexca memeluk dinda dengan mesrah.


"Tamu bulanan kamu belum datangkan?" bisik mexca yang tiba - tiba membuat dinda menatap mexca dengan tatapan curiga, sementara yang lagi ditatap hanya senyum cuek.


Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, dari sore sudah menjelang malam saja. Dan suasana pantai pun mulai menggelap dengan perlahan, tak terlihat lagi air laut yang terbentang luas. Nuansa gelap semakin terasa lebih damai, terdengar debur ombak dan semilir angin membuat suasana yang berbeda dengan tadi. Jika tadi tampak keindahannya sekarang justru lebih terasa romantis karna hanya sinar bulan yang menerangi dengan remang.


"Sayang?" suara mexca yang berat dan nafasnya yang juga berat serta dalam membuat dinda mengenal betul apa yang sedang diingin oleh suaminya itu.


"Masak di sini mas?" tanya dinda yang ragu namun mexca sudah mengunci bibir dinda dengan sangat dalam dan mesrah.


Mexca yang sejak datang hanya mengenakan kaos saja sepertinya emang sengaja menyiapkan waktu untuk moment ini. Dengan pelan dan pasti mexca bermain sangat lembut, dan mampu membuat dinda tenggelam dalam kenikmatan yang tak lagi memikirkan kalo mereka melakukannya di luar.


Sensasi yang diberikan oleh mexca selalu berbeda tiap kali mereka melakukan penyatuannya. Dan berbeda dengan ditaman hiburan di sini dinda mengekspresikan dirinya dengan bebas, sehingga suara sexinya tak ditahan dan itu membuat mexca semakin berhas - rat serta memburu.


Permainan demi permaina dilancarkan oleh mexca, dia merengkuh tubuh istrinya seolah akan menelannyan bulat - bulat. Dua insan yang lagi dimabuk gaaaiir - rah tak menghiraukan hawa dingin dan hembusan aingin yang menerpa tubuh polos mereka. Semua kalah dengan keringat yang bercucuran dari keduanya. Hingga pelepasan didapatkan mexca dan dinda sampai berkali - kali tanpa mexca melepaskan senjatanya dari sarungnya, sampai terdengar suara perut mereka yang teriak mintak jatah makan.


"Mas, rambutku penuh pasir." ucap dinda saat dia memakai lagi bajunya yang tadi dilepasi oleh mexca.


"Gak papa sayang, nanti dibersihkan di hotel saja." ucap mexca yang sudah selesai memakai bajunya dan membantu dinda.

__ADS_1


*


*


*


"Apa Dinda rapi memakai jilbabnya mas?" tanya dinda pada mexca begitu mereka sampai di sebuah kedai makan. Yang dijawab mexca dengan anggukan serta senyuman.


"Ini pesanannya tuan, silakan dinikmati." pelayan itu beramah - tama dengan bahasa Korea.


"Terima kasih, kami pasti menikmatinya." jawab mexca yang juga dengan bahasa Korea.


Setelah selesai makan mereka pun kembali ke hotel dengan berjalan kaki, karna jarak hotel dan pantainya sangat berdekatan. Mereka berjalan pelan dengan bergandengan tangan seolah mereka adalah pasangan pengantin baru.


*


*


*


Sesampainya di hotel mexca seolah tiada puas dia lagi - lagi meminta haknya dengan alasan akan membantu dinda membersihkan pasir di rambutnya yang akhirnya berakhir dengan permainan mereka di dalam kamar mandi.


"Entah kenapa suamiku ini selalu mesum, yang ada dikepalanya selalu saja olah raga ini." batin dinda yang menatap bayangan mereka dari pantulan cermin didepannya, sementara mexca bermain dengan sangat menikmati seolah tiada lelah baginya.


*


*


*


"Sayang gak mau jalan - jalan lagi?" tanya mexca yang melihat dinda istrinya merayap naik ketempat tidur setelah selesai sholat subuh.


"Tubuh Dinda masih sakit, nanti aja siangan mas?" jawab dinda yang sudah tak kuasa menahan tubuhnya yang terasa remuk.


Dan saat siang hari dinda pun keluar bersama mexca untuk mencari oleh - oleh buat mereka yang ada di rumah. Banyak tokoh yang didatangi oleh dinda dan mexca untuk membeli oleh - oleh. Dan seketika pandangan dinda menemuka sesuatu yang menarik.


"Mas, mas Abi tunggu di mobil ya Dinda akan segera kembali, karna ada sesuatu yang mau Dinda beli." ucap dinda pada suaminya dan langsung melesat hilang kedalam toko.


"Mau beli apa emangnya sampai gak mau mengajakku." gerutu mexca dan berjalan kearah mobilnya.


Tak lama kemudian dinda datang dengan menenteng bungkusan kecil dan bisa dibilang sangat kecil. "Ayo mas sudah malam." ucap dinda saat dia masuk kedalam mobil.


*


*


*


Setelah makan malam di restoran hotel mexca dan dinda kembali kekamarnya. Mexca merebahkan tubuhnya ditempat tidur tanpa melepas sarung dan baju kokohnya karna dia merasa capek setelah keliling mencari oleh - oleh. Sementara dinda sibuk dengan dirinya sendiri yang berada di dalam kamar mandi tak keluar - keluar. Kalo barang bawaan dan oleh - oleh sudak dikirim lewat paket.


"Sayang, kamu ngapain di kamar mandi gak keluar - keluar?" teriak mexca yang penasaran karna dinda sudah hampir 1 jam didalam kamar mandi.


"Ya, bentar lagi.!" teriak dinda, dan mexca pun memejamkan matanya.


Ceklek


Tap


"Deg.!" mexca terkejud menatap istrinya yang berdiri dan berjalan kearahnya, mexca menelan salifanya pandangan matanya tak berkedip menatap adinda istrinya yang terlihat begitu cantik dan ****.



"S - sayang kamu?" mexca bangun dari posisi tidurnya lalu tersenyum.


Nyeeeeeessss. .Seraaaaaaaaasss seolah ada angin segar yang melintas dan membuat hati mexca sejuk. Seolah terhipnotis mexca berdiri dan mendekati dinda "Kamu yang memulai sayang, jangan mengeluh kalo aku tak bisa dikendalikan lagi." bisik mexca dan langsung memeluk tubuh dinda.


Mexca bagai anak kecil yang sudah bertahun - tahun tak diberi asi dia meraupnya dengan penuh serta menghisap dengan dalam dan kuat. Suara jeritan kecil dinda mulai terdengar, tangan mexca yang bergrilnya kesana kemari seolah tak memberi ampun pada sangat pemilik tubuh.


Leng - kuh - han dari dinda menghiasi seluruh kamar hotel itu. Mexca memacu aktifitasnya sampai membuat tubuh dinda ikut bergoncang. Mexca memacunya semakin keras dan bersemangat, seolah rasa lelah yang tadi dia rasakan hilang ditelan bumi.


"Aaah.! terima kasih sayang 💋" bisik mexca saat dia mendapatkan pelepasannya yang sudah kesekian kalinya dengan mengecup puncak kepala dinda yang sudah terlihat lemas dengan mata sayunya dan senyum tipisnya.

__ADS_1


"Ya Allah, ini salahku yang memancing singa kelaparan. Sekarang kakiku lemas dan tubuhku semakin ambyar. Entah kenapa aku kok memiliki suami yang semangatnya selalu on untuk hal ini." gumam dinda dalam hati sambil menatap mexca yang berbaring disebelahnya.


__ADS_2