
Setiap hari ku lihat kemesraan mas Bram dan mbak Monica semakin bertambah, mereka seolah seperti keluarga yang bahagia yang sedang menantikan kelahiran sang buah hati.
"Dinda, tolong kamu perhatikan kebutuhan Monica selama dia hamil ya, karna anak ini nanti juga akan jadi anak kamu. Kita akan merewatnya bersama-sama" katanya sambil menyuapkan bubur ayam yang tadi ku belikan pada mbak Monica.
"Iya, insya allah mas. Nanti Dinda juga akan menyanyaingi anak kalian" kataku miris dengan hati yang entah kenapa merasa sedih.
Sejak mbak Monica hamil aku selalu banyak menghabiskan waktu di luar rumah, karna hari pameran baju dari butikku juga sudah dekat.
Bram : Halo Dinda, assalamu'alaikum
Dinda : Wa'alaikumsalam, iya mas ada apa?
Bram : Din tolong nanti kalo kamu pulang belikan nasi Padang untuk Monica, karna katanya dia pingin makan nasi Padang. Ini mas masih belum selesai dan mungkin pulang agak malam nanti.
Dinda : Iya mas, mau palek ikan apa mas katanya?
Bram : Wah, mas lupa Tanya Din. Tolong kamu Tanya langsung saja ya sama dia.
Dinda : Baiklah mas, kalo gitu Dinda telpon mbak Monica sekarang.
Bram : Baiklah Din, asslamu'alaikum
Dinda : Wa'alaikumsalam
Tak lama setelah mas Bram mematika panggilannya, aku langsung menghubungi mbak Monica untuk menanyakan dia mau dibelikan nasik padang dengan ikan apa. Tapi panggila ku tak di angkat, dan sms ku juga diabaikan.
Karna bingung aku pun membelikannya ikan cumi-cumi, ayam goreng dan juga rendang. Entah akan dipilih yang mana nantinya.
"Assalamu'alaikum, mbak.. Mbak Monica" karna tak ada sahutan aku pun naik ke atas mencarinya di kamar, dan ku dapati dia sedang telponan.
"Dinda?! Apa kamu tuli ku panggil-panggil dari tadi gak nyaut" triaknya di depan pintu kamarku.
"Masya allah, iya mbak maaf Dinda lagi sholat mbak. Ada apa? Apa mbak Monica butuh sesuatu lagi? Oh iya nasi padangnya sudah Dinda letakkan di meja makan" kataku sambil menunjuk ke arah bungkusan di atas meja makan.
Seperginya aku merasa bingung, karna aku tak mendengar ada orang yang memanggil ku dari tadi, karna pintu kamarku tak ku tutup, masih ku buka separuh karna takut kalo nanti mbak Monica memanggilku.
Saat aku lagi membaca ayat suci setelah selesai sholat tiba-tiba saja ada yang membuka pintu kamarku dengan keras, sontak aku terkejud dan ternyata itu adalah mas Bram.
"Dinda aku tadi minta tolong pada mu untuk membelikan Monica nasi padang, lalu kenapa kamu gak Tanya sama dia? Apa yang dia inginkan, harusnya kamu tanya dia ingin ikan apa jangan asal belikan saja. Apa kamu gak tau kalo Monica alergi sama cumi-cumi dan juga ayam?!" kesal mas Bram padaku.
"Loh, tadi Dinda sudah coba Tanya lewat tel...." belum selesai aku bicara mbak Monica sudah memotong dengan merengek pada mas Bram untuk dibelikan martabak.
"Baiklah sayang, mas mandi dulu ya kamu tunggu sebentar. Dan kamu Dinda, tolong lain kalian tanya sebelum membelikan apa-apa sama Monica" katanya ketus sama aku dan langsung pergi.
"Duh gusti, apa lagi ini? Dan kenapa mas Bram gak mau dengarkan dulu kata-kataku sebelum dia menghakimiku seperti tadi. Aku melipat mukenaku dan menaruknya di tempatnya.
"Dinda, emang enak dimarahi seperti tadi? Hem." katanya sambil sewot dan berjalan ke depan tv
"Apa maksud mbak Monica? Jadi mbak sengaja melakukan itu dan mengadu sama mas Bram kalo aku gak tanya sama mbak sebelum aku membelikan makanan itu?!" geramku padanya
"Kenapa, kau marah? Iya, kau mara!? Dengar ya Dinda kau itu bukan siapa-siapa di hati mas Bram, jadi sebaiknya kau cepat pergi dari rumah ini" katanya sambil mengibas rambutnya, dan duduk dengan sombong.
"Mbak Monica jangan salah, justru mbaklah yang siapa? Karna di rumah ini aku lah istri sah mas Bram. Dan orang-orang di lingkungan ini juga taunya akulah istri dari Bramono Laksono" kataku sambil menekankan kata-kataku.
"Jangan sombong kamu, karna aku akan membuatmu keluar dari rumah ini dan di lupakan dari lingkungan ini juga. Daaan.. Dari kehidupan suamiku" katanya dengan pandangan yang sangat mengerikan.
"Masya allah" aku pergi meninggalkannya dan menuju dapur, karna tak mau meladeni dia lagi.
Ku lihat mereka berdua pergi keluar dari rumah tanpa pamit padaku yang waktu itu sedang berdiri di balik meja makan.
Aku hanya bisa mengasihani diriku sendiri dan menghela napas dalam untuk membuang energi negatif yang mempengaruhi pikiranku.
"Astagfirallah, jangan banyak mengeluh Din gak baik. Mungkin sekarang bukan waktumu untuk bahagia, akan ada saatnya nanti kebahagiaan itu datang padamu. Amin" ku usap kedua telapak tangan ke mukaku.
Aku kembali membereskan meja makan dan bungkus nasi Padang yang tadi ku belikan, entah siapa yang memakannya sampai habis.
Pagi harinya aku mencuci pakeanku, mas Bram dan juga mbak Monica. Setelah ku keringkan semuanya ku angkat ke jemuran.
"Auh.!" pekik seseorang dan membuatku menoleh.
"Dinda, apa kau gak bisa hati-hati.! Kalo gak bisa mengangkat semuanya ya kau angkat separoh-separoh biar gak mencelakain orang lain." teriak mas Bram padaku yang tanpa sengaja aku menyenggol mbak Monica yang berjalan di sampingku.
Sedih, kesal, marah semua rasa ada dalam hatiku seperti nano-nano. Namun semuanya lagi-lagi hanya bisa ku telan bulat-bulat.
Aku mencobak bersabar atas semua kelakuan mereka berdua padaku. Karna aku berharap dengan segala kesabaranku maka mas Bram bisa melihat dan membuka hatinya untukku.
__ADS_1
Malam itu rasanya aku gak mau pulang, aku ingin istirahat dengan tenang, aku ingin merasakan keheningan. Rasa sesak dalam dadaku tanpa sadar mempengarui kerjaku, desainku jadi buruk dan aku jadi buntu untuk melakukan apa pada desain-desain yang harus ku perbaiki.
Ikhlasnya hati seringkali disalah arti
Tulusnya budi tidak pernah engkau hargai
Berlalu pergi dengan kelukaan ini
Ku mengalah, ku bersabar
Bertentang mata seolah-olah tiada apa
Berpaling muka, ada saja yang tidak kena
Supaya tercapai hajatmu
Manis di bibir memutar kata
Malah kau tuduh akulah segala penyebabnya
Siapa terlena pastinya terbuka bujukmu, rayumu, suaramu
Yang menagih simpati dan harapan
Engkau pastinya tersenyum dengan pengunduran diriku
Tetapi bagiku pula suatu ketenangan
Andainya kita terus bersama, belum tentu kita bahagia
Selagi tidak kau rubah cara hidupmu
Ada rahmatnya bila tidak lagi bersama
Terasa jauh diriku ini dengan dosa
Kutinggalkanmu walau tanpa kerelaan
Yang nyata kau tidak berubah
Bertentang mata seolah-olah tiada apa
Berpaling muka, ada saja yang tidak kena
Supaya tercapai hajatmu
Manis di bibir memutar kata
Malah kau tuduh akulah segala penyebabnya
Siapa terlena pastinya terbuka bujukmu, rayumu, suaramu
Yang menagih simpati dan harapan
Engkau pastinya tersenyum dengan pengunduran diriku
Tetapi bagiku pula suatu ketenangan
Andainya kita terus bersama, belum tentu kita bahagia
Selagi tidak kau rubah cara hidupmu
Katalah apa yang kau ingin, selagi kau dapat berkata
Memang begitu sikapmu semenjak dahulu
Andainya kita terus bersama, belum tentu kita bahagia
Selagi tidak kau rubah cara hidupmu.
Penulis lagu: Abdul Rahim Othman / Bin Ab Kadir Lukhman
Lirik Alasanmu.
Setelah ku selesai ku petik senar gitarku, aku merasa agak sedikit legah. Aku melanjutkan kerjaanku sebentar dan langsung melaju pulang, karna gak mau kalo nanti mas Bram khawatir padaku.
__ADS_1
"Monica kau kenapa? Kenapa bisa tersedak begini, hati-hati kalo makan" segera lari dari tangga mengambilkan minum dan menepuk punggung mbak Monica dengan sayang.
"Ini semua gara-gara Dinda ni mas, dia sengaja membelikan aku seblak dengan rasa yang sangat pedas seperti ini." adunya sama mas Bram.
"Eh, maksud mbak Monica apa? Mas aku gak bel..."
"Sudah deh Din cukup, aku sudah diam selama ini dengan ulahmu. Kau menumpahkan minyak di lantai dapur, kau membasahi lantai kamar mandi bawah dengan air sabun, kau menyusuh Monica nyetrika baju yang begitu banyak, kau membelikan makanan yang bikin Monica alergi dan sekarang kau juga sengaja membelikan seblak dengan rasa yang pedas. Bukankah kau tau kalo Monika dilarang makan makanan pedas"
"Tapi mas Dinda gak melakukannya, dan makan itu sebenarnya..."
"Sudalah Din, aku gak papa. Mas tolong bawah ke kamar, perutku sakit" katanya manja sama mas Bram.
"Ya Allah. Kenapa dia terus saja memfitnahku seperti ini, kuatkan hambamu." keluhku memegang dadaku dan menghela napas berat.
Setiap hari merupakan aktifitas pagi yang menyesakkan bagiku. Jujur walo aku bisa menerima kehadiran mbak Monica di tengah-tengah rumah tanggaku, tapi sebagai manusia biasa aku juga tetap memiliki rasa sakit hati dan marah karna cemburu.
Disisi lain
"Apa apa an ini semua hah?!" melayang sudah berkar itu ke tengah meja di hadapan semua orang yang hadir dalam rapat.
Semua orang yang ada dalam ruang rapat itu membiru, mereka semua membeku dan seketika jadi patung di tempat duduk mereka masing-masing.
Sepasang mata elang itu mengedarkan pandangannya dan mengawasai satu persatu pegawenya yang sedang tertunduk tak bergerak di tempat mereka.
"Apa tidak ada yang mau menjelaskan.! Katakan apa kalian semua bisu?!"
Brak.!
Suara meja yang digebrak dengan sangat keras oleh seseorang yang sedang naik pitam.
Semua yang ada di ruangan itu semakin ciut dan tak berani bersuara. Tenggorokan mereka seola kering dan mulut mereka terkunci dengan rapat.
Ceklek.
"Bos, ini..." seseorang masuk ke ruang rapat dan menyerakan ponsel di hadapan orang yang sedang mengintai mangsanya itu.
"Apa kau tak tau aku sedang sebuk hah!? Kau sama saja dengan mereka tak bisa mengatasi semua masalah sendiri" berkata tanpa melihat lawan bicaranya.
"Baiklah. Akan ku atasi" berjalan menjauh
"Pak anda sudah dengar sendiri suara bos barusan kan." menekan tombol lowspheker
"Kenapa pak? Bosnya tidak bisa ditemui ya?" suara dari sebrang yang terdengar nyaring dalam ruang rapat yang sangat hening, karna dilowspheker sama Faris.
"Deg, suara ini?" menoleh pada Faris yang hampir keluar dari pintu, lalu merebut ponsel Faris.
"Halo.. Halo. Halo.!" menatap Faris dengan tajam
"Iya, sudah ku matikan" memberi jawaban dengan santay.
"Aah.. Sial.!" mengembalikan ponsel pada Faris dengan kasar, dan meninggalkan ruang rapat.
Semua orang yang ada di ruang rapat mulai berbisik bisik, dan saling menatap bertanya tanya.
"Ehem.! Apa kalian masih mau di sini, malanjutkan rapatnya atau kembali ke meja kerja kalian masing-masing?" kata Faris sambil melihat semua orang yang pada layu kayak tanaman kurang air itu.
"Tidak pak Faris, kami akan kembali dan akan membuat laporan yang lebih baik lagi dari ini. Kami akan kembali ke meja kami" semua orang bubar seperti mendapat angin sejuk.
Pegawe 1 : Ai, kenapa ya dengan bos belakangan ini?
Pegawe 2 : Kau benar, sejak dia pindah ke sini emang semuanya naik di pasaran, tapi sikapnya yang dingin dan tegas itu nakutin, apa lagi kayak tadi serem banget.
Pegawe 1 : Benar, dan belakangan dia jadi sering marah-marah
Pegawe 3 : Eh, tapi kira-kira siapa ya wanita yang ditelpon tadi? Apa kalian tidak lihat, wajah bos seketika berubah saat mendengar suara wanita itu.
Pegawe 1 : Benar siapa ya dia? Aku juga melihat perubahan wajahnya.
Pegawe 4 : Aku tak peduli siapa dia, tapi aku akan berdo'a jika dia orang baik semoga dia bersatu dengan bos kita. Siapa tau dengan adanya wanita itu bos tak lagi marah-marah.
Pegawe 2 : Benar-benar. Aku juga berdo'a untu mereka, jika jauh semoga di dekatkan, dan jika wanita itu punya kekasih atau suami semoga mereka berpisah dan wanita itu bersatu dengan bos. Amin amin ya rabbal alamin, tolong kabulkanlah do'aku ini.
Pegawe 1 : Hus, do'amu kok gitu. Mendo'akan orang lain putus.
Pegawe 2 : Lah kamu mau terus dimarahi sama bos gitu?!
__ADS_1
Pegawe 3 : Sudah-sudah jangan berdebat, intinya kalo emang wanita itu baik untuk bos kita ya kita do'ain yang baik aja.
"Iya, amiiiiinn... Ya rabbal alamin" seru mereka berempat barengan.