
Pagi itu saat aku bangun ku lihat ada pesan di handphonku. Dan ternyata itu adalah pesan yang dikirim oleh Merlin dengan Handphon Mexca yang mengatakan kalo dia sedang ada urusan di LA dan harus kesana dan berangkat kemaren malam. Merlin juga menjelaskan kalo Mexca akan berada di LA kurang lebih 1 mingguan untuk menyelesaikan semua urusannya disana dan Merlin juga ikut bersama Mexca karna itu menyangkut perusahaan.
Hari hari ku di kantor kembali seperti biasa saat sebelum aku dekat dengan Mexca, aku memakan bekalku sendirian di atap gedung dan menikmati suasana sepi sambil menggambar desain desain untuk butikku sendiri.
Sudah 2 hari Mexca di LA dan tak ada kabar darinya. Merlin yang juga ikut berangkat ke sanan pun juga tak memberi kabar apa pun, dan masalah yang ada di sini semuanya di serahkan dan ditangani oleh mas Faris yang merupakan asistennya Mexca.
Sore itu semua pegawe kantor baik yang dari department perencanaan, desain, pemasaran, dan lain lagi mengadakan pertemuan akhir tahun, dan karna bertepatan dengan akhir pekan juga jadi banyak yang ikut datang. Tapi mbak Ayuni tak bisa ikut, sebab di rumahnya lagi ada acara keluarga sendiri antara mbak Ayuni dan mas Didi yang ingin menghabiskan malam tahun baru berdua saja.
"Ayolah Din ikut ya... Biar rame, kan seru kalo rame rame Din." bujuk rekan kerjaku yang dari department yang sama denganku. Dan akhirnya aku pun juga ikut tapi gak bisa lama, karna besok aku ada janji sama Alea dan juga Oni untuk mengajak mereka jalan jalan ke taman hiburan.
Acara itu di adakan di sebuah restoran yang bisa di bilang sangat bagus dan nyaman, nuansa restoran itu bagai berada di dalam hutan bambu. Banyak pohon pohon bambu yang tertata dengan rapi dan juga bambu bambu kecil yang dirawat dengan baik berjajar rapi di sepanjang jalan setapak, saat angin bertiup suara dedaunan yang saling bergesekan memberikan kesan yang damai bagai melodi alam.
Dan juga gemericik air dari percikan air kolam ikan yang ada di beberapa tempat dan belokan, dengan ikan yang beraneka ragam juga memberikan keindahan yang sangat alami, perpaduan pohon bambu dengan kolam ikan menyatu dengan sangat baik.
Stan dan tempat yang diberikan di sekitar pepohonan juga sangat nyaman, seolah menikmati makan di alam terbuka dengan pemandangan yang langsung menuju langit gelap dengan kerlip bintang yang sangat indah, memberikan kenyamanan dan kedamaian dalam hati.
Saat pukul 9 malam aku pun ijin untuk pulang lebih dulu, karna aku tak mau besok terlambat dan membuat Alea dan juga Oni kecewa.
"Maaf, ini sudah malam, sudah pukul 9 malam. Aku permisi pulang lebih dulu ya karna besok ada janji dengan putriku. Kalian lanjutkan dan selamat bersenang - senang." pamitku pada semua orang yang hadir diacara makan malam itu. Aku tak kenal satu persatu mereka, hanya mengenal yang dari departemen ku saja.
"Baiklah, hati - hati ya Dinda," jawab mereka, dan aku langsung beranjak pergi.
Sebelum pulang aku ke toilet dulu. Dan saat di dalam toilet aku mencium aroma yang menyengat seperti bau obat pembasmi serangga. Karna merasa sesak aku pun cepat cepat keluar dari dalam toilet.
Saat aku membuka pintu mobilku pandanganku menggelap dan kepalaku pusing "Uhg.! Kenapa tiba tiba kepalaku pusing sekali?" aku duduk di dalam mobilku dan tak tau apa apa lagi.
Ku rasakan ada seseorang yang membuka bajuku, walo aku merasakan dan ingin membuka mataku, tapi mataku tak bisa ku buka seolah ada lembaran hitam yang menghalangi pandanganku dan akhirya aku pun tak sadar lagi.
Entah sudah berapa lama aku tertidur atau pingsan. Saat aku bangun aku mendapati tubuhku terbungkus selimut dan hanya mengenakan baju dalam aja. Aku mengamati sekeliling dan baru tau kalo aku sedang berada dalam kamar hotel. Aku langsung mengenakan bajuku dan keluar untuk pulang.
Aku tak tau sedang berada di daerah mana, aku pulang menggunakan taxi. Dan saat aku sampai di rumah aku sangat terkejud karna mas Didi, mas Dido, mbak Ayuni dan Om Bambang ada di rumah dengan pandangan yang panik menatapku.
Om Bambang menarik tanganku dan mendudukkan aku di ruang tamu. Aku yang bertanya tanya jadi semakin bingung dan juga takut untuk cerita apa yang telah ku alami.
Betapa terkejudnya aku saat mendengar cerita dari mereka. Dan tak lama kemudian Yulia juga ikut datang ke rumah. Dan mengatakan kalo butik yang di mol di datengin banyak orang dan memintak penjelasan atas aku yang tidur dengan seorang pria dalam kamar hotel di malam tahun baru semalam.
__ADS_1
"Tapi Om aku tak melakukan itu semua. Aku juga tak tau siapa pria itu? Saat aku bangun aku ada di sebuah kamar dan tak ada siapa pun di sana." jelasku atas semua kejadian yang tak kulakukan dan tak tau siapa yang telah menjebakku.
Mereka semua mendengarkan ceritaku, yang bermula dari ajakan makan bersama rekan kerjaku sampai aku merasa pusing karna bau obat serangga saat di toilet hingga aku berakhir di sebuah kamar hotel.
Setelah aku menceritakan semuanya pada mereka, aku pasrah dengan semua yang akan terjadi. Semua orang yang ada dipihakku mengatakan akan menyelidiki semuanya dan menyuruhku untuk tenang.
Aku sangat tak percaya, bagaimana bisa kejadian yang baru terjadi semalam sudah menyebar begitu luas dengan cepat. Aku sangat takut dengan semuanya dan para orang - orang yang meneriakiku.
Dalam kesunyian kamarku, aku tak bisa tenang karna kabar tentangku itu menyebar bagai aliran air yang meluap dan membanjiri semua tempat. Bahkan kontrak kerja samaku dengan perusahaan yang baru saja aku lakukan juga berimbas, mereka yang memiliki saham di perusahaan itu memintak agar aku membatalkan kontrak kerja sama itu dan membayar pinalti.
"Ya Allah. Apa yang sebenarnya terjadi padaku kenapa semua ini terjadi pada ku, siapa yang telah ku sakiti hatinya sampai dia berani melakukan ini. Atau ini karna keegoisanku yang ingin tetap mencintai orang yang tak seharusnya ku cintai. Apa ini teguran dari Mu Rabbi.." tangisku yang selalu menghiasi setiap sujud malamku.
Sudah 3 hari aku tak keluar kamar, dan tak mau makan walo bi Sumi dan yang lain membujukku. Aku tak ingin bertemu siapa pun dan tak mau melihat siapa pun, aku takut dengan diriku sendiri, dan tak tau harus lari kemana.
Brrrtt
Bram 9.00
Dinda ini mas Din. Kamu diman sekarang? Mas sudah melihat berita tentangmu, kamu jangan takut Din. Kamu pasti lagi bingungkan ya?
Dinda ceritakan semua masalah mu sama mas Din jangan kamu pendam sendiri, mas akan bantu carikan solisinya.
Bram 19.00
Dinda, kenapa tak membalas pesan. Kamu gak papakan Din...?
Bram 21.00
Ayo kita menikah Din, dengan begitu kita bisa menjelaskan pada mereka kalo itu adalah foto kita yang sedang bulan madu, mas rasa hanya itu solusinya. Karna dengan begitu mereka akan percaya dan nama baikmu akan kembali lagi.
Bram 01.00
Dinda, kenapa kamu tak menjawab pesan mas Din? Kalo kamu mau kita bisa langsung menikah besok dan mas akan melakukan kelarifikasi atas semua masalahmu.
Bram 06.00
__ADS_1
Percayalah pada mas Din, semua akan berakhir dengan kabar pernikahan kita nantinya. Dan masalahnya tak akan semakin besar.
Kepalaku pusing dan mau pecah rasanya. Aku tak tau harus berbuat apa dan akan melakukan apa. Aku duduk di pojok tempat tidurku sambil memegang i kedua lututku, pikiranku kosong dan buntu. Semua pesan dari mas Bram hanya ku baca tak ada yang ku balas, karna aku bingung.
Dalam keputus asaan aku jadi teringat akan semua pesan yang dikirimkan oleh mas Bram kepadaku, dengan menikah maka semuanya akan berakhir.
"Ya Rabb, apa benar dengan menikah semuanya akan berakhir? Apa jika aku menikah nama baikku akan kembali lagi dan bersih? Apa usaha yang ditinggalkan oleh orang tuaku bisa diteruskan dan dibuka lagi? Apa aku bisa terus bekerja di kantor seperti biasanya? Apa semua bisa Rabbi... Bisakah dengan begitu?" tanyaku dengan keputus asaan dalam hatiku yang sangat mendalam.
Setelah aku bersembunyi sekian lama dan terpuruk dalam kesedihan, aku pun memutuskan untuk melakukan apa yang dikatakan oleh mas Bram. Mungkin dengan begitu semua rumor tentang aku akan hilang dan selesai.
Aku bangun dari posisi dudukku, ku seka air mataku dan aku langsung keluar menuju mobilku. Aku tak menghiraukan panggilan bi Sumi dan mang Ujang yang berteriak memanggilku dan tanya aku mau kemana. Ku lajukan mobilku dengan kekosongan pikiran, aku berniat memcari mas Bram.
Setelah sampai di kantornya aku naik sampai depan pintuk masuk ruangannya. Tanpa permisi aku langsung mendorong pintu itu, karna aku dengar dari orang orang yang dibawah tadi kalo dia ada di dalam ruangannya.
Brak...
Orang yang di dalam terkejud dengan kedatangan Adinda, namun dia tetap berusaha untuk tenang, dia duduk di kursinya di depan komputer dan tumpukan berkas. Dia menatap Adinda yang berjalan masuk dengan menyandarkan tubuhnya di sandaran kursinya.
Ku lihat dia terkejud dengan kedatanganku begitu juga dengan ku. Aku bingung kenapa aku bisa ada di depannya, namun dia tak bergeming dari duduknya. Dia hanya menatapku tajam yang berjalan ke arahnya.
"Kenapa? Apakah dia sudah tak menyukaiku, atau dia berubah pikiran dan tak mau menjadi imamku lagi?" kataku dalam hati, tapi aku tak peduli dan terus melangkahkan kakiku maju sampai berada tepat di depan mejanya.
Dadaku terasa sesak karna berusaha menahan air mata yang dari tadi berusahan untuk keluar. Ku lihat dia tak bereaksi apa pun terhadapku, walo tadi sempat terlihat terkejud dengan kedatangannku yang tanpa memberi tahu dia lebih dulu.
Tatapan matanya sulit untuk ku artikan, dia menatapku dengan pandangan yang seolah menunggu agar aku menjelaskan apa yang terjadi dan apa tujuanku menemuinya.
Jantungku berdetak sangat kencang, dan karna kesunyian yang ada dalam ruangan itu membuatku semakin sulit untuk bernafas. Ku tarik nafas dalam dalam dan ku hembuskan pelan.
"T - tolong, menikahlah dengan ku.!?" teriakku, dan setelah ku ucapkan kata itu, tak ku dengar suara apa pun, bahkan saat ku lirik dia tak bergeming dari duduknya.
Dadaku semakin sesak, ku kepalkan kedua tanganku di samping tubuhku. Dan tubuhku mulai bergetar karna menahan tangisku. Tak ada respon darinya untuk kata kataku membuat aku tak mampu lagi menahan air mata yang sudah meluap.
"T - tolong, aku mohon," ibahku lagi dengan nada suara yag mulai bergetar.
Pandanganku kabur karna air mataku sudah memenuhi pelupuk mataku dan tinggal sedikit lagi akan tumpah membanjiri kedua pipiku. Aku yang mati matian menahannya tak mampu lagi untuk tak membiarkan mereka meluap keluar.
__ADS_1
"I - itu bukan aku. A - aku tak tau, a - apa pun. A - aku hanya...." belum selesai kalimatku keluar semua, namun air mataku sudah meluap tak terbendung lagi. Aku tertunduk, dan kepalan tanganku semakin kuat. Tubuhku bergetar hebat dan aku tak mampu berkata - kata lagi.