(Revisi) Terlambat Menyesalinya

(Revisi) Terlambat Menyesalinya
Kerinduan


__ADS_3

"Rumah tangga bahagia adalah dambaan setiap keluarga. Namun, tidak semua pasangan (keluarga) bisa mencapainya. Maka, diperlukan pondasi yang kuat untuk membangun bidak rumah tangga bahagia."


Pertama adalah istri yang shalehah.


"Para bapak-bapak ini Dalam memilih istri atau calon istri untuk anak-anak kita, jangan hanya dilihat dari kecantikannya semata. Karena kecantikan tidak dapat menjamin kebahagiaan dalam sebuah rumah tangga."


"Tetapi pilihlah wanita yang taat beragama. Insyaallah, kebahagiaan akan kita dapatkan rasakan. Betul apa tidak ini para bapak-bapak sekalian?"


"Betuuuulll.!" teriak semua para bapak. yang hadir di pengajian itu.


"Ya pak. Ingat selalu itu, carilah yang shalehah."


"Iya, insya Allah...." triak para warga serempak.


"Kriteria wanita shalehah menurut agama, adalah wanita yang taat kepada suami. Mampu menjaga harta dan kehormatannya ketika ditinggalkan suaminya. Bahkan, Rasulullah saw meletakkan ciri wanita yang taat, sebagai kriteria utama. ”Wanita adalah tiang negara. Bila wanitanya baik, maka baik pula negaranya. Begitu juga sebaliknya,"


Yang kedua adalah pasangan yang memiliki anak shaleh dan sholihah. 


"Dalam membentuk anak shaleh, saat ini bukan perkara mudah. Membutuhkan energi, pikiran, usaha, dan biaya maupun do'a yang cukup dari orang tua. Karena saat ini, lingkungan sekitar anak telah dicemari oleh polusi teknologi dan arus globalisasi yang menggerus nilai-nilai agama, moral dan kearifan sosial. Dalam hal ini peran seorang istri yang telah menjelma menjadi seorang ibu sangat penting, karana kebaikan 1 orang ibu melebihi kebaikan dari 10 seorang kepala sekolah."


"Untuk itu, anak harus diberi bekal agama yang kuat, untuk menangkal pengaruh buruk tersebut. Dan satu-satunya alat penangkal yang paling kuat hanyalah agama. Untuk itu, mari kita tanamkan nilai – nilai agama sejak kecil pada anak-anak kita. Sehingga kelak anak akan tumbuh dengan sehat dan penuh kearifan."


"Begitu ya para bidadari surga, ibu-ibu yang cantik jelita"


"Iya pak Yai" teriakan para ibu tak kalah dengan teriakan para bapak.


Ketiga yang diperlukan adalah teman dan lingkungan yang alim dan baik.


"Karena pengaruh lingkungan, memiliki pengaruh yang sangat besar dan dominan dalam menciptakan kebahagiaan rumah tangga. Bila kita tidak jeli dalam memilih lingkungan atau teman, maka kita akan mudah terpengaruh dengan gaya hidup yang materialistis dan hedonisme,"


"Dan seringkali masyarakat kita salah menilai orang, karena mereka hanya dinilai dari harta dan jabatannya yang tinggi. Sementara mereka yang alim, tetapi tidak memiliki kelebihan harta cenderung diabaikan. Sesungguhnya Allah swt melihat hati dan amal kita yang baik bukan harta benda kita."


"Jadi semoga di desa ini tidak ada yang seperti itu ya? Semuanya di orang baik, dan tidak membeda-bedakan orang dari labelnya. Atau masih ada yang seperti itu?"


"Tidak ada pak yai" seru para warga.

__ADS_1


"Alhamdulillah, semoga segala kebaikan dan kebahagiaan dilimpahkan atas diri kita semua. Amin,"


Dan yang terakhir, adalah memiliki pekerjaan yang baik. 


"Seorang suami, harus memiliki pekerjaan (penghasilan) yang baik. Tapi upayakan untuk bekerja tidak jauh dari tempat tinggal, karna sebuah pekerjaan dan penghasilan sangat berperan penting juga. Penghasilan yang akan kita berikan kepada istri dan anak kita harus dari hal yang baik dan bersih agar bisa menjadikan kesehatan jasmani dan rohani."


"Bagaimana para ibu dan bapak sekalian apa kalian setujuh dengan semua yang saya ungkapkan di sini? Bahwa kebahagiaan dalam sebuah rumah tangga intinya adalah kita harus berpondasi dan berpegang teguh pada tiang agama yang kuat."


"Iya, setujuh" seru serempak para warga.


"Saya do'akan untuk semuanya, agar semua bisa mendapatkan pasangan yang baik di mata Allah Swt, dan yang sudah berkeluarga semoga selalu dilimpahkan kebahagiaan dan ketenangan dalam rumah tangganya. Amin"


"Amin amin ya rabbal'alamin" jawab semua warga serempak, termasuk aku.


Tak terasa aku sudah sebulan pulang ke rumah dan hanya tinggal berdiam diri di rumah, ya walo kadang mbak Ayuni datang berkunjung dan cerita serta bercanda denganku.


"Ayah, ibu. Dinda sudah sebulan kembali ke rumah ini." ku usap bingkai foto kedua orang tuaku


"Maafkan Dinda ya bu. Dinda sudah berusaha untuk mempertahankan rumah tangga Dinda, namum semuanya berakhir seperti ini. Semoga ibu tidak marah pada Dinda."


"Dinda sangat merindukan ibu dan juga ayah" ku kecup bingkai foto itu dan tanpa sadar aku menitikkan air mata karna merasa rindu pada kedua orang tuaku, yang telah pergi mendahului aku.


"Iya bi. Bi nanti Dinda akan seharian di luar rumah, bibik gak usah untuk Dinda. Bibi masak aja sendiri untuk bibi dan man ujang ya."


"Loh, emang non Dinda mau kemana Non?" tanyanya dengan raut wajah khawatir padaku.


"Dinda mau ke butik dan melihat resto sama cafe bi, Dinda gak kemana-mana. Bibi jangan khawatir begitu" kataku sambil mengusap punggung bi sumi.


Setelah sarapan aku berangkat ke butik, dan saat sampai di sana aku langsung ditarik oleh Yulia, karna dia sudah tau kabar tentang diriku dari Siti anak bi Sumi. Hanya dia menahan diri untuk memberiku waktu sebelum dia bertanya padaku.


Aku pun mengulang dan menceritakan semuanya lagi pada Yulia, karana aku sudah mulai bisa ikhlas menerima perpisahanku dengan mas Bram walo masih ada sedikit rasa sedih karna tak bisa mempertahankan rumah tanggaku.


Setelah itu aku dan Yulia datang ke pengelolah mol untuk membicarakan tentang menyewaan, karna mereka mengkonfirmasikan bahwa atasan mereka sudah datang dan hari ini beliau lagi ada rapat dengan para pegawenya untuk membahas soal para penyewa mol.


"Selamat siang pak, saya Yulia dan Adinda yang kemaren membuat janji dengan bapak, katanya pimpinan mol ini sudah bisa dihubungi untuk menanyakan maslah sewa menyewa pak."

__ADS_1


"Oh iya, sebentar ya saya konformasi lagi dan saya coba hubungi dulu asistennya, untuk tau waktu bliau. Anda berdua tunggu dulu"


Tak Lama sambungan telpon itu tersambung namun sepertinya pihak sana sulit untuk menerima untuk bicara sama aku dan Yulia. Karna dari raut wajah pengelola mol itu bisa ku baca kalo dia sedang ditegur atau mungkin dimarahi.


"Kenapa pak? Bosnya tidak bisa ditemui ya pak? Kalo misalnya tidak bisa tidak apa pak, kami bisa kembali lagi nanti kalo bliau sudah bisa pak" kataku yang melihat raut wajahnya semakin pucat.


"Ya Allah, seperti apa ya Yul, pemilik mol ini. Bapak tadi sampek pucet gitu" kataku sambil keluar berjalan ke arah parkiran.


"Entalah, sepertinya dia orang yang jahat. Atau bisa jadi dia adalah bapak-bapak tua yang egois" kata Yulia mencobak menggambarkannya.


Kami tertawa serempak membayangkan pemilik mol yang tua dan jahat. Dalam perjalanan kami banyak mengobrol soal butik dan acara persiapan untu pemeran.


"Baiklah Yul, aku mau langsung ke resto ya, gak turun." saat aku sudah sampai di depan butik dan menurunkan Yulia.


Kantor Mexca


"Kenapa ini, ada apa denganku. Kenapa aku selalu gelisah belakangan ini, seolah akan ada sesuatu yang terjadi. Atau mungkin ada yang ingin mencelakai keluargaku?" mengusap wajahnya dengan kasar.


"Pak, sudah waktunya untuk rapat. Semua pegawe sudah pada kumpul di ruang rapat" skretarisku menginfokan.


"Baiklah, Marlin apa kamu sudah menyiapkan semuanya sesuai dengan yang ku minta kemaren?" kataku sambil berjalan ke ruang rapat.


"Sudah pak"


Entah kekalutan dalam hatiku ini apa sebabnya, semakin mengganggu dan mengusikku, dan ini lagi para pegaweku ini bikin aku semakin marah dan kesal saja, bikin laporan salah semua. Apa lagi Faris yang sudah mengerti dan mengenalku dengan baik malah ikut-ikutan mereka, hanya masalah sepele selalu menggangguku.


Entah apa karna rasa yang menyesakkan dadaku atau apa, aku jadi berhalusinasi mendengar suara dari orang yang sangat ingin ku lihat dan ku gapai dirinya.


"Aaaaarrgggg.! Sial." Ku banting tempat bolpoin di atas meja kerjaku.


"Kenapa?! Kenapa kau begitu menggangu dan mengusikku, kenapa. Kenapa?!" kesalku yang tak tau harus ku lampiaskan kepada siapa.


"Adinda. Ada apa denganmu, kenapa kau tak bisa hilang dari pikiranku. Kenapa kau begitu mempengaruhi hidupku. Bukankah kau tak bisa ku jangkau, lalu kenapa rasa ini tak bisa hilang. Aku merindukanmu Dinda, sangat merindukanmu."


Tanpa sadar ku lajukan mobilku ke depan cafe miliknya, setelah aku membuat kekacauan dalam ruanganku. Kulihat dan ku amati gadis yang ku puja dalam hati dari kejahuan.

__ADS_1


"Adinda. Apa yang terjadi padamu, kau memang tersenyum tapi kenapa seolah ada beban yang sedang kau sembunyikan. Apa ada masalah denganmu, atau ada masalah dengan rumah tanggamu?" terus ku amati gerak geriknya.


"Lepaskan senyummu, jangan kau tahan bebanmu itu membuatku sakit melihatnya. Adinda ingin rasanya ku peluk dan ku ambil alih bebanmu. Aku sangat merindukanmu Adinda."


__ADS_2