(Revisi) Terlambat Menyesalinya

(Revisi) Terlambat Menyesalinya
Malam pertama tertunda


__ADS_3

Setelah selesai acara mexca sibuk dengan para temannya yang datang jauh dari LA mereka menghabiskan waktu bersama, bahkan mexca menjamu mereka dan membawah mereka keliling dan mengunjungi tempat - tempat bersejarah di Indonesia, dan tiap pulang adinda sudah mendekap erat alea dalam lelapnya sehingga mexca tak berani untuk mendekatinya karna takut mengganggu tidur mereka.


Setiap hari mexca berangkat pagi - pagi sekali dan pulang saat sudah larut malam, karna adinda memilih tinggal di rumahnya sendiri setelah menikah sehingga mexca harus kesana dan kemari karna tugas dan kerjaan mexca belum selesai dan banyak yang tertunda karna acara pernikahan yang dadakan.


"Bi, mas Mexca sudah pergi ya?" tanya dinda yang mendapati bi sumi sudah membuka pintu pagi - pagi sekali.


"Loh, emang tuan Mexca pulang non?" tanya bi sumi balik.


"Loh, ndak pulang ya bi, dinda juga gak tau hihi." jawabku sambil nyengir, karna setelah menikah dia jadi hilang tak pernah ada kabar, dan aku juga biasa saja.


Setelah 1 minggu aku ambil cuti dan juga tak ketemu sama suamiku aku pun akhirnya aktif kerja lagi. Dan semua rekan kerjaku memberikan ucapan selamat lagi padaku. Aku pun kembali sibuk dengan kerjaanku dan semua laporan yang harus ku buat karna sudah ku tinggal selama 1 minggu.


Siang itu aku makan siang di kantin perusahaan bersama dengan semua orang, kami bercanda dan bercerita ringan sampai waktu tak terasa berjalan begitu cepat dan kami harus kembali bekerja lagi.


"Desainer AL ada laporan yang diminta sama bos dan harus diserahkan sekarang juga karna bos akan ada rapat lagi sore nanti." kata teman dari devisi lain memberi tau karna dia habis bertemu dan melaporkan hasil laporannya pada atasan.


"Baik, terima kasih. Aku akan kesana sekarang." jawabku dan aku langsung menyunsun laporan itu lalu melangkah menuju ke lantai di atas (ruangan bos) lantaiku untuk melaporkan hasil laporanku.


Setelah aku keluar dari lif aku melewati ruang sekretaris dan menuju ke ruangan bos. Tiba - tiba jantungku berdebar seolah aku ingin menemui kekasihku, ku rasakan panas diwajahku dan aku segerah menyembunyikannya agar tak ada orang yang tau.


"Tolong kau foto copy dan dan gandakan menjadi 3 rangkap lalu kirimkan ke devisi pemasaran." suara seseorang yang memerintah pada bawahannya, dan saat ku lihat ternyata dia adalah suamiku.


"Hem, kau sudah datang. Laporannya kau bawah? Tunggu di ruanganku." tanya dan juga perintahnya padaku saat kami berpapasan di depan ruang sekretaris.


Aku masuk ke dalam ruangannya dan aku duduk di sofa yang dulu menjadi tempatku duduk saat aku datang dan memohon padanya, serta tempatku duduk saat aku datang untuk makan siang bersama. Aku tersenyum mengingat semua itu, karna tanpa ku sadari ruangan ini telah menjadi saksi bisu kisahku dan dirinya.


Ceklek


"Deg." jantungku berdebar semakin cepat lagi dari yang tadi saat ku lihat dia melangkah masuk bersama dengan seseorang, ku amati dia yang memberikan perintah pada orang itu, dan segerah ku tundukkan wajahku karna malu saat dia melirikku yang terus mengamatinya.


"Dinda apa yang kau pikirkan, apa kau sudah gila? Dia itu suamimu, dan kamu juga sudah pernah menciumnya, kenapa kau malah malu - malu seolah sedang jatuh cinta pada pria lain. Dasar begok." umpatku dalam hatiku.


"Aaaaah.!" teriakku karna kaget tiba - tiba ada yang menyerangku dan membuatku terjatuh di sofa.


💋 dia mellummat dan tak memberiku kesempatan untuk mengeluarkan kata - kataku. Aku yang tak pernah melakukannya dan tak memiliki pengalaman akan semua itu merasa sangat malu dan hanya bisa menerimanya saja.


"Balas sayang." ucapnya disela - sela permainannya.


"Eghm." aku hanya bisa menutup mata rapat karna malu, dan jantungku sudah berdebar tak karuan.


"Jangan ditahan nafasmu." ucapnya lagi dengan masih aktif bermain.


Kritt


"Ah.! kenapa menggigitku?" kataku yang seketika mendorong tubuhnya menjauh.


"Hahaha aku gemas denganmu." ucapnya sambil tertawa dan mengusap bibirku dengan jemarinya.


"Aku sangat merindukanmu sayang." ucapnya yang menarikku dan membuatku duduk dipangkuannya.


"Jangan begini nanti ada yang masuk." ucapku dan aku langsung turun dari pangkuannya.


Kami pun akhirnya membahas soal laporan yang tadi dia minta. Ku amati dia memang atasan yang sangat luar biasa, dia bisa membedakan urusan pribadi dan kerjaan. Saat membahas soal kerjaan dia selalu serius. Aku sangat suka melihat dia yang memberi keterangan dan penjelasan, dan tanpa sadar aku pun tersenyum menatapnya.


"Jangan menggodaku sayang, aku sudah berusaha untuk menahannya ini." ucapnya yang tetap menunduk melihat laporan, tapi seolah dia tau kalo aku menatapnya.

__ADS_1


"Baiklah, kamu sudah mengerti sayang?" tanyanya padaku setelah menjelaskan semua apa yang harus aku lakukan.


"Iya, aku mengerti. Kalo begitu aku permisi dulu." ucapku memberinya hormat dan mau melangkah keluar


💋 lagi - lagi dia melakukannya secara dadakan dan membuatku terkejud sehingga tak bisa menghindar. Dia melakukannya tepat didepan pintu sambil berdiri saat aku mau keluar.


"Ehem, bisakah kalian melakukannya di tempat lain dan kalo di sini setidaknya kunci pintunya" tegur seseorang yang masuk dan melihat kami bercium-mann.


"Sengaja biar kamu pingin dan segerah menikah." ucap mexca pada orang yang memergokinya. Sementara dinda sudah melesat pergi karna malu.


"Heh, kayak dianya sudah belah duren saja." ledeknya sambil melangkah mendekati meja mexca dan menaruh laporan di atas meja mexca.


"Haaah, kau jangan membuatku teringat karna itu membuatku frustasi." keluh mexca yang langsung kerja setah selesai menikah.


"Hahaha... Itu bukan salahku, kau yang suka semua dadakan." ledeknya lagi.


"Faris.! Apa kau ingin aku mengirimu ke LA dan menetap di sana?!" ancam mexca pada faris yang dari tadi terus meledeknya.


"Heh, selalu." ucap faris lalu keluar dari ruangan mexca.


**************************************


**************************************


Sepulang kerja aku masak untuk makan malam, karna tadi mas mexca menghubungi kalo dia akan pulang ke sini dan akan pulang lebih awal. Tepat pukul 8 malam dia datang dengan tubuh gontai yang terlihat sangat lelah.


"Assalamu'alaikum sayang." ucap salamnya dengan wajah yang terlihat lelah.


"Wa'alaikumsalam." balasku dan ku sambut dia yang baru pulang.


Dia tersenyum padaku dan mengecup keningku "mandi dulu sayang." ucapnya dan dia menuju lantai dua kamarku.


"Kenapa lama sekali? Apa dia tertidur ya?" gumamku yang sudah lama menunggunya, dan saat aku naik untuk melihatnya ternyata dia sedang sholat, aku pun turun lagi.


"Sayang." panggilnya sambil turun dari tangga.


Setelah selesai makan malam kami menikmati acara tv, dia banyak meminta maaf padaku karna setelah acara nikah dia langsung sibuk dengan temannya dan kerjaannya.


"Terus kenapa tidak bisa dihubungi dan sulit untuk bertemu?" tanyaku yang merasa penasaran.


"Karna kamu telah jadi istriku jadi aku tak takut lagi kalo kamu akan pergi." jelasnya sambil memelukku.


"Sayang ayo tidur sudah malam." ucapnya dan langsung mematikan tv lalu mengangkatku.


"Ah!?" teriakku karna terkejud dia kuat mengangkat aku.


"Ternyata mas kuat mengangkatku 😁?" ucapku sambil nyengir.


"Kamu pikir siapa yang membawahmu ke kamar saat kamu pingsan diacarah nikahan kita." jelasnya padaku dan membaringkan tubuhku ditempat tidur.


"Tunggu, aku mau ganti baju dulu." cegahku yang melihat dia mau mendekatkan wajah kami.


Saat aku selesai mengganti baju ku lihat dia menerima telphon dan bicara dengan nada tinggi. Entah siapa orang yang dia hubungi atau orang itu yang menghubungi. Karna tak ingin mengganggunya aku langsung tidur dan memakai selimutku.


Saat mataku mulai perlahan tertutup ku rasakan tempat tidurku bergoyang dan ternyata dia sudah selesai telphon dan sekarang ikut berbaring disebelahku. Tangannyan memelukku lalu dia mengucapkan kalimat yang membuatku tersadar dari rasa ngantukku.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum ahlal bait wa rohmatullahi wa barokatuhu." bisiknya ditelingaku


Aku langsung membuka mataku dan menatapnya, dia menatapku dengan penuh sayang lalu dia tersenyum seolah dia sedang menunggu sesuatu untuk ku berikan.


"Wa ‘alaikas salam wa rohamtullahi. Kaifa wajadta ahlaka? Barokallhu laka." jawabku kemudian.


Dia pun mulai menyentuhku dan menyembunyikan wajahnya di leherku. Tangannya yang mulai tak bisa diam dan berjalan masuk ke dalam bajuku membuatku terkejud. Wajahku jadi memanas saat dia mulai menyentuh dadaku dan memberikan tekanan di sana.


"Aku menyayangimu sayang" bisiknya dengan suara serak dan nafas berat.


Aku menutup mataku karna malu, "Ya Allah, jadi seperti ini rasanya disentuh dan dijamah oleh seorang suami." kataku dalam hati yang baru pertama kali merasakannya. Aku pun tanpa sadar menitikkan air mataku, dan tiba - tiba perutku terasa sangat sakit.


"Ah?!" teriak ku yang merasakan sakit diperutku.


"Maafkan aku sayang, apa itu sakit? Apa karna aku sudah ada giginya jadi terasa sakit? Atau karna Alea sudah lama tak minum dari sini jadi sakit? Atau aku terlalu keras menghis-sappnya? Maaf sayang aku begitu menggebuh." katanya yang begitu banyak membuatku bingung sebenarnya apa yang sedang dia katakan.


"Tidak, perutku tiba - tiba saja sakit." kataku sambil memegangi perutku.


"Ah?!" pekik ku lagi yang terkejud mendapati tubuhku sudah polos.


"Ada apa lagi?" tanya mexca bingung, yang melihat aku teriak lagi.


"Sejak kapan aku polosan?" tanyaku yang merasa terkejud melihat pantulan diriku di cermin dengan keadaan polos.


"Hihihi sejak aku melakukan ini" dia mendekat dan menghis-ap dadaku lembut.


"Ehgm, uhg." aku menahan perutku lagi.


Seerrr


"Dia datang" ucapku pelan.


"Siapa yang datang?" tanyanya dengan wajah bingung menatapku.


"Tamu bulanan ku." ucapku dan aku langsung lari ke kamar mandi.


Saat aku keluar dari kamar mandi ku lihat suamiku itu tidur bersandar di sandaran tempat tidur sambil memegangi pelipisnya. Aku naik ketempat tidur dan ku peluk dia.


"Maafkan aku." ucapku karna merasa bersalah


"Kenapa harus meminta maaf sayang. Kemarilah apa perutnya masih sakit?" tanyanya padaku dan mengecup keningku.


"Ya, tapi nanti akan hilang." jawabku sambil senyum.


"Apa setiap kali datang selalu sakit begini?" tanyanya lagi sambil mengusap perutku, dan aku jawab dengan anggukan.


"Tidurlah aku akan minta agar rasa sakitnya menghilang" ucap mexca yang mendekapku sambil mengusuk perutku dan mengucapkan do'a.


"Allahumma adzhibil ba'sa rabban naasi wasyfi fantasy syaafii laa syiffaa 'an syifaa 'uka syifaa 'an laa yughaadiru saqama"


Artinya: Ya Allah, Tuhan manusia, hilangkanlah penyakit dan sembuhkanlah. Engkau adalah Pemberi kesembuhan, tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan sakit. (HR. Bukhari).


"Rabbij'al muqiimash shalaati wa min dzurriyyatii rabbanaa wa taqabbal du'aa"


Artinya: Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan sholat. Ya Tuhan kamu, perkenankanlah doaku.

__ADS_1


Perlahan aku pun terlelap karna rasa sakit diperutku hilang yang diusap oleh mexca dengan dibacakan do'a sampai aku benar - benar merasa nyaman dalam dekapan suamiku itu.


__ADS_2