(Revisi) Terlambat Menyesalinya

(Revisi) Terlambat Menyesalinya
Penyesalan yang terlambat


__ADS_3

Saat dalam perjalanan Faris menghubungi Mexca karna dia tidak ditemukan di kantor. Dan dia tiba - tiba pergi tanpa pamit kata Merlin.


Mexca : Assalamu'alaikum Ris.


Faris : Ya, wacalaikumsalm. Maaf bos, ini para investor menghubungi dan mereka minta ketemuan hari ini juga, dan rapat untuk sore ini dengan pihak penyewa sudah ku undur jadwalnya sampai besok siang


Mexca : Baiklah, terima kasih. Dan oh ya, tolong kamu selidiki sesuatu untuk ku, dan....


"Pa..." panggil Alea yang terbangun dari tidurnya


"Oh, gadis kecil terbangun ya. Terganggu ya sama suara telpon.


Faris :......?


Mexca : Ris, halo Faris?


Faris : Eh, iya bos. Apa tadi, tapi tunggu dulu. Bos lagi dimana dan sama siapa? Kenapa sepertinya aku denger suara anak kecil?


Mexca : Iya, ceritanya panjang. Makanya aku minta tolong sama kamu untuk menyelidikinya. Nanti aku kirim lewat pesan. OK?


Faris : Ok


Mexca : Ya sudah, kita ketemu langsung di tempat tujuan. Aku langsung meluncur ke sana sekarang. Assalamu'alaikum


Faris : Ya, wa'alaikumsalam.


"Aneh. Ada apa ya, kok terdengar sangat serius. Dan lagi kenapa dia menyuruh untuk menyelidiki seseorang yang tak ada hubungan dengan dia atau keluarganya?" Faris berfikir keras setelah mendapat nama orang yang harus dia selidiki


"Eh, masih tidur ya pak. Saya gak tau kenapa Alea begitu dekat dengan anda. Biasanya dia tidak mau di dekati orang lain." jelas Ayuni saat menerima Alea dari gendongan Mexca yang masih tertidur pulas.

__ADS_1


"Iya tidak apa. Oh iya, kalo boleh saya tau siapa pria yang tadi kamu dorong? Maaf saya tidak bermaksud ikut campur." kata Mexca setelah menanyakan nama Bram


"Tidak apa. Dia bukan orang penting, dia hanya seseorang yang selalu mengganggu. Dia adalah mantan suami adik kami Adinda. Kalo melihat dia, aku ingin sekali menghajarkan. Tapi Adinda selalu saja bilang kasian, aku jadi selalu menahan kesal.!!" jelas Dodi mewakili Ayuni untuk menjawab, karna dia sudah emosi sedari tadi.


"Maksud anda dia adalah manta suami Adinda? Lalu kenapa mereka bisa berpisah? Tidak maksud saya bukan begitu..." belum selesai Mexca menjelaskan tapi Dido sudah memotongnya.


Dido menceritakan semua yang telah dialami oleh Adinda dengan emosi yang meluap - luap. Dido menceritakan kalo dia tak rela jika Adinda harus balikan lagi dengan mantan suaminya.


Mata Mexca terbelalak lebar mendengar penjelasan Dido tentang Adinda yang sudah menjanda, dan atas apa yang dia alami selama ini tanpa sepengetahuannya.


"Jadi mereka sudah berpisah sekitar 1 tahun lalu?" Tanya Mexca menyakinkan lagi


"Iya lebih tepatnya sudah 1 tahun lebih mereka berpisah, sudah hampir 2 tahunan. Dan dia menalak Adinda dengan tidak baik." jelas Dido yang masih kesal kalo lagi mabas tentang Bram.


"Baiklah, terima kasih atas infonya dan saya permisi karna masih ada pekerjaan yang harus saya selesaikan, lain kali kita bisa ngobrol lagi." ijin Mexca pada Dido.


"Bramono Laksono, pria begok. Apa coba maksudnya, jadi dia yang telah membuat gadis kecil itu celaka. Tapi kenapa dia melampiaskan kemarahannya pada anak kecil yang tak tau apa - apa ya. Terus kenapa dia sampai seperti itu, bukankah itu putri Adinda mantan istrinya, berarti putrinya juga kan? Atau jangan - jangan karna Adinda menikah dengan orang lain dan memiliki putri jadi dia marah. Karna kulihat tadi sepertinya dia masih menyukai Adinda. Ternyata ada orang bernasib sama dengan ku ya, mencintai tapi tak bisa menggapainya." gerutu Mexca dalam perjalanannya menuju tempat janjian dengan para investor.


"Aaaarrggg.!! Harusnya aku mendengarkan ceritanya sampai selesai tadi. Aku masih ingin tau sekarang Adinda menikah dengan siapa, kenapa si Faris telpon disaat yang gak tepat, dan kenapa juga para investor itu harus mintak ketemuan hari ini." Mexca semakin kesal dengan opini - opini yang mengganggunya dan waktu yang tak mau mendukungnya.


Sementara di rumah sakit, setelah Adinda membantu Bram dan mengajak Bram menjauh dari Dido dan juga Ayuni yang terlihat emosi Bram mengajak Dinda ke kantin rumah sakit dan di situ Dinda menerima permintaan dari Bram untuk berbaikan lagi.


"Maaf mas tapi Adinda tidak bisa. Bukankah mas Bram sudah ada mbak Monica, Dinda gak mau jadi orang ketiga mas." jawab Dinda menolak niat Bram untuk berhubungan dengannya.


"Din mas minta maaf, mas sungguh menyesal Din. Karna selama ini mas gak tau siapa kamu sebenarnya, karna selama ini kamu tak pernah menceritakan pada mas siapa kamu." kata Bram memelas pada Dinda.


"Iya, maaf mas. Karna bagi Dinda tidak penting untuk mengatakan siapa diri kita pada orang - orang. Lagian mas Bram juga tak pernah tanya pada Dinda. Dan bukankah mas selalu menganggap Dinda adalah penyanyi cafe selama ini." jelas Dinda pada Bram


"Iya, maafkan mas. Mas berharap kita masih bisa berbaikan lagi. Mas sungguh - sungguh sangat menyesal Din dengan keputusan yang sudah mas buat. Sebenarnya mas tak ada maksud untuk menceraikan kamu Din, mas hanya khikaf dan tak sengaja saja mengatakan semuanya, karna mas emosi waktu itu." jelas Bram dan berusaha untuk menggenggam tangan Dinda.

__ADS_1


"Maaf mas, tapi yang Dinda tau semua itu adalah mutlak jika seorang suami mengatakan kata talak pada istrinya. Dan kalo mas Bram menyesal sekarang itu sudah terlambat mas karna semua sudah terjadi. Dan kita sudah bukan lagi suami istri. Kalo menurut Dinda sebaiknya mas Bram menjaga rumah tangga mas Bram dengan mbak Monica, jadilah suami yang baik untuk mbak Monica, jangan lagi mengulangi kesalahan yang sama mas." jelas Adinda panjang lebar pada Bram.


"Jadi kamu gak mau memaafkam mas Din?" Tanya Bram yang merasa ditolak oleh Adinda.


"Dinda sudah memaafkan mas Bram kok, Dinda tak ada rasa marah masa mas Bram. Semua sudah berlalu mas jangan membahasnya lagi." kata Dinda dengan sopan dan memakai bahasa formal.


"Kenapa kamu menggunakan bahasa formal pada mas Din." Bram merasa terkejud saat Dinda memakai bahasa formal padanya.


"Gak papa mas, Dinda cuma gak mau melewati batas mas." jawab Dinda sopan.


"Tapi Din, kamu masih mau ketemu sama mas kan Din?" tanya Bram berharap.


"Insya Allah mas, tapi kalo bisa datanglah menemui Dinda bersama dengan mbak Monica mas. Karna Dinda gak mau ada kesalah pahaman." jelas Adinda.


Dan saat mereka lagi asyik ngobrol tiba - tiba ada seorang anak yang langsung nemplok pada Adinda, dan membuat pembicaraan antara Bram dan Adinda tak bisa dilanjutkan. Dan merekapun berpisah.


"Hihihi... Kamu anak yang baik dan datang tepat waktu, Oniku sayang." kata Dinda pada anak kecil itu, dan juga menghujani ciuman pada anak kecil itu.


"Ih...! Bunda muka Oni jadi belepotan ini dan gak cakep lagi." kesalnya sambil mengusap wajahnya. Dan melihat itu membuat Dinda semakin menghujaninya dengan ciuman.


"Din, ku pikir dia lari kemana. Gak taunya dia lari ke arah kamu. Tadi kamu bicara sama mantan suami kamu ya? Kenapa kalian bisa ada di sini bersama?" Tanya Yulia pada Adinda


"Iya, tadi aku dapat telon dari mas Dido kalo Alea kecelakaan dan dibawah ke sini, terus aku ketemu mas Bram di sini. Lah kamu sendiri ngapain ke sini? Siapa yang sakit?" Tanya Adinda pada. sahabatnya itu.


"Tidak ada yang sakit, aku cuma merasa tak enak, ku pikir aku isi lagi. Ternyata gak ada apa - apa, cuma asam lambung saja." jelas Yulia


Setelah berbincang lama dengan Yulia akhirnya Adinda pulang, saat om Eko suami Yulia datang menjemput.


"Tidak apa - apa, aku bisa mendekati Adinda pelan - pelan, dan nanti akan menikahinya lagi. Karna kami masih bisa rujuk, sebab aku tak menalak dia tiga. Dan jika kami menikah lagi nanti mama pasti sangat senang. Dan aku juga bisa mempunyai anak kami sendiri." gerutu Bram yang merasa percaya diri kalo Adinda akan menerima dia lagi jika dia bisa meluluhkan hati Dinda.

__ADS_1


__ADS_2